
Dini menghembuskan napas kasarnya ketika ia melihat pria yang tadi terengah-engah dan sekarang sudah tertidur pulas.
Menggeser tubuh gendut itu dengan kedua tangannya. Turun disebuah ranjang king size dengan tubuh yang terasa remuk.
Memanfaatkan kamar mandi ini untuk membersihkan bau yang sangat ia benci. Guyuran air di tengah malam membuat tubuhnya terasa ngilu.
Pekerjaan ini sudah biasa ia jalani. Julukan ayam kampus telah melekat didirikan. Namun karena keberadaan Arini dan Shinta membuat tidak ada yang berani mencemoohnya saat berada di kampus.
Tidak lama ia keluar dengan hanya mengenakan handuk yang tersedia di hotel ini. Memunguti bajunya yang tengah tercecer. Kembali merias wajahnya namun tidak semenggoda tadi. Ia hanya mengikat rambutnya. Menyambar tas yang tadi terjatuh di lantai akibat perbuatan pria tua yang tengah kelelahan saat ini.
waktu sudah menunjukan 02.00 dini hari.
Bajunya yang di kenakan membuatnya kedinginan.
Sesuai perjanjian setelah tugasnya selesai ia akan kembali ke rumahnya. Mencari keberadaan supir itulah yang tengah ia lakukan.
Seorang pria bertubuh tinggi wajah yang tampan dan berkulit putih menghampirinya.
"Nona, saya antarkan pulang," ucapnya dengan membungkukkan badannya. Hanya anggukan sebagai balasan.
Sebelum masuk pria itu membuka jaket miliknya dan mengenakan pada tubuh Dini yang terbuka.
"Pakailah," titahnya, Dini hanya mengangguk haru. "udara malam tidak bagus, kenapa anda mengenakan baju yang sangat terbuka," cicitnya saat mereka telah berada didalam mobil.
"Karena profesiku sebagai wanita malam, kalau aku menjadi ustazah aku akan memakai gamis," tukasnya dengan tersenyum masam.
Melajukan mobil dengan kecepatan sedang, tidak ada percakapan di antara mereka. Dini masih memejamkan matanya bukan mengantuk. Air bening itu tak terasa membasahi matanya. Masih mengingat kenangan bersama kedua sahabatnya. Bahkan, dia tidak mengantar kepergian sahabatnya Shinta ke China.
"Arini, Shinta aku rindu," gumamnya.
"Berhentilah di salah satu tempat makan," titahnya tanpa bergeming hanya bibir mungilnya yang tampak bergerak.
"Kita makan di mobil saja," titahnya.
"Apa kau malu?" tanyanya dengan mengerutkan dahi.
"Bukan begitu, Nona, hanya saja. Apa kau rela tubuhmu menjadi tontonan?" cicitnya.
"Aku sudah terbiasa!" tukasnya hendak keluar.
"Tidak, Nona, saat kau bersamaku maka kau adalah tanggung jawabku. Berpenampilan seperti ini di waktu yang hampir pagi akan memicu seorang pria berbuat tidak senonoh," jelasnya yang membuat Dini menutup kupingnya karena ia begitu sangat cerewet. Tali, dia juga baru kali ini merasa di perlakukan seperti wanita terhormat.
Supir yang memiliki ketampanan dan kegagahan itu keluar dari mobil mewah Tuannya. Membeli nasi goreng yang berada di pinggir jalan.
Kembali dengan bungkusan ditangannya. Memberikan pada wanita di sampingnya. Pria itu merogoh bantal kecil dari kursi belakang dan memberikan pada Dini yang tengah sibuk membuka bungkusan ditangannya.
"Tutupi pahanya dengan ini, karena aku tidak memiliki hak untuk melihatnya," cicitnya dengan tersenyum dan sukses membuat Dini sedikit tersinggung.
"Dasar pria sok suci!" Bukan menutup tapi malah mengankat satu kakinya tinggi sehingga hampir menampakkan semuanya. Dini terkekeh melihat ekspresi pria di sampingnya.
"Astaghfirullah, aku harus memilih antara rejeki atau dosa," ucapnya dengan membuka pintu mobil dengan wajah yang sedikit ketakutan seperti melihat setan dan itu sukses membuat Dini tertawa.
"Kau ingin melihat yang lain?' tanyanya dengan mengedipkan sebelah matanya.
Mata pria itu membulat sempurna.