I HATE (Love) U

I HATE (Love) U
Permintaan



"Iya! Elia mati gara-gara kamu!"


Tubuh Itta menegang dalam sedetik. Keterkejutan nampak menghiasi wajah cantiknya.


"M—mati?"


"Tak usah berpura-pura lagi! Kau pandai sekali menusuk orang dan berpura-pura menjadi orang baik."


Tangan Itta terkepal. Fokusnya tak berada di tempat, melainkan berkeliaran memikirkan Elia.


"Cih, masih saja memasang wajah seperti itu. Dasar j*lang! Harusnya kau mati saja dari dulu, Sial*n! Mati! Mati!"


Isni mempersempit jarak. Tangannya bergerak di udara hendak melakukan kekerasan fisik berupa tamparan pada Itta. Namun, Riana menahannya.


"Lepasin! Aku harus memberinya pelajaran!"


"Diamlah! Biarkan dia menjelaskan dulu."


"Apa lagi yang harus dijelaskan?!"


Kegaduhan terjadi mengakibatkan Sasya menyusuli Itta. Tatapannya langsung berubah melihat asal kegaduhan itu.


"DIAM!!" titah Sasya. Kedua wanita itu mendadak diam.


Di sisi lain, tangan Itta semakin mengepal kencang. Giginya dengan sengaja menggigit bibir hingga tanpa sadar terkoyak dan mengeluarkan sedikit darah.


Itta membalikkan badan dan pergi dari ruangan itu. Kakinya melangkah cepat bermaksud berjalan menuju ke tempat Adyan berada. Di belakangnya ada Sasya yang mengikuti.


"Kau mau kemana?"


Pertanyaan dari Sasya diabaikan. Itta tetap berjalan cepat dengan emosi yang hampir tak tertahan.


Tatkala berada di tempat tujuan, Itta tak segan-segan mencekal kemeja Adyan.


Orang-orang yang sejak tadi berada di ruangan itu jelas saja terkejut dengan sikap kurang ajarnya yang tiba-tiba.


"Ada apa ini? Aku sedang rapat. Tidak bisakah kau menunggu dulu?"


"Persetan! Kau telah melanggar perjanjian bahkan saat perjanjian itu belum mencapai dua puluh empat jam!"


"Melanggar?"


"Kau pikir, aku tidak tahu apa yang terjadi pada Elia?!"


Sorot marah nampak jelas.


Namun, entah mengapa Adyan menyukainya.


Umumnya saat ada seseorang yang dengan seenak jidat mengganggu waktu penting Adyan, maka dia akan menghabisinya di detik itu juga.


Kali ini berbeda.


Pria itu terkekeh pelan. Ia melepaskan cekalan Itta dari kemejanya dengan mudah.


Sejenak ia merapihkan pakaiannya, lalu menatap tajam satu per satu wajah orang di tempat itu kecuali Itta.


"Keluar," ucap Adyan.


Satu kata itu mampu membuat mereka mengerti. Hanya beberapa detik ruangan yang semula dipenuhi orang, kini hanya tinggal Itta dan Adyan.


"Aku sedang rapat mengenai club ini dan kau tiba-tiba saja datang. Apa kau begitu rindu padaku hingga tidak bisa menunggu waktu rapat selesai?" Adyan bertanya diselingi senyum nakalnya.


Sementara itu, tangan Adyan menyentuh lembut dagunya. Itta segera menepisnya kasar.


"Kenapa kau lakukan itu?!" Lagi-lagi Itta menarik kerah kemeja Adyan.


"Apa?"


"Apa?! Bisa-bisanya kau masih bertanya seperti itu setelah melanggar perjanjian yang baru saja dibuat!"


"Aku tak melakukan apa pun."


Geram, Itta semakin menarik kerah Adyan, membuat jarak di antara mereka semakin tipis.


"Kau membunuh Elia!"


Amarah tercetak jelas. Matanya dipenuhi kobaran api karena merasa dikhianati.


Namun ...


"Aku tak membunuhnya," jelas Adyan.


"Bohong!"


"Tidak. Aku memang tak membunuhnya. Orang yang membunuhnya adalah dirinya sendiri."


Cekalan di kemeja Adyan mengendur.


"Bunuh diri?" Itta bertanya dengan ekspresi kosong.


"Iya."


"Tidak mungkin. Kau bohong! Kalau memang Elia mau bunuh diri, seharusnya kau menghentikannya!"


"Untuk apa?"


Ekspresi Itta semakin mengeras. "Kau sudah berjanji, br*ngsek!"


"Aku tak pernah berjanji akan menghentikan temanmu untuk bunuh diri. Aku hanya berjanji tidak akan membunuh atau menyakiti mereka lagi."


Kalimat tanpa dosa itu diucapkan dengan lancar. Lutut Itta melemas.


Ia gagal menepati janjinya.


