
Brak!!
Prang!!
Suara benda jatuh dan pecah memenuhi seisi ruangan. Para pelayan menunduk takut sembari diam-diam merapalkan do'a agar tak terkena imbas amarahnya.
Adyan mengatur napas yang memburu.
Ketiga kancing teratas kemejanya terlepas, rambutnya acak-acakan dan matanya berkilat marah.
Lagi, lelaki itu membanting vas bunga bernilai jutaan dolar. Tak cukup hanya itu, Adyan menendang meja di dekatnya, sementara mulutnya mengeluarkan beberapa ump*tan.
Tangan kekar Adyan menarik kasar salah satu pelayan di sana.
"Katakan padaku, apa aku terlihat seperti orang yang bisa diabaikan oleh orang lain?" tanya lelaki itu.
Pelayan itu tak cepat menjawab.
Cekalan yang terlalu kuat membuat si pelayan menahan sakit. Meski ringisan berhasil ditahan, namun butiran air mata kesakitan dan ketakutan yang teramat lolos begitu saja.
"JAWAB!!" paksa Adyan.
"T-tidak Tuan. Tuan tidak pantas diabaikan."
Pelayan itu semakin menunduk takut. Tubuhnya bergetar hebat.
"Cih! Begitu saja menangis!"
"M-maaf Tuan."
Bola mata Adyan mengamati penampilan wanita di depannya sesaat. Ada kekesalan tanpa sebab yang dia rasakan secara tiba-tiba.
"Aku suka jawabanmu, tapi aku tak suka melihatmu."
Ucapan Adyan refleks membuat pelayan itu mengangkat wajahnya.
"M-maaf!" ucap pelayan itu tatkala menyadari kelancangannya.
"Olivia!"
Olivia yang namanya dipanggil langsung menyahut," iya, Tuan?"
"Pecat dia!"
Jari telunjuk Adyan mengarah pada pelayan itu.
Mata pelayan itu membulat sempurna. Jantungnya hampir berhenti berdetak mendengar ucapan Tuannya.
"Tidak! Tolong jangan Tuan! Jangan pecat aku! Aku mohon ampun!"
Pelayan wanita itu langsung terduduk di lantai dengan tangan memohon di depan dada. Tangisannya semakin pecah.
Itu adalah kesalahan fatal.
Semakin wanita itu menangis, semakin muak Adyan melihatnya.
"Olivia! Apa yang kau tunggu?! Cepat usir dia dari hadapanku!"
"Tidak, Tuan! Tolong maafkan kesalahanku Tuan!" mohon pelayan itu.
"Olivia!"
Olivia meragu.
Pada dasarnya pelayan itu tak memiliki kesalahan.
Adyan memecatnya tanpa sebab jelas, seperti bukan Adyan yang selama ini Olivia kenal dan layani.
Biasanya Adyan tak mudah terbawa emosi.
Dan, orang yang berhasil membuat emosi lelaki itu kacau adalah Laquitta Grizelle.
"Olivia, apa kau dengar perintahku?!" Suara Adyan sekali lagi terdengar.
"Maaf Tuan, tetapi apa Tuan tidak ingin memikirkan lagi? Menurut saya, pelayan itu tidak bersalah."
"Sekarang kau mulai berani menentangku?!"
"Bukan begitu maksudnya Tuan."
"Pecat atau bunuh!"
Olivia terdiam mendengar pilihan yang keluar dari bibir lelaki itu.
Kalau sudah begini, Olivia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia hanya bisa berharap Arvin dan Sasya segera datang dan membantunya menenangkan Adyan.
Untungnya, tepat saat Olivia berharap, saat itu pula Arvin dan Sasya datang.
Mata Arvin berkeliling mengamati semua benda yang hancur dan tak beraturan. Lalu, tatapannya beralih pada sosok Adyan yang memiliki aura menyeramkan.
Arvin meneguk ludahnya.
Walau sudah kenal lama, tetap saja Arvin tak menjamin keselamatannya jika emosi Adyan sedang tidak stabil.
"Ad—maksudku Tuan, tolong tenangkan dirimu dulu," tutur Arvin lembut.
Bahkan, ia tak berani memanggil nama Adyan langsung seperti biasanya.
"Diam!"
Satu kata itu sukses membuat Arvin menutup mulutnya rapat-rapat.
"Kau takut? Pengecut sekali," sindir Sasya berbisik.
"Kau tak lihat tatapannya itu? Bisa mati kalau aku salah ngomong." Arvin balas berbisik.
"Pengecut."
"Hey! Jangan sembarangan!"
"Tuan, Nona, tolong jangan berantem sekarang. Ada hal lain yang harus kalian lakukan." Olivia di dekat mereka berkomentar pelan, menyadarkan kedua orang itu alasan mereka dipanggil ke tempat ini.
"Olivia, kenapa masih membiarkan pelayan itu di sini?" Adyan bertanya lagi. "Oh, kau sangat ingin pelayan itu tetap bekerja di sini? Boleh saja, tetapi sebagai gantinya kau yang dipecat!"
Air mata pelayan itu semakin deras. Sebelum Olivia sempat membawanya, ia bersujud pada Adyan.
