I HATE (Love) U

I HATE (Love) U
Pergaulan Kelas Atas



"Apa yang kau lakukan?!" pekik Itta.


Itta menurunkan kakinya dengan cepat. Tubuhnya bergeser menjauh dari lelaki itu. Kali ini Adyan membiarkannya berhubung luka Itta sudah selesai diobati.


Hanya saja posisi duduk Adyan bergeser mendekatinya, menepiskan jarak yang ada.


Mulut lelaki itu berbisik, "kau cantik malam ini."


Semburat merah muncul di kedua pipi tanpa diundang.


Pujian kata 'cantik' sudah sering didengarnya. Akan tetapi, kata itu menjadi asing tatkala Adyan yang mengatakannya.


"Berhenti menggodaku!" Itta mendorong tubuh Adyan supaya menjauh darinya.


...----------------...


Pesta kapal pesiar Zahara terletak di pulau negara asing. Oleh karenanya, perjalanan mereka memakan waktu yang cukup banyak.


Tatkala mereka sampai di tempat, mereka disambut oleh kemegahan dan ketatnya penjagaan.


Seseorang menghampiri mereka. Senyum sopan terpatri di bibirnya.


"Selamat malam Tuan Muda Abercio. Selamat datang di kapal pesiar Zahara, kapal paling luar biasa yang dibuat keluarga Zahara. Saya Awi, tangan kanannya keluarga Zahara."


Orang itu membungkuk sesaat, masih dengan senyumannya.


"Di mana Tuanmu?"


"Beliau ada di dalam. Tuan sudah lama menunggu kedatangan Anda. Silahkan masuk."


Lelaki itu mempersilahkan Adyan untuk memasuki acara pesta.


"Maaf, orang yang bisa masuk ke dalam pesta ini hanyalah Tuan Muda Abercio dan pasangannya saja. Sisanya tolong menunggu di luar pesta. Tenang saja, kami sudah menyiapkan tempat untuk orang-orang yang tidak terdaftar di pesta," ujar Awi.


Itu adalah hal yang wajar.


Tidak semua orang dapat berpartisipasi. Hanya keluarga yang memiliki status kuat saja yang diundang.


Memang, beberapa bawahan diperbolehkan menginap, tetapi mereka tidak diperbolehkan ikut ke dalam pesta.


Itta dan Adyan berjalan memasuki ruangannya.


Kaki Itta sudah membaik. Lukanya pun sudah ditutupi foundation dengan warna yang sama persis kulitnya. Ada pita kecil juga yang ikut menutupi bagian luka.


Begitu memasuki ruangan utama, seluruh mata tertuju pada mereka. Dalam sekejap pasangan itu menjadi pusat perhatian.


Adyan dan Itta nampak sangat serasi. Adyan dengan setelan jas dan rambut yang lebih rapih dari biasanya, dan juga Itta dengan gaun Navy yang dirancang oleh desainer hebat.


"Selamat malam Tuan Adyan Abercio!"


Seseorang berseru. Dia memamerkan senyum lebar. Di sisi kanan dan kirinya terdapat dua gadis cantik dan seksi.


"Selamat malam Tuan Niel Zahara." Adyan membalas jabat tangan Niel.


"Bagaimana kabarmu?"


"Aku baik. Sepertinya kau pun baik-baik saja."


"Tentu saja!" ujarnya antusias. "Ngomong-ngomong dia ini pasanganmu?" Niel bertanya sembari melirik Itta.


"Benar."


"Oh begitu. Perkenalkan, aku Niel Zahara, pemilik kapal pesiar Zahara yang akan diresmikan sebentar lagi."


Niel mengulurkan tangannya yang dibalas Itta.


"Aku Laquitta Grizelle, pasangan Tuan Adyan Abercio malam ini."


Diam-diam mata Niel meneliti penampilan Itta dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia meneguk ludahnya kasar. Rasa haus tiba-tiba menjalar di tenggorokan melihat kecantikan Itta.


Tangan mereka masih berjabatan. Niel mengelus tangan Itta perlahan, sontak hal itu membuat Itta langsung menarik tangannya.


Adyan melihatnya. Entah mengapa dia tak suka saat tatapan Niel mengarah pada Itta. Mata lelaki itu menajam.


Tangan yang semula diam, kini bergerak memeluk pinggang Itta dengan possessive.


Itta terkejut, namun membiarkannya. Setidaknya ini membuatnya merasa aman dari tatapan lelaki buncit di depannya ini.


"Oh ya, bagaimana kabar Tuan Abercio?"


Adyan tak langsung menjawab. Lelaki itu menutup mulut selama beberapa saat.


"Baik. Dia baik."


"Baguslah." Niel tersenyum lebar.


Usia lelaki itu sebenarnya hampir setara dengan usia orangtua Adyan. Perbedaannya hanya sekitar 2 sampai 3 tahun dari usia mereka.


