
Cermin besar terpampang di depan mata menampilkan sosok Itta yang dibalut handuk. Ia menghela napas, lalu menyentuh bercak merah di lehernya.
Sudah digosok berulangkali tetap saja bekasnya tak banyak yang hilang. Padahal biasanya tak begitu sulit.
Semalam Adyan tak hanya memeluk, tetapi juga menciptakan warna merah di kulitnya. Untung saja Adyan tak melewati batas lebih dari itu.
Itta mengenakan dress santai.
Dia memoