
Sudah beberapa hari Alea dan Erwin perang dingin,dengan sedih nya Alea mengelus perut nya.
Dia pun bingung karena tidak ada tempat curhat,mama mertua nya pergi ke luar kota bersama papa mertua nya,sedangkan dia tidak ingin memberitahu orang tua nya di pesantren karena dia takut akan membuat orang tua nya khawatir.
Tapi hati nya memintak dia segera menyelesaikan masalah ini.
Dia pun berniat untuk membicarakan semuanya dengan suaminya dari hati ke hati.
Dengarlah permintaan hati ku yang sepi ini,Alea tahu hanya kepada tuhan lah dia akan mengadu,di setiap sujud nya dia selalu memintak agar dia dan suami nya itu di lindungi oleh tuhan.
Sore itu Alea dengan perasaan berdebar debar menunggu ke datangan suami nya itu.
Sambil melantunkan ayat -ayat al quran,Alea pun menanggis karena hati nya merasa sakit.
Hari pun semangkin larut orang yang dia tunggu pun tak kunjung pulang,Alea pun cemas.
Lalu dia dengan menurunkan kan ego nya,Alea pun akhir nya menelpon suami nya itu.
"Halo mas...!"
"Halo juga,kenapa?"
"Alea cuma mau tahu saja kamu lagi di mana?"
"Di kantor,tolong ya ,kalau kamu nelpon saya cuma mau mengajak bertengkar,sebaik nya kamu matikan saja telponnya,karena aku lagi malas bertengkar...!"
"Alea cuma mau tahu kamu ada di mana ?itu saja,maaf kalau menganggu....!"
Alea pun menutup telpon nya.
Bertapa sakit nya hati Alea,dia cuma manusia biasa.
Tekad nya sudah bulat besok pagi dia ingin pulang ke pesantren.
Semalaman Erwin tidur di kantor tidak pulang kerumah,Alea pun merasa suaminya itu keterlaluan.
Dengan gemetaran Alea menulis surat untuk suaminya itu.
"Dear suamiku....!aku tahu seorang istri yang pergi tampa seizin suami nya,dia akan berdosa,tapi bagaimana aku bisa mintak izin kepada mu?kalau kamu tidak mau bicara dengan ku lagi,aku mau mencoba untuk bertahan tapi permintaan hati ku untuk pergi....terima kasih kau telah memberiku pangeran kecil yang akan menjaga ku sebagai penganti diri mu,aku pamit......!"
*************
Setelah sholat subuh,Alea sudah memasukan pakaian nya ke dalam tas.
Dia pun berangkat menuju loket,untuk membeli tiket bus antar kota.
Di gerbang utama dia bertemu dengan satpam.
"Nyonya mau kemana?pagi- pagi seperti ini..?"
"Mau ke pasar mang....!"
"apa nyonya tidak di antar sopir ?"
"Tidak mang ,aku pesan taxi saja....!"
"Baik lah ,kalau begitu nya."
Sampai nya di terminal bus Alea,harus menunggu penumpang lain dulu baru berangkat.
Karena merasa tidak biasa dengan istri tuan nya itu,pak satpam itu pun menelpon Erwin.
"Halo tuan,selamat pagi,tuan dimana?"
"Pagi pak,ada apa?saya di kantor."
"Tuan tadi nyonya Alea pergi."
"Apa pak?"
"Benar tuan di bawa tas besar."
"Baiklah pak,terima kasih...!"
Erwin pun langsung menelpon istrinya,tapi hp istrinya tidak aktif.
Tampa pikir panjang lagi dia cepat keluar dan masuk ke mobil nya.
Dia sudah tahu harus kemana,Alea pasti ke terminal bus yang menuju ke pesantren.
Erwin pun mengemudi mobil nya sangat kencang sekali.
Dengan lemas nya Alea menunggu di bangku yang telah di sediakan disana untuk penumpang.
Aambil mengelus perut nya Alea berkata.
"Nak maafin mama ya,karena mama pergi dari papa mu....!"
"Tapi mama punya alasan untuk itu,janji ya nak,jangan nakal dan rewel di rumah nenek,mama akan menjaga mu.."
Ketika Alea sedang bicara dengan anak nya,bus pun segera akan berangkat.
