
Rapat berjalan sudah hampir tiga puluh menit, kemerosotan yang signifikan membuat Ana tahu maksud tersembunyi. Dia bukan orang yang baru terjun dalam dunia bisnis. Tapi dia juga bukan Dewa yang hanya dalam waktu sepersekian detik bisa menyelesaikan semua kekacauan ini.
Ia sudah mulai di tekan di berbagai pihak, ia bisa menilai siapa saja yang masih berpihak dan setia pada ayahnya. Kesal, sudah pasti. Namun ia masih bisa bersikap tenang. Saat semua orang menyalahkan cara kerja ayahnya.
"Bagaimana, Nona?" pertanyaan itu seperti sebuah penekanan.
"Beri aku waktu satu Minggu, aku harus membaca keadaan ini, dan menylesaikan kekacauanya," jelasnya dengan nada yang tegas.
"Kami tidak bisa menunggu lagi! Bahkan anda belum pernah memegang perusahaan ini, bukan?!" Salah satu pemegang saham, berucap dengan nada terus memprovokasi.
"Bagaimana bisa Kami percaya pada Nyonya! Dari dulu bukankah lebih fokus pada perusahaan Endelson! Bahkan sekali pun tidak pernah melirik perusahaan ini, bagaimana bisa kami percaya? Jika Nyonya saja menganaktirikan perusahaan ini!"
Ana diam, banyak bicara saat ini akan menjadi bumerang padanya.
"Keputusannya sudah jelas bahwa Tn Wilson akan digantikan oleh pemilik saham terbesar, dan kami sudah sepakat!"
Ana memicing, bagaimana bisa rapat diadakan tanpa persetujuan Presdir perusahaan.
"Bukankah Tn. Wilson sedang dalam keadaan tidak baik?" Pertanyaan Ana membuat semuanya bungkam ia paham arah bicara Nona ini.
Mereka juga di buat kaget, sedari tadi Ana terus di pojokan tapi sikapnya masih setenang ini.
"Maaf, Nyonya..." Ana melirik dan tersenyum. Tapi, tidak dengan hatinya, Ia tahu Bambang akan membawa kartu As yang tidak ia ketahui untuk menghancurkannya, ia mencoba menenangkan hatinya yang sudah mulai bergemuruh.
Ana mengangguk, memberi isyarat agar orang yang ia curigai selama ini melanjutkan apa yang akan dia sampaikan.
"Tn. Wilson mempercayakan semuanya padaku." Ia menyodorkan berkas yang berisi tanda tangan ayahnya, bagaimana bisa ayahnya melakukan kebodohan macam ini.
"Bukan cuma itu!" jelasnya.
"Aku sudah membacanya!" serkahnya dengan tetap tersenyum dengan mimik muka masih terlihat tenang.
"Beri aku waktu!" Ana kembali meminta pertimbangan, jika saja ada waktu satu Minggu untuknya dia yakin bisa membalikan keadaan ini. Tapi, di sini bukan soal siapa pemilik perusahaan, masalahnya ayahnya terlalu banyak menerima investor.
Mereka memberikan suaranya hanya ada tida investor yang memberi kesempatan pada Ana sisanya menolak.
Ana tersenyum, "Baiklah, aku mengerti!" Sesak di dadanya, tapi ia tahan. "Aku permisi! Semoga kalian tidak menyesal, karena telah bermain denganku!" ucapnya dengan menganggukan kepalanya dan berlalu.
"Siapa pemegang saham terbesar yang kalian maksud?!" Ia bertanya saat melewati kursi sang paman dengan menatap tajam laki- laki yang menghianati ayahnya.
"Sebentar lagi dia akan datang, Nyonya!" jawabnya. Ana mengangguk dan berlalu.
Ana menahan sesak dan sakit di setiap langkahnya, selama ini ayahnya bekerja dengan para penghianat. Bagaimana bisa, bahwa kaki tangan sekaligus sahabat ayahnya itu adalah orang yang dengan keji menikamnya.
Ia masih ingat, kedekatan ayahnya dengan Bambang, apa yang sebenarnya ia tidak tahu. Masuk keruangan ayahnya dia mengerang frustasi.
Dia melempar semua berkas di tangannya ke atas meja, ia berteriak.
"Argghhhhhh!"
"Bagaimana bisa! Aku sampai kehilangan perusahaan ini!"
"Kenapa aku begitu bodoh!"
"Penghianat!" ia terus berceloteh memaki dirinya ia menyesali perbuatannya yang menelantarkan perusahaan keluarganya.
Saat ini tidak ada tangisan, tapi matanya merah menahan amarah.
Seseorang mengetuk pintu, Ana menarik nafasnya dalam- dalam menghirup oksigen sebanyak mungkin agar bisa masuk ke otak dan menetralkan emosinya. Ia merapikan riasan dan berkas berserakan sebelum mempersilahkan untuk masuk.
