I'M Sorry My Hubby

I'M Sorry My Hubby
Penghianatan



Hari berlalu begitu cepat, sudah hampir satu bulan orang tuanya masih terbaring di rumah sakit. Ana sibuk merawat orangtuanya. Hingga ia lupa dengan kabar buatan tentang kecelakaan yang menimpanya di USA. Tapi, Ana sudah mempercayakan semuanya pada James.


Seseorang datang membawa berkas di tangannya. Saat itu ia tengah menyuapi sang ayah. Sekertaris sang ayah meminta waktu untuk membicarakan perusahaan.


Ana mengajak tamunya itu untuk berbicara di luar, ia tak ingin membebani pikiran ayahnya yang baru saja sedikit membaik.


Duduk di sebuah taman, yang saat ini masih tampak sepi. Mereka berdua membicarakan perkembangan perusahaan sang ayah. Ana memicing tajam menatap mata pria di hadapannya.


Merasa yakin ada sesuatu yang disembunyikan membuatnya tidak akan sepenuhnya percaya pada pria parubaya ini, dia bukanlah ayahnya yang terlalu baik.


"Besok aku akan ke perusahaan!" jawabnya ketika Sekretaris sang Ayah yang bernama Pak Bambang itu menyerahkan banyak berkas yang harus Ana tandatangani.


"Tapi, bagaimana dengan Tuan? Apa anda tega meninggalkan Tuan dan nyonya?" tanyanya.


"Apa kau takut?" Ana bersidakep.


"Ten- tu saja, tidak!" ucapnya dengan terbata.


"Pergilah! Tinggalkan berkas itu di sini!" pintanya.


"Ta- ta- pi Nona," ucapnya dengan terbata.


Ana menatap tajam, "Kau tahu bukan? Aku tidak suka mengulang kata- kataku!" ucapnya hendak berlalu, namun ia menadahkan tangannya agar orang kepercayaan ayahnya mau segera menyerahkan berkas ditangannya.


_______________________**___________________


Matahari sudah terbit dengan sempurna menghangatkan bumi, sinar keemasan menembus celah- celah kegelapan.


Seorang Wanita cantik sudah siap untuk datang ke perusahaan ayahnya. Dia selalu berpenampilan Anggun dan elegant. Meski tidak memakai pakaian yang formal.


Meski hanya mengenakan mini dress berwarna hitam yang di balut blazer berwarna putih yang hampir kontras dengan kulitnya serta di lengkapi sepatu hak tinggi menemani langkahnya.


Ketua pelayan datang menghampiri, "Nyonya, sarapan Anda sudah siap!" ucapnya, Ana menatap pria paru baya yang sering ia temui saat berkunjung ke rumah ini bersama kakek Robert. Menatap pria di sampingnya ini mengingatkan dia pada kakeknya. Senyuman hangat itu membuat ana teringat kembali kenangan manis bersama kakeknya.


"Baiklah."


Pria itu menggeser kursi dan mempersilahkan nyonya untuk duduk. Dengan anggun wanita itu menikmati hidangan yang telah tersaji.


Seperti dapat lotre, saat ini ia mendapatkan senyuman di pagi hari, dari nyonya mudanya. Ana memang dingin tapi sebenarnya dia ramah pada orang- orang di dekatnya.


Sedang di rumah ini ia jarang sekali berkunjung, sehingga mengira Nona ini begitu sangat mengerikan. Mereka selalu tampak tegang saat menghadapi Ana.


Meja makan yang luas hanya dia seorang yang menikmati hidangan. Ia ingin bertanya keberadaan adiknya, namun ia urungkan karena seseorang tengah datang menghampirinya.


"Nyonya, mobil sudah saya siapkan." Bambang berbicara dengan membungkuk sebagai tanda rasa hormat pada nyonya mudanya.


"Aku akan pergi dengan Jordan!" jawabnya dengan berlalu tanpa menoleh sedikit pun pada lawan bicaranya. Seorang pelayan berlari mengenakan blazer yang sempat Ana letakan di kursi meja makan.


Bambang menghembuskan napas kasarnya.


Jordan membuka pintu mobil untuk nyonya-nya. Berbeda dengan James meski Jordan adalah adik James tapi Ana tidak dekat dengan pria yang sudah siap dengan kemudinya ini. ( James adalah sahabat sekaligus pengawal pribadi Anastasya).


"Maaf, yang saya ketahui akan di adakan rapat hari ini, Nyonya," jelasnya.