Dengan lemasnya Alea pun melangkah menuju bus,tapi baru selangkah dia melangkah,tangannya di tarik orang.
"Lepaskan.....!"dan ketika dia menoleh,dia pun kaget melihat suami nya lah yang menarik tangan nya."
Dengan wajah dingin tampa ekpresi Erwin menatap Alea.
"Mass.....!"
"Ya,kenapa kamu kaget aku ada disini?kamu mau kemana?"
"Lepas kan mas....!ya aku akan pergi,aku akan pulang...!"
"Jadi gitu cara kamu,yang kata nya tahu hukum agama?bukan nya pergi tampa seizin suami itu dosa besar?"
"Mas,jangan bicara hukum disini,Alea punya hati dan perasaan,buat apa Alea di sini jika di acuhkan."
"Sekarang pulang...!"
"Tidak mas,aku akan pergi,semoga engkau bahagia dengan nya.."
"Jangan membuat aku marah...!"
"Maaf mas Alea akan pergi....!"
"Kalau kamu mau pergi,berarti kamu bukan istri ku lagi....!"
Mendengar itu Alea pun menghentikan langkah nya,dan bus pun telah melaju,dengan deras nya air mata nya menghujani tempat itu.
Seketika itu pula penglihatannya jadi kelam semua dan tubuh nya pun lunglai lalu dia pun jatuh tak sadar kan diri.
Melihat istrinya jatuh pingsan Erwin pun dengan cepat meraih tubuh istrinya itu.
"Sayang bangun.....!bangun....!"
Dengan cepat dia mengendong istrinya itu ke dalam mobil dan membawa nya kerumah sakit terdekat.
"Sayang bangun,bangun,maafin mas...!
Sampai nya di rumah sakit Alea pun langsung mendapatkan perawatan medis,seorang dokter pun datang untuk memeriksa nya.
Dengan khawatirnya,Erwin mondar mandir di luar ruangan menunggu hasil dari dokter.
Tak lama dokter pun keluar.
Erwin langsung menanyakan keadaan istri nya itu.
"Dok,gimana keadaan istri saya?"
"Tidak apa -apa pak,dia cuma kelelahan saja,pak tolong jaga perasaan nya,jangan sampai dia merasa sedih karena tidak baik untuk perkembangan janin nya,kalau ibu nya sedih bayi nya juga akan sedih.!"
"Baik dok,terima kasih...!"
Kemudian Erwin masuk ke ruangan Alea di rawat.
"Sayang maafin mas ya....!"
Erwin pun langsung memeluk tubuh istri nya itu.
"Mas sudah melukai perasaan mu,karena ego mas kamu jadi terluka seperti ini."
"Mas,Alea yang salah karena telah cemburu buta sama kamu."
"Tidak sayang,mas janji akan menjauhi dia."
"Tidak mas,kamu berhak untuk berteman dengan siapa saja,seharusnya aku paham dan mengerti itu bahwa kamu bukan milik aku saja."
"Sayang jangan bicara seperti itu,mas senang kok di cemburi oleh kamu,itu berarti kamu cinta dengan mas.!"
"Mas,Alea mau pulang kerumah..."
"Sayang istirahat lah dulu....!"
"Tapi Alea.."
"Sayang,kita tunggu dokter dulu ya?kalau dokter izinkan kita baru pulang..."
"Maafin mas ya,sekarang kita baikan dan tidak boleh marahan lagi,janji ya...!"
Erwin pun mengaitkan jari kelingking nya kepada jari kelingking Alea,itu tanda bahwa mereka sudah damai.
"Mas,jangan diamin Alea lagi ya,karena itu menyiksa Alea,jika mas begitu lagi Alea akan pergi jauh dari mu,tampa bisa kamu temui lagi."
"Mas juga sayang,mas sedih sekali ketika kita bertengkar.!"
"Mas,mas masih cinta kan sama Alea...?"
"Tentu dong sayang,cinta mas tidak bisa mas ukur dengan apa pun,engkau begitu berharga untuk ku sayang..!"
Mendengar kata- kata yang di ucapkan oleh Erwin itu,hati Alea pun bahagia dan tenang.
Di cintai dan mencintai itu bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisa di pisahkan.
Namun terkadang ujian cinta kerap datang melanda pasangan yang sedang saling cinta.