
Tangan Isera terkepal erat. Wajahnya memerah sebab marah.
"Kau pikir dirimu istimewa? Tuan Adyan selalu membawa wanita berbeda di pesta yang berbeda. Kau hanyalah salah satu dari mereka!" ucap Isera.
"Tidak masalah. Setidaknya aku pernah menjadi pasangannya. Tidak seperti kau yang tak pernah bisa menjadi pasangannya walaupun kau sudah memohon-mohon."
Itta yakin, semua orang di sini mengetahui cinta sebelah pihak dari Isera.
Pertama kali melihat lelaki itu, Isera jatuh hati. Hanya saja cintanya tak terbalas. Sedikit pun Adyan tak mempedulikan dan selalu mengabaikan.
Sekeras apa pun Isera mencoba mendapatkan perhatiannya, semuanya akan sia-sia.
Hal ini membuat Isera frustasi. Saat ada wanita yang menjadi pasangan Adyan di pesta, Isera akan berusaha mencari celah untuk mengganggunya.
Adyan sudah pernah memperingatkan Itta tentang betapa obsesinya Isera pada lelaki itu.
"Jangan berbicara omong kosong! Aku tak pernah memohon-mohon!" Isera menggertakkan giginya, menahan kekesalan dalam diri.
"Kenapa kau mengelaknya? Aku yakin, semua orang yang ada di pesta ini juga mengetahui fakta itu."
Lalu, seseorang ikut berbicara. Entah siapa dia, yang pasti kalimatnya membantu Itta mempengaruhi keadaan sekitar.
Orang itu berkata, "Nona Grizelle benar, aku sering melihat Nona Isera berusaha mendekati Tuan Adyan walau sering diabaikan, bahkan pernah direndahkan di sebuah pesta, tetap saja dia tak menyerah."
"Aku juga pernah melihatnya!" sahut yang lainnya.
Detik selanjutnya semua berjalan sesuai dengan alur yang Itta inginkan.
Bisik-bisik terdengar semakin ramai, membicarakan tentang seorang wanita yang rela merendahkan dirinya demi mendapatkan cinta seorang lelaki.
Mencintai seseorang memang tidak salah, tetapi merendahkan diri demi lelaki itu dan sampai sekarang masih tetap tak mendapatkan cintanya, itu adalah topik yang cukup menarik untuk dibahas.
Tak ragu-ragunya mereka membahas tepat di depan Isera. Mengabaikan hati yang tersinggung dan marah akibat pembicaraan itu.
"DIAMMM!!!" teriak Isera kencang hingga seluruh mata memperhatikannya dalam sekejap.
Iris matanya memerah.
"HENTIKAN UCAPAN KALIAN!"
Isera memajukan kakinya. Ia mempersempit jaraknya dengan Itta.
"Semuanya gara-gara wanita jal*ng ini!"
Tangan kanan Isera terangkat di udara. Namun, Itta hanya diam, seolah menunggu hal ini terjadi.
Sedikit lagi tamparan itu mengenai pipi mulus Itta, seseorang terlebih dahulu menahan tangan Isera.
Aura seram nan dingin tiba-tiba menyelimuti. Bulu kuduk Isera berdiri merinding.
Ia tak berani membalikkan badan atau bahkan menoleh sedikit saja. Tubuhnya membeku, begitu pula orang-orang di sekelilingnya.
"Sedikit saja tangan ini menyentuh wajah cantik wanitaku, akan kupastikan kedua tanganmu patah," bisik orang itu.
Siapa pun tahu ucapannya bukanlah omong kosong belaka.
Isera meneguk ludahnya takut. Tak ada yang bisa ia lakukan di saat-saat seperti ini. Semua sel sarafnya mendadak tak berfungsi dengan baik.
Isera meringis kesakitan tatkala Adyan dengan sengaja mengencangkan cekalannya.
"Tuan Adyan Abercio, tolong lepaskan tangan adik saya!" tegas seorang pria yang menyandang nama keluarga Yovander.
Yosi Yovander.
Dia adalah anak tertua keluarga Yovander. Memiliki kekuatan dan kekuasaan yang hampir sama dengan keluarga Abercio, namun tetap tak mampu melampaui keluarga Abercio.
"Dia telah berani mengatai wanitaku. Apa kau berpikir aku akan diam saja melihat wanitaku disebut jal*ng?!" Sorot mata Adyan semakin menajam.
"Aku minta maaf atas nama adikku. Tidak, lebih tepatnya, aku sebagai perwakilan keluarga Yovander meminta maaf sebesar-besarnya."
