
Dini, Buka, cepat! Atau ku hancurkan kacanya!" teriakannya.
Jangan, bodoh! Itu mobil kesayangan gue!" tukas Arini dengan memukul pundak sahabatnya yang telah membuka alas kaki berhak tinggi yang siap dilayangkan pada kaca mobil.
"Astaga, hampir saja, aku lupa! Tapi diamlah, jangan mengajakku berbicara aku sedang marah!"
"Yah, sudah lanjutkan marahnya!" ucap Arini dengan mendorong tubuh sahabatnya.
"Baiklah, kau lihat aksiku!" jawabnya.
"Astaga marah saja masih terlihat lucu, Shinta kau benar- benar gila," gumamnya dengan memperhatikan sahabatnya yang tengah marah.
"Dini! Buka atau ku gunduli kepalamu!" bentaknya dengan menggedor kaca mobil.
"Sudahlah, kumohon, mereka sudah tampak marah!" cicitnya didalam mobil.
"Sebentar lagi, sayang." Nampak kepanikan dari Dini ketika pacarnya tidak mengindahkan permintaannya.
"Panggil, security, Arini!" titahnya dengan mata yang terbuka lebar seperti biji jengkol.
"Kau menyuruhku?" tanyanya dengan bersidakep.
"Cepat! Dalam kondisi seperti ini kita harus bekerjasama!" tukasnya dengan mengangguk- anggukan kepalanya.
Baru saja lima langkah Arini akan berlalu menuruti permintaan sahabatnya. Langkahnya terhenti ketika ia melihat ada pergerakan didalam mobilnya. Emosinya memuncak dengan tangan yang bergetar ia merampas sepatu sahabatnya.
"Minggir!" bentaknya pada Shinta yang membuat sahabatnya mundur beberapa langkah.
Penuh amarah ia melempar sepatu pada kaca mobil bagian belakang. Persetan dengan mobil yang hancur.
Pray....
Pecahannya memecah keheningan, serpihan kaca menyebar berjatuhan. Shinta kembali memundurkan kakinya karena telat sedikit saja bergerak maka kaki mulusnya bisa tergores.
"Akh ...." terdengar suara pekik kesakitan dari dalam mobil
Namun tak merubah amarah yang menjalar diseluruh tubuhnya. Matanya memerah, tangannya mengepal sempurna, seru napasnya terdengar lebih cepat, dadanya semakin naik turun.
"Astaga! Apa yang kalian lakukan?" pekik Shinta yang baru saja maju beberapa langkah melihat apa yang seharusnya tak dilihat di balik kaca mobil sahabatnya.
"Keluar!" bentaknya yang membuat Dini bergetar, air bening sudah menetes dari wajah wanita yang memiliki rambut sebahu.
"Keluar, terkutuk kalian!" teriaknya menggema memecah kebisuan malam.
Security datang menghampiri namun tidak banyak bicara melihat amarah majikannya.
"Makhluk menjijikan!" geramnya ketika Dini dan kekasihnya keluar dengan baju dan penampilan yang masih berantakan.
"Dini! Aku tidak pernah menyangka bahwa kau!" Arini menekankan kalimatnya ia berkata dengan penuh emosi. "Kalian adalah keluarga p*lac*r!" lanjutnya dengan mendaratkan satu tamparan keras di wajahnya.
"Maaf, aku tidak sengaja mengotori mobilmu dengan perbuatan kami," sesalnya.
"Cih, maaf katamu! Apa kau tahu rasanya dikhianati! Kau tahu bukan kelakuan Brenda sialan itu!" geramnya dengan menarik kerah baju temannya.
"Ar, sabar, kita selesaikan baik- baik, mungkin dia tidak tahu!" bela Shinta, ia takut sahabatnya lepas kendali.
"Diam, kau! Atau ku gunduli kepalamu!" bentaknya.
"Itu kan kata- kataku," gumamnya.
"Dini! Kenapa diam, hah?" bentaknya kembali.
"Maaf ...,' ucapnya penuh penyesalan.
"Kau tahu? Ibumu tidak lebih dari wanita murahan! Kau tahu juga bukan? Ibumu menjadi simpanan pria tidak tahu malu itu!" geramnya dengan tubuh yang bergetar menahan amarah.
"Diam, Kau! Bahkan aku tak sudi memanggilnya dengan sebutan itu."
"Dini! Mulai sekarang jangan pernah temui aku! Kita bukan lagi teman!" ucapnya dengan mendorong tubuh temannya.
"Kumohon, bukan salahku!"
"Lalu, salah siapa? Salah tukang siomay, hah?"
"Ar memang tukang siomay juga selingkuhan papahmu?" tanya Shinta yang membuat Arini berbalik.
"Berisik! ikut aku!" Arini menarik sahabatnya masuk kedalam mobil duduk di samping kursi kemudi. Saat ia berjalan akan masuk Dini menarik tangan Arini namun ditepis dengan keras.
