I'M Sorry My Hubby

I'M Sorry My Hubby
Tidak Memiliki Semangat



Sudah menjelang siang Arini masih setia menunggu sahabatnya yang masih terbaring lemah ditemani asisten rumah tangga Dini. Sedang pria berseragam telah kembali bertugas.


Menunggu tindakan dokter tentang keadaan sahabatnya. Tidak pernah mau menyentuh makanan yang disiapkan. Pikirnya hanyalah keselamatan Dini. Karena saat ini, sahabatnya dalam penanganan dokter.


Tidak berapa lama seorang dokter datang menghampiri. Arini juga meminta dokter untuk mengobati daerah kewanitaan Dini akibat kekerassn seksual.



Arini segera beranjak dari duduknya ketika melihat pintu ruangan UGD bergerak. Baru saja satu langkah kaki sang dokter keluar dari ruangan itu. Arini segera menghampiri.


Tanpa basa-basi Arini segera bertanya keadaan sahabatnya.


"Bagaimana keadaan sahabat saya, Dok?" tanyanya dengan tidak sabar.


Dokter masih terdiam, melihat wajah panik Arini. Rasanya sungguh tidak tega menyampaikan kenyataan tentang orang yang berharga baginya.


"Dok, tolong, jawab!" Arini kembali bertanya dengan wajah yang tampak panik. Karena dokter masih diam membisu.


"Tenanglah, Non," Asisten rumah tangga Dini mencoba menenangkan dengan memegang kedua pundak Arini yang masih berdiri namun tidak bisa berdiri tegap.



"Ini memang berat, tapi terkadang hal ini biasa terjadi pada pasien yang memiliki trauma," ucap dokter baru saja akan melanjutkan ucapannya Arini menyela.


"Tidak perlu berbasa-basi, Dok!" tukas Arini.


"Pasien mengalami Koma."



"Tidak mungkin, ini bohong, kan, Dok, biasanya dalam film kalau hanya memutus pergelangan tangan sudah bisa sembuh, Dokter bohong, kan?!" Arini menyangkalnya. Dia terus mengelak semua yang diucapkan dokter.



"Tapi, ini kenyataan bukan sinetron, Nona!" jelasnya yang membuat Arini hampir runtuh dari pertahannya.


"Kenapa bisa demikian, Dok? tanyanya dengan menggoyang tangan dokter dihadapannya.


"Pasien mengalami trauma berat, semangat hidupnya sudah tidak ada. Hal seperti itu biasa terjadi pada pasien yang mengalami depresi berat," jelasnya.



"Astaga! Tidak mungkin, itu tidak mungkin terjadi! Sebelumnya dia bilang ingin melihatku! Itu artinya dia memiliki semangat hidup," sangkal Arini.



"Dia mengalami depresi yang sangat berat, Nona, itu kenyataannya. Rasa takut, khawatir dan tekanan cukup membuatnya kehilangan semangat hidupnya atau mungkin dia kehilangan satu-satunya orang yang menjadi semangat hidupnya selama ini. Dokter kembali memberikan penjelasan karena Arini terus menyangkal dan tidak percaya.


Perlahan Arini mengingat ucapan Dini yang sering diucapkannya saat bersama.


"Jangan pernah tinggalkan aku, karena kalianlah semangat hidupku, apapun yang terjadi. Kumohon, kita akan tetap bersama. " Kata-kata itu terngiang ditelinga Arini dan cukup membuatnya semakin merasa bersalah.


Tidak terasa tubuhnya terasa lemah dan berangsur turun. Hingga ia kini tengah bersimpuh dengan terus menangis.


"Bangunlah, Non!" Seorang wanita paruh baya yang sedari tadi menemaninya mencoba membangunkan teman dari Nonanya.


"Beri dia semanagat hidup, hanya itu yang bisa dilakukan. Saya permisi dan pasien akan kami bawa keruang ICU," ucapnya dengan berlalu.


Dokter menyampaikan keadaan Dini saat ini. Mendengar kenyataan diluar dugaan, membuat pertahannya runtuh. Berharap setelah keluar dari ruang UGD Dini akan baik-baik saja. Kenyataannya Arini mendapatkan kenyataan yang begitu menyakitkan.


