
FyClub.
Salah satu club yang cukup dikenal banyak orang di negara ini.
Tempat di mana tersedia berbagai macam minuman berakohol, musik yang mampu membuat gendang telinga berdengung, dan wanita-wanita cantik berpakaian minim bahan berkeliaran menggoda lelaki muda dan tua.
Dari luar, club ini nampak layaknya club sukses pada umumnya.
Tidak ada tindakan ilegal lainnya, kecuali 'menyewa' wanita di sana. Itupun dengan persetujuan wanitanya.
Hanya segelintir orang yang mengetahui rahasia tersembunyi FyClub.
Penculikan, penganiayaan, pemaksaan dan pelelangan ilegal.
Semuanya tertutup rapi-rapi. Pemerintah tak mampu mengendusnya barang sekali pun.
Akan tetapi, club yang dikenal besar dan penuh rahasia ini sebenarnya hanyalah salah satu tempat kecil milik keluarga Abercio.
Seorang Tuan Muda dari keluarga Abercio datang ke tempat yang kecil ini merupakan suatu hal yang hampir mustahil.
Namun, kehadiran sosok lelaki bertubuh tegap dan berwajah tampan yang kini berada di hadapan Eric menghancurkan kemustahilan itu.
Di hadapannya, semua yang dimiliki Eric terasa kecil dan kotor.
"Terima kasih Tuan Muda Abercio sudah repot-repot datang ke tempat kecil ini. Saya meminta maaf sebesar-besarnya apabila persiapannya tidak cukup memuaskan Tuan Muda."
Eric menundukkan kepalanya hormat. Kakinya sedikit bergetar menerima tekanan kuat yang berasal dari orang di depannya.
"Jelaskan perkembangannya."
Tanpa basa-basi, sang Tuan Muda langsung mengucapkan tujuan kedatangannya.
"Sebelum membahas itu, silahkan diminum terlebih dahulu wine terbaik kami—"
Adyan berdecak, memotong ucapan Eric dalam sekejap.
"Jelaskan saja. Tidak perlu basa-basi yang tidak penting," tuturnya keras.
"Baik." Eric mengangguk patuh. "Tak ada masalah dalam FyClub. Sebaliknya, akhir-akhir ini FyClub meraup keuntungan besar. Keuntungannya meningkat sekitar enam puluh persen dari biasanya. Jika terus seperti ini, maka Club akan—"
"Hanya enam puluh persen?" tanya Adyan dengan nada mencemooh.
Eric mengangguk ragu. "Iya."
"Kau menganggap angka enam puluh itu besar, heh?"
Kepala yang biasanya memandang remeh orang lain, kini dipandang remeh oleh sang Tuan Abercio.
Eric benci mengakui kenyataan, bahwa ia takut terhadap mata seindah malam yang tengah menatap tajam dirinya.
"Delapan puluh persen." Adyan kembali membuka suara. "Itu adalah angka minimal keuntungan yang harus kau dapat."
Mata Eric membulat sempurna.
80% adalah angka yang sangat tinggi. Tidak mungkin Eric bisa mencapai keuntungan sebesar itu.
"B-baik, Tuan Muda," ucapnya gagap. Di hadapannya, Eric tak mampu menolak.
"Jawab yang benar!"
"Baik, Tuan Muda!" Eric langsung mengoreksi nada suaranya.
"Beberapa hari ini aku akan tinggal dan mengawasi kinerja kalian."
Ucapan Adyan spontan membuat Eric mengangkat wajahnya. Secepat kilat Eric kembali menunduk tatkala matanya bersitatap dengan mata tajam Adyan.
"Kenapa? Kau keberatan, heh?"
Adyan bertanya sembari memiringkan sedikit kepalanya, menekan Eric lewat aura yang dikeluarkan.
"Tentu saja tidak! Tempat ini merupakan milik Tuan Muda. Tuan Muda berhak tinggal kapan pun Tuan mau. Saya hanyalah sampah yang tak berhak menolak perintah sang Tuan Muda."
Eric berucap cepat, tak ingin Adyan salah paham dan menyebabkan masalah untuknya.
"Baguslah kalau kau sadar posisimu."
...----------------...
Dasi merah yang melingkar di leher, Eric melepasnya. Begitu pula jas yang melekat di tubuh atletisnya. Menyisakan kemeja putih polos yang digulung dan celana hitam.
Pria itu menduduki sofa empuk nan lembut. Tangannya bergerak mengambil segelas air putih dan meneguknya hingga tandas.
Setelahnya, Eric menyandarkan kepala.
Helaan napas panjang keluar dari bibir tebalnya.
Dia masih bisa merasakan tekanan Adyan Abercio, bahkan setelah mereka tak lagi berada dalam satu ruangan.
Tidak heran, dia adalah putra tunggal Abercio.
"Hey!" seru Eric.
Merasa dipanggil, orang yang bertugas menjaga ruangan Eric lantas menghampirinya.
