I'M Sorry My Hubby

I'M Sorry My Hubby
Dini Membaik



Hari ini kondisi Dini semakin membaik. Arini berencana mengajak jalan-jalan sahabatnya. Shinta masih setia menemani. Mengurungkan niatnya untuk kembali ke China dan menyakinkan orangtuanya agar bisa bertahan di negara ini demi sahabatnya. Melewati lorong rumah sakit dengan obrolan kecil. Namun, Dini hanya diam dan terus menunduk.


Mengajak sahabatnya menuju taman rumah sakit, berhenti di bawah pohon yang rindang dengan taman bunga yang bermekaran. Nampak bunga mawar merah merekah dengan sempurna di temani bunga Jasmin yang memberikan aroma yang khas memanjakan Indra penciuman.


Arini berhenti dan berjongkok dan memegang kedua tangan sahabatnya yang masih menunduk. Seulas senyum tulus terpancar dari wajah imutnya. Arini memiringkan wajahnya dan menaikan dagu Dini agar menatapnya.


"Lo baik-baik saja?" tanyanya dengan tetap menampakan senyum manisnya. Hanya anggukan lesu sebagai jawaban dari pertanyaannya.


"Din, Lo kenapa?" tanyanya dengan nada yang sangat lembut.


"Jelas dia sedang sakit, bodoh! Masih saja bertanya," sahut seseorang yang masih setia memegang kursi rodanya. Arini hanya menaikan satu ujung bibirnya dan menatap sinis tanpa menghiraukan ocehan sahabatnya yang kadang sangat menyebalkan.


"Apa masih ada yang sakit? Bagian mana yang sakit? Katakanlah biar gue katakan pada dokter," tanyanya dengan memeriksa pergelangan tangannya.


"Pertanyaan retoris!" cibirnya.


"Sekali lagi Lo menyela kalimat. Gue hajar Lo!" geramnya dengan menatap tajam Shinta yang sekarang sedang memanyunkan bibirnya.


"Bicaralah, kenapa Lo diam saja. Gue khawatir," cicit Arini pada Dini.


"Sepertinya Dini sedang sakit gigi, kau lupa? Bukankah dia tidak menggosok giginya selama koma!" sahut Shinta dengan mengetuk-ngetuk jarinya di dagunya.


"Diam lah, tidak ada yang mengajak Lo berbicara!" Arini sudah menaikan nada suaranya satu oktaf.


"Haha." Sebuah tawa terdengar dari seseorang yang masih terdiam dan menatap datar. Kedua sahabatnya saling bertatapan dengan kompak menautkan kedua alisnya menatap Dini yang tiba-tiba tertawa. Shinta melepas pegangannya pada kursi roda dan melambaikan tangannya pada Arini untuk mendekat.


"Ar, kesini!" panggilnya sedikit menjauh dari Dini yang masih terdiam.


"Kenapa?" tanyanya dengan tidak bersuara. Namun menghampiri sahabatnya yang tulalit.


"Ar, kita sepemikiran, kan?" tanyanya dengan berbisik.


"Gue tidak Sudi memiliki pemikiran dengan Lo! Pasti tidak benar," keluhnya dengan nada sedikit keras menahan kekesalan mengingat semua kebodohan sahabatnya.


"Aku berpikir syaraf otaknya ada yang lepas, ayo kita laporkan ke Dokter," jelasnya dengan masih berbisik.


" Lo berpikir Dini gila!" Arini berucap dengan menatap tajam.


"Pelankan suaramu," bisiknya dengan membekap mulut Arini. "kau tunggu disini, aku akan melaporkannya ke dokter," ucap Shinta dengan hendak berlalu.


"Hey, kau mau kemana?" tanya seseorang dengan lantang namun masih tak bergeming duduk di kursi roda dan masih menatap tanah.


"Dia berbicara pada kita?" tanya Shinta dengan menautkan alisnya yang tebal.


"Iya, memang Lo pikir dia bertanya pada hantu!" sahutnya dengan berjalan mendekati Dini yang masih terdiam.


"Yah, kamu kan hantunya Ar!"


Plak ...Dengan reflek Arini memukul kepala Shinta.


"Sakit," keluhnya dengan meringis. Tidak menanggapi ocehan Shinta yang terus mengumpat. Arini berjalan mendekati Dini yang disusul oleh Shinta. Mereka duduk berjongkok dihadapan sahabatnya yang masih terdiam.


"Din, aku tahu kau depresi tapi aku mohon jangan gila. Kasihan Arini dia sudah miskin!" ucapnya dengan tampak serius.


"Tidak perlu Lo katakan bahwa gue miskin!" protesnya dengan menyikut tangan Shinta.


"Aku tidak gila!" jawabnya dengan masih tersenyum tipis.


