I HATE (Love) U

I HATE (Love) U
Perjuangan yang Sia-sia



Derap langkah tergesa menggema di setiap ruangan yang dilewati. Berbunyi keras nan tak beraturan, bersamaan dengan napas yang kacau.


Keringat dingin mengucur di sela-sela perjalanan kaki yang semakin dipercepat.


Tak ada waktu untuk berhenti.


Sedetik saja berhenti, maka mereka akan tertangkap dan mengalami hal yang sama dengan Zora.


"Di sebelah sini!" instruksi Elia. Menunjuk sebuah pintu yang pernah diarahkan Oldia lewat peta kertas yang dibuat.


Tindakan Elia tadi terlalu gegabah. Ia tanpa sadar membawa rekannya yang lain menuju kematian.


Saat melihat Zora hampir ditusuk, otak Elia berhenti berpikir. Tubuhnya bergerak sendiri menolong wanita yang sebenarnya sudah kehilangan nyawa sebelum Elia sampai di sana.


Team mereka kalah jumlah dan kekuatan.  Maka dari itu, Elia memerintahkan rekan-rekannya untuk mundur.


Namun, mundur bukan berarti terbebas. Nyatanya, para pria berjas itu mengejar mereka.


"Kita mau ke mana?" Hela yang berlari di samping Elia memberi pertanyaan.


"Ruangan bawah tanah."


"Dasar gila!" Isni menyahut tak percaya. "Kau ingin memberi masalah ke rekan kita yang lain?!"


"Kita tak punya pilihan lain. Hanya ini jalan yang kita tahu. Lagipula, jika kita bersama mungkin akan lebih baik."


Sejujurnya, Elia tak yakin akan ucapannya, namun dalam hal ini ia hanya bisa mengandalkan rekan mereka yang ada di sana. Terutama Killa yang mengaku pernah belajar ilmu taekwondo.


Mereka memasuki sebuah ruangan bercahaya redup. Tanpa basa-basi Elia meraba-raba tembok dan juga lantai, mencari sebuah pintu tersembunyi.


Lokasi ruang bawah tanah itu belum diketahui dengan pasti. Oldia hanya memberi tahu ruangan yang menjadi jalan ke ruang bawah tanah itu. Dengan terpaksa Elia harus mencaritahu sendiri letak pintunya.


Seolah mengerti maksud Elia, Isni ikut membantunya.


"Apa yang kalian lakukan? Cepat bantu cari pintu tersembunyi itu!" ujar Isni, sedikit kesal dengan respon lambat dari Yilse, Lesya dan Hela.


"I-iya."


Belum sempat berhasil menemukan pintu tersembunyi, salah seorang pria berjas hitam berhasil menyusul mereka.


Dia mengarahkan sebuah pistol, membuat kelima orang itu terpaksa mengangkat tangan.


Sebuah pelatuk ditarik berhasil mengenai sang objek, menimbulkan suara tembakan yang cukup keras.


"Cepat! Kita harus kabur!" ucap seseorang di ujung sana.


Itu adalah Killa.


Di samping wanita itu ada Oldia, Itta, Izume dan Riana.


"Untunglah ada kalian," ujar Elia lega.


Secepatnya mereka menemui rekan-rekannya di ujung sana.


"Di mana ruangan bawah tanah itu?" tanya Isni.


"Kami tak berhasil menemukannya. Ternyata tak semudah itu menemukan pintu tersembunyi." Riana yang menjawabnya.


"Dasar bodoh!" maki Isni kesal.


"Kau pikir mudah mencari ruangan tersembunyi itu?!" Oldia ikut menyahut, sebab terpancing dengan kalimat Isni. Pada akhirnya, mereka pun kembali berdebat.


"Bisakah jangan berdebat sekarang? Tak ada waktu lagi, kita harus sembunyi sebelum mereka—"


Terlambat.


Bahkan, sebelum Elia menyelesaikan kalimatnya, mereka sudah dikepung dari berbagai arah.


Na'asnya lagi di antara kumpulan pria berjas itu terdapat Eric yang memandang dengan mata tajamnya sembari mengeluarkan kekekeh kecil.


"Ke-te-mu!"


Udara yang menerpa terasa lebih dingin saat Eric menekan setiap suku katanya. Kulit mereka meremang tanpa sebab yang jelas.


Sepuluh wanita itu berdiri merapat, saling menjaga satu sama lain. Wanita yang memiliki senjata bersiaga di tempat dan wanita yang tak memiliki senjata bersembunyi di belakang tubuh mereka yang bersenjata.


"Jangan menyerang, sebelum mereka menyerang," titah Elia.


Sayangnya, Isni mengabaikan larangan Elia. Wanita berumur 17 tahun itu menembak seorang pria di sana dengan brutal.


Alhasil, semua berantakan.


Musuh mulai menyerang balik dan mereka kewalahan menghadapinya.


