I'M Sorry My Hubby

I'M Sorry My Hubby
Mencurigai Umar



"Ah, ia aku ingat!" Tiba-tiba Dini berkata yang membuat kedua sahabatnya sedikit kaget.


"Siapa dia? Pacarmu?" tanyanya dengan tampak antusias.


"Jangan aneh deh, Shin. Dia supir dari salah satu pelanggan ku," jelasnya dengan tersenyum kaku.


"Hah." ucap mereka berbarengan dan membulatkan matanya. "tidak, tidak." Arini dan shinta berbicara dan menggelengkan kepala berbarengan.


"Kalian kompak banget," goda Dini dengan terkekeh.


"Tak Sudi kompak dengan dia!" protes Shinta dengan bersedekap.


"Apalagi Gue!" timpal Arini.


"Udah, udah. Begitu kenyataanya, dia memang supir salah satu pelanggan ku," jelasnya. "memangnya kenapa?" tanya Dini heran.


" Dia yang menjagamu dan selalu berdoa untuk mu saat aku dan Arini datang ke persidangan setan merah itu!" sahut Shinta dengan wajah yang sedikit kesal mengingat wanita yang sangat dia benci saat ini.


"Setan merah?" tanya Dini merasa heran.


"Ya, dia ibu tiri Lo!" Arini menimpali.


"Kau sudah tahu, Ar?" tanyanya dengan tampak sendu dan bibir yang bergetar.


"Ya, aku tahu. Lo kenapa?" tanya Arini dengan menatap khawatir. Tiba-tiba Dini tampak pucat dan seperti seorang yang ketakutan.


"Aku takut, Ar," keluhnya.


"Jangan takut, dia sudah di penjara dan gue pastikan dia membusuk di penjara." Arini berucap dengan penuh keyakinan.


"Kau tidak tahu, pasti akan ada yang menjamin dia untuk keluar."


"Maksudnya?" Arini terheran.


"Aku harus pergi dari kota ini, bantu aku Ar, aku mohon." Dini tampak panik dan terlihat keringat mengalir dari pelipisnya.


"Tapi kemana?" Arini tampak bingung.


"China, kau ikut aku ke China." Shinta menimpali.


"Dia kan tahu, jika aku ikut bersama kalian."


"Lalu bagaimana ini?" Arini tampak kebingungan.


"Umar, Yah, Umar." Shinta refleks menyebut nama itu.


"Ide, bagus. Tapi, bagaimana kita menghubunginya?" tanya Arini.


"Jaelani siapa lagi dia?" tanya Arini.


"Itu loh, yang datang tak di jemput pulang tak di antar," jawab Shinta dengan penuh percaya diri.


"Jalangkung, bodoh!" tukas Arini dengan geram.


"Oh, rupanya sudah ganti," sahutnya dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Aku masih bertanya darimana dia tahu Dini di rawat di rumah sakit ini?" tanya Shinta dengan penuh keheranan.


"Itu, masalahnya. Dia pasti tahu dari bosnya dan aku takut jika tahu aku sudah siuman pria botak itu akan membebaskan wanita itu dan kembali menjual ku padanya," jawab Dini dengan nada suara yang bergetar.


"Jadi maksudnya si Umar itu berkhianat dan dia menjadi mata-mata tuan botak?" tanya Shinta.


"Mungkin," singkat Dini.


"Tidak, tidak. Gue sangat yakin dia pria yang baik," ucap Arini dengan membela Umar.


"Kau baru mengenalnya kenapa kau bisa berasumsi bahwa dia baik," protes Shinta.


"Gue tahu dan sering mendengar saat dia mendoakan Lo, Din. Berdoa sepanjang malam hingga pagi untuk kesembuhan Lo. Dia juga dengan tulus menjaga meski tidak pernah berani mendekat. Gue bisa melihat kebaikan dan ketulusannya. Merasa dia pria yang baik. Dia tidak pernah putus membacakan kitabnya di telinga Lo, Gue tidak yakin jika dia memiliki pemikiran yang sempit," jelas Arini memberitahukan apa yang dia ketahui.


"Mungkin saja dia sedang berakting," sahut Shinta.


"Jika begitu, dia sudah membawa Dini saat kita meninggalkannya, bukan?"


"Mungkin menunggu kita lengah."


"Menurutmu bagaimana, Din?" tanya Arini pada Dini.


"Entahlah, aku sulit mempercayai orang lain kecuali kalian," keluhnya.


"Tanya hati Lo!" Arini menimpali.


"Sebaiknya kita berkemas, sepertinya kau sudah membaik. Kita tinggal rumahku saja Arini sudah miskin."


"Berhentilah, menghina dengan sebutan miskin!" protes Arini.


"Harus dimaklumi, orang miskin memang cepat marah," cicit Shinta yang semakin membuat Arini geram. Namun Arini sudah malas berdebat.


Mereka berjalan bertiga beriringan dengan masih di iringi perdebatan kecil Arini dan Shinta. Sedang Dini masih tampak khawatir memikirkan dirinya. Dia tahu, tidak mudah keluar dari dunianya yang gelap jika masih berada di kota ini. Harus pergi ke tempat yang tidak pernah bisa di tebak Ibunya. Tapi kemana? pertanyaan itu terus menggeluti pikirannya.


Sampai dikamar rawat. Dini menghentikan langkahnya saat dia melihat seseorang yang tengah duduk di kursi tunggu depan kamar rawatnya. Kedua sahabatnya yang masih berdebat menyadari Dini yang tiba-tiba berhenti mereka mencari tahu apa penyebabnya dan hanya bisa terdiam melihat perubahan mimik muka sahabatnya.


TBC