I HATE (Love) U

I HATE (Love) U
Upaya Menyelamatkan Zora



Eric mengambil handphone yang tergeletak di lantai. Dia membolak-balikkan benda berbentuk persegi panjang tersebut.


"Rusak," ungkapnya pelan.


Pria itu mengedarkan pandangannya.


Berdasarkan pengamatannya, tak ada tanda-tanda orang lain selain dari pihaknya di sini.


Kemungkinan orang yang berhasil meretas itu sudah pergi tatkala mendengar sirine berbunyi beberapa menit lalu.


Eric akui, orang itu cukup hebat hingga bisa meretas keamanan tempat ini hanya menggunakan perangkat pintar bernama handphone.


"Tuan Eric!" seru salah satu bawahannya. Ia berlari tergopoh-gopoh.


"Ada apa?" Eric bertanya tanpa menoleh.


"Maafkan saya, Tuan!" Wajah bawahannya menunduk takut-takut. "Saya lalai dalam menjalankan tugas saya."


"Lalai?"


"Seluruh wanita di ruangan 110 yang saya jaga menghilang. Selain itu, rekan saya sudah mati dengan luka tusuk di bagian dada, sepertinya telah dibunuh oleh mereka."


Salah satu alis Eric terangkat. Detik berikutnya seringai tipis muncul di bibir tebalnya.


"Baiklah, semuanya sudah terjawab."


Eric berkata seolah mengetahui segala hal yang terjadi saat ini. Handphone rusak di genggamannya ia masukkan ke dalam saku jas.


Pria itu berbalik, menghadap para bawahannya yang menunduk hormat.


Wira yang bertugas menjaga ruangan 110 menunduk ketakutan. Kesalahannya mungkin akan menjadi pemicu kematiannya.


"Kalian cepat bawa kembali para wanita itu!" titah Eric. "Jika ada yang berani melawan, bunuh!"


"Siap Tuan!" ucap mereka serempak.


Lantas, para bawahan Eric pergi dan bergegas mencari mereka.


"Kau!"


Sadar akan panggilan Eric, Wira menoleh was-was, tak jadi pergi mengikuti rekannya yang lain.


"S—saya, Tuan?"


"Ya."


"A-ada apa, Tuan?"


"Kau tahu?" Eric memiringkan kepalanya sedikit. "Tertangkap atau tidaknya mereka akan menjadi penentu nyawamu."


Wira menegang atas satu kalimat yang dibisikkan Eric. Wajahnya sangat kentara pucat pasi. Bahkan, setelah atasannya itu melenggang pergi, raut wajah takut itu tetap tak menghilang.


...----------------...


Lembaran kertas kosong di meja dibuka perlahan. Tangan Oldia mengibaskan debu yang menempel pada permukaan kertas. Terkadang, ia juga meniupkannya.


Wanita itu mencomot pulpen yang tergeletak di dekat meja.


"Kayaknya masih nyala," monolognya.


Meski tak pandai menggambar, Oldia tetap menggambar denah lokasi yang sempat diamati.


"Dengar!" Ucapan Oldia mengambil atensi mereka. Ia menyodorkan kertas yang digambar. "Aku akan menjelaskan beberapa tempat yang aku ketahui."


"Buruk sekali gambarnya," komentar Isni.


Sontak, Oldia melotot kesal. "Baiklah, kau saja yang buat!"


"Aku kan tidak tahu apa-apa."


"Kalau begitu lebih baik diam saja!" Oldia berkata sinis.


"Tidak usah berdebat! Jelaskan saja," lerai Elia.


Semenjak keluar dari ruangan mereka, Oldia dan Isni selalu saja memperdebatkan hal sepele. Jika tidak segera direlai, perdebatan itu akan menjadi pemicu masalah baru.


"Baiklah. Tolong dengar dan simpan di otak kalian masing-masing. Jujur saja aku tak bisa menjelaskan lebih rinci mengenai tempat ini. Sebab, aku pun belum melihat sepenuhnya. Namun, ada beberapa yang aku ingat dan sempat aku gali infonya."


Oldia memperhatikan raut wajah teman-temannya, memastikan tidak ada satu pun dari mereka yang abai dengan penjelasannya.


"Di sini." Wanita hacker itu menunjuk salah satu tempat. "Itu adalah posisi kita saat ini."


Lalu, telunjuknya mengarah ke tempat yang lainnya.


"Tempat ini adalah tujuan kita sekarang."


"Tempat apa itu?" Killa mengerutkan keningnya sedikit.


"Ruangan bawah tanah."


Dapat Oldia lihat tatapan terkejut teman-temannya. Sesuai dugaan.


