I'M Sorry My Hubby

I'M Sorry My Hubby
Maaf



Arini melihat ada pergerakan dari bibir sahabatnya meski tak terdengar itu cukup membuatnya memiliki harapan. Dia berdiri dan segera berlari dengan lutut yang masih bergetar mematikan shower yang terus membasahi tubuh sahabatnya.


"Bodoh, bodoh! Kenapa tidak mengatakannya, hah!" makinya dengan memeluk sahabatnya dengan deraian air mata.


Dini hanya tersenyum dan air mata kembali mengalir dari matanya yang tampak sendu.


"Dini, bertahanlah!" ucapnya dengan melepas syal dari lehernya dan mengikat pada pergelangan sahabatnya.


"Lo pasti sembuh." Arini memeluk di Dini dengan erat dengan bibir yang terus meminta tolong.


"Ar, maafin aku," lirihnya.


"Hey, bicara apa Lo, gue yang salah," Arini semakin erat memeluk sahabatnya dia membuka sweter yang dikenakannya sehingga Arini hanya mengenakan kaus dalam wanita saja.


"Ar, kau pakai sweternya aku tidak mau kau kedinginan," lirihnya.


"Diam, bodoh! Kenapa masih memikirkan gue yang telah jahat pada Lo, Din!" Arini berbicara dengan menangis.


"Ar, aku tidak bermaksud menghianati persahabatan kita, aku tidak ingin kau terluka melihat penghianatan wanita iblis itu! Lebih baik aku yang terluka jangan kau!"


"Dasar bodoh! Lo orang terbodoh, Din! Kenapa rela mengorbankan hidup demi gue, hah! Gue nyalahin Lo, Kenapa diam saja!"Arini mencangkup kedua pipi sahabatnya dengan menghapus air mata sahabatnya dan kembali memeluknya dengan erat.


"Jika terjadi sesuatu, Din! Gue akan menyalahkan diri sendiri seumur hidup, jadi bertahanlah!"


Tidak ada jawaban dari sahabatnya hanya terdengar tangisan pilu yang semakin membuat Arini merasa sedih.


Seseorang datang, langkahnya sangat nyaring terdengar membentur lantai. Arini berteriak mengatakan keberadaannya. Pria itu datang dan melihat pemandangan yang sangat mengharukan.


Arini yang tengah memeluk sahabatnya dengan menangis tak hentinya memaki polisi yang baru datang.


Kenapa lama sekali! Tolong gendong dia, Pak! Kita ke rumah sakit!" titahnya.


Dengan sigap pria bertubuh tegap itu hendak menggendong Dini namun dengan nada lemah Dini menolaknya.


"Kumohon, jangan sentuh aku, aku tidak sanggup melayani mu!" lirihnya yang membuat Arini semakin menangis.


"Lo kenapa, Din? Polisi ini hanya akan membantumu!"


"Tidak, tolong aku Ar, aku tidak sanggup melayaninya!" Semakin menangis melihat sahabatnya seperti orang yang trauma.


"Percayalah, Din, ada gue dia hanya akan membantu membawa Lo ke rumah sakit," Arini mencoba menenangkan namun Dini terus menolak.


"Paksa saja! gue tidak mau dia kehilangan darah!"


Pria itu hanya mengangguk dan segera membopong tubuh Dini yang basah menuju mobil Arini yang terparkir cukup jauh di dekat pos security, sampai disana penjaga rumah menanyakan apa yang tengah terjadi.


"Nona Arini apa yang terjadi pada Nona Dini?" nampak kekhawatiran dari wajah pria yang sudah berumur ini.


"Nanti Ar jelaskan, Pak!" Arini membuka mobilnya dan meminta pria yang tengah baik hati itu menidurkan Dini di kursi belakang.


Di dalam mobil Arini menidurkan Dini di pahanya. Dering ponsel masih terdengar namun di abaikan. Arini adalah orang yang tidak suka terlalu banyak bermain ponsel.


"Ar, jika aku pergi ...," ucapanya terpotong.


"Jangan bicara yang tidak-tidak, bodoh!"


"Ar, maaf," lirihnya.


"Maaf, apa sih, Din! Gue yang minta maaf selama ini tidak tahu kau hidup dengan seorang iblis!"


"Dia melebihi iblis, Ar!" Dini kembali meneteskan air matanya.


"Ia, Lo benar! Dia siluman ular!" cicit Arini.


"Hey, bahkan dia lebih kejam dari siluman, Ar!" ucapnya dengan tersenyum tipis.


"Lo bodoh! Masih bisa tersenyum setelah buat gue panik!" Arini berucap dengan menangis.


"Ar, aku sakit!"


"Kenapa Lo ga cerita!"


"Kamu bilang dia ibu yang baik, Ar!"


"Maafin gue, Din, bahkan gue tidak bisa menilai seorang iblis yang bahkan merusak masa depanmu."


"Ar, jika aku mati sampaikan maafku pada Shinta,"


"Gue hajar Lo! Jika Lo bicara seperti itu lagi.


"Sakit, Ar!"


"Bertahanlah, jangan terus berdebat kau pasti kuat!"


"Ar, tubuhku sudah kaku."


Mendengar itu Arini semakin panik beberapa kali Dini memejamkan matanya namun Arini terus mengajaknya berbicara. Dia tidak mau Dini sampai tertidur karena saat ini kondisinya sangat kritis. Menatap kesal pada pria yang tengah mengemudi karena tiba-tiba menghentikan mobilnya.


"Kenapa berhenti?!" Arini berbicara dengan berteriak.


"Lampu merah," singkatnya.


"Hey, jalanan sepi, abaikan saja rambunya! Cepat jalan! Apa tak lihat sahabatku kritis, hah?"


"Tetap, tidak bisa!"


"Astaga! Ku hajar juga!" Arini tampak marah.


TBC