I'M Sorry My Hubby

I'M Sorry My Hubby
Kritis



"Marah pun tak peduli, ini adalah aturannya!"


"Aku tahu kau polisi, tapi ini dalam situasi darurat jadi itu boleh!"


"Aku masih sayang nyawaku!"


"Dasar Jones! Orang yang takut mati adalah jones! Cepat jalankan mobilnya!"


"Tidak!"


"Jalankan!"


"Tidak!"


"Ar, sudahlah, kau akan jomblo seumur hidup jika kamu masih saja galak pada pria," Dini berucap dengan nada yang sangat lemah.


"Kalau tidak sakit sudah Gue hajar, Lo Din!"


"Kau lihat mobil besar itu?!"


"Gue bukan tunanetra! Tentu saja melihatnya," ketusnya.


"Nah, jika aku mengikuti saran mu maka kita akan mengalami kecelakaan dan mobil itu menabrak kita, jalan ini memang sepi tapi di jam ini banyak mobil besar yang melintas dengan kecepatan tinggi," jelasnya.


"Ia pak, polisi!" Arini menjawab dengan nada meledek.


Tidak berapa lama mereka telah sampai di salah satu rumah sakit di ibu kota. Arini berteriak mencari dokter ataupun suster sedang pria yang masih mengenakan seragamnya menggendong gadis yang sudah lemah tak berdaya. Syal Arini sudah berubah warna menjadi merah karena darah yang terus mengalir dari tangannya.


Arini berlari saat dia melihat suster membawa brangkar dorong khas rumah sakit.


"Sus, tolong sahabat saya!" Arini berbicara dengan sangat sopan


"Sebentar Nona saya akan mengurus pasien saya!"


"Hey, tidak lihat dia sekarat! Gue hajar juga Lo!" Arini menepis tangan suster itu merebut berangkatnya segera minta suster mengantarnya ke UGD. Suster pun merasa heran, Arini yang tadi berlaku sopan kini tampak seperti preman.


"Din, jangan pingsan, bertahanlah!" Ia berjalan di samping sahabatnya dengan terus memegang tangan yang tidak terluka dengan Isak tangis.


"Aku juga tidak ingin menutup mataku saat ini, Ar, aku ingin melihatmu lebih lama," cicitnya.


"Ar, Shinta mana?" lirihnya. Arini hampir tidak mengerti apa yang ditanyakan Dini. Karena suaranya sudah tidak terdengar Arini hanya menebak dari pergerakan bibirnya. Ia mengira bahwa Dini pasti menanyakan Shinta.


"Anak itu dia masih di china, nanti gue kabari dia! Sekarang Lo harus sembuh, nanti kita bersama lagi, yah!"


Sampai di pintu UGD Arini di tahan untuk tidak masuk keruangan itu.


Dia terus berjalan mondar-mandir seperti setrikaan. Masih mengenakan rok mini dan tank top dengan sepatu hak tinggi. Lama dia menunggu namun pintu itu masih belum terbuka. Seorang pria berseragam yang sedari tadi duduk menunggu dengan tegap menghampiri seorang wanita yang sibuk bergerak tidak jelas.


"Apa yang kau gunakan itu pakaian adikmu?" Arini mengerutkan dahi ketika pria berseragam lengkap itu bertanya.


"Bukan ini baju dan rok anak bayi!" tukasnya dengan sinis.


"Pantas!"


"Kurang bahan!" tukasnya.


"Diamlah, jangan Lo pikir gue tidak berani karena seragam yang Lo pakai!" geramnya.


"Aku tidak peduli!" acuhnya.


"Beraninya ...," ucapan Atini terpotong karena seorang dokter keluar membuka pintu.


Arini segera mendekat.


"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanyanya.


Dokter nampak sedikit bingung dan menghembuskan napas kasarnya.


"Katakan saja, Dok!"


"Begini, Nona! Selain luka pada pergelangan tangan karena percobaan bunuh diri. Sepertinya pasien mengalami kekerasan seksual dan mengakibatkan daerah kewanitaannya terus berdarah dan ini sangat bahaya."


"Astaga! Dok aku ingin sahabatku sembuh, lakukan yang terbaik!" Arini memohon pada pria berjas putih.


"Tentu! Hanya saja, teman anda banyak kehilangan darah ...," ucapnya terpotong.


"Pakai darah saja, Dok!" Arini memberikan tangannya pada Dokter.


"Tidak perlu, untung saja golongan darah teman anda banyak stok di rumah sakit ini."


"Kami juga harus melakukan Visum, Nona! Khawatir Luka pada **** ************* semakin memburuk."


"Lakukan saja, Dok! Aku ingin dia sembuh!"


"Baiklah, Nona saya permisi!" pamit Dokter itu.


Seorang suster menghampiri Arini.


"Begini Nona, biaya yang diperlukan tidak sedikit," jelasnya.


"Berapapun! Asalkan selamat!" Arini kembali menangis mendengar kabar sahabatnya.


"Maaf Nona, sebelum itu, silahkan Nona menanyakan rinciannya di ruang Administrasi." Seorang suster melanjutkan ucapannya.


"Ah, baiklah! Tidak masalah, Aku permisi!" Arini segera menyambar tasnya dan segera pergi menuju ruang yang di katakan seorang suster.


Sampai di ruang Administrasi Arini bertanya rincian biaya penanganan Dini. Dengan cepat dia mengeluarkan kartu yang ia miliki. Namun semuanya telah terblokir.


"Astaga! Gue lupa telah miskin sekarang, sialan! Miskin di waktu yang tidak tepat! gumam Arini mengerang frustasi. "kenapa gue sampai lupa! gue baru ingat malam ini bersenang-senang untuk membayar kedua pria tampan itu hasil menjual perhiasan."


Arini meminta waktu untuk melakukan pembayaran.


"Bagaimana ini? Kenapa aku baru menyadari bahwa uang itu bisa sangat berpengaruh terhadap nyawa orang yang sangat berarti."


TBC