Dengan jumlah dan kekuatan yang sangat berbeda jauh, tentu saja hanya kekalahan yang menanti mereka.


"Heh! Bodoh! Kenapa kau tak mendengarkan Elia?! Lihat sekarang semuanya kacau gara-gara kau!" Dalam pertarungan sengit itu, Oldia menyempatkan diri mengomel kesal.


"Apa maksudmu? Tujuan kami datang ke sini bukan untuk lari, melainkan membutuhkan bantuan kalian menghadapi mereka," balas Isni.


Indera pendengaran Elia menangkap kalimat Isni. Ia merasa tertohok karena pada dasarnya kalimat itu diucapkan untuk menyindir Elia.


Dia lah yang sudah membahayakan rekan-rekannya dengan datang ke tempat ini. Isni telah memperingatkan, namun Elia memilih abai.


Situasi saat ini terjadi sebab Elia tak bijaksana dan mengambil keputusan yang salah.


"Maaf," cicit Elia pelan.


Namun, permintaan maaf sangatlah tak berguna. Kata maaf tak membuat situasi kian membaik.


Hela yang salah satu tangannya pernah terluka karena menyelamatkan Elia dari sebuah tembakan, kini tangan yang lainnya pun ikut terluka.


Yilse dan Lesya di sebelah sana saling melindungi meski akhirnya mereka berdua terluka parah.


Killa yang memiliki kemampuan taekwondo pun kewalahan menghadapi lawan yang lebih hebat berkali-kali lipat darinya.


"Itta, kau tenang saja. Aku pasti akan melindungimu." Riana di depan Itta mengangkat pisaunya, melukai siapa pun yang mencoba menyentuh Itta meski dirinya harus terluka.


Suara tembakan berbunyi saling bersahutan. Pisau-pisau saling beradu kekuatan sang pemegangnya. Teriakan kesakitan dan darah menjadi saksi atas perjuangan sia-sia.


Hingga akhirnya kekalahan tercetak jelas di depan mata, menjadi akhir pertarungan sengit ini.


...----------------...


Kegaduhan suara di sekitar membuat mata Itta terbuka sedikit demi sedikit. Benaknya berharap dengan sangat bahwa mimpi ini sudah berakhir.


Itta ingin bangun dan melihat keluarganya lagi.


Harapan itu musnah, tatkala matanya menyesuaikan dengan keadaan sesungguhnya.


Tepat di depan sana ada seseorang yang dikenalnya digantung dengan tubuh tanpa busana sedikit pun.


Itta terbelalak menyadari luka di sekujur tubuh Elia.


Wanita malang itu dirantai tangan dan kakinya, lalu tangannya yang terikat digantung, memperlihatkan seluruh aset Elia.


Cambukan keras terdengar memenuhi ruangan disambut gelak tawa para bajing*n itu.


Elia menjadi tontonan. Dipermalukan dan dihina.


Tubuh telanj*ngnya yang penuh luka mengundang tawa merendahkan para bajing*n dan tangisan pilu rekan seruangannya.


Anehnya, di tengah hal memalukan itu Elia tetap memamerkan senyum tulusnya pada rekan-rekannya. Seolah berkata bahwa dia baik-baik saja.


Itta mengepal tangannya.


Pemandangan ini terlalu realistis jika disebut mimpi.


Benaknya pun mulai mempertanyakan kebenaran mengenai kenyataan atau mimpi kah yang akhir-akhir ini dialami.


Namun, terlepas dari mimpi atau bukannya, hati Itta tak dapat mengelak rasa sakit melihat seorang perempuan dipermalukan dan diperlakukan kejam.


"Lepaskan dia bajing*n! Hentikan atau kubunuh kalian semua!"


Teriakan kencang disertai ancaman di dalamnya itu lantas mengalihkan atensi Itta.


"Dasar br*ngsek! Kubilang hentikan! Hentikan!"


Isni berteriak putus asa. Kedua tangan wanita itu dipegang erat oleh dua orang pria, membatasi pergerakan Isni yang ingin mencabik-cabik tubuh Eric.


Lain halnya dengan Isni, Oldia hanya diam saja, memandang kosong pemandangan di depan sana. Sementara rekan-rekannya yang lain menangis tersedu-sedu.


"Akan kubunuh kalian ...."


Suara Isni melemah. Ia kehabisan tenaga.


Eric tak mempedulikannya. Sebaliknya, pria kejam itu semakin menyiksa Elia.


"Kau tunggu saja giliranmu, wanita jal*ng," ucap Eric sembari melirik tajam pada Isni.


...----------------...


Daftar wanita yang berada di dalam ruangan



Laquitta Grizelle / Itta


Isni


Elia


Hela


Zora (MATI)


Killa


Lesya


Oldia


Riana


Izume


Yilse


Tasha (DIJUAL)


Shia (DIJUAL)


Devia (DIJUAL)


Avira (DIJUAL)