I'M Sorry My Hubby

I'M Sorry My Hubby
Kedatangan Shinta



Berada di ruangan yang tidak pernah dibayangkan Arini. Menjadi seorang yang selalu optimis meyakinkan dirinya bahwa Dini tidak akan pernah mengalami hal yang mengerikan seperti saat ini.


Melihat sahabatnya terbaring lemah tak berdaya membuatnya tidak sengaja menutup mulutnya dan menitikan air mata. Tidak pernah menyangka hal ini akan terjadi. Selang-selang terpasang untuk menopang kehidupan sahabatnya. Tidak bisa dibayangkan jika selang itu terlepas karena kesulitannya saat ini. Bunyi monitor nyaring terdengar.


Dengan langkah yang sendu ia mulai mendekati sahabatnya. Meski belum mengisi perutnya melihat keadaan sahabatnya cukup membuatnya kenyang. Sedikitpun tidak memiliki selera makan.


Duduk dengan memegangi tangan sahabatnya. Mencium telapak tangannya dengan terus menangis. Mengajak berbicara hanya itulah yang bisa dilakukan Arini saat ini. Harapannya adalah Shinta, semoga dia bisa meringankan bebannya dalam biaya pengobatan Dini. Namun, sampai detik ini Dini belum mendengar kabar Shinta kembali ke Indonesia.


Arini mulai mengajak bicara sahabatnya.


"Din, kenapa Lo begitu bego? Bisa-bisanya bertahan hidup dengan wanita iblis itu! Tapi, kau tenang saja, aku sudah menjebloskannya ke penjara. Aku pastikan dia membusuk disana. Kau tahu? Aku juga menjebloskan gigolonya juga. Jadi, kau bisa hidup dengan aman sekarang," cicit Arini dengan terus menangis mengingat penderitaan Dini selama ini.


"Din, kau ingat? Aku ..., ucapan Arini terpotong karena pelayang Dini memanggilnya.


"Ah, aku ada urusan sebentar. Kau tunggu yah, Din!" ucap Arini berpamitan pada sahabatnya yang sama sekali tidak merespon.


Arini membuka baju yang di khususkan untuk dapat masuk ruangan ini. Berjalan keluar menemui orang yang tadi memanggilnya.


"Kenapa Bik, apa Shinta telah datang?" tanya Arini.


"Maaf, Non Arini diminta keruang Administrasi. Tadi suster berpesan," ucapnya dengan menunduk. "non, maafkan, bibik, tidak bisa membantu," lirihnya.


"Tidak apa-apa, bik, doakan saya semoga bisa membiayai Dini," ucapnya dengan menepuk punggung tangan wanita paruh baya dihadapannya.


***


Duduk di kursi tunggu yang terletak di depan pintu ICU. Memegang kertas dengan tatapan yang sendu. Menghembuskan napasnya mencoba menenangkan dirinya. Pada akhirnya, dia harus menjual satu-satunya mobil kesayangannya. Arini berharap semoga hasil penjualan mobilnya cukup untuk biaya Dini dan adiknya. Saat ini dia baru menyadari kesalahannya.


Arini POV


Awalnya, saat adikku lahir. Aku menyambutnya dengan suka cita, berharap suatu saat bisa menjadi temanku. Tapi, kenyataan itu begitu menyakitkan. Saat aku berumur Lima tahun aku sudah memiliki adik laki-laki.


semua perhatian tercurah padanya. Baik orangtuaku ataupun kakek dan nenekku. Mereka selalu berkata aku lebih beruntung dari adikku. Rasanya terasa perih saat aku hanya bermain sendiri karena lagi dan lagi keluargaku harus ke rumah sakit mengobati adikku.


Aku selalu membencinya. Bahkan, aku tidak pernah mau berbicara dengannya. Hadirnya seperti Rival bagiku. Aku memang terlalu egois. Tapi bukankah itu wajar? Bahkan, tidak ada yang memberiku selamat saat aku juara kelas. Hingga aku menjadi anak yang lebih suka membuat masalah dengan begitu mereka akan memperhatikan aku. Tapi semenjak aku dewasa mereka bahkan tidak pernah peduli apapun yang kulakukan. Hingga aku beberapa kali berpindah kampus dan saat ini sudah dipastikan aku di DO.