Ana hanya menghembuskan nafas kasarnya. Pikirannya melayang jauh, ia merindukan suaminya. Tapi, jika ia ingat penghianatan suaminya rasa sesak itu kembali datang.


Selang beberapa waktu, mereka sampai di perusahaan besar yang terpampang nama kelurganya. Dengan pasti ia melangkah masuk, semua karyawan menyambut kedatangan nyonya muda yang terkenal di kalangan pebisnis dengan kecerdasan dan ketenangannya dalam menghadapi banyak masalah.


Semua menyambut kedatangannya, senyuman dari semua karyawan tampak ramah. Ana melihat setiap wajah - wajah yang menyambutnya. Ia memicing pada salah satu karyawannya yang tertunduk takut.


Wanita yang sangat disegani itu membisikan sesuatu pada Jordan sehingga membuat pria bertubuh tinggi yang tengah berdiri di sampingnya segera pergi. Sedang Ana terus berjalan menuju ruangan ayahnya.


Memasuki ruangan dengan interior yang elegant, ia menyusuri ruang kerja ayahnya. Terpampang nama sang ayah sebagai Presdir.


Membuka pintu ruang pribadi ayahnya, terpampang foto besar keluarganya yang lengkap, ia mengusap satu persatu wajah orang tua dan kedua adiknya. Tangannya terhenti pada sosok Andra adik yang paling dekat dengannya. Ia tak menyangka akan kehilangan untuk selamanya.


Ana masih ingat saat akan berfoto, mereka memaksa adiknya yang dingin itu untuk tersenyum, tetesan bening itu jatuh, ia tidak bisa menahannya. Kali ini ia ingin menangis meluapkan semua kesedihannya.


Dimata publik ia selalu tampak tenang, anggun dan tak pernah terlihat marah atau menangis, mereka menganggap Ana adalah sosok yang menjadi panutan. Kenyataannya Ana hanyalah wanita biasa yang punya hati.


Wanita yang tengah bersedih itu meghapus air matanya, membasuh mukanya dan kembali memasang muka tegas dan tenangnya. kembali memasuki ruang kerja ayahnya.


Menyadari sesuatu, ia sibuk membawa nama perusahaan Endelson di atas angin di kenal dunia. Namanya di kenal dunia, bahwa ia adalah pemegang sah seluruh aset Endelson. Namun jauh di dasar hatinya, perusahaan inilah yang sebenarnya miliknya.


Semoga tidak terlambat, ia menelantarkan perusahaan yang di bangun dengan kerja keras ayahnya. Ia menyandarkan tubuhnya memikirkan banyak hal tentang perusahaan ini.


Kembali menegakkan duduknya, memijat pangkal hidungnya saat memeriksa semua berkas yang sangat kacau. Berpikir keras apa ayahnya tahu tentang kejanggalan- kejanggalan yang terjadi di perusahaannya.


Ana menyesal tidak membantu ayahnya mengelola perusahaan ini. Bahkan ia tidak mengetahui jalannya perusahaan ini, sungguh bodoh ia terlalu fokus dengan pendidikan dan perusahaan suaminya.


Ia sudah mendapat pencerahan dari berkas- berkas yang ia rampas paksa dari orang kepercayaan ayahnya.


Ketukan pintu menghentikan aktifitasnya, seseorang yang sangat ia kenal datang memberitahukan bahwa rapat divisi akan segera dimulai.


Dia sudah memiliki bayangan tentang apa yang terjadi terhadap perusahaan ini. Hanya saja, dia harus lebih jeli untuk menebak dengan pasti siapa yang telah menghianati ayahnya.


Ana berjalan dengan di dampingi Bambang di sebelah kirinya dan Jordan di sebelah kanannya. Mereka berjalan tepat di belakang Ana. Ia memasuki ruangan.


Ana terhenyak, ini bukan rapat divisi.


Ana menatap tajam Bambang dan jordan, Jordan hanya membisikan agar dia bisa tetap tenang. Bambang hanya tersenyum tipis.


Ana sudah bisa menebak ini adalah rapat pemegang saham apa yang di rencanakan. Saat ini Bambang membagikan berkas pada semua anggota.


Lagi- lagi ia di buat terkejut, acara macam apa ini. Aset perusahaan dan penurunan omzet perusahaan. Apa maksudnya dari kata hampir bangkrut. Bukankah Ayahnya membuka cabang baru. Tapi kenapa bisa di ambang kehancuran.


Lalu siapa yang tega menghianati ayahnya. Apa dugaannya benar. Ia bergelut dengan pikirannya.


TBC