I HATE (Love) U

I HATE (Love) U
Mansion Adyan



Sebuah mobil Bugatti La Voiture Noire berkecepatan sedang melintas di jalan menuju Mansion pribadi milik Adyan diikuti beberapa mobil di belakangnya.


Bugatti La Voiture Noire adalah mobil termahal yang hanya ada satu unit di dunia.


Desain mobil ini sangatlah indah dan nyaman. Jangankan duduk, melihatnya saja sudah cukup disebut beruntung.


Namun, dibandingkan dengan mobil Bugatti La Voiture Noire ini, Itta lebih tertarik pada pemandangan yang ada di luar jendela mobil.


"Berhenti memandangi jendela tak menarik itu."


Suara berat nan serak milik pria di samping membuat Itta menoleh. Hanya sejenak. Di detik selanjutnya Itta kembali memandang luar jendela.


Adyan diabaikan. Untuk pertama kalinya ego Adyan tersinggung.


Pria itu menarik pinggang Itta mendekat padanya. Hembusan napas Adyan menerpa telinga Itta, wanita itu menegang di tempat.


"Apa-apaan?! Lepaskan!" Itta meronta, namun pelukan di pinggangnya tak juga mengendur.


Adyan menatap wajah cantiknya tanpa berkedip. Dia meneliti setiap inci kecantikan yang dimiliki Itta. Terutama bibir merah alami itu. Ia menatapnya lama.


Bibir itu seolah mengundangnya untuk bertemu.


"Apa yang kau lihat?!" Itta segera menutup bibirnya menggunakan tangan menyadari arah mata Adyan.


"Tidak ada," jawab Adyan. Meski begitu pria itu tak melepaskan pandangannya.


Wajah Adyan mendekat, tentu saja Itta semakin waspada.


Terus mendekat.


Jarak wajah mereka semakin menipis. Hembusan napas terdengar kencang dan menerpa dengan hangat.


Tiba-tiba saja mobil berhenti secara mendadak tanpa aba-aba.


Adyan menutup matanya sebentar, lalu menatap supirnya dengan tajam.


"Apa begini caramu mengendarai mobil?" tanya pria itu.


"M-maaf, Tuan. Tiba-tiba saja ada mobil yang lewat di depan." Si pengemudi tergagap. Ia tak berani menoleh untuk menatap wajah majikannya.


"KELUAR!!"


Teriakan Adyan membuat sang supir tersentak. Tubuhnya bergetar hanya dengan teriakan itu.


"T-tapi Tuan ...."


"KUBILANG KELUAR!!"


Dalam sekejap supir itu keluar dari mobilnya. Adyan menghela napas berat. Pria itu menghubungi seseorang dan menyuruhnya untuk mengambil alih kemudi.


Temperamennya tidak bagus. Hanya kesalahan kecil, tetapi amarahnya tak dapat dikendalikan.


Namun, Itta diam-diam berterima kasih. Berkat mobil yang mendadak berhenti, 'sesuatu' tidak terjadi.


Perjalanan mereka memakan waktu cukup lama.


Sesampainya di depan Mansion milik Adyan Abercio, Itta tak dapat menyembunyikan kekagumannya.


Ia sering melihat secara langsung berbagai rumah atau bahkan istana megah di dunia ini. Namun, baru pertama kalinya Itta melihat Mansion semegah dan seindah ini.


Diterangi sinar bulan, mansion ini menjadi semakin luar biasa.


Tanpa sadar bibir Itta terbuka sedikit, mengagumi bangunan megah ciptaan tangan manusia.


"Kau harus terbiasa karena mulai sekarang kau akan tinggal di tempat ini." Adyan berucap.


Itta segera memalingkan wajah malu. Di mata Adyan, mungkin Itta terlihat bak manusia kampung.


Benar-benar memalukan.


...----------------...


Interior bangunan ini hampir setiap saatnya membuat Itta berdecak kagum.


Itta memandang cermin di depannya. Pantulan wajahnya terlihat. Perasaan wanita itu mendadak hampa.


Mansion ini sangat menarik. Akan tetapi, Itta tetap merasa kosong. Bayangan keluarganya yang meninggal dengan keadaan tragis melintas, memenuhi dan menyakiti hati serta pikirannya.


Itu mengingatkannya, dia datang bukan untuk bermain-main.


"Pikirkan cara membebaskan mereka, lalu cari tahu dan balas dendam mengenai kematian keluargaku," monolognya.


Ketukan pintu terdengar sebanyak tiga kali.


"Masuk."


Setelah mengucapkan kata itu, beberapa orang dengan pakaian pelayan memasuki ruangan.


"Selamat malam, Nona," ucap salah satu dari mereka. Ia membungkuk hormat. "Nama saya Olivia. Saya seorang kepala pelayan wanita di tempat ini."


Olivia mengambil sebuah kain berwarna peach yang berada di tangan pelayan lainnya.


"Ini baju tidur Nona. Tunggulah selama lima menit, saya akan menyiapkan air hangat dan perlengkapan mandi lainnya."


"Tidak perlu," tolak Itta. "Aku tak ingin mandi di malam hari."


"Jika Nona khawatir pada kesehatan karena mandi malam, tenang saja kami memiliki ramuan yang membuat Anda tetap sehat."


"Tidak usah." Itta cukup lelah hari ini. Ia hanya ingin tidur secepatnya. "Aku akan mengganti bajuku, kalian pergilah."


Olivia mengangguk sesaat. Ia menyerahkan pakaian tidur itu, lalu pergi bersama para pelayan lain.


