I HATE (Love) U

I HATE (Love) U
Azri?



"Belum sampai ke tempat Elia berada, kami sudah lebih dulu ditangkap. Saat itu kami berusaha melawan mati-matian, namun kita semua tahu kalau itu sia-sia. Pada akhirnya, kami gagal melarikan diri lagi."


Itta mendengarkan setiap untaian kata yang diceritakan Riana. Ia mengangkat gelas minuman kemudian menegaknya sedikit.


"Lalu?"


"Saat itu, kami berpikir kalau kami tak memiliki harapan untuk pergi lagi dari tempat itu. Kami semua putus asa. Kami dikurung di samping ruangan tempat Elia dikurung. Hanya saja dibatasi oleh tembok besar. Kami tak dapat melihat Elia, tetapi setiap hari kami selalu mendengar jeritan kesakitannya."


Riana menundukkan kepalanya, mungkin karena terbawa kembali ke masa itu.


"Jeritannya sangat kencang. Menyedihkan dan memilukan. Sementara itu, Oldia terus-menerus dipanggil ke luar ruangan. Setiap kali dia dipanggil, maka ia akan pulang tanpa ekspresi sedikit pun. Seolah wanita itu telah kehilangan jiwanya. Setiap ditanya, Oldia tak pernah menjawab. Lalu, semakin lama kami mengetahui apa yang dilalui Oldia ketika di luar ruangan."


"Memangnya apa?"


"Wanita itu digilir terus-menerus oleh para pria bejatt. Semua itu terjadi atas perintah Eric."


Wajah Itta mengeras. "Lalu, bagaimana dengan Elia? Kapan dia bunuh diri?"


"Sehari sebelum kau datang ke ruangan kami."


"Benarkah?"


Riana mengangguk. "Iya."


"Dari mana kalian mengetahuinya?"


"Seseorang yang pernah memberi kunci ruangan kepadamu dulu."


Hanya dalam kurun waktu sedetik Itta langsung mengetahui orang yang dimaksud Riana. "Apakah itu Azri?"


"Aku tak tahu namanya."


Itta berpikir sejenak. Ada banyak pertanyaan di benak, akan tetapi hanya ada satu pertanyaan yang penting.


Menarik napas sejenak, Itta bertanya, "apakah orang itu juga yang memberitahu mengenai kontrakku dan Tuan Muda Abercio?"


"Ya."


Persis sesuai dugaan.


Satu hal yang tidak Itta pahami, Adyan telah mengetahui identitas Azri itu palsu, lantas kenapa lelaki itu masih membiarkan Azri bekerja di tempatnya?


Sangat berbahaya membiarkan orang dengan identitas palsu, akan tetapi Adyan tak berbuat apa pun.


Anehnya lagi, lelaki itu tetap tenang meski tahu Azri bisa saja menjadi ancaman untuknya.


Sungguh, Itta tak bisa memahami otak Adyan.


Hingga senja menyapa pun, Itta tak dapat menemukan jawaban yang masuk akal.


Mata Itta menatap ke luar jendela yang menampilkan pemandangan kota dengan gedung pencakar langit.


Sesuatu melingkar di perutnya. Tanpa menoleh, Itta tahu tangan milik siapa yang dengan seenak jidatnya memeluk tubuhnya.


Itta menahan perasaan jijiknya.


"Sedang memikirkan apa? Kau terlihat begitu serius." Orang itu menempelkan dagunya pada bahu Itta.


"Bukan urusanmu."


"Kau lupa lagi."


Itta memutar bola matanya diam-diam. Rasanya ingin sekali menonjok lelaki yang kini memeluknya, tetapi kontrak sial*n itu selalu mengingatkannya pada kenyataan.


"Aku hanya bertanya-tanya tentang sesuatu," balas Itta malas.


"Apa itu?"


"Kutanyakan padamu juga percuma. Kau pasti tidak mau menjawabnya."


"Oh, ya? Itu belum tentu."


"Apa kau akan menjawabnya?"


"Mungkin."


Jawabannya tak memuaskan. Tetapi, setidaknya ada kemungkinan Adyan akan menjawabnya.


Itta membuka mulutnya, bertanya, "Kenapa kau membiarkan Azri tetap bekerja di tempatmu? Kau sendiri tahu identitasnya palsu."


Adyan tak langsung menjawab.


Lelaki itu melepas pelukannya, membuat Itta sontak membalikkan badan. Mata Itta menatap tanya pada Adyan yang duduk di atas ranjang dengan salah satu kaki terangkat sembari menyeringai.