"Tidak perlu mengatasnamakan keluargamu, tetapi adikmu sendirilah yang harus meminta maaf langsung pada wanitaku."
Adyan menghempas kasar tangan Isera hingga membuatnya terhuyung.
Isera dengan cepat bersembunyi di belakang Yosi. Wanita itu tak berani berhadapan dengan Adyan.
"Kak ...." Suara Isera bergetar takut.
"Tidak apa-apa. Minta maaflah sekarang, maka semuanya akan baik-baik saja."
Isera menggelengkan kepalanya pelan. Ia takut pada Adyan, tetapi ia juga tak mau minta maaf pada Itta.
"Minta maaf!" tekan Yosi. Isera sedikit terkejut mendengar nada bicara saudara laki-lakinya itu.
"Isera!"
"Aku tak mau, Kak! Aku tak mau!"
"MINTA MAAF SEKARANG!"
Isera tersentak.
Air mata meluncur melewati pipinya.
Kakaknya, Yosi Yovander, orang paling lembut yang pernah Isera kenal. Satu-satunya keluarga yang paling disayang dan satu-satunya orang yang akan selalu membelanya, walau sebenarnya dia sadar itu adalah kesalahan Isera sendiri. Namun, kini dengan gampangnya dia membentak Isera.
Isera menggigit bibir bawahnya guna menahan isak tangis yang hampir keluar.
"M-maaf," ucapnya lirih dengan sangat terpaksa.
"Untuk apa meminta maaf jika tak tulus?" tanya Adyan.
"Maaf. Aku benar-benar minta maaf."
Wanita itu membungkukkan badannya berulangkali seraya menunduk.
"Dia sudah minta maaf, tolong maafkanlah," ujar Yosi.
Senyum miring terlintas di bibir Adyan. Tanpa perasaan Adyan menjambak rambut Isera yang sudah di tata sedemikian rupa. Lelaki itu menghempaskannya keras tepat di depan Itta.
Isera terduduk di lantai. Perasaan malu dan sakit dalam waktu bersamaan mendominasi.
Padahal ini bukan pertama kalinya Isera menganggu wanita yang dibawa Adyan ke pesta. Biasanya lelaki itu tak begitu peduli dengan wanita-wanitanya.
Lantas, apa yang membedakannya dengan Laquitta Grizelle?
"Kau ingin dimaafkan? Maka bersujud lah di depan wanitaku!"
Semua orang yang mendengar perkataan Adyan membuka mulut tak percaya, tak terkecuali Itta.
Bersujud.
Itu artinya Isera harus merendahkan dirinya di depan wanita yang beberapa menit lalu keluarganya Isera rendahkan.
Kalau Isera bersujud, maka reputasi keluarganya akan jatuh. Namun, kalau ia tak melakukan itu, maka keluarganya akan menjadi musuh keluarga Abercio.
Itu pilihan yang sangat sulit.
Isera menatap Kakak satu-satunya, seolah bertanya pilihan mana yang harus diambil.
Namun, Yosi hanya diam membisu. Saat mata Isera menatapnya penuh harap, lelaki itu mengalihkan pandangannya.
"Aku beri waktu tiga detik," ujar Adyan melanjutkan.
Isera benar-benar tak tahu harus bagaimana. Ia hanya bisa menangis di hadapan banyak orang. Bahkan, sang pemilik acara pun tak dapat membuat situasi menjadi lebih baik.
"Satu ...."
Adyan mulai menghitung.
"Dua ...."
Isera semakin kebingungan. Ia tak tahu mencintai seseorang akan sesakit ini.
"Tig—"
Sebelum Adyan menyelesaikan kata-katanya, Isera secepat mungkin bersujud di kaki Itta.
Ia menahan malu mati-matian dengan amarah yang bergelora dalam dada.
"Maaf .... maafkan aku," lirihnya. "Aku salah, tolong belas kasihmu."
Sungguh, ini adalah penghinaan terbesar. Setelah kejadian ini, Isera tak tahu lagi harus menaruh wajahnya di mana saat bertemu dengan orang lain.
Tindakan Isera tak hanya mencoreng nama baiknya, tetapi juga mencoreng nama baik keluarganya.
Ia tak siap melihat wajah keluarganya menahan malu. Ia tak siap dimarahi dan dibentak.
Semuanya gara-gara wanita di depannya ini.
Diam-diam Isera melirik Itta dari tempatnya. Dendam tercetak jelas di bola matanya.
"Aku akan merebut Adyan darimu dan membuatmu merasakan hal yang sama," gumamnya.
Suaranya hampir tak ada bedanya dengan hembusan angin. Tak satu pun orang yang mendengarnya.