
"Apa lagi yang direncanakan, Unggas ini," batin Yuna.
"Aku kadang kasihan dengan istriku, hamil yang kedua benar-benar payah. Dia sedikit manja, kadang enggan berdandan. Sepertinya kali ini anak kita laki-laki," cicit Ricki.
"Duh aku gak sabar nunggu dia launching," sambungnya dengan mengusap perut Yuna.
Yuna menepis tangan Ricki yang terus mengusap perutnya. Dia menatap tajam pria itu. Namun Ricki tersenyum tipis dan. mengelus pucuk kepala istrinya dengan lembut. Yuna menepis kasar tangan suaminya, merasa tidak enak pada Edward.
"Jangan kasar Sayang, nanti anak kita seperti kamu," tegur Ricki.
"Maaf ya, Pak. Terkadang orang hamil itu aneh-aneh. Dia ini kadang benci sama saya. Padahal sebelum hamil, bucinnya minta ampun. Meski udah lama nikah, kami tetap romantis." Ricki terus saja berbicara. Edward hanya menggut-manggut tak nyaman.
Edward rasanya sudah tidak sanggup lagi mendengar Ricki bercerita tentang pernikahan mereka. Dia mulai mengalihkan pembicaraan pada pekerjaan, dengan sesekali tetap mencuri pandang ke arah Yuna. Ricki kesal karena istrinya melakukan hal yang sama pada pria itu. Ricki pura-pura batuk, Yuna yang sudah tahu siasat suaminya beranjak dari duduk. Dia meminta izin untuk pergi ke toilet. Hendak membawa totebag tapi sangat disayangkan karena tertinggakl di mobil.
"Kamu mau muntah ya? Mau aku temann?" Ricki menawarkan diri. Yuna hanya menggeleng lemah.
Acara makan siang itu tidak berjalan baik, Yuna hanya diam.dan berbicara seperlunya. Dia benar-benar merasa mual. Bukan karena kehamilan, tetapi sikap suaminya yang terkesan berlebihan. Saat perjalanan pulang Yuna tampak murung, dia yang berharap akan berbincang banyak tetapi justru mendengar bualan suaminya yang tidak penting. Dia terus diam di dalam mobil, berbeda dengan Ricki yang sejak tadi tak berhenti tersenyum.
Sampai di rumah, Yuna mengabaikan para pelayan yang menyapanya. Dia masuk ke dalam kamar, melempar tas kecil yang dibawa olehnya. Andre yang kebetulan ada di tempat itu pun bertanya.
"Kenapa tuh?"
"Biasalah, lagi dapet," sahut Ricky dia berjalan membuntuti sang istri.
Andre hanya mengedikan bahu, dia tidak memiliki waktu untuk ikut campur urusan pasangan suami istri absurd itu. sampai di depan kamar Yuna langsung menyambut suaminya dengan bantal, perempuan berambut pirang itu melemparkannya ke wajah sang suami dengan cepat pria itu menangkap.
"Untung aku sigap." Ricki kembali menyimpan bantal itu di atas tempat tidur.
"Harusnya kamu berterima kasih aku memiliki inisiatif yang bagus."
"Inisiatif apa? sikapmu yang kekanakan itu seperti orang yang sedang cemburu tahu nggak sih. ingat ya pernikahan kita ini cuman bohongan dan setelah aku menyingkirkan Helena aku akan kembali pada Edward."
Ricki diam sejenak, dia juga tidak mengerti kenapa melakukan hal seperti itu tapi rasanya apa yang dilakukan olehnya adalah sebuah kebenaran.
"Aku hanya melindungimu saja."
"Itu tidak perlu karena hanya Eduard yang datang makan siang. bahkan pengawal saja jauh dari dia kenapa kamu harus berpura-pura melakukan hal itu? kamu tahu gambar tahun-tahun aku itu mengharapkan dia, berbicara banyak dengan dia itu seperti mimpi besar buatku. aku bisa bicara banyak dengan Edward tapi kenapa kamu seperti orang yang menghalang-halangi kebahagiaanku. Maumu apa?"
Ricky meminta maaf, tetapi Yuna tidak lagi menjawab. dia benar-benar kecewa pada suaminya berpikir bahwa pria itu bisa membantu dia untuk mendekatkan kembali hubungannya dengan Edward tetapi kenyataannya berbeda.
"Aku hanya tidak ingin kamu celaka, mereka itu orang-orang kejam," ucap Ricki lirih.
"Maaf jika aku salah." Dia beranjak dari duduk, pergi meninggalkan kamar.
Yuna melihat kebersihan pria yang berjalan dengan lesu itu, dia menjambak rambutnya dengan kedua tangan dan berteriak histeris. melihat kepergian Ricky dia merasa bersalah karena terus memarahi dan menyalahkannya padahal selama ini pria itu cukup baik dan banyak membantu. Tapi jika mengingat sikap Ricky dari pagi sampai tadi siang sangat menyebalkan seolah-olah ingin menjauhkan dia dari Edward.
"Aku berharap kamu tidak menyimpan perasaan cinta padaku," gumam Yuna.
"Seharusnya kamu bisa lebih profesional karena kita tahu pernikahan ini hanya bohongan." Yuna terus berbicara sendiri.
Ricki masuk ke ruang kerja dia merenungi semua perbuatan yang dilakukan, duduk di ruangan itu membuat dia menyadari banyak hal. apa yang dikatakan oleh istrinya tentang perbuatannya dari pagi membuat dia sadar, bahwa semua itu terkesan seperti orang yang cemburu.
"Aku tidak mencintai Yuna dan yang pasti akan setia pada perempuan di masa lalu. sebaiknya mulai hari ini aku menjaga jarak dengannya," gumam Ricki.