"Menurutmu kenapa?" Adyan balik bertanya.


Apa-apaan itu?


Kalau Itta tahu, Itta tak akan bertanya padanya. Itta jadi ingin memakinya terang-terangan.


"Terserah kau saja," jawab Itta malas.


"Kau akan segera tahu jawabannya."


"Aku sudah tak peduli lagi."


"Benarkah?" Salah satu alis Adyan terangkat. "Baiklah, giliran aku yang bertanya sekarang."


"Bertanya apa?"


Adyan merubah gaya duduknya menjadi lebih nyaman dari sebelumnya.


"Apa tujuanmu membuat mereka berada di Mansionku, Nona Grizelle?" tanya lelaki itu.


"Mereka? Siapa yang kau maksud?"


"Siapa lagi kalau bukan tiga rekan seruanganmu?"


Itta diam selama beberapa saat. Dahinya mengernyit bingung.


"Kau sendiri tahu jawabannya. Aku ingin membebaskan mereka dari tempat itu. Walau tak semuanya terbebas, setidaknya mereka yang tak terbebas, dapat keluar dari tempat menjijikan itu."


"Lalu, kenapa harus tiga orang itu?"


"Apa maksudmu?"


"Riana, Oldia dan Isni. Kau menyebut nama mereka saat kau membuat permohonan itu. Seolah kau tak ingin mereka terbebas dari tempat itu, sebaliknya kau ingin mereka ada di sisimu."


Itta menggeleng keras. "Itu tidak benar."


"Ada banyak nama di ruangan itu. Tetapi, yang kau sebut hanyalah tiga orang itu. Kau punya rencana, kan?"


"Kau salah. Aku tak bermaksud apa-apa, aku hanya menyebut asal."


"Aku bukan orang bodoh, Nona Grizelle."


Itta menggigit bibirnya.


Seluruh ucapan Adyan benar adanya.


Itta menyebut nama mereka bukan tanpa alasan, melainkan karena mereka berguna untuk tujuannya yang sebenarnya.


Isni, orang yang pemberani meski umurnya masih 17 tahun. Ia akan berguna saat membalas dendam.


Oldia memiliki kemampuan hacker. Maka, ia berguna dalam mencari informasi pelaku pembunuhan berantai keluarganya.


Sementara Riana. Dia tak punya keahlian atau keberanian, tetapi Riana bisa dipercaya.


Itta tak menyangka, Adyan menyadarinya secepat ini. Kemampuan lelaki ini sangat luar biasa. Itta harus selalu berhati-hati.


"Kau tenang saja. Rencanaku tidak ada hubungannya denganmu. Ini berkaitan tentang keluargaku."


"Memangnya kenapa dengan keluargamu?"


"Balas dendam. Aku ingin balas dendam pada orang yang membunuh keluargaku."


"Mau kubantu?"


Adyan mengeluarkan smirk-nya.


...----------------...


Di dunia yang luas ini, tidak ada siapa pun yang dapat dipercaya. Oleh karenanya, Itta menolak mentah-mentah tawaran Adyan.


Hanya saja saat malam berlangsung, Itta jadi sedikit menyesal.


Dia tak menyesal karena menolak tawaran Adyan, ia hanya menyesal karena mengungkapkan niatnya.


Saat Itta menolak tawarannya sore tadi, Adyan tak mengizinkannya membalas dendam.


Lelaki itu berkata, "kalau kau ingin balas dendam, biarkan aku membantumu. Tetapi, kalau kau ingin balas dendam tanpa menerima bantuanku, jangan harap kau bisa melakukannya."


Itta menarik napas panjang, kemudian menghembuskannya.


"Aku akan balas dendam. Aku tak perlu izinmu untuk membalas dendam keluargaku." Itta berucap yakin.


Ia memandang langit malam.


Mungkin malam ini dia tidak akan tidur. Tidur hanya akan membawakannya mimpi buruk. Itta benci mimpi buruk yang mengingatkannya pada kematian tragis keluarganya.


Akan tetapi semua itu dihancurkan dengan kedatangan Adyan.


Suara langkah kaki yang keras terdengar di telinga Itta. Wanita itu tahu pemilik langkah kaki ini.


Dengan segera ia merebahkan tubuh di kasur, berpura-pura tidur.


Semoga saja Adyan melihatnya tidur, kemudian langsung pergi.


Sayang sekali, keinginan Itta tak terpenuhi. Bukannya pergi, lelaki itu malah ikut tidur di sampingnya. Sama seperti biasa, lelaki itu tidur sembari memeluk Itta.