"Ruangan bawah tanah? Apakah itu tempat rahasia atau tempat eksekusi?" Kini Izume yang bertanya.


"Aku tidak tahu. Tetapi, aku sedikit memeriksa tempat itu. Katanya, tempat itu sudah tidak digunakan sejak lama. Itu adalah tempat terakhir yang sempat aku lihat. Aku tak membaca seluruh informasi, namun aku tahu ruang bawah tanah itu memiliki akses keluar lebih aman. Mungkin, kita bisa mencari jalan keluar lewat tempat itu."


Yilse mengangkat satu tangannya. "Maaf, tapi bagaimana jika tempat itu tidak aman?"


"Kurasa kita bisa mencobanya. Bagaimana pun kita harus cepat pergi dari ruangan ini terlebih dahulu sebelum para pria jas itu menemukan kita." Isni ikut berpendapat. Untuk pertama kalinya, ia menyetujui saran Oldia.


"Benar juga."


"Baiklah, kita harus segera bergegas. Sebelum itu, ada yang ingin ditanyakan?" tanya Oldia, memastikan sekali lagi.


"A-anu ...." Lesya mengangkat tangannya ragu. "Kenapa Zora tidak ada di sini?"


...----------------...


Rencana Oldia berantakan seketika. Dengan terpaksa mereka harus kembali menyusuri jalan yang dilewati demi mencari Zora.


Berhubung jumlahnya terlalu banyak, mereka dibagi menjadi dua kelompok.


Kelompok pertama berisi Oldia, Killa, Izume, Itta dan Riana. Tugas mereka pergi ke ruangan bawah tanah terlebih dahulu dan mencari jalan keluar selanjutnya.


Lalu, kelompok kedua berisi Elia, Isni, Yilse, Lesya dan Hela. Mereka bertugas mencari keberadaan Zora.


Semuanya dibagi dengan matang-matang.


"Pelan-pelan." Elia memberi instruksi pada orang yang mengikuti dari belakang.


Mereka menurut. Langkah mereka yang awalnya sedikit tergesa, kini melambat.


Hela meneguk ludahnya, melihat banyak pria berjas hitam berseliweran di depan sana. Pria berjas itu semakin banyak dan semakin menambah kewaspadaan Hela dan rekan-rekannya.


"Bagaimana ini?" tanya Hela panik.


"Tenanglah, jangan panik!" balas Isni.


Sepasang mata Elia mengamati keadaan sekitar. Ia berpikir keras. Kalau seperti ini terus, mereka tidak akan bisa mencaritahu keberadaan Zora.


"Elia bagaimana selanjutnya?" Yilse ikut bertanya, cemas dengan keadaan yang cukup mencengkam ini.


Para musuh dengan senjata yang ada di tangan masing-masing membuat Yilse takut bukan main.


Di tengah kekhawatirannya itu, tanpa sengaja pupil mata Yilse menangkap sosok perempuan yang dikenalnya.


Itu Zora!


Mata Yilse terbelalak. Suaranya hendak keluar, memanggil nama wanita itu. Namun, orang di sampingnya menghentikan Yilse dengan membungkam mulut Yilse menggunakan tangannya.


"Jangan!" peringat Lusya. "Kau lihat itu!"


Telunjuk Lusya mengarah ke depan, menampilkan sosok Zora dengan lebam-lebam di tubuh dan wajah.


Sontak, Yilse dan rekan-rekannya mematung. Jantung mereka berpacu cepat dalam hitungan kurang dari satu detik.


Di sana ada sosok Zora yang tidak sadarkan diri.


Rambut panjang wanita itu dijambak dan ditarik keras oleh seorang pria berbadan kekar. Sedangkan, tubuhnya diseret hingga menimbulkan luka yang menjadi-jadi. Kepalanya mengeluarkan darah. Darah itu terlihat jelas di mata.


Kelima wanita itu memandang ngeri situasi di depan sana.


Salah satu sosok kekar di sana mengarahkan pisau ke Zora. Lantas, tanpa pikir panjang Elia keluar dari tempat persembunyiannya diikuti rekan-rekannya yang lain.


Mereka tidak tahu bahwa upaya menyelamatkan Zora saat itu hanya akan membawa malapetaka yang lebih buruk dari sebelumnya.


...----------------...


Daftar wanita yang berada di dalam ruangan



Laquitta Grizelle / Itta


Isni


Elia


Hela


Zora


Killa


Lesya


Oldia


Riana


Izume


Yilse


Tasha (DIJUAL)


Shia (DIJUAL)


Devia (DIJUAL)


Avira (DIJUAL)