"Kumohon, Ar, aku tidak punya siapa- siapa, jangan jauhi aku, Ar, Shin."
"Maaf, Din, aku juga kecewa, kamu kenapa mau sama pria itu!" tukasnya nampak menyesal yang membuat Arini mengerutkan dahinya dan menggelengkan kepalanya.
"Astaga, kenapa yang di bahas pacarnya, jelas ini soal ibunya, dasar bodoh!" Arini bergumam.
"Ar, please ...."
"Sudahlah, aku muak dengan kalian wanita murahan!" tukasnya dengan masuk ke dalam mobil, ia merogoh kursi belakang mengambil tas dan belanjaan temannya dan melemparnya keluar. Tanpa peduli teriakan temannya dia melakukan mobilnya dengan sangat kencang.
****
Suara bunyi klakson menyadarkan lamunannya. Baru menyadari sudah sekitar tiga puluh menit berada di parkiran dengan tetap membenamkan wajahnya di stir mobil. Sejak kejadian itu ia sudah tidak lagi menggunakan mobilnya dan sudah di jual untuk biaya pengobatannya.
Dengan malas ia merapihkan mobilnya yang menghalangi pengunjung lain. Keluar membuka pintu memasuki cafe dekat dengan kampusnya. Sudah tidak ada niat dia untuk masuk dan mengikuti kelas. Semenjak kepergian Shinta ke China membuatnya semakin tidak tertata.
Dini entahlah dia sudah tidak perduli. Sedang Brenda ibunya sudah sering di temui bersama pria lain di sebuah club' malam.
Duduk di kursi dengan meminum just kesukaannya. Tidak mungkin di pagi hari dia sudah menikmati minuman keras. Matanya menatap sekitar lagi dan lagi ia melihat wanita yang paling ia benci. "Tapi sedang apa wanita itu?" Pertanyaan itu menelisik pikiran wanita yang tengah menikmati just. Tampak acuh namun matanya menatap tajam.
Ada yang lain dia melihat wanita gila itu kembali dengan menarik seorang gadis. Yah, dia sangat kenal siapa yang tengah di paksa masuk oleh wanita yang hampir saja merusak keutuhan keluarganya.
Arini menatap datar. Mereka memasuki ruangan private sehingga Arini tidak mengetahui sebenarnya apa yang tengah terjadi.
Meski masih merasa kecewa. Entah kenapa hatinya masih ada sedikit kepedulian terhadap Dini temannya. Selama ini jika di pikir temannya itu tidak pernah mengecewakan.
Namun, entah kenapa akhir- akhir ini temannya itu lebih suka berganti pacar dan kadang berbuat tidak senonoh di manapun. Arini tidak pernah ikut campur karna yang dia lihat Dini tampak bahagia dengan kehidupannya.
Tapi kali ini, nampak jelas bahwa Dini menolak pergi dengan ibunya, "Ada apa?" pertanyaan itu mengusik Arini. Ingin rasanya ia masuk dan memeriksanya. Ia bisa melakukan apapun untuk mencari tahu, karena dia sudah kenal betul dengan pemilik kafe ini.
Kebenciannya tidak melebihi rasa pedulinya. Ia merasa khawatir saat Dini menangis meronta dan menolak untuk masuk ke ruang private di tempat ini.
Tidak mungkin ia masuk dan berpura-pura menjadi pelayan. Sungguh hati ya masih belum siap bisa bertatap muka dengan wanita parubaya yang tengah tidak tahu malu menghianati ibunya. Menemui salah satu pelayan dan menyelipkan satu buah kertas yang tengah bertuliskan. Mereka memang sudah sangat kenal dengan Arini the Genk. karena disinilah tempat mereka menghabiskan waktu bahkan sampai larut hingga harus menunggu di usir karena cafe akan tutup.
Arini menghela napas panjang, teringat kenangan indah bersama kedua sahabatnya.
Arini memasuki toilet ia sudah berjanji akan menunggu temannya di sini. Yah, Arini memang tidak terlalu dekat dengan Dini karena temannya yang satu ini lebih tertutup. Mengenalnya karena ibunya dan Brenda ibunda dari Dini adalah sahabat dekat. Namun ia sudah tidak lagi di mata Arini.
Dini datang dengan wajah yang sedikit ketakutan menemui Arini.
"Kau kenapa?" tanpa basa-basi Arini menanyakan keadaan temannya.
"Bukan urusanmu!" ketusnya yang membuat Arini mengerutkan dahinya.
"Pergilah, jangan pernah temui aku dan jangan sok peduli!" ucapnya dengan berlalu.
"Tunggu!" Arini menarik tangan temannya kelas dia melihat kesedihan.
"Pergi! Jangan pernah temui aku!" usirnya.
Dengan kesal Arini pergi meninggalkan tempat itu dengan penuh kekesalan.