I'M Sorry My Hubby

I'M Sorry My Hubby
Tertangkap



"Jangan bergerak!"


"Ish, kenapa lama sekali!" Arini berkomentar dengan penuh kekesalan.


"Ini sangat seru! Seperti drama kesukaan mamaku," bisik seorang pria tampan yang mencoba membantu Arini dari cengkraman pria peliharaan wanita iblis itu.


"Dasar, polisi amatiran! Korban sinetron! makinya dengan melangkah menjauh setelah polisi tampan itu membebaskannya. kemudian berjalan mendekat pada polisi yang tampak lebih tua.


"Terimakasih, Yah, Pak polisi," ucapnya dengan memberikan satu ponselnya yang berisi rekaman percakapan dia dan ibu Dini sebagai barang bukti, tanpa banyak bicara dia berlari menuju kamar sahabatnya.


Arini dengan tergesa menaiki tangga dia berlari dengan sangat panik membayangkan penderitaan sahabatnya. Jika dia tahu sahabatnya adalah seorang korban mana mungkin dia berani menjauh dan menuduh hal yang tidak-tidak padanya.


Namun dia seperti sahabat yang tidak berguna. Selama ini dia selalu memuji kebaikan iblis itu di depan Dini, Menyangka sahabatnya beruntung memiliki Ibu seperti wanita Iblis itu. Nyatanya dia wanita yang begitu sangat keji.


"Dini, Maafin Gue, jika waktu bisa diputar. Ingin rasanya gue bunuh pasangan iblis itu dan merangkul mu. Bahkan, gue pergi saat Lo butuh gue. Bodoh! Kenapa tidak pernah bilang, kau sesakit ini," Arini terus bergumam dalam langkahnya.


Berlari dengan Isak tangis. Sahabat yang dia kira tidak memiliki masalah ternyata menyimpan duka yang amat dalam. Semoga ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya.


"Din, Maafin, gue," lirihnya dengan berjalan cepat menuju kamar sahabatnya setelah dia berhasil menaiki tangga dengan perasaan penuh penyesalan.


Menyusuri ruangan yang tidak terlalu luas dari kamarnya. Berteriak mencari tamannya dengan berjalan kesana- kemari. Karena tidak menemukan di tempat tidur. Nampak banyak bekas kain yang tengah di gunting berserakan dimana-mana. Sprei yang berantakan. Dia tidak pernah melihat kamar sahabatnya seberantakan ini.


"Darah?" Arini bergumam saat melihat tetesan darah yang berada di sprei, selimut dan lantainya.


"Astaga! Darah apa in?! Kenapa sangat anyir!" Arini semakin panik. Dia menajamkan pendengarannya terdengar suara air mengalir di sebuah kamar mandi yang letaknya tak jauh dari sana.


"Astaga!" Arini berlari dengan panik terus menangis.


Dia tahu kebiasaan sahabatnya tidak mungkin dia mandi di jam-jam segini.


Mengetuk pintu tidak ada jawaban. Semakin panik dia membuka pintu kamar mandi dengan mendorong keras pintu yang tertutup rapat.


Matanya terbelalak dengan sempurna melihat sahabatnya.


Nampak kulitnya yang mengkerut dan matanya memejam.


Melihat sahabatnya seperti ini Arini semakin tak berdaya entah kenapa tubuhnya kaku. Penyesalan semakin menghantui dirinya.


Arini masih berdiri dan berangsur tubuhnya jatuh ke lantai melihat hal yang sangat menyakitkan. Di depan matanya orang yang selalu tampak bahagia. dan tidak memiliki masalah. Namun, menyimpan duka yang mendalam.


" Dini maafin gue," lirihnya dengan masih tak bergeming entah kenapa melihat itu dia merasa kaku. "tolong!" lirihnya entah kenapapita suaranya terasa ikut melemah.


"Kumohon, siapapun, tolong!" teriakan Arini kali ini terdengar kelantai satu.


"Komandan."


" Yah, aku mendengarnya! Sepertinya terjadi sesuatu pada sahabatnya, Kau bantu dia!"


"Siap, Komandan!" Pria yang lebih muda dan tampan itu menyerahkan pria yang tengah di borgol olehnya pada rekannya.


Mereka sedikit kesulitan menangkap kedua orang itu karena wanita ini melakukan banyak drama dan mencoba untuk kabur.


Kedua orang penghancur masa depan Dini pun tengah dibawa kedalam mobil. Security rumah ini hanya mengangguk. Dia adalah pekerja lama yang bekerja pada ayah Dini. Tidak heran melihat nyonyanya di tangkap karena pria yang sudah cukup ini bekerja pada keluarga Herdiawan sejak ibu kandung Dini masih ada. Dia diam karena wanita ini selalu mengancam. Melihat dia ditangkap polisi membuat penjaga rumah ini merasa lebih tenang.


"Semoga Nona Dini bahagia setelah wanita jahat itu ditangkap," gumamnya dengan menatap mobil polisi yang tengah menjauh.


***


Mendengar teriakan Arini membuat Dini mencoba membuka matanya yang terasa berat. Dengan mengumpulkan sisa tenaga dalam tubuhnya. Memfokuskan hanya pada Indra penglihatannya.


Sedikit demi sedikit ia menyemangati dirinya ingin melihat wajah sahabatnya yang telah mengukir banyak kenangan. Jika ini adalah pertemuan yang terakhir tidak akan pernah menyesal karena bisa melihat sahabatnya. Dengan menahan rasa sakit yang sudah menjalar ke seluruh tubuhnya, lemah ia rasakan saat ini namun tetap memaksakan dirinya untuk membuka mata.


"Arini," lirihnya dengan suara yang sangat pelan.


TBC