
Mata Adyan tak henti-hentinya meneliti kertas putih berisi informasi milik seseorang.
Sebuah senyum miring terbit di wajah tampannya.
"Bawa Laquitta Grizelle ke sini," titahnya pada salah satu bawahannya.
Orang itu mengangguk sesaat, lalu pergi membawa Itta ke tempat ini.
"Duduk lah," ujar Adyan.
Itta mengikutinya meski kewaspadaan selalu merayapi.
"Bacalah itu."
Meski tak begitu mengerti, Itta mengikuti instruksi Adyan. Wanita itu meraih kertas yang tergeletak di meja, lalu membacanya.
Bola mata Itta mendadak melebar tak percaya.
Ia kembali membacanya untuk yang kedua kali. Namun, informasi di kertas itu tetap sama. Tak ada yang berubah.
••••••
Nama Lengkap : Azri Killian
Tanggal Lahir : 08 Maret 1962
Umur : 25 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Wafat : 20 Juni 1987
DLL.
••••••
Apa ini?
Lelaki yang Itta ketahui bernama Azri tercatat telah meninggal 35 tahun yang lalu.
Lalu, siapa yang ia temui kemarin malam?
Wajah itu sama persis seperti wajah yang kini fotonya terdapat pada lembar informasi di tangan Itta.
Tidak masuk akal.
Kalaupun masih hidup, harusnya umur Azri sudah 70 tahunan. Namun, pria yang kemarin menemui Itta, wajahnya jelas-jelas tak menua.
"Kau terkejut?"
Itta mengangkat kepalanya mendengar pertanyaan dari pria di hadapannya.
Pegangannya menguat pada kertas di tangan.
"Apa tujuanmu memberitahuku tentang ini?" tanya Itta.
"Kau sudah mengerti, perlukah kujelaskan?"
"Aku tak mengerti."
"Baiklah. Akan kuperjelas." Adyan menghentikan kalimatnya sejenak. Pria itu menatap Itta tepat di manik mata disertai senyum yang sulit dimengerti. "Nona ... harapanmu pada pria itu sudah tak ada lagi."
"Harapan?"
"Orang yang membantumu lari adalah pria itu, bukan? Kau berniat menaruh harap padanya lagi. Tapi, identitas pria itu saja tidak jelas. Dia tidak membeberkan identitas aslinya. Kemungkinan besar dia akan mengkhianatimu."
Itta akui Adyan benar. Besar kemungkinannya pria yang mengaku bernama Azri akan mengkhianati. Namun, sejak awal Itta tak pernah menaruh harap atau percaya pada pria itu.
Itta sudah memperkirakan dirinya akan tertangkap atau mungkin terbunuh. Sejak awal rencananya adalah melampiaskan emosi yang tertanam dalam diri dengan cara melukai para pria berjas hitam.
Akan tetapi, seharusnya teman seruangannya berhasil lari saat dirinya menjadi pengalih. Sayangnya takdir tak berpihak baik.
"Jadi, bagaimana keputusanmu sekarang, Nona?" Adyan tersenyum licik. "Kau ingin menjadi wanita di sampingku dan menyelamatkan mereka, atau membuat mereka terbunuh semua?"
Sial!
Itta terjebak. Ia merutuki dirinya yang berpikir pendek dan terlalu gegabah saat mengambil janji untuk menyelamatkan mereka semua.
Itta tak begitu mengenal mereka. Namun, janji tetaplah janji.
"Baiklah. Aku menerima tawaranmu, tapi aku punya syarat." Akhirnya Itta mengambil keputusan itu.
"Katakanlah."
"Biarkan mereka pergi dari tempat ini."
"Aku menolak syarat itu."
"Apa?!"
"Jika mereka pergi, kau tak punya alasan untuk menetap di sini."
Gigi Itta bergemelatuk. "Tentu saja tidak. Ada kontrak yang mengikatku."
"Manusia itu bisa melanggar perintah Tuhannya, apalagi jika hanya sebuah kontrak yang tertulis di atas kertas."
"Itu tidak akan terjadi!"
"Siapa yang tahu?" Adyan mengangkat bahunya. "Kau tenang saja, aku tak akan menyakiti mereka. Bahkan, aku akan memberi mereka kehidupan yang layak."
Tangan Itta terkepal. Bukan ini yang ia mau, namun ini adalah pilihan terbaik untuk sekarang.
Pada akhirnya, Itta mengangguk setuju. "Baiklah. Tetapi, kau juga tak boleh melanggarnya."
"Tentu."
Adyan memanggil seseorang untuk membuat kontrak. Di kontrak itu tertulis pernyataan bahwa Itta akan menjadi wanita di sampingnya dan Adyan tak akan pernah bisa menyakiti teman-teman seruangannya.
Meski tak bisa membebaskan, setidaknya Itta tak membuat mereka terbunuh.
Tanda tangan dari keduanya telah tertuang dilengkapi materai dan cap jari. Hal itu pertanda kesepakatan telah resmi terbuat.