"Baiklah, mari kita minum yang banyak dengan para tamu yang lain," ajak Niel. "Pesta ini harus dirayakan semeriah mungkin!"


Adyan mengangguk. "Kau pergi saja duluan Tuan Zahara, aku akan menyusul secepatnya."


"Aku akan menunggumu dengan tamu yang lain."


"Aku akan pergi, kau cobalah lakukan sesuai rencana." Adyan berbisik tepat di telinga Itta.


"Aku mengerti."


"Oh ya, berhati-hatilah, akan ada banyak wanita yang membencimu karena kau datang sebagai pasanganku."


"Aku tahu."


"Juga ... berhati-hatilah dari Tuan Zahara. Aku menyadari ketertarikannya padamu."


"Aku juga mengetahui hal itu."


"Bagus. Aku akan pergi."


Adyan mengecup kening Itta sebentar, kemudian pergi menemui Niel dan beberapa orang penting.


Itta membalikkan badan. High heels-nya yang tinggi menimbulkan suara ketukan pada lantai.


Pandangan wanita itu menuju ke depan dengan sorot percaya diri.


Banyak pasang mata yang menatapnya suka dan ada juga yang menatap iri.


Wanita itu mengambil segelas wine dari salah satu pelayan. Dapat ia lihat rona merah muncul di pipi pelayan laki-laki itu.


"Kau pasangannya Tuan Adyan Abercio, kan?"


Itta menoleh mendengar seseorang dengan suara khas perempuan berbicara padanya.


"Iya, aku pasangannya Tuan Adyan," jawab Itta.


"Namaku, Isera Yovander. Siapa namamu?"


"Laquitta Grizelle."


"Grizelle? Apa itu nama besar keluargamu?"


"Iya."


"Benarkah?"


Raut wajah dan nada bicaranya itu, entah mengapa Itta tak menyukainya.


"Memangnya kenapa?"


Ada sedikit tawa yang langsung diredakan Isera. Ia berdehem sesaat.


"Maaf, aku tak bermaksud tertawa."


Jelas sekali itu adalah penghinaan untuknya. Ditambah lagi beberapa wanita yang berbisik di sekelilingnya karena mendengar percakapan mereka. Itta menahan diri agar tak terbawa emosi.


"Keluarga Grizelle? Aku tak pernah mendengar nama keluarga itu." Salah satu dari wanita-wanita itu menimpali.


"Aku juga sama. Mungkinkah itu hanya keluarga biasa?" sahut yang lainnya.


Itta mengatur napasnya agar tetap stabil.


Keluarga Grizelle sebenarnya keluarga yang cukup kaya. Buktinya mereka memiliki beberapa pengawal dan pelayan di rumah, walau sebenarnya tak sebanyak milik Adyan.


Keluarga Grizelle juga mempunyai satu pesawat pribadi yang terkadang digunakan Papanya.


Akan tetapi, di mata para bangsawan dan pengusaha di sini, kekayaan keluarga Grizelle tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka.


Keluarga Itta tak ada bedanya dengan keluarga biasa.


"Ah, aku tahu keluarga itu!" timpal Willa, seorang wanita cantik yang memakai gaun ungu dengan banyak permata sebagai hiasan gaunnya.


"Kau tahu?!"


"Iya. Seingatku beberapa tahun yang lalu Kepala keluarga Grizelle pernah berusaha menghadiri pesta keluargaku dengan berbagai cara. Tentu saja kami menolaknya karena status dia terlalu rendah untuk kami."


"Benarkah? Kenapa bisa wanita dari keluarga rendahan ini menjadi pasangan Tuan Adyan? Bukankah ini keterlaluan?" ujar Isera.


Orang-orang di sekitar menahan tawanya. Lebih tepatnya para wanita, sebab para pria berada jauh dari tempat mereka.


Begitu pula dengan Adyan. Lelaki itu tak tahu wanitanya sedang ditertawakan oleh orang lain.


"Ternyata pergaulan kelas atas begitu menjijikan, ya?" Senyum sinis terbit dari bibir Itta.


Wanita itu melangkahkan kakinya mendekati Isera. Tatapan Itta menembus tajam.


"Nona Isera, kau berasal dari keluarga yang jauh lebih kaya daripada keluargaku, tetapi kenapa etikamu jauh lebih rendah dariku?"


Isera menggeram marah. "Tahu apa kau tentang etika?! Etikaku jauh lebih baik darimu!"


"Oh ya? Apa merendahkan orang lain termasuk 'etika baik'?"


"Aku hanya berbicara tentang fakta!" Isera membalas ucapan Itta dengan tajam. "Faktanya kau memang berasal dari keluarga rendah!"


"Dan, wanita yang kau anggap berasal dari keluarga rendah ini menjadi pasangan Tuan Muda Abercio. Posisiku sekarang jauh lebih tinggi darimu, Nona Isera Yovander!"