
Jarak yang di tempuh tidak terlalu jauh, hanya saja jalanan disini masih sangat sepi dan tidak merata. Tujuan Ana saat ini adalah jauh dari hirup pikuk kota.
Tinggal di tepian kota adalah pilihan wanita cantik ini. Dengan wajah orangtua yang telah di operasi total, membuat wajah orangtuanya tidak akan dikenal oleh siapapun. Sehingga mereka mudah melakukan penyamaran.
Sedang Arya anak yang masih kecil, dan tidak banyak yang mengetahui tentang keberadaan dia. Karena, ia selalu tinggal bersama neneknya di Yogyakarta.
Semenjak mengetahui kepergian Andra mereka tidak banyak protes akan semua keputusan Ana. Karena nyawa menjadi taruhannya.
Rumah lantai satu yang sederhana, disinilah mereka akan tinggal. Tidak nampak kemewahan, rumah bercat putih ini menjadi pilihan tempat tinggal mereka.
Semenjak turun dari mobil tua, Arya terus berceloteh. Masuk kedalam rumah yang memiliki daun pintu yang warnanya sudah memucat. Terbiasa hidup mewah dan di penuhi pelayan namun sekarang mereka harus terbiasa melakukan sesuatu sendiri.
Mereka membantu orang tuanya untuk kembali duduk di kursi roda. Secara bergantian mereka membopong orang tuannya, untuk duduk di kursinya. Arya mendorong papahnya, sedang Ana mendorong kursi ibunya.
Semua barang bawaan ia bawa masukan sendiri ke dalam rumah. Dulu jangankan membawa koper yang berat seperti saat ini. Membawa Berkas saja, akan ada orang yang membantunya.
Memang kadang hidup sangat cepat sekali berputar. Tuhan sedang mengujinya saat ini, mereka benar- benar meninggalkan kemewahan yang mereka punya.
Arya Masuk ke dalam kamar yang tidak begitu luas, namun ia berteriak mencari kamar mandi. Ana hanya terkekeh melihat tingkah sang adik yang terus mengomel.
"Kakak! Dimana kamar mandinya?" tanyanya dengan berteriak.
"kemarilah! Akan ku tunjukan!" titahnya dengan berteriak pula.
Meski hidupnya telah berubah, entah kenapa ada hal yang membuatnya sangat bahagia. Ia merasa bisa melakukan apapun semau dia. Dulu jangankan berteriak, berkata dengan nada tinggi pun itu sangat dilarang.
Arya berjalan dengan cepat dari kamar yang tidak jauh dari sana, rumah yang sederhana membuat teriakannya terdengar dengan sangat jelas ke setiap ruangan. Ia sudah tidak sanggup menahan hasrat keinginannya untuk mengeluarkan apa yang sudah memenuhi kantung kemihnya.
"Kenapa di kamarku tidak ada toilet?" tanyanya dengan membuang muka.
"Ikutlah denganku!" ajaknya.
Mereka berjalan melewati ruang tamu dan ruang keluarga kemudian menuju dapur. Arya menghentikan langkahnya.
"Kakak, aku mau ke kamar mandi, bukan mau makan!" protesnya.
"Astaga! Kau cerewet sekali!" Yuna menarik tangan adiknya membawanya ke ujung ruangan dekat pintu belakang. Kamar mandi yang tidak sampai dua meter persegi itu membuat adiknya mengernyit heran. Ia tak menyangka ada kamar mandi sekecil ini, bahkan lebih besar dari kamar mandi sekolahnya dulu.
"Tuh, Kamar mandinya!" Yuna menunjuk kamar mandi yang tidak terlalu besar itu.
Baru saja ia melangkah, teriakan sang adik membuatnya berbalik.
"Kakaaaak!" teriakannya memecah keheningan.
"Ada apa?" tanyanya acuh, namun berjalan mendekati adiknya.
"Ada kecoa, aku takut!" ucapnya dengan memeluk kakaknya.
"Begitu saja, takut!" sentaknya, "kau ambil sapu!" titahnya kembali.
Ana masuk dengan bergidik, ia berjinjit dan terlonjak kaget saat kecoa terbang hampir mendekatinya. Ia bergidik geli namun melihat ke kanan dan kiri takut adiknya mengetahui bahwa dia juga saat ini merasa takut.
Ia melepas alas kakinya untuk memukul kecoa tapi sukses membuatnya hampir menjerit saat kecoa terbang hampir mengenai wajahnya dengan segera ia menutup mulutnya.
Saat Arya datang membawa sapu Ana berpura-pura menyingkirkan kecoa yang sudah terbang entah kemana dengan memukul apa saja di lantai.
"Sudah, begitu saja takut!" sombongnya mengejek adik lelakinya. Baru saja ia berada di hadapan adiknya dia mencium bau sesuatu yang sangat tajam.
"Sebentar kenapa ada bau- bau tidak sedap," Ana menajamkan Indra penciumannya.
"Maaf," Arya terkekeh pelan.
"Kamu mengompol, dek?" tanyanya dengan menatap celana adiknya yang sudah basah. "Astaga! Kenapa kau jorok sekali!" Ana tampak kesal melihat tingkah laku adiknya yang baru lulus sekolah dasar ini.
"Salah siapa kau membeli rumah kecil! Bahkan untuk buang air kecil saja sangat sulit!" gerutunya.
"Bilang saja kau jorok! Sudah cuci sana celanamu!" titahnya dengan berlalu.
"Tidak mau! Suruh saja pelayan!" sentaknya.
"Tidak ada pelayan, Kau layani dirimu sendiri!" Ana tak bergeming ia berbicara dengan terus melangkahkan kakinya.
Kehidupan mereka pun terus berlanjut, dengan berbagai drama adik kandungnya. Sebulan telah berlalu, orangtuanya sudah bisa berjalan dengan normal. Tidak sedikit uang yang kakaknya keluarkan untuk biaya rumah sakit.
Saat ini uang Cash yang dipegangnya sudah menipis, mengambil uang dari rekeningnya sama saja membuka penyamarannya.
Arya juga sudah melanjutkan pendidikan menengah di sekolah swasta di daerah pinggiran kota ini.
Tidak banyak yang mengenal mereka, awalnya ia selalu pergi mengenakan taksi. Seiring berjalannya waktu ia menyadari satu hal. Tatkala, ia melihat kakaknya bekerja menjadi pelayan di sebuah toko kue yang tidak terlalu besar.
Ia menyadari, bahwa kakaknya yang biasa hidup di lingkungan mewah dan di kelilingi beberapa pelayan pun, rela bekerja banting tulang untuk memenuhi kebutuhan dan biaya sekolahnya.
Entah apa tujuan kakaknya, sehingga ia rela meninggalkan kemewahan yang ia miliki. Sampai saat ini itu menjadi pertanyaan besar.
Pagi yang cerah, Arya melihat wajah kakaknya tampak pucat, tampak peluh dingin membasahi pelipisnya. Ia tampak khawatir, ia pun bertanya, namun jawaban yang sama dari kakaknya. Bahwa ia selalu mengatakan bahwa ia baik- baik saja. Bahkan setiap hari kakaknya selelu muntah- muntah yang semakin membuat keluarganya khawatir. Sampai detik ini, tidak ada yang mengetahui prihal kehamilannya.
Arya pergi ke sekolah di antar kakaknya menaiki motor matic kesayangannya. Yang baru saja di ambil secara kredit.
Nama Anastasya telah hilang, seiring hilangnya semua kemewahan dalam dirinya. Wajah yang terawat mulus, putih dan sangat menawan berubah menjadi wajah sederhana tanpa balutan makeup sedikit pun. Sinar matahari menerpa wajahnya sehingga membuat kulitnya sedikit kusam. Namun, tidak mengurangi kecantikannya.
Jiwa yang tenang, tutur bicara yang lemah lembut dan penuh dengan wibawa hilang tergantikan dengan sikap bar- bar. Bahkan, tidak ada yang menyangka bahwa dia adalah nona Anastasya yang terhormat.
Jika dulu ia berjalan dengan sangat anggun dan berkelas, serta nada bicara yang pelan namun menekan, berbeda dengan sekarang dia berjalan seperti seorang preman yang akan berperang. langkah yang cepat dan tergesa. Sungguh pribadi yang berbeda jauh.
Selesai mengantarkan adiknya ke sekolah,
Ia memutar stir motornya menuju toko kue tempat dia bekerja yang letaknya tidak jauh dari sekolah sang adik.
Memiliki keahlian memasak khas Eropa membuat toko ini berkembang pesat. Cita rasa dan olahan persis seperti makanan yang berkelas. Sehingga tak heran selalu mendapatkan pesanan dari pusat kota.
Kebutuhan kehidupan mendorong wanita cantik ini bekerja lebih ekstra. Jika.di.siang hari ia harus menjadi koki di toko kue. Malamnya ia bekerja menjadi kurir di restoran cepat saji. seperti saat ini. Hari sudah hampir menunjukan pukul sepuluh malam dan ia masih bekerja.
"Yuna." Panggilan itu membuatnya terhenyak, yang kala itu, baru saja memarkirkan motornya.
Yah, Yuna Ariana nama yang di sandang saat ini, Wanita pekerja keras untuk menghidupi keluarganya. Seorang wanita yang dulunya berada di kalangan kelas atas dan sekarang, ia harus rela menjadi buruh kasar. Ia tak pernah mengeluh, karena ini adalah pilihannya. Menjauhkan keluarganya dari ancaman orang- orang yang selalu menginginkan nyawa dia dan keluarganya.
Sampai waktu yang ia tentukan ia harus rela karena ada calon nyawa yang harus ia lindungi. Pewaris sah Endelson. Alasan itulah, yang membuat ia rela kehilangan kemewahannya.