"Dia tidak gila, Ar!" bisiknya pada Arini dan mendapat tatapan tajam dari sahabatnya.


"Aku tidak gila," keluhnya dengan menatap sendu.


"Kalau kau tidak gila kenapa tertawa?" tanyanya dengan memiringkan wajahnya dan dengan sigap Arini mengusap wajah Shinta dengan telapak tangannya.


"Aku hanya sedang merasa senang," sahutnya dengan tersenyum tipis.


"Tapi dokter bilang kau depresi!"


"Shinta, Diam!" Arini berteriak dengan menahan kekesalannya tapi justru membuat Dini tertawa kembali.


"Aneh, dia bilang tidak gila, tapi dia terlihat bahagia kau marah," cicit Shinta dengan mengerutkan keningnya.


"Aku hanya bahagia maka dari itu aku tertawa," sahutnya dengan hendak berdiri pada kursi roda.


"Duduklah," titah Arini.


"Semua orang tahu kalau bahagia ya tertawa, sedih menangis, lapar ya makan dan ngantuk yah, ti ...," ucapnya terhenti karena melihat Arini murka.


"Ake senag dan tertawa bukan karena gila. Tapi, karena kita bisa bersama," jawabnya dengan tersenyum manis. "aku sangat rindu pada kalian, aku juga merindukan kalian yang berdebat merebutkan hal yang tidak penting, aku merasa aku memiliki semangat hidup kembali," lanjutnya dengan masih tersenyum.


"Oh, so sweet." Shinta memeluk Dini dengan erat. Arini mengusap ujung matanya yang terasa basah. Entah kenapa seumur hidupnya dia baru merasakan kebahagiaan dan rasa bangga pada dirinya. Semua pengorbanannya tidaklah sia-sia. Berjanji pada dirinya untuk menjadi lebih baik saat sahabatnya ini kembali sadarkan diri.


"Ar, kemarilah, kau tidak ingin memelukku?" Dini membuka kedua tangannya dengan masih terduduk sedang Shinta masih memeluk pinggang sahabatnya. Arini masih tak bergeming wajahnya sudah basah dengan air mata yang terus mengalir. Arini berjalan mendekat dengan mengusap air mata yang membasahi pipinya dengan kedua tangannya dan memeluk Dini.


"Sorry," lirihnya saat sudah berada dalam pelukan sahabatnya. "gue bukan sahabat yang baik, gue tidak ada disaat Lo membutuhkan gue," lanjutnya dengan terus menangis.


"Hey, kalian adalah sahabat terbaik dalam hidupku juga harta terindah yang di kirim Tuhan untukku." Dini berucap dengan mengusap ujung matanya yang berair. "thank, Ar."


Uhuk ... uhuk ...


Shinta terbatuk sedari tadi dia memang tidak terdengar suaranya.


"Kenapa Lo? benggek?" tanyanya tanpa dosa. Shinta mengangkat tubuhnya yang secara otomatis membuat Arini terjatuh ke tanah dengan duduk dan bertumpu pada kedua tangannya menopang tubuhnya agar tidak mengenai tanah.


"Sakit, tahu!" keluh Arini.


"Aku yang sakit, kalian enak membuat drama romantis sedang aku susah bernapas karena kau Arini menindih punggungku," keluhnya dengan bersedekap.


"Sorry," ucapnya dengan membersihkan bajunya yang sedikit kotor. Dini berdiri dari kursinya dan berjalan menuju kursi panjang di dekat pohon Jasmin. Mereka bertiga duduk berdekatan dan Dini berada di tengah.


"Gue ingin bertanya, apa Lo mengenal Pria yang bernama Umar?" Arini bertanya dengan sangat serius. Sedang Dini menautkan kedua alisnya mencoba mengingat pria yang di maksud sahabatnya.


"Umar? Umar siapa?" tanyanya dengan memiringkan wajahnya menatap Arini.


"Hah, dia tidak mengenal pria tampan itu?" tanya Shinta. Arini hanya mengangkat bahunya sedang Dini masih diam mencoba mengingat pria yang di maksud sahabatnya.


TBC


Maaf, setelah sekian purnama akhirnya aku si otor keceh bisa lanjut nulis di NT.๐Ÿ˜๐Ÿ˜ Jangan protes kalo aku bilang keceh๐Ÿ™„


Jangan lupa mampir juga ke karya ku di sebelah yang bikin jantungmu deg degan dan di penuhi rasa penasaran ๐Ÿค— Aku rutin up di sana sehari 3bab๐Ÿคญ


Dimana sih Thor?


Di Webnov*L


Di sana sih, kisahnya bikin sedikit kesel dan juga bapar ๐Ÿ™„ bagaimana tidak perpaduan kisah cinta pertama dan dendam๐Ÿ˜’ bahasa kerennya


"First Love and Revenge"