
"Sungguh ini godaan terberat, namun aku tidak akan pernah tergoda," gumamnya dengan membuka pintu mobil keluar dari mobil mewah bosnya. Duduk di tepi jalan hendak membuka bungkus nasi goreng. Namun, suara pintu mobil yang terbuka mengehentikan niatnya.
"Aku mohon, jangan terus menggodaku, Nona, aku tidak ingin mamak ku di kampung kecewa dengan ulahku!" cicitnya dengan memejamkan matanya.
Dini berjalan mendekat tepat dihadapan pria itu dia membungkukkan badannya sehingga jelas bagian dadanya terekspos sempurna dengan pakaiannya yang minim. Sedang jaket milik pria itu hanya bisa menutupi lengannya.
"Hey, kau! Nikmatilah dunia, aku ini wanita yang sangat mahal, bahkan kau tak mau melihat keindahan tubuhku?!" tanyanya dengan terkekeh.
"Nona, ini sudah malam, silahkan anda masuk ke dalam!" titahnya dengan masih memejamkan matanya. Seperti anak kecil melihat hantu, bahkan keringat mulai membasahi keningnya.
"Apa kau pria normal?" Dini bertanya dengan tak bergeming masih dengan posisinya.
"Insyaallah, saya normal, Nona! Saya bukan umat Nabi Luth!" cicitnya masih tanpa membuka matanya.
"Nabi Luth? Siapa itu? Apa dia seorang ilmuwan atau kah pencipta makhluk yang tidak normal?" tanyanya dengan menautkan kedua alisnya yang hitam pekat.
"Astaghfirullah!" Kau tidak tahu?" tanyanya.
"Tidak, aku tidak tahu! Haruskah, aku mengetahui?" tanyanya lagi dengan tatapan heran.
"Rapihkan pakaianmu nanti ku ceritakan!" titahnya dan Dini merapihkan pakaiannya dengan menutup resleting jaketnya hingga menutupi semua dadanya.
"Sudah! Sekarang ceritakan!" pintanya.
"Apa anda pantas mendengarkan kisah Nabi yang suci dengan pakaian anda seperti ini?" tanyanya kembali yang membuat Dini semakin terheran.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanyanya dengan mulai duduk di samping pria yang tengah duduk dengan sangat ketakutan.
"Tidak usah takut aku bukan setan!"
"Masuklah kedalam Nona! Sudah malam tidak baik duduk di pinggir jalan dengan pakaian anda yang sangat terbuka," titahnya.
"Kalau begitu kau juga masuk," ajaknya dengan menggandeng tangan pria itu.
"Maaf, Nona," ucapnya dengan menepis genggaman tangan wanita itu.
"Aku heran, kau tidak tergoda denganku? Aku ini sangat menggoda dan aku rela memberikannya gratis padamu," cicitnya dengan tersenyum menyeringai.
"Astaghfirullah, Nona, tolong segera masuk lebih baik aku segera mengantar anda untuk pulang!" titahnya dengan membukakan pintu.
"Pulang? Jangan!" pintanya dengan sedikit memohon sehingga membuat pria itu manatap heran.
"Baiklah, Kau juga masuk, yah!" titahnya namun pria itu menolak.
"Kau didalam dan aku diluar, Nona, aku tidak berani berdua dengan wanita dalam dinginnya malam," ucapnya "segera habiskan, makannya!" serunya dengan membuka pintu mobil untuk Dini dan pria itu kembali duduk dipinggir jalan dengan memakan nasi goreng ditangannya.
Lima belas menit berlalu pria itu masuk kedalam mobil tanpa melihat ke samping dia akan melajukan mobilnya.
"Siapa namamu?" tanya wanita yang duduk dengan menyenderkan tubuhnya pada kursi penumpang.
"Umar," jawabnya singkat.
"Haha, namamu sungguh kampungan!" celanya dengan terus tertawa.
"Apa tidak ada nama yang lebih bagus?" godanya masih dengan tertawa.
"Meski menurutmu kampungan aku sangat menyukai nama itu, Nona!" ucapnya dengan tersenyum bangga.
"Aneh, nama jelek begitu!" cicitnya.
"Bahkan aku ingin menjadi seperti Umar bin Khattab," ucapnya dengan tersenyum dan mulai memutar kunci mobilnya.
"Siapa lagi dia?" tanyanya penuh penasaran.
"Sahabat Rasulullah S.A.W." Umar berkata dengan raut wajah yang berbinar.
"Aku seperti pernah mendengar. Tapi dimana?" gadis itu mengerutkan dahinya mencoba mengingat sesuatu.
"Sudahlah, lagipula aku terlalu kotor untuk mengingat nama orang- orang suci, bukan?" jawabnya dengan tersenyum.
"Tidak ada orang yang kotor nona! Manusia itu tempatnya salah namun Alloh itu Maha pengampun, Asal kita mau berusaha lebih baik lagi," ucapnya dengan menginjak pedal gas mobilnya.
"Ya benar! Gampang saja! Kalau kotor tinggal bersihkan dengan Rinso!" ucap Dini dengan terkekeh.
Pria itu hanya tersenyum dan mulai melajukan mobilnya.