...----------------...


Mimpi adalah bunga tidur. Namun, terkadang mimpi juga muncul sebagai kenangan yang menghantui.


Tubuh Itta menggeliat. Wajahnya penuh keringat. Matanya terbuka dengan napas yang tak beraturan. Ia terduduk di atas ranjang.


"Mimpi buruk?"


Itta tersadar mendengar suara berat nan serak di dekatnya. Ia menoleh ke samping.


"Kau? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Itta pada seorang pria yang duduk di sofa dekat ranjangnya.


"Ini adalah Mansionku. Ruangan ini juga termasuk di dalamnya. Aku memiliki hak untuk pergi ke ruangan ini kapan pun aku mau."


Wajah Itta berpaling. Sementara napasnya masih terputus-putus. "Terserah kau saja."


"Itu bukan urusanmu."


"Kau lupa bahwa kau adalah milikku? Kini semua yang menjadi urusanmu adalah urusanku juga."


****!


Itta ingin sekali memakinya sekarang.


Bahkan, mimpinya pun menjadi urusannya sekarang?


Itta membuang napasnya kasar. Ragu-ragu ia menjawab, "iya."


Dia tak berbohong. Itu memang mimpi, walau mimpi itu merupakan ingatan buruknya.


"Apa yang kau mimpi, kan?" tanya Adyan lagi.


"Aku tak begitu ingat," bohong Itta.


Adyan mengangguk beberapa kali, tak membahas lebih lanjut.


Kecanggungan terjadi selama beberapa menit.


Itta berdehem sebentar, berupaya meminimalisir kecanggungan.


"Apa ada sesuatu yang kau inginkan hingga kau datang ke tempat ini?" Itta mengajukan pertanyaan.


"Tidak ada."


"Huh?"


"Tidak ada."


"Lalu, kenapa kau datang ke sini?"


"Memangnya salah?"


Itta ingin sekali memutar bola matanya malas. Namun, ia tahan. Dia tak boleh seenaknya bersikap di tempat ini.


"Tidak, ini adalah Mansionmu. Kau ber-hak datang ke sini dan aku tak punya hak bertanya alasannya."


"Baguslah jika kau sadar."


Sungguh, Itta jadi emosi. Untung saja ia mampu mengontrol emosi.


"Lihat apa kau?"


Itta melotot menyadari arah pandang pria itu. Spontan ia menutupi dadanya menggunakan dua tangan.


Malangnya bagian atas pakaian tidur ini cukup terbuka dan juga tipis. Pertahanannya tak cukup membuat tubuhnya lepas dari pandangan Adyan.


"Berhenti menatapnya!"


Tentu saja Adyan mengabaikan perkataan Itta. Hal itu membuat Itta keki sendiri. Ia merasa dilecehkan dengan tatapan pria itu.


"Ternyata punyamu lumayan besar." Perkataan Adyan sangat tidak tahu malu.


Wajah Itta seketika memerah.


Dengan cepat Itta menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya hingga yang tersisa hanyalah kepalanya saja.


Melihatnya membuat Adyan tak dapat menahan kekehannya.


Lucu sekali melihat wanita di hadapannya ini.


"Tidak ada yang lucu," ucap Itta. Bibir wanita itu mengerucut kesal.


Kewaspadaan semakin merayapinya tatkala melihat Adyan mendekat selangkah demi selangkah.


"Mau apa kau?" tanya Itta takut-takut.


Adyan terus mendekat, kemudian menaiki ranjang berukuran besar itu.


Sontak, Itta memundurkan tubuhnya. Ia berusaha mencari celah untuk lari, namun sulit.


Adyan sudah lebih dulu mengurung tubuhnya, mengungkungnya menggunakan kedua tangan.


Itta meneguk ludahnya kasar.


Wajah Adyan mendekati wajahnya. Jarak mereka terkikis.


Itta segera memalingkan wajah. Namun, tangan kekar Adyan mencengkram dagunya dan memaksanya melihat kembali wajah pria itu.


Saat mata mereka kembali bertemu, Itta merasakan sesuatu lembut menyapa bibirnya.


Lama bibir mereka bertemu.


Itta ingin menolaknya, tetapi mata pria itu menghipnotisnya dalam. Matanya memancarkan keindahan langit malam sehingga Itta tenggelam ke dalamnya.


Tautan bibir mereka terputus. Senyum puas tersemat di wajah Adyan.


Dari jarak sedekat ini, Itta dapat melihat jelas betapa sempurnanya setiap lekuk wajah Adyan.


"Sangat manis. Aku jadi penasaran dengan 'rasa' bagian tubuhmu yang lain," ucap Adyan, melirik dada Itta.


Sekali lagi Itta mengutuk Adyan dalam hati. Bedanya kini ia tak hanya mengutuk, tetapi juga mendorong kencang tubuh pria itu.


Amarah memuncak.


Cukup sudah. Adyan sudah keterlaluan.


"KELUAR SEKARANG!" teriak Itta.


Persetan dengan Adyan yang identitasnya Tuan rumah, sementara Itta hanyalah seorang tamu. Ia tak peduli.


Adyan tertawa sesaat, sebelum akhirnya mengikuti keinginan Itta.


Setelah kepergian Adyan, Itta mengusap kasar bibirnya.


Lagi.


Bibirnya lagi-lagi terasa kotor.


Ia jijik.


Namun, lebih jijik lagi pada dirinya yang tak bisa menolak saat bibir mereka bertemu. Sebaliknya, Itta malah terpesona akan indahnya mata dan wajah sempurna milik pria itu.