"Bik, aku harus bagaimana? Mana mungkin Dini bisa sampai seperti ini!" Arini masih tidak bergeming mempertahankan posisinya.



"Bangunlah, Nona, tidak perlu khawatir, Nona Dini bukanlah orang yang lemah," ucapnya mencoba menenangkan.



Arini dibantu berdiri dan duduk diruang tunggu. Bukan hanya perihal Dini yang sakit, dia juga memikirkan buaya rumah sakit sahabatnya.


Tiba-tiba dia teringat ibu dan adiknya. Selama ini, Arini sangat membenci adiknya. Karena dia berpikir adiknya merebut kedua orangtuanya. Saking bencinya dia tidak pernah peduli dengan kesehatan ataupun penyakit yang diderita adiknya. Bahkan, dia selalu membentak saat asiknya mengajak bicara padanya.


Selama ini, dia menghabiskan uang dengan berpoya-poya tanpa berpikir dari mana orangtuanya mendapatkan kekayaan. Yang dia tahu hanyalah caranya menghabiskan uang.


Saat ini, dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan uang untuk makan saja dia sudah tidak punya. Hanya tersisa satu mobil kesayangannya. Menerima kenyataan Dini mengalami Koma sepertinya dengan terpaksa harus merelakan mobilnya untuk biaya Dini.


Tidak pernah terbayangkan jika sampai dia tidak bisa membiayai pengobatan sahabatnya dan harus melepas semua selang yang terpasang karena prihal uang.


Entah kenapa tiba-tiba dia teringat adiknya. Sudah dua hari dia tidak pulang. Terakhir kali mendengar kabar adiknya mengalami drop. Ingin menanyakan tapi rasa benci terhadap ayahnya mengurungkan niatnya.


Arini hanya bisa memejamkan matanya. Mencoba menenangkan pikirannya yang terasa kacau. Kehidupan berubah drastis seperti kilat. Dulu, meski tidak dapat perhatian dari orangtuanya. Setidaknya, dia memiliki sahabat yang menemaninya dan Tante Brenda yang setia mendengarkan keluh kesahnya.


Sulit di percaya orang yang dia anggap baik. Ternayata, dia adalah ular yang sangat berbisa. Perlahan ucapnya menjadi makanan pokok untuk Arini. Meyakini diriinya dan membenci adik dan ibu kandungku. Dengan berpura-pura baik dan simpati.



Ucapnya lembut namun tajam. Hingga rasa benci pada adikku kian membesar. Sekarang ingin aku memperbaiki semuanya tapi aku malu untuk memulainya. Sungguh, hidup ini seperti sebuah permainan. Dimana hati dan pikiran kita tidak bisa menyatu di sanalah awal dari kehancuran.



Dini orang yang dianggap paling beruntung ternyata, dia adalah orang yang paling menderita. Sungguh, tidak bisa dibayangkan menjalani profesi sebagai wanita malam hingga bertahun-tahun.



Tepukan dipundaknya menyadarkan lamunan Arini. Melihat dengan ekor matanya tentang siapa yang tengah mengganggunya.


"Maaf, Nona," ucapnya dengan merasa tidak enak hati. Karena dia berpikir Arini tengah tertidur. Arini hanya mengangguk tanpa bergeming.


"Non, Dini sudah dipindah keruang ICU," ucapnya kembali.


"Baik, Bik, aku ingin menemaninya," ucap Arini hendak beranjak.


"Non, sebaiknya. Nona makan terlebih dahulu," pintanya dengan wajah yang tampak khawatir.


"Bibi saja makan, aku tidak ada selera." Arini beranjak dan berjalan menjauh dari wanita yang terus menatapnya.


"Meski sangat keras dan egois. Setidaknya, Non Dini beruntung memiliki sahabat yang sangat menyayanginya," gumamnya dengan membawakan tas milik Arini dan beberapa baju ganti yang tergeletak di kursi tunggu.


TBC