
Hari berlalu begitu cepat. Menyimpan semua luka dan keresahan untuk seorang gadis yang masih setia menunggu sahabatnya untuk terbangun.
Dua bulan bukanlah waktu yang sebentar. Cukup membuat Arini menghabiskan uang hasil penjualan mobilnya. Setidaknya perjuangan yang dilakukan tidaklah sia-sia. Karena saat ini Dini tengah berada di sisi mereka. Selama itu pula, Arini tidak kembali ke rumahnya.
Berniat memberikan separuh hasil penjualan mobil pada adiknya dengan terpaksa, diurungkan. Pengobatan Dini cukup menyita semua tabungannya. Bukanlah menjadi masalah, karena semua itu dilakukan untuk orang yang begitu berharga dalam hidupnya.
Selama itu pula Arini tidak pulang kerumahnya. Bukan tanpa alasan, semua itu dilakukan karena merasa muak dengan tingkah polah ayahnya yang tak kunjung berubah.
Dua bulan yang lalu pula. Arini melihat ayahnya tengah berjalan mesra dengan gadis seusianya. Sungguh, Arini tidak pernah ingin bertemu ataupun bertegur sapa dengan pria yang tengah mengaku sebagai ayahnya itu.
Entah bagaimana keadaan adiknya, dia tidak tahu. Rasa rindu kian menggebu pada ibunya. Namun, mengingat ibunya sama sekali tidak menanyakan dirinya yang tidak pulang hingga dua bulan ini. Sungguh, Arini seperti tidak memiliki keluarga. Alasan apa yang bisa dimaafkan jika seorang ibu bahkan tidak menanyakan kabar anaknya sendiri.
Terlintas dalam pikirannya apakah dia adalah anak asuh. jika benar begitu, hal yang perlu dilakukan adalah membalas Budi pada orang yang tengah Sudi merawatnya.
Selama dua bulan Arini tinggal bersama Shinta dikediaman keluarganya yang di Indonesia bersama Koh Danis juga. Tepatnya selama dua bulan Arini banyak menghabiskan waktu di rumah sakit untuk menemani Dini. Pulang ke rumah Sinta hanya untuk mandi dan berganti pakaian.
Selama Dini koma. Ada yang mengusik pikiran Arini. Entah siapa dia, seorang pria yang santun kerap datang menjenguk sahabatnya. Jika ditanya siapa dia. Hanya jawaban "bukan siapa-siapa" yang terucap dari mulutnya. Namun yang membuat heran pria itu datang dengan sangat rutin. Bahkan dia rela bermalam menggantikan Arini dan Shinta berjaga. Jika mereka berdua hanya ingin tidur nyenyak di atas kasur yang empuk.
Bertanya tentang siapa dirinya. Hanya sebuah nama yang bisa Arini tanyakan saat ini pada sahabatnya yang sudah sadar dari komanya sehari yang lalu.
Saat ini tiga sekawan itu tengah berada di sebuah taman rumah sakit. Shinta masih setia mendorong kursi roda sahabatnya. Sedang Arini berjalan beriringan dengan terus mengajak bicara Dini yang masih banyak terdiam.
Sadar dari koma membutuhkan perjuangan yang panjang. Selalu memberikan support pada sahabatnya dan mengajaknya berbicara itulah yang mereka lakukan saat Dini masih terbaring. Tidak heran, saat mereka mengajak berbicara Dini menangis dibawah alam sadarnya.
Hingga di suatu malam. Arini dan Shinta pergi meninggalkan Dini. Dengan terpaksa mereka meninggalkan Dini karena harus menjadi saksi pada persidangan Tante Brenda dan gigolo- Nya. Saat itu, dari pagi Arini dan Shinta menitipkan Dini pada seorang pria yang selalu rutin menjenguk. Yah, dialah Umar. Entah dari mana datangnya seorang pemuda yang begitu santun dan memiliki tatapan yang teduh.
Arini dan Shinta memang memiliki keyakinan yang berbeda. Tapi, mereka tidak pernah membedakan hal itu. Tidak ada yang bisa mengetuk hati Arini selain kitab yang dibacakan seorang pria berwajah teduh di hadapannya saat itu.
Sungguh, Mukjizat itu nyata. Seusai pria yang tidak banyak Arini ketahui itu menyelesaikan bacaannya dan usai memanjatkan doa. Arini melihat dengan jelas pergerakan tangan pada Dini. Saat itulah, Arini mengetahui bahwa mukjizat itu benar adanya. Meski datangnya dari orang yang berbeda keyakinan. Tidak meyakini Agama yang dibawa Umar namun cukup membuatnya percaya. Saat dengan tidak sengaja pria itu berdoa untuk Dini dengan tulus hingga membuat sahabatnya sadar dari komanya yang tidaklah sebentar.
Tidak ada yang mustahil memang jika Alloh menghendaki. Itulah, kata-kata pria berwajah teduh itu saat melihat Dini sadar dari komanya. Sempat Arini merasa putus asa. Saat dokter memvonis sahabatnya akan mengalami koma yang cukup pajang. Mengingat ia tidak punya lagi biaya dan barang berharga yang akan dijual. Beruntung Tuhan Yesus mengirimkan seorang pria yang membukakan pintu keajaiban untuk kesembuhan sahabatnya. Meski cara berdoa mereka berbeda. Arini tidak perduli, yang terpenting Dini bisa sadar dari komanya.
TBC
Terimakasih, buat yang masih setia membaca karya receh dari otor keceh ini😂🤭
Aku akan berusaha untuk tetap up😍😍 hanya untuk pembaca setiaku. Tapi ... jika minim jejak 🙈 otor jadi tidak semangat🙄
Jika memang masih ingin aku lanjutkan Novel ini di aplikasi kesayangan kita. Tolong dibantu jejak yah.
Salam Sayang dari aku yang sayang kalian semua😍😍😘
Maaf tidak bisa up setiap hari. Aku juga nulis di sebelah, bertanya sebelah mana? cek Igeh otor ajh yah🙈🙈
"Thor, Jontor. Aku tidak punya Igeh!"🙄
"Ya, elah napa pula bilang aku Jontor🙄 markonah😒. Cek di FB Otor ajh deh🤫 Yuliana Yustian ini FB terkeceh. 😂
Love Love sekebon jengkol di Jonggol buat yang baca karyaku dan kasi jejak. Moga yang masih enggan kasi jejak segera dapat hidayah😂😂🤫🤭