
"Kau ingin merebutnya?!" Itta bertanya tak percaya. "Jangan bercanda! Merebut kapal yang sudah dibuat bertahun-tahun dan juga sudah dinantikan sejak lama, kau pikir itu bisa?"
"Aku sudah mempunyai rencana."
"Tetap saja itu bukan hal yang mudah."
"Kau meragukan kemampuanku?"
Bukan maksud Itta meragukan kemampuannya, namun ada terlalu banyak resiko.
"Baiklah, anggap saja kau memang berhasil merebutnya. Tapi kalau begitu, kau membuat keluarga Zahara menjadi musuhmu."
"Itu tidak akan terjadi selama rencanaku berjalan dengan lancar." Adyan membalasnya santai.
"Memangnya apa rencanamu?"
"Kau akan tahu nanti."
"Kau yakin rencanamu akan berhasil?"
"Seratus persen," jawabnya yakin. "Setelah ini datanglah ke ruang kerjaku, akan kuberitahu rencananya."
Adyan mencium pipi Itta sesaat, lalu pergi berlalu meninggalkan mereka.
Tangan Itta mengusap bekas ciuman dengan kasar. Ia mencebikkan bibir tak terima.
"Seenaknya saja! Banjing*n gila! Tak punya akhlak!" gerutu Itta.
"Sepertinya kau jadi dekat dengannya." Ucapan Riana membuat Itta menolehkan kepala.
"Tidak," jawab Itta langsung.
"Tapi, kulihat hubungan kalian berdua sangat baik. Bahkan, Tuan Muda Abercio menciummu tadi."
Sontak wajah Itta memerah.
Semua ini gara-gara Adyan. Seandainya saja dia tak mencium Itta di tempat umum, Itta tak perlu merasa malu.
"Aku dan Adyan tak sedekat itu. Kami hanya rekan yang saling memanfaatkan satu sama lain."
Meski Itta menjawab seperti itu, sebenarnya pikiran Itta juga bertanya-tanya.
Selama tinggal di Mansion Adyan, Itta menyadari kalau orang-orang di dekat Adyan sangatlah hebat.
Olivia memiliki banyak keterampilan dan juga kepekaan luar biasa, sementara Sasya memiliki kemampuan medis yang tak perlu diragukan lagi.
Lalu, ada Arvin. Itta tak begitu mengenalnya, namun lelaki itu pasti memiliki sesuatu yang luar biasa hingga bisa berada di dekat Adyan.
"Itta."
Panggilan dari Riana menghentikan lamunannya.
"Ya?"
"Oldia telah membunuh Eric."
Bola mata Itta menatap tempat di mana Oldia dan Eric berada.
Ia tak sadar selama dirinya berbincang dan melamun sebentar, Oldia telah membunuh Eric dengan keji.
Penampilan Oldia sangat mengerikan dengan cipratan darah Eric hampir di sekujur tubuh. Matanya memancar kepuasan bak seorang psikopat.
Tubuh Eric sudah sangat kacau.
Wajahnya tak dapat terlihat jelas lagi, sebab Oldia telah merusaknya. Selain itu, ada banyak bagian tubuh Eric yang mengeluarkan darah segar.
"Tolong bawa Oldia ke kamarnya, berikanlah dia minum," pinta Itta. "Maaf aku tidak bisa ikut, aku harus segera menemui Adyan sekarang."
"Tidak masalah, aku mengerti."
Riana menghampiri Oldia, kemudian menompang tubuh Oldia dan membawanya pergi.
Tatkala Riana melewati Itta, dia membisikkan sebuah kalimat yang hanya bisa didengar Itta. Kalimat yang saat itu tidak Itta pahami.
"Aku harap, aku menjadi orang yang paling dekat denganmu."
...----------------...
Segelas wine digoyangkan perlahan, membuat air di dalamnya mengalami keadaan naik turun.
Adyan menegak sedikit wine itu, kemudian menatap orang-orang terpercayanya.
"Baiklah, kita akan mulai membicarakan rencananya sekarang," ucapnya tanpa basa-basi.
Untaian kalimat berisi rencana yang lelaki itu buat dipaparkan secara rinci.
Siasat dan cara penyampaiannya yang terbilang mudah dimengerti membuat Itta diam-diam merasa kagum.
Waktu yang dihabiskan dalam membahas rencana itu cukup lama. Tidak ada keraguan di dalamnya, seolah mereka sudah melihat rencana itu berhasil bahkan sebelum mereka mencobanya.
"Baik, itu saja rencananya, kalian sudah boleh pergi," ujar Adyan.
Mereka mengangguk patuh. Satu per satu dari mereka mulai meninggalkan ruangan. Tatkala Itta hendak melangkah keluar, Adyan memanggil namanya.
"Kau di sini saja dulu!" titah lelaki itu.
"Kenapa?"
"Kemarilah, akan kuberitahu."
Itta berjalan menghampiri dengan perasaan was-was. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang tidak diharapkan akan terjadi.