"Ya, Tuan?"
"Kau tahu kenapa Tuan Muda tiba-tiba datang ke sini?"
"Sesuai yang dikatakan Tuan Muda Abercio tadi. Dia ingin mengawasi kinerja kita."
"Tapi, kenapa tiba-tiba? Selain itu, club ini hanyalah tempat kecil yang dikelola keluarga Abercio. Mengirim putra tunggalnya ke tempat ini hanya untuk mengawasi, bukankah terlalu aneh?"
Sangat wajar Eric menanyakan itu kepada Edwin.
Berhubung Edwin merupakan salah seorang yang sudah bekerja jauh sebelum Eric, terkadang Eric menanyakan beberapa hal yang tak diketahui.
"Dalam kurun waktu bertahun-tahun lamanya, salah satu anggota keluarga Abercio memang terkadang datang ke tempat ini untuk mengawasi secara langsung. Untuk alasannya hanya sang 'Tuan' yang tahu."
'Tuan' di sini merujuk pada keluarga Abercio. Salah satu keluarga yang sangat berpengaruh di dunia.
Baik ilegal maupun legal, semuanya dibuat menjadi bisnis.
"Selamat malam, Tuan."
Seseorang memberi salam. Di sampingnya terdapat wanita cantik dengan gaun hitam yang memperlihatkan belahan dadanya sedikit, juga riasan di wajah, menambah kesan cantiknya.
Eric terpana cukup lama.
Fokusnya tercuri.
Maka dari itu, sekali pun Itta tak pernah dipanggil keluar ruangan. Eric tak membiarkan ada pria lain yang menyentuhnya.
Sejujurnya, Eric sengaja menunda malam ini.
Namun, masalah yang dibuat para wanita itu membuat Eric was-was kehilangan Itta dan akhirnya memutuskan malam ini.
"Pergi," titah Eric pada dua bawahannya, setelah terlepas dari keterpanaanya.
Keduanya mengangguk patuh.
Kaki Eric berjalan mendekat.
Ia melepas rantai yang mengikat tangan Itta menggunakan kunci.
Terakhir kali Eric menggunakan Tali mengikat para wanita, ia kecolongan. Maka dari itu, Eric menggantinya dengan rantai.
Eric mengangkat wajah Itta, memperhatikan dengan seksama setiap inci wajah wanita itu.
"Cantik. Cantik sekali," pujinya.
Eric merangkul wanita itu, lalu menuntunnya menuju ranjang besar miliknya.
Dia membaringkan tubuh Itta, tak lupa pula disertai decakan kagum.
"Kau tenang saja. Aku akan melakukannya dengan pelan," bisik Eric di telinga Itta, menciptakan sensasi merinding.
Bibir merah Itta terbuka, hendak mengatakan sesuatu, "bolehkah aku menanyakan sesuatu?"
"Tentu."
"Ini mimpi, kan?"
Hening.
Ekspresi wajah Eric sulit dibaca hingga diam-diam Itta menggigit bibirnya takut.
Kemudian, tawa keras menggelegar.
"Kau ini naif sekali," ucap Eric tatkala tawanya mulai reda.
"Jadi ... ini kenyataan?"
"Aku mengerti perasaanmu. Tapi, ini memang kenyataan. Kalau tidak percaya coba lukai dirimu sendiri. Kalau mimpi, kita tak mungkin merasa sakit, bukan?"
Eric hanya berucap asal, namun siapa sangka Itta benar-benar melakukannya?
Wanita itu mengambil pisau kecil yang disembunyikan di saku celana Eric.
Lantas, dengan kecepatan kilat Itta menusuk perutnya sendiri menghasilkan cairan darah merah yang menetes sedikit demi sedikit.
Mata Eric membelalak tak percaya.
"Sakit," gumam Itta.
Di saat kesadarannya akan dimakan sang waktu, memori kelam kematian keluarganya terputar.
Kalau semua yang dialami Itta adalah kenyataan, itu artinya ... kematian keluarganya juga merupakan hal yang nyata.
Perasaan sakit yang semula selalu ditekan mati-matian, kini menggerogoti hatinya.
Sedetik sebelum kesadaran direnggut, Itta meneteskan air mata.
...----------------...
Daftar wanita yang berada di dalam ruangan
Laquitta Grizelle / Itta
Isni
Elia
Hela
Zora (MATI)
Killa
Lesya (MATI)
Oldia
Riana
Izume
Yilse (MATI)
Tasha (DIJUAL)
Shia (DIJUAL)
Devia (DIJUAL)
Avira (DIJUAL)
...----------------...
Ok, pemeran utamanya mulai beraksi. Kemarin-kemarin peran Itta tak ada bedanya dengan peran pendukung.
Itu ada sebabnya.
Itta selalu menganggapnya mimpi, tapi karena ia mulai sadar kalau ini kenyataan, maka fokus kita akan kembali ke pemeran utamanya.
Udah gitu aja, yaaa.
Bye.