Seorang pria yang sangat tidak ia harapkan datang menemui Ana. Senyuman mengejek menghiasi wajah tegasnya.
Plok ...
Plok ...
"Selamat pagi menjelang siang, Nyonya muda yang terhormat. Oh, tapi sebentar lagi akan kehilangan tahta dan kejayaannya," ucapnya dengan tersenyum mengejek.
"Silahkan duduk paman! Tapi, maaf aku tidak bisa memberimu minum karena stok sianida di kantor ini tengah habis!" Ana tersenyum smrik, nampak pria di hadapannya mulai terpancing emosi.
"Beraninya, kau!" Gurat emosi sudah sudah nampak dari wajahnya.
"Tapi, sayangnya aku tak seberani paman, yang telah berani meracuni Tn. Robert. Oh, bagaimana kalau semua orang tahu?!" ucapnya dengan bersidakep.
Eric terdiam, ia tahu wanita di hadapannya bukan orang sembarangan. Salah berucap, akan membuatnya terperosok dan terjebak.
"Kau tahu siapa yang akan memimpin perusahaan ini?" tanyanya penuh kemenangan.
Ana kembali duduk di kursi kerja sang ayah. Ia memainkan bolpoin di tangannya, memutarnya dengan jari lentiknya.
"Aku tahu, dengan melihat kedatanganmu!" ucapnya acuh seakan tak peduli, padahal di hatinya merasa sakit yang tak henti.
"Aku tahu kau pasti merasa kalah, bukan? Jangan main- main denganku!" Ia menyombongkan dirinya.
"Jika aku jadi kau!" Ana menekankan setiap kata yang dia ucapkan dengan tersenyum, "Aku akan merasa malu, apa yang bisa di banggakan membunuh lawan saat ia tertidur! Seperti pecundang!" Ana tersenyum mengejek.
"Jaga bicaramu! Kau hanya penjilat!" hinanya.
"Penjilat itu lebih terlihat cerdas di banding pecundang, bukan?" wanita berwajah tenang itu berucap dengan memainkan kuku- kukunya.
"Apa ada lagi yang perlu paman sampaikan?" tanyanya dengan beranjak berdiri berjalan mendekati sang paman.
"Segera kosongkan ruangan ini!" titahnya.
"Oh, Ya Tuhan! Begitu tidak sabarnya kau! Oh aku baru ingat, ini kali pertama kau duduk di kursi utama! Saya Anastasya sudah sangat bosan menduduki tahta ku di Endelson!" jawabnya angkuh.
"Kabar tantang kematianmu sudah menyebar di USA sebentar lagi kau akan kehilangan semuanya! Atau kabar itu karena kau takut padaku dan menghindari seranganku? Tapi sayangnya aku punya orang yang kuat untuk mencari informasi tentangmu, Nyonya muda yang angkuh!"
"Ish, Ish ... apa kau melihat ketakutan dalam diriku, paman?" tanyanya.
Erik melihat dengan jelas bahwa tak ada sedikitpun ketakutan yang nampak dari wajahnya. Tapi kenapa ia harus berpura- pura mati.
"Aku memang sudah bosan dengan kemewahan ini!" ucapnya kembali.
"kalau begitu serahkan semua aset perusahaan Endelson padaku! Atau aku akan membunuhmu! " ancamnya,
"Aku akan mati jika aku mau! Tapi, bukankah harta kekayaan Endelson akan jatuh pada yayasan jika aku mati, apa kau masih mau membunuhku?" tanyanya kembali.
Erik berfikir jika semua menjadi milik yayasan tentu ia juga akan rugi besar, dan bisa di tebak kehidupannya akan sesulit apa. membayangkannya saja tidak mungkin. Sedang memegang perusahaan ini dia tidak cukup kuat.
"Jadi bingung yah," Ana mengetuk dagunya mengejek Erik. " Kalau aku di bunuh kamu miskin, tidak di bunuh pasti sewaktu-waktu akan menjadi bumerang bagimu? Kau pasti berfikir begitu bukan?" tanyanya dengan nada mengejek..
Erik diam, apa yang di katakan wanita di hadapannya ini memang benar yang sedang ia pikirkan.
"Tidak perlu heran! Bahkan aku bisa menebak semua rencana mu!" jelasnya.
"Pergilah! Jika tak ada lagi yang perlu di sampaikan! Bersabarlah jika ingin merasakan kursi panas ini!"
Erik yang sudah merasa kesal segera pergi bersama kedua pengawal yang berada di balik pintu.Ia berpikir keras, dari dulu memang tidak pernah menang jika menghadapi Ana, dan hanya satu kelemahannya. Ia tersenyum, mengingat kelemahan- kelemahan Anastasya.