
Ana yang menahan amarahnya sedari tadi, mulai mengepalkan kedua tangannya, ingin rasanya ia menghancurkan ruangan ini. Ia terus mengutuki kebodohannya. Bagaimana dia bisa lengah.
Sekarang dia kalah dalam permainan ini, tapi nanti, dia tidak akan membiarkan para penghianat ini hidup tenang. Matanya memerah menahan amarah yang terus bergemuruh di hatinya.
Ia teringat akan James, jika ada dia mungkin keadaannya takan seperti ini. Dia tak mungkin meminta sahabatnya untuk datang ke negara kelahirannya, mengingat perusahaan Endelson juga dalam masalah.
Ana menghembuskan nafas kasarnya. Ingin rasanya ia memaki, tapi menjadi seorang Anastasya tidaklah mudah memberikan ekspresi pada publik.
Menyandang wanita muda yang memiliki kecerdasan dan ketenangan sangatlah tidak mudah. Tapi, ia harus tetap bisa berpura- pura baik- baik saja. Tiba- tiba ia teringat sesuatu, teringat ucapan sang Kakek. "Jika kita tidak bisa membalas dengan tubuh yang sama, maka harus ada tubuh lain yang harus ia perankan," Kata- kata itu terngiang.
Seketika ide gila terbesit dari pikirannya. Ia tersenyum, mulai menetralkan emosinya. Kembali memasang wajah datar dengan sisi kelembutan dan keanggunan.
Dengan wajah tenang ia menghubungi seseorang, selang beberapa menit seorang pria paruh baya datang. Pria yang telah terang- terangan menghianatinya. Ana tersenyum ramah, mempersilahkan duduk pada tamunya.
Bambang masih dibuat bingung, bagaimana bisa wanita dihadapannya masih tampak tenang dan ramah padanya atas semua yang ia lakukan. Apa benar Nyonya mudanya akan mengakhiri hidupnya saat ini, dengan memaksanya meminum racun. Tidak ia tidak menemukan minuman di sekitarnya. Ia sedikit bernafas lega.
Ana melihat gurat ketakutan diwajah Pria parubaya di hadapannya, tampak gelisah dengan matanya melirik ke segala arah. Ana berdecak dalam hatinya namun bibirnya masih mengulas senyuman.
"Apa kau berpikir aku akan memintamu meminum racun?" tanyanya dengan bersidakep dan mendekatkan wajahnya. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena merasa wanita di hadapannya sangat cantik. Tapi, tatapan matanya yang begitu tajam.
"Kenapa?" tanyanya dengan kembali menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya.
Bambang mengerjapkan matanya beberapa kali, satu kata itu menuntut banyak jawaban. Ana masih tetap membaca mata pria di hadapannya, ada yang aneh pikirnya.
"Maafkan saya, Nyonya ...," ucapnya tulus dengan mengatupkan kedua tangannya memohon ampunan.
"Apa yang dia ambil darimu?!"
Bambang tak menyangka bagaimana wanita di hadapannya ini tahu, bahkan Jordan saja tidak tahu. Ingin menangis jika mengingat kebaikan ayahnya yang ia balas dengan sebuah penghianatan.
"Paman tahu? Eric tidak akan membiarkan orang yang menyimpan banyak rahasia tentangnya bisa tetap hidup dengan tenang!" tukasnya.
Seperti tercekik dan ditikam puluhan pisau. Ia sudah tidak bisa bernafas dengan lega. Sesak dan rasa takut menyelimutinya. Ia tahu, apa yang keluar dari mulut wanita ini bukan ancaman atau sebuah kebohongan. Karena semua orang tahu Nyonya Anastasya adalah orang yang menjunjung tinggi kejujuran dan kesetiaan.
Bambang hanya diam, ingin ia bersujud di kaki wanita ini menyesali perbuatannya. Tapi, hanya akan membuat wanita ini murka. Ia lebih memilih dibunuh Nyonya-Nya dibanding ia mati di tangan Eric. Dia tahu ini hanya mimpi karena wanita cantik ini tidak akan mengotori tangannya. Membunuh adalah sebuah larangan baginya.
"Apa aku harus memaafkan mu, paman?" tanyanya.
"Tidak, Nyonya! Bahkan aku tak pantas mendapat maaf-mu," ucapnya lirih menahan sesak. Menyesal pun percuma.
"Aku memaafkan mu, paman!" ucapnya dengan mengulum senyuman.