"Kau tinggal dimana Umar?" tanyanya.
"Alhamdulillah, saya lahir dan tinggal di Sukabumi, Nona!" jawabanya dengan fokus menatap jalanan.
"Aku juga tinggal di Sukabumi!" cicitnya.
"Benarkah, wah di desa apa nona?" tanyanya dengan tampak antusias.
"Astaga! Aku pikir Nona serius!"
"Jujur, berbicara denganmu sangat kaku, sebenernya tidak terbiasa menggunakan kata Aku- kamu," cicitnya.
"Kau tahu? Aku sebenarnya tidak ingin bekerja menjadi wanita malam," ucapnya dengan tatapan sendu.
"Lalu kenapa kau melakukannya?" tanyanya dengan masih tak bergeming fokus dengan kemudinya.
"Terpaksa! Sudahlah hidupku runyam!" cicitnya dengan tersenyum masam.
"Hidup ini cuma sekali, Nona! Kita tidak pernah tahu kapan kita akan mati. Jika kau merasa berada dijalan yang salah pergilah, untuk bertaubat, cari jalan hidupmu! Jangan sampai kau menyesal dikemudian hari!" ucapnya dengan tersenyum namun tanpa melihat wanita disampingnya.
"Itu tidaklah mudah!"
"Bagaimana anda tahu, Nona? Sedangkan anda belum pernah mencobanya," tukasnya.
"Wanita itu sangat kejam. Kau tidak tahu saja."
"Jika kau mau berusaha ada Alloh yang akan membimbingmu," ucapnya.
"Haruskah, aku pergi Umar? Di kota ini sangat sulit untuk lari," cicitnya.
"Tanya hati kecilmu, Nona," serunya.
"Heem, oh, iya. Bagaimana menurut tentang kehidupan disini? Apakah sama dengan kampung halaman mu?" tanyanya.
"Entahlah, aku tidak mengerti kehidupan di Ibukota, semua sangat mengejutkan jauh dengan di kampung halamanku," jelasnya dengan tersenyum.
"Apa disana tidak ada orang jahat," tanyanya.
"Dimana pun orang jahat pasti ada, Nona!"
"Lalu kenapa kau heran," tanyanya mengerutkan dahi.
"Karena disini harga paha dan dada seorang wanita lebih murah dibanding paha dan dada ayam," ucapnya.
"Kau menyindirku?" tanyanya sedikit geram.
"Jika kau tersindir yah berarti kau merasa," jawabnya dengan terkekeh.
"Sudahlah, kau menyebalkan!"
"Sayangnya aku tidak peduli penilaian orang," jawabnya dengan acuh dan masih setia dengan setirnya.
Hanya melewati satu tikungan akhirnya tugas beratnya tengah selesai. Mengantarkan wanita bosnya yang selalu menggodanya.
"Apa kau masih mau disini, Nona?" tanyanya dengan tersenyum namun tanpa melihat lawan bicaranya saat Dini masih tak bergeming.
"Tunggulah, aku masih ingin duduk sebentar lagi!" pintanya dengan memejamkan matanya.
Dini menghembuskan napas kasarnya. Rasanya ia enggan sekali untuk memasuki rumah yang selalu membuatnya tidak betah. Jika orang berkata rumah adalah sebuah istana. Tidak dengan Dini rumah adalah neraka yang sangat mengerikan.
"Kau tahu? Aku berharap tidak pernah dilahirkan ke dunia ini," ucapannya dengan memejamkan matanya.
Ucapan lawan bicaranya membuat Umar melirik secara spontan karena itu adalah kalimat ungkapan keputusasaan.
"Astaghfirullah," lirihnya ketika melihat paha wanita itu nampak jelas terlihat.
"Kenapa, lagi?" tanyanya
Namun Umar segera memalingkan wajahnya ke depan.
"Umar, kenalkan aku tentang agamamu dan orang-orang yang kau bilang suci itu. Sungguh, aku penasaran dengan kau yang sama sekali tidak tergoda olehku, apa agamamu mengajarkan itu?" tanyanya dengan mendekatkan wajahnya.
"Jauhkan tubuhmu, Nona!" pintanya dengan nada yang bergetar.
"Aku yakin kau masih perjaka!" godanya dengan terkekeh dan membuka pintu mobil.
"Selamat Tinggal, Umar, semoga di kehidupan selanjutnya kita bisa bertemu lagi," pamitnya dengan tersenyum namun matanya tampak sendu.
"Assalamu'alaikum ...," jawabnya dengan menghembuskan napas kasarnya.
"Ya Alloh, kuatkan lah Imanku," gumamnya dengan kembali melajukan mobilnya.
Dini berjalan menuju daun pintu yang berdiri kokoh. Merogoh kunci di dalam tasnya. benturan besi nyaring terdengar perlahan melepas kunciannya pada pintu. Mendorong daun pintu secara perlahan hingga menampakan ruangan yang gelap dan sunyi.
Menutup dan mengunci kembali pintunya. Baru satu langkah kakinya memasuki rumah seseorang menutup mulutnya dan menggendongnya. Matanya membulat mengetahui siapa yang melakukan hal seperti ini padanya.
TBC