Hidupnya sungguh tak berguna.


"Sudahlah. Jangan dipikirkan lagi," ujar Adyan.


Pria itu mengambil sebelah tangan Itta, kemudian mengecupnya lama.


Bibirnya tersungging senyum penuh makna.


"Hidup atau mati orang-orang itu tak penting. Hanya kau saja yang penting."


Setelah mengucapkan kalimat itu, Adyan kembali mengecup punggung tangan Itta.


...----------------...


Berulang kali Itta membasuh tangannya. Namun, rasa jijik akibat kecupan itu tak kunjung hilang.


Ia menggosok-gosok tangannya, seolah ingin sekali menghilangkan kotoran dari tangannya.


Itta mengusap wajahnya frustasi.


Jijik! Jijik sekali!


Namun, Itta tetap tak bisa menghilangkannya.


Ia menghirup napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.


"Tenang, tenang," monolognya.


Pantulan cermin di depannya memperlihatkan betapa kacaunya keadaan Itta.


Ketukan di pintu toilet terdengar disusul dengan suara seorang wanita tak dikenal.


"Waktunya makan malam. Tuan Adyan sedang menunggu Nona untuk segera datang. Mohon jangan membuat Beliau menunggu terlalu lama."


Usai mengatakan itu, tak ada lagi suara yang terdengar.


satu jam lagi mereka akan melakukan perjalanan kembali ke mansion Adyan Abercio. Ini adalah makan malam mereka yang terakhir.


Itta mengganti bajunya sejenak, kemudian pergi mengunjungi Adyan meski sebenarnya enggan.


Seperti biasa, hanya ada Adyan dan dirinya saja yang makan di meja ini. Sementara yang lain hanya mampu berdiri sembari menatap mereka menyantap makanan lezat di atas meja.


Itta melirik salah satu dari mereka, lebih tepatnya Eric.


Beberapa hari ini Itta merasa posisi Eric jauh lebih rendah darinya.


Dulu ia menjadi orang yang paling berkuasa di tempat ini, namun sekarang dia tak ada bedanya dengan budak rendahan di depan Adyan.


"Hey! Kemana matamu melihat? Jangan melihat pria lain."


Nada tak suka itu teramat sangat jelas.


Itta menatap Adyan heran.


"Memangnya salah?" tanya Itta.


"Tentu saja."


"Aku punya mata. Jadi aku berhak menatap siapa pun."


"Tapi, sekarang semua yang ada dalam diri kamu termasuk mata adalah milikku. Bukankah sudah tertulis jelas di kontrak itu?"


Alis Itta mengerut tak suka.


Apa-apaan ini?


Namun, meski demikian Itta tak membalasnya. Toh, kalimat Adyan memang benar. Di dalam surat perjanjian tertulis bahwa Itta milik Adyan Abercio.


Itu artinya semua yang dimiliki Itta termasuk mata ini menjadi milik Adyan.


Daripada membalas, lebih baik Itta menyantap makanan yang tersaji.


Tangan dan mulutnya sibuk mengunyah, namun otaknya tak bisa lepas dari perasaan bersalah memikirkan kematian Elia.


Elia bunuh diri merupakan sebuah kejutan besar. Di saat Itta berjuang agar ia dapat memenuhi janjinya, tetapi Elia memilih menyerah.


Itta menghela napas panjang. Ia meletakkan alat makan sejenak.


"Aku punya satu permintaan," ujar Itta.


"Apa itu?"


"Bebaskan teman-teman seruanganku."


"Sudah kubilang itu tidak bisa."


"Tiga. Biarkan tiga orang tetap di sini dan berada di sampingku. Sisanya tolong dibebaskan."


Mendengar itu, Adyan pun ikut meletakkan alat makannya. Ia menatap Itta tepat di manik matanya.


"Apa pun rencanamu, kau tetap tidak akan pernah bisa terlepas dari genggamanku."


"Aku juga tak pernah berpikir seperti itu. Namun, anggap saja ini kompensasi karena ada salah satu teman seruanganku yang mati di sini."


"Itu bukan kesalahanku."


"Tetap saja kau harus membebaskan mereka setidaknya satu orang saja!"


"Tidak."


Gigi Itta bergemelatuk. Matanya balas menatap tajam sang lawan bicara. Jujur, ia terintimidasi dengan aura yang keluar dari tubuh Adyan. Hanya saja Itta tak mau terlihat lemah.


"Masih ada tiga orang yang ditahan di sini. Aku tak akan bisa kabur. Lagipula, kalaupun aku berusaha lari, aku yakin kau dapat membuatku berada di sisimu lagi."


Itta berusaha meyakinkan lewat kalimatnya. Dia tidak bohong. Selain itu, mungkin saja Adyan dapat membantunya untuk mencaritahu kematian tragis keluarganya dan membalas dendam.