"Aku mohon ampuni aku Tuan! Aku tak tahu harus pergi ke mana lagi jika aku dipecat. Biarkan aku menebus kesalahanku."
Namun, semua perkataan pelayan itu tak ada gunanya.
Menangis, memohon, bersujud dan mencium sepatu Adyan telah dilakukan, tetapi tak ada yang berhasil.
Arvin membuka mulut, hendak menentang perintah Adyan, namun mulutnya tertutup kembali.
Beberapa pria berjas menarik paksa perempuan berstatus pelayan itu. Sementara pelayan lainnya semakin gelisah. Takut-takut mereka akan menjadi korban selanjutnya.
"Apakah permintaan maafmu begitu bernilai hingga wanita itu tak mampu membayarnya?"
Suara lantang seorang wanita mengalihkan atensi seluruh orang di tempat itu.
Bibir Adyan menyeringai melihat kedatangannya.
"Iya, tak semua orang dapat membayarnya," jawab Adyan.
"Oh, ya?"
"Tentu. Untuk apa kau bertanya? Apa kau ingin meminta maaf juga?" tanya Adyan asal.
"Iya, aku ingin meminta maaf. Aku tak bermaksud mengabaikanmu."
Alis Adyan terangkat, cukup terkejut dengan perkataan Itta.
Entah mengapa permintaan maaf wanita itu terasa berbeda dari permintaan maaf pelayan tadi.
Amarah yang semula menggebu-gebu kini perlahan memudar meski tak sepenuhnya.
Dengan sengaja lelaki itu menyembunyikannya.
"Kau pikir aku akan memaafkanmu begitu saja?" Adyan tersenyum sinis.
"Lantas, apa yang harus aku lakukan agar kau dapat memaafkanku?"
"Cium aku."
Itta melotot mendengarnya. Tak hanya wanita itu, melainkan seluruh orang di sana pun bereaksi sama, termasuk pelayan yang hendak diusir tadi.
"Dasar gil—"
Kalimat Itta terpaksa terhenti di tengah jalan. Ia menggertakkan giginya.
"Apa tak ada cara lain?" tanya Itta.
"Tak ada."
"Aku bersedia bersujud jika kau mau."
"Bukan itu yang kumau."
Tangan Itta terkepal erat di kedua sisi.
Mungkin bersujud akan melukai harga dirinya, tetapi jika dibandingkan mencium Adyan terlebih dahulu, maka Itta akan memilih opsi pertama.
Itta tak mau lagi beradu mulut dengan lelaki itu.
"Kau ingin aku melakukan itu demi mendapatkan maaf darimu? Kalau begitu, pelayan yang tadi juga bisa mendapatkan maafmu jika dia menciummu?"
"Tidak perlu. Kau bisa menggantikannya meminta maaf. Kuizinkan kau melakukan itu."
Memalukan.
Itta merasa Adyan tengah mempermalukan dirinya di depan umum. Namun, di situasi ini Itta hanya bisa menurut.
Demi tujuan yang sebenarnya, Itta rela melakukan apa pun.
Sekali lagi, niat untuk membalas dendam yang terlalu dalam membuatnya rela melakukan apa pun.
Jika ia mendapat maaf dari Adyan, maka ia bisa membuat permintaan yang lain dari lelaki itu. Permintaan yang mampu membuatnya mencapai tujuan.
"Baik, akan kulakukan," putus Itta.
Wanita itu berjalan menghampiri Adyan. Seluruh mata berfokus padanya.
Itta menetralkan perasaannya. Kaki Itta berjinjit tinggi. Kemudian, bibirnya menyentuh bibir sang lawan.
Tak ada tanggapan dari Adyan.
Bibir Itta mulai beraksi sedikit demi sedikit. Setelah beberapa detik diam, Adyan membalasnya. Kini lelaki itu mendominasi gerakan.
Mati-matian Itta menahan perasaan malu dan jijiknya.
Sungguh, Itta membenci Adyan dan situasi ini.
Tautan mereka akhirnya terputus. Adyan dan Itta menghirup udara segar banyak-banyak. Hembusan napas saling menerpa, membagikan sensasi hangat.
"Kerja bagus!" puji Adyan. Dia menepuk bangga puncak kepala Itta. Detik berikutnya mata lelaki itu menjelajah. "Apa yang kalian lakukan? Cepat pergi sekarang!"
Atas perkataan Adyan, orang-orang yang semula menonton secepatnya pergi meninggalkan Adyan dan Itta berdua di tempat itu.
Adyan duduk di bangku. Salah satu kakinya terangkat ke atas, sementara kaki yang lainnya menjadi tumpuan. Mata tajam itu mengarah tepat ke tempat Itta berdiri.
"Baiklah, apa yang kau inginkan dariku?" tanya Adyan tanpa basa-basi.
"Apa maksudmu?"
"Katakan saja. Aku tahu, kau meminta maaf karena menginginkan sesuatu dariku."
Sesuai dugaan, Adyan selalu bisa membaca isi pikirannya. Lelaki itu memang mengerikan.
"Karena kau langsung bertanya seperti itu, maka aku tidak akan berbasa-basi lagi."
"Tentu."
"Aku ingin kau memberiku hak atas hidup dan mati 'seseorang'."