I'M Sorry My Hubby

I'M Sorry My Hubby
Kenyataan Pahit, Arini.



Mendengar suara pasangan yang tengah asik dalam permainannya pun berbalik. Berapa kaget tentang siapa yang berada di ambang pintu.


Putri sulungnya tengah berdiri dengan linangan air mata. Dengan tergesa ayahnya menurunkan wanita yang berada di pangkuannya.


Arini menatap datar, marah, yah, dia sangat marah, matanya merah kedua tangannya mengepal sempurna. Sesak, perih, nyeri di ulu hati. Papah yang selalu berkata sibuk dan banyak proyek di luar kota. Hingga tidak memiliki banyak waktu untuk keluarga. Sekarang terbukti, kesibukannya adalah bercinta. Sebentar, Arini memicing tajam wanita yang tengah membelakanginya.


Dia seperti mengenal tapi siapa, ia semakin penasaran kenapa terus membelakanginya. Ia hampir mendekat Ia tak peduli dengan ayahnya. Ia penasaran siapa wanita yang berani mengganggu keutuhan keluarganya.


Brenda, POV


Bagaimana ini, dia semakin mendekat, aku takut dia tahu siapa saya. Bagaimana dengan anakku jika dia tahu, aku tahu amarah gadis ini. Tapi semua sudah terlanjur, please, Mas, hentikan anakmu jangan sampai dia mengetahui siapa aku sebenarnya.


Wanita itu terus bergelut dengan pikirannya.


"Arini, ayo, Nak, kita bicara diluar papah akan jelaskan semuanya!" ajaknya memegang tangan anaknya yang tengah penuh amarah.


"Diam! Jangan kau sebut namaku dengan mulut kotormu!" tukasnya dengan tetap melanjutkan langkahnya dan menepis tangan pria parubaya yang tengah dilanda kecemasan.


"Arini...!" panggilan itu tak mengurungkan niatnya.


"Diam, atau ku habisi kalian!" bentaknya, ia tahu anaknya ini tidak pernah main- main dengan ancamannya.


Dengan pasrah pria paruh baya itu membiarkan anaknya mendekati selingkuhannya.


Baru saja Arini akan memegang pundak wanita di hadapannya yang masih memunggunginya Suara teriakan sang sahabat mengurungkan niatnya.


"Arini kau tak apa? Aku khawatir, apa hantu itu mencekik- Mu?" suaranya terdengar namun orangnya belum terlihat.


"Astaga! Ada apa ini kenapa paman tidak memakai baju? Paman udara disini dingin, nanti masuk angin," cicitnya polos ketika ia masuk kedalam ruangan yang tengah mencekam.


Arini menatap datar sahabatnya yang bodoh urusan seperti ini.


"Pergi, Shin," titahnya dengan berbalik menatap sahabatnya.


"Nah, itu pasti hantunya, jangan terlalu dekat, lihatlah, Ar dia mengenakan pakaian tipis dan rambutnya tergerai. Eh, sebentar kenapa warna baju hantu sekarang berwarna merah, seperti baju tidur Mamy aku!" cicitnya dengan menatap heran.


"Pergi, gue bilang pergi!" bentaknya yang membuat Shinta terlonjak kaget namun tetap tak mengindahkan bentakan sahabatnya.


"Ar, apa hantu itu telah masuk ketubuhmu? Apa kau kerasukan? sadarlah, baiklah aku akan panggil orang pintar!"


"Pergi, Shin, sekarang kau tunggu aku di bawah, yah, aku baik-baik saja, aku akan memasukan hantu ini kedalam botol!" jelasnya dengan perlahan agar sahabatnya segera pergi.


"Kau sudah bisa jadi orang pintar?" tanyanya.


"Astaga!" Arini mengepalkan tangannya tapi mencoba membuat mimik mukanya tenang agar sahabatnya tidak khawatir.


"Pergilah, aku butuh konsentrasi untuk membunuh hantunya!" ucapnya dengan mengeratkan giginya.


"Hati- hati!" ucapnya tampak khawatir.


Shinta, POV


Arini kenapa yah, bahkan hantunya terus membelakanginya, sepertinya dia benar bisa membuat hantu menurut. wajar juga sih karena dia kan galak. Aku heran kenapa paman tidak pakai baju? Apa itu ritual mengusir hantu. Entahlah, sebaiknya aku tunggu saja di sini. Shinta duduk di tangga dengan menopang kedua dagunya dengan terus berpikir.


"Mau kemana kau, j*lang!" bentaknya pada wanita yang hampir berlalu kabur dari suasana yang begitu tegang.


Dengan kasar Arini membalikan wanita dihadapannya, ia menatap datar, merasa tidak percaya tentang apa yang dilihatnya saat ini. Namun, inilah kenyataan pahit yang harus ia telan.