Apa ini, apa ini sikap asli Nyonya-Nya bukankah dia wanita yang sombong, tapi di mana letak kesombongannya ia mengerjapkan matanya merasa tidak percaya apa yang tengah terjadi.
"Jika paman ingin mengenal orang lain, dekatilah dia. Jangan kau mendengarnya dari Orang lain!" ucapnya dengan menghembuskan nafas kasarnya.
"Kau tahu paman? Aku tidak pernah menagis di hadapan orang lain," Ana menarik nafasnya dalam, sebelum ia kembali melanjutkan ucapannya, "Tapi kemarin, aku benar- benar menumpahkan air mataku di hadapanmu, paman! Kau tahu kenapa? Itu karena aku sudah menganggap paman sebagai orangtuaku."
Tak terasa Bambang menangis, ia tidak bisa Manahannya lagi, ia mencoba mengerjapkan matanya menahan sesak. Sesal pun percuma, ia lebih memilih ditembak mati, dari pada di hukum dengan rasa penyesalan seperti saat ini.
"Kau jangan menangis! Menyesal memang datang belakangan! Tapi tidak ada kata terlambat dalam bertaubat!" Ana memberikan sapu tangan miliknya. "Ambilah! Jadilah pria yang memegang teguh prinsip, paman!" Senyuman Ana seperti pedang yang menembus jantungnya.
"Paman harus menebus dengan cara apa, Nyonya?" tanyanya. Ana tersenyum dalam hati, menyelesaikan masalah baginya sangat mudah bukan dengan kekerasan tapi dengan cara istimewa yang di milikinya.
"Jangan mati!" jawabnya singkat.
Pria parubaya di hadapannya mengerutkan dahinya, berbicara dengan nyonya- nya membutuhkan pemikiran yang cerdas. Karena, satu kata yang keluar mengandung banyak arti.
"Nyonya paman benar- benar menyesal," ucapnya lirih dan mata yang benar- benar penuh penyesalan
"Buktikan rasa penyesalan paman, dengan sebuah tindakan!" ucapnya dengan tersenyum ramah.
"Jika ingin selamat! Jangan kau tunjukan penghianatanmu pada Eric, kau harus pandai berakting!" Ana berucap dengan mimik wajah yang datar, benar- benar tidak ada yang bisa menebak wajah Ana hanya ketulusan dan ucapan yang lugas yang selalu membuat orang yakin dan percaya di setiap ucapannya. Sedangkan Ana, memicing mata pria di hadapannya. Ia bernafas lega, bisa membaca satu hal.
Kali ini ia harus bisa memegang salah satu penghianat ayahnya. Jika kemarin dia menghianati ayahnya maka hari ini ia harus memastikan pria di hadapannya menghianati Eric demi dirinya.
Pria di hadapannya mengangguk pelan.
"Nyonya maaf, Jika Eric tahu tentang keberadaan Anda di sini!" jelasnya.
Ana hanya terkekeh pelan, "Tanpa kau beri tahu aku sudah tahu!"
"Ingat pesanku! Jauhkan keluargamu dari kehidupan mu, dan tetap hidup apapun yang terjadi!"
"Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang Nyonya berikan!"
"Aku memaafkanmu, paman. Tapi maaf kepercayaan-ku sudah tak ada! Buktikan, jika paman masih bisa ku percaya!" Jelasnya.
"Aku tidak akan mengecewakanmu, Nyonya!"
Ana hanya menganggukan kepalanya, "Jika aku telah tiada, Jangan putus asa dan jaga kepercayaan ku!" ucapnya dengan berdiri. Ia kembali menghubungi seseorang."
"Saya sudah selesai, jadilah pria yang baik di sisa umur paman!" ucapnya dengan menepuk punggung tangan pria parubaya itu.
"Saya permisi! Saya akan buktikan pada Nyonya rasa penyesalanku!" Ia membungkukkan badannya sebelum berlalu.
Belum lama, Bambang pergi Jordan datang dengan membawa berkas di tangannya. Ana meminta pengawal pribadi ayahnya untuk duduk di sofa ruangannya.
Ana masih sibuk dengan layar di depannya, memeriksa apa yang masih bisa ia selamatkan.
Aset perusahaan itulah yang terpenting, sebelum ia menyerahkan semuanya pada Eric ia harus siap memasukan orang kepercayaannya tapi bukan Bambang. Ia mengambil sebuah chip perusahaan yang menyimpan banyak rahasia besar tentang perusahaan besar ini.
Ana berjalan mendekati pria yang berparas sama dengan James asisten pribadinya di USA.
TBC