
Seorang gadis mengenakan dress berwarna biru muda tanpa lengan yang menampakan lekukan tubuh indahnya di lengkapi sepatu hak tinggi membuatnya semakin terlihat menarik, Rambutnya yang sebahu di biarkan tergerai.
Berdiri menatap kaca dengan mata sendu dan bibir yang bergetar menahan sesak. Ingin rasanya ia menumpahkan kesedihannya, tapi pada siapa? Bahkan dia sudah tidak punya teman lagi. Tidak ada yang tahu tentang keadaannya saat ini. Beberapa menit yang lalu ia tengah mengusir teman baiknya. Meski ia tak pernah berbagi tapi bersamanya bisa menghilangkan kesedihannya.
Menangis? Tidak! Tidak mungkin keluar dengan mata yang sembab. Ia kembali menemui ibunya dan seorang tamu yang tidak ingin ia temui. Inilah kehidupan Dini, ibunya sudah tidak menutupi lagi kebusukannya.
Arini berjalan dengan penuh kekesalan. Matanya memerah ia membiarkan ponselnya bergetar di sakunya. Sudah tidak peduli dengan apalun, keluar di cafe itu dengan penuh kekesalan.
_______________**_______________
Dini POV
Aku sudah bosan mengikuti kemauan wanita itu, aku diam dia semakin menjadi. Muak? Tentu saja, aku sudah muak. Hari ini pun aku sudah dipertemukan dengan laki- laki hidung belang. Kami tidak lah hidup sulit, pensiunan ayah masih cukup untuk kebutuhan hidup kami. Masalahnya wanita yang dia bilang tengah melahirkan aku ini suka sekali berjudi.
Hari ini aku kembali bertemu salah satu yang dia katakan bahwa itu adalah temannya. Aku dipaksa bertemu sepulang kuliahku di kafe tempat aku, Arini dan Shinta menghabiskan waktu sepulang kuliah. Mereka tidak mengetahui kehidupan aku yang sebenarnya. Bukan salah mereka itu karna aku tidak ingin membebani mereka menceritakan semuanya.
Jika aku mengingat kenangan bersama mereka ingin rasanya aku menangis. Senyuman kedua orang yang selalu menemani hari- hari beratku. Mereka selalu ceria, Shinta yang Tulalit dan konyolnya Arini. Masih terekam baik di ingatanku.
Beberapa waktu yang lalu, Arini meminta aku menemuinya di sebuah toilet. Senang, aku senag akhirnya dia mau berbicara lagi padaku. Tapi, aku tidak ingin dia terlibat dengan prostitusi ibuku. Karena wanita gila ini sudah kehilangan akal sehatnya. Aku hanya takut Arini ikut dia jual juga seperti halnya padaku. Keadaan keluarga Arini semakin memburuk dan aku tahu itu. Bahkan, keluarganya sudah tidak bisa membiayai kuliahnya. Dalam diam, aku selalu membayar kuliahnya tanpa ada satupun yang tahu. Aku tidak ingin dia harus putus kuliah, cukup aku, tidak untuk dia. Meski keras dialah orang yang baik dan mau menerimaku.
Saat ini aku sudah berada di sebuah kamar yang terkunci. Jangan tanya, sudah jelas malam ini aku akan kembali menemui tamu wanita terkutuk itu.
Dulu wanita itu akan berlaku baik, bijak dan sok suci dihadapan keluarga Arini. Namun tidak untuk sekarang dia sudah menjadi iblis sungguhan tidak berkedok lagi dan itu semakin membuat aku merasa malu dan tersiksa. Karena dengan terang-terangan juga menjual tubuhku.
***
Ketukan pintu membuyarkan lamunan Dini, yang saat ini tengah duduk di depan meja rias kamarnya. Rambutnya dia ikat tinggi dengan menyisakan beberapa helai saja menghiasi wajahnya. lehernya yang putih, mulus tampak indah di lihat. Mengenakan mini dress tanpa lengan berwarna merah yang menampakan paha mulusnya serta sebagian dadanya nampak terlihat. Sepatu hak tinggi berwarna senada yang ia kenakan melengkapi penampilannya. Lengkap sudah, ia melihat pantulan dirinya seraya bergumam.
"Bagus! Aku benar- benar seperti wanita penggoda."