Kecewa? Yah, sungguh ia kecewa. Dia berpikir, bahwa wanita ini adalah orang baik, yang selalu menggantikan ibunya menjaga adiknya ketika di rumah sakit. Ia juga selalu menenangkan ibunya ketika keadaan adiknya drop. Tenyata dia adalah orang yang menghancurkan kebahagiaan keluarganya.


"Tante...," panggilnya lirih. Ia masih ingat ketika ia menangis di pelukan wanita dihadapannya ketika ia membutuhkan seorang teman untuk berbagi dan wanita ini yang selalu mencoba menenangkannya. Ternyata itu semua hanya kedok belaka.


"Kenapa?" bentaknya, namun ia sudah lemah melihat kenyataan orang yang ia percaya tidak terasa ia menjatuhkan tubuhnya di lantai.


"Dia...," ucapnya terbata dan merasa gugup.


"Jangan bilang kalian ...." Arini menghentikan kalimatnya dan kembali berdiri.


Wanita dihadapannya hanya terdiam.


"Bahkan, temanku sendiri juga menghianati aku, cih, kalian benar- benar membuatku muak. Tante Brenda tahu bukan? Sebuah penghianatan itu akan ada karmanya! Jika tidak terjadi pada tante maka Dini lah yang akan merasakannya."


"Kenapa kau menyumpahi temanmu sendiri?" tukasnya dengan sedikit kesal.


"Kenapa? Kau takut? Sudahlah, kalian sudah dewasa selesaikan urusan kalian dan ingat satu hal jangan pernah muncul di hadapanku wanita menjijikan!" geramnya dengan mendorong tubuh teman baik ibunya.


"Arini jaga bicaramu!" bentaknya dengan suara yang keras.


"Jaga perbuatan- Mu papah! Oh, maaf, rasanya kau tak pantas mendapat sebutan terhormat dari mulutku!" Arini berlalu dengan membanting pintu kamar yang menjijikan.


Niat hati ingin bersenang-senang malah mendapatkan Mala petaka.


Di tempat yang berbeda seorang wanita cantik masih setia dengan memainkan jarinya mengukir nama di sebuah tangga dengan mendekap kedua lututnya. Ia masih menunggu sahabatnya, sesekali ia melihat kanan kiri merasa takut. Yah, Shinta memang penakut.


Ia mendengar derap langkah tapi kenapa ritmenya terasa cepat menggema membentur lantai. Ia menengok dan benar itu sahabatnya. Tapi kenapa dia berlari pertanyaan itu menelisik di pikirannya. Apa itu dia? kenapa dia menagis, apa hantu itu mencekiknya.


"Astaga! Arini kau kenapa?" tanyanya penuh kekhawatiran namun lawan bicaranya hanya diam dengan terisak.


"Papah ...," jawabnya dengan terisak.


"Oh, Astaga, apa papahmu dimakan hantu itu?" tanyanya.


Arin sudah merasa geram dengan pikiran bodoh temannya.


"Papah selingkuh," tukasnya dengan tetap menangis.


"Dengan hantu baju merah? Tidak salah lagi pasti papah mu melakukan pesugihan!" tukasnya dengan penuh keyakinan.


"Hentikan, pikiran bodohmu! Papah selingkuh dengan tanteu Brenda bukan dengan hantu!" sentaknya dengan penuh kekesalan.


"Ma- mak-sudmu ....," ucapnya dengan terbata.


Arini hanya mengangguk pelan.


"Jadi tadi bukan hantu merah? Astaga! Kenapa?" Ia tampak shock melebihi Arini.


"Ayo kita hajar! Beraninya tante Brenda! Tidak tahu diri, sudah di kasi pekerjaan malah makan teman!" ucapnya dengan menarik tangan Arini menuju kamar ujung.


"Sudahlah," Arini sudah males melihat kedua orang itu dan dia ingin lenyap saja merasa malu dan di khianati.


"Apa Dini tahu?" tanyanya dengan memegang kedua bahu sahabatnya.


"Heem." jawabnya dengan mengangguk lemah.


"Kurang asem! Dini ku habisi kau!" ucapnya dengan berjalan menuruni tangga dengan tergesa.


Arini sudah tidak sanggup menahan sahabatnya Yang sudah kesetanan. Menyesal, entahlah bercerita pada Shinta yang tulalit dan emosian sepertinya bukan ide bagus. Tapi jika bukan padanya kepada siapa dia harus mengadu. Ibunya, tidak mungkin ia menceritakan penghianatan papahnya. Ish, bahkan mulutnya terasa berat memanggil sebutan itu.


Sampai di bagasi tampak mobil sahabatnya masih terparkir. Shinta berjalan dengan tergesa sehingga Arini hampir tak sanggup mengimbangi langkahnya.


"Dini! Buka mobilnya, sialan!" ucapnya dengan menggedor pintu mobil sahabatnya.


Dini kelabakan di dalam mobil, mereka mengunci mobilnya dari dalam karena saat pergi Arini meninggalkan kunci mobilnya.


"Dini, Buka, cepat! Atau ku hancurkan kacanya!" teriakannya.