Sekarang aku menyadari satu hal. Melihat Dini, aku tidak tahu ternyata dia begitu menderita dibalik bahagia yang dia tunjukan. Aku berpikir apakah adikku merasakan hal.yang sama? Benarkah aku orang yang beruntung, hanya aku tidak menyadarinya? Entahlah, hanya saja aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama.


Bagaimana keadaan adikku, sungguh aku ingin tahu. Namun, rasa gengsi telah merajai. Engan rasanya aku bertanya. Terlebih rasa kecewa terhadap ayah kandungku. Sungguh dia sangat menjijikan.


***


Kembali teringat kondisi Dini. Saat ini dia harus lebih mengutamakan keselamatan Dini karena tidak akan ada yang menjamin biaya pengobatan selain dirinya. Sedang adiknya akan ada orangtuanya yang akan melakukan apapun demi putra kesayangannya.


Arini hendak berdiri dan memakai tasnya dia harus segera menjual mobilnya. Namun diurungkan saat mendengar suara yang sangat ia kenali. Hatinya merasa bahagia, setidaknya dia ada teman untuk berbagi.


"Arini! Wah, kau kah itu?" teriaknya memecah kesunyian rumah sakit.


Arini berdecak. Entah kenapa dia bisa lulus kuliah padahal begitu tulalit, meski Arini akui Shinta memang senang membaca buku.


"Kau Arini, kan?" tanyanya dengan memegang kedua pundak Arini.


"Haha, kau aneh! Dress siapa yang kau pakai? Aku yakin kau meminjamnya!" cicitnya.


"Bukan waktunya membahas hal tidak penting bodoh!" Arini mencekik Shinta dengan sikunya dan memukul kepala sahabatnya. Bukanya marah Shinta malah tertawa melihat wajah Arini yang kesal.


"Kau seperti memakai daster cici-ku! Mana ada dress yang kebesaran begitu, haha. Seperti ondel-ondel Jakarta!" godanya dengan terus tertawa.


"Berisik!"


"Hey, lepaskan aku bodoh! aku bisa mati jika terus kau siksa!" Shinta terus protes dengan perlakuan Arini namun tidak di gubris.


"Tidak akan gue lepas! Enak saja Lo pergi ke China ninggalin gue!"


"Ko Danis! Tolong aku!" Shinta berteriak sehingga membuat Arini melepaskan kuncianya.


"Bisanya mengadu!" gerutu Arini dengan membuang muka. "mana dia?" tanya Arini.


"Ko Danis sedang membeli makan, dia tahu kau pasti belum makan, Ar!"


"Kapan Lo sampai?" tanya Arini dengan kembali menyimpan tas dan kembali duduk di kursi tunggu.


Mendengar kabar darimu aku segera melakukan penerbangan. Untung saja Ko Danis mau mengantarku begitu dia mendengar kau sendirian menunggu Dini," jelasnya.


"Loh, cepat juga, yah!"


"Enam jam kau bilang cepat, Ar! Aku bahkan tidak sabar ingin segera melihat keadaan Dini! Bagaimana dia? Harusnya sudah keluar UGD, bukan?" tanya Shinta.


"Ya, sudah. Hanya saja ...," ucapnya terputus.


"Dimana dia? pasti sudah di ruang perawatan. Kenapa kau masih disini? Ayo, aku mau minta maaf," ajaknya antusias.


Tidak ada pergerakan dari Arini. Hanya diam dan menunduk. Tidak kuasa Arini pun menangis dengan tertunduk. Sungguh, dia telah gagal menjadi seorang sahabat.


"Hey, kau kenapa, Ar?" tanya Shinta penuh kecemasan.


"Astaga! Jangan kau bilang Shinta?! Akh, aku bahkan tidak bisa melihatnya untuk terakhir kali. Oh, sungguh malang nasibmu!" Shinta terus berceloteh hingga membuat Arini yang tadinya sedih kini nampak kesal.


"Apa yang Lo pikirkan?" sentak Arini pada Shinta.


"Aku memikirkan ...," ucapnya terjeda.


"Stop! Jangan Lo katakan, Dini masih hidup, Lo jangan berpikir yang aneh Shinta," geram Arini.


"Memangnya aku mengatakan jika Dini meninggal?" tanyanya dengan tatapan yang polos namun di mata Arini begitu menyebalkan.


"Lalu?" Arini menautkan kedua alisnya.


TBC