"Ada apa?" tanya Itta lagi, bedanya kini ia berada tepat di depan Adyan.
Itta memekik tatkala lelaki itu menariknya duduk di pangkuannya.
"Apa yang kau—"
Belum sempat Itta menyelesaikan pertanyaannya, Adyan sudah membungkam mulut wanita itu menggunakan mulutnya.
Itta memberontak. Ia memukul-mukul dada bidang orang yang sedang memeluk dan mencium bibirnya.
Kesal dengan perilaku wanitanya, tangan Adyan menahan pergelangan tangan Itta.
Adyan menggigit bibir Itta, guna membuat bibir itu terbuka dan memberi lidahnya akses masuk. Sayangnya, Itta berkepala batu.
"Menurutlah!" desis Adyan di tengah ciuman mereka.
Itta menggeleng keras. Ia tetap tak mau membukanya.
"Kubilang menurut! Buka dan balas ciumanku!" Adyan menekan kalimatnya.
Tetap saja Itta tak mau.
Ciuman itu semakin brutal. Mendominasi dan juga kasar.
Itta kehabisan pasokan oksigen. Menyadari hal itu, Adyan melepaskan tautan mereka. Sebagai gantinya, ciuman Adyan beralih menuju leher.
"Kumohon berhenti," lirih Itta.
Ada nada putus asa di dalam suaranya.
Itta tahu, Adyan mungkin menganggapnya munafik.
Ia bahkan berani mencium Adyan di hadapan banyak orang, akan tetapi setiap kali hal itu terjadi, sejujurnya Itta selalu merasa kotor dan jijik.
Adyan mengangkat wajahnya saat merasakan tetesan air. Dia berdecak.
"Apa-apaan kau ini?! Begitu saja menangis!" sentak lelaki itu kasar.
Meski begitu, tangan kekarnya menyapu setiap air mata yang turun dari pelupuk mata Itta.
"Berhentilah menangis, Bodoh!" makinya.
Bukannya berhenti, tangisan Itta semakin menjadi.
"Baik, baik. Aku minta maaf," tutur Adyan tulus.
Lelaki itu menghela napasnya.
Jujur, ia tak pernah berada di posisi ini. Umumnya, wanita yang dia cium tidak akan menangis, sebaliknya mereka akan membalas ciuman panasnya.
Tetapi wanita ini malah menunjukkan air matanya.
Adyan yang tak pernah mengucapkan kata 'maaf' sejak kecil, kini kata keramat itu terucap tanpa sadar.
"Tidak bisakah sehari saja kau tidak memperlakukanku seperti ini?" tanya Itta.
Wajahnya memelas dan matanya masih basah akan air mata.
"Iya, aku minta maaf." Rasanya aneh saat kata itu terucap di bibir Adyan sendiri. "Apa yang harus kulakukan agar kau tak menangis lagi?"
Itta menggeleng pelan. Wajahnya menunduk, masih dengan air matanya.
"Tidak usah, aku sadar posisiku di sini."
Mata Adyan yang semula terlihat bersalah, kini menatapnya datar. Ia memutar bola matanya malas.
"Berhenti berakting! Aktingmu jelek sekali, lebih baik pergi ke kamarmu sekarang!" suruh Adyan.
Itta mendengkus kasar. Ia menghapus air yang mengalir di pipi.
Awalnya Itta pikir, Adyan masuk ke dalam perangkapnya. Ternyata salah. Pria itu tak percaya pada air mata palsu yang keluar ini.
Tetapi, tidak masalah.
Yang penting hasilnya tak berubah. Adyan menghentikan ciumannya, bahkan menyuruhnya untuk kembali ke kamar.
Tentu saja dengan senang hati Itta mengiyakannya.
"Baik, aku akan pergi sekarang," ucap Itta senang bercampur kesal, sebab aktingnya ketahuan. Padahal biasanya jika Itta berakting, mereka semua mempercayainya.
Tatkala Itta melewati Adyan, dengan sengaja ia menabrak bahu lelaki itu.
Samar-samar Adyan mendengar Itta mencebikkan bibirnya kesal.
Lelaki itu terkekeh pelan.
Di matanya saat ini, Itta terlihat sangat lucu dengan wajah merah menahan kesal. Apalagi saat tahu kalau rencananya gagal total.
"Kau mencintainya?"
Pertanyaan seseorang mengalihkan atensi Adyan.
Lelaki itu berbalik, menatap Arvin yang tengah bersandar di pintu sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
"Tidak."
"Kau yakin?"
Adyan tersenyum miring. "Cinta? Aku memang tertarik padanya, tetapi tertarik dan cinta itu berbeda."
"Apa kau sungguh tak jatuh cinta padanya?" tanya Arvin lagi.
Adyan tak langsung menjawab. Pikiran lelaki itu menerawang jauh.
"Cinta itu ... hanya akan menjadi kelemahan seseorang. Dan aku tak mau memiliki kelemahan."