"Baik. Mulai saat ini kau adalah wanitaku."
Itta tak tahu, kalau kontrak ini suatu saat nanti akan sangat menyiksanya.
...----------------...
Namun, semuanya sudah terlanjur.
Selain bisa menyelamatkan rekan seruangannya, mungkin saja Itta juga bisa mengetahui kejadian dibalik pembantaian keluarganya.
Ya, Itta tak akan pernah bisa tidur nyenyak jika belum mengetahui dalang pembunuh keluarganya dan alasan dia bisa berada di tempat ini.
Keluarganya bukan keluarga yang dapat diremehkan. Dalang dibalik semua ini pasti bukan orang yang mudah diatasi.
Dengan menjadikan orang seperti Adyan Abercio berada di pihaknya, Itta memiliki kekuatan untuk membalas orang itu.
Terdapat satu orang yang Itta curigai. Yaitu, pamannya. Tuan Hira Grizelle.
Orang yang bersaing memperebutkan ahli waris kakeknya.
"Kau sudah bersiap? Malam ini kau akan ikut kami ke mansionnya Abercio."
Seseorang tiba-tiba saja datang dan berucap. Itta menoleh menemukan seorang wanita yang pernah mengobati lukanya.
"Iya," jawab Itta.
"Baguslah."
Adyan sudah memenuhi tugas dari Ayahnya untuk mengawasi tempat ini selama beberapa hari. Malam ini ia akan pulang.
"Bolehkah aku meminta sesuatu?" tanya Itta.
"Apa?"
"Aku ingin menemui rekan seruanganku dulu sebelum pergi."
Itu adalah permintaan mendadak. Itta tak yakin wanita yang ada di depannya ini akan mengiyakan.
"Baiklah. Kau boleh ke sana."
Spontan mata Itta melebar.
"Boleh?" tanyanya memastikan.
"Tentu."
"Apakah Adyan yang memperbolehkannya?"
Wanita itu mengangkat bahunya tak tahu, membuat Itta diam-diam mendengkus.
"Dia tak bilang, tapi sepertinya memang boleh."
"Kalimatmu tak meyakinkan."
"Jadi, kau ingin bertemu atau tidak? Aku bisa membantumu jika kau mau."
Itta berpikir sejenak, lalu mengangguk.
Ini mungkin saja akan kesempatan terakhirnya bertemu mereka. Maka dari itu, Itta ingin memastikan kondisi mereka dengan matanya sendiri sebelum pergi.
"Tolong antarkan aku," pinta Itta.
****
Ketukan kaki di lantai menggema di seluruh penjuru ruangan.
Itta tak pergi sendirian, melainkan bersama Sasya dan beberapa penjaga di belakang.
Mereka memasuki pintu ruangan yang dihuni rekan-rekan Itta. Itta berjalan masuk sendirian.
Matanya menjelajah sekitar. Ruangan yang dihuni mereka tidak seburuk dulu. Mungkin itu karena kontrak antara Itta dan Adyan.
"Lihatlah siapa yang datang," celetuk seseorang.
Sontak Itta mencari sumber suara.
"Isni, apa kabarmu?" tanyanya. Ia cukup senang melihat keadaan fisik gadis itu tak buruk.
Namun, yang di dapatnya adalah senyum sinis. "Aku sehat. Maaf, membuatmu kecewa."
Alis Itta menekuk bingung pada kalimat yang terkesan menyindirnya.
"Sepertinya kau tak suka aku ada di sini."
"Tentu saja. Bukan cuma aku, tapi semua orang di sini membenci kehadiranmu!"
"Apa?"
"Iya, kami sangat membencimu."
Mata Itta menjelajah sekitar. Pantas saja terasa aneh. Seharusnya mereka khawatir karena Itta tak ada kabar, namun kenyataannya berbanding terbalik. Sorot mata mereka bahkan menunjukkan hal sebaliknya.
"Isni, sudah hentikanlah." Riana mengangkat suaranya.
Itta tersentuh pada pembelaan itu.
"Itu kenyataannya. Semua orang di sini membenci wanita j*lang ini!"
"ISNI!" bentak Riana.
"Kau tetap membelanya meski tahu kalau dia telah mengkhianati kita?!"
Sontak mata Itta melebar tak percaya. "Apa maksudmu?! Aku tak berkhianat!"
"Oh, ya?" Mata Isni menunjukkan kebenciannya yang nyata. "Kau bekerjasama dengan pemilik tempat ini, kan? Itu artinya kau pengkhianat!"
Kembali, Itta dikejutkan. Walaupun memang Itta menjalin kerjasama, namun mengapa mereka mengetahui itu?
Siapa yang memberitahu?
"Kau tak bisa mengelak lagi." Isni kembali bersuara.
"Aku melakukan itu untuk menyelamatkan kalian."
"Menyelamatkan?! Siapa yang kau selamatkan?!" Nada bicara Isni meninggi. "Kau tak menyelamatkan, tapi membuat Elia mati!"
"A—apa?"
"Iya! Elia mati gara-gara kamu!"