"Sayang kau sudah siap?" tanyanya dengan tersenyum manis dengan menggandeng tangan pria yang sangat ia benci. Pria yang merusak hubungannya dengan sahabatnya yang di anggap Arini dan Rina adalah pacarnya ternyata dia adalah gigolo ibunya. Menutupi kebusukan mereka dengan memperalat Arini.
"Tamunya sudah datang, sayang," ucapnya dengan membenarkan baju Dini yang tampak kusut.
"Baju yang ibu pilihkan sangat cocok kau kenakan," ucapnya dengan tersenyum manis.
"Yah, cocok untuk menjual tubuhku! tukasnya dengan tersenyum sinis.
"Nanti juga kau akan terbiasa melayani tamu kita, sayang," cicitnya yang membuat Dini merasa semakin muak.
"Anak mu membuat ku tegang, sayang," ucap laki-laki disampingnya ikut menimpali.
"Sudah cukup sandiwaranya, kau hanya milik ku sekarang!" tukasnya. "kau Dini jangan goda kekasihku!" ancamnya dengan mencengkram dagu gadis yang sudah tak bersua itu.
"Cih, tak Sudi!" ucapnya dengan berlalu dan mendorong kedua sejoli yang tidak waras di mata Dini.
"Kau sudah tidak sabar rupanya anakku," cicitnya yang membuat Dini semakin kesal.
"Sayang, ayo kita ke kamar! Biarkan Dini bersenang- senang dan kita juga ikut bersenag- senang!" ajaknya pada pria yang masih menatap kepergian Dini.
***
Berjalan menuruni tangga dengan penuh percaya diri. Sepatu hak tinggi mebentur kayu sehingga membuat irama yang indah. Namun tak seindah hati Dini saat ini.
Tepukan tangan dari pria tua bertubuh gendut dan rambutnya tipis membuat Dini ingin sekali melemparkannya ke laut.
"Sayang kau begitu cantik," godanya dengan mencium tangan Dini. Tiba- tiba ia kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh namun di tangkap oleh pria tua ini.
"Sempurna, aku benar- benar seperti wanita penggoda," gumamnya dengan menenggak kan kembali tubuhnya.
"Kau sedang menggoda ku sayang?" tanyanya namun tidak ditanggapi oleh Dini.
"Ayo! Kita akan pergi kemana?" tanya Dini ya g sudah sangat muak.
"Ah, kau sudah tidak sabar," cicitnya.
"Yah, tidak sabar ingin membunuhmu," gumamnya.
Seorang supir membukakan pintu mobil mewah. Supir yang masih sangat muda, sebenarnya jika di telaah seperti tertukar posisi. Bos nya tampak buruk rupa. Sedang sang supir tampak tampan, putih dan bertubuh tinggi.
Malam sudah semakin larut. Memasuki Hotel bintang lima di ibukota dengan pasangan yang buruk rupa jelas bisa di pastikan bahwa dia adalah wanita penghibur. Semua mata menatap sinis namun, apa pedulinya.
Tawaran makan malam di tolaknya. Dia tidak ingin berlama-lama berurusan dengan pria tua bangka ini.
Memasuki kamar hotel yang mewah, bukan kali pertama melakukan pekerjaan ini, sudah biasa itulah kenyataannya.
Masuk kedalam ruangan tidak segan-segan pria botak ini menutup pintu dan membanting tubuh Dini ke sebuah tempat tidur king size. Dengan tergesa ia membuka bajunya dan melemparnya sembarang.
Merangkak dengan tatapan yang memburu. Seperti singa yang tengah kelaparan yang akan memangsa buruannya.
Tangannya yang kasar membelai halusnya kulit milik wanita ini. Bermain kasar itulah yang dapat dilihat dari cara pria ini memperlakukan Dini. Deru napasnya yang memburu semakin membuat wanita ini merasa muak.
Helaian gaun yang melekat membalut tubuh indahnya kini sudah terlepas dan tercecer di lantai.
Sunyi malam menjadi saksi bisu, menjadi wanita malam bukanlah sebuah pilihan. Matanya terpejam pasrah saat pria yang pantas menjadi ayahnya ini tengah menikmati surga dunia dengan kuasanya.
****
Silahkan kalian bayangkan sendiriππ
Maaf otor angkat kaki π€eh salah angkat tangan π€
Auto ngejengkang aku angkat kakiπππππ½ββοΈππ½ββοΈ
Kalo mau lengkap di sebelahπ€ dengan cerita yang panas dan berbeda yang bikin aku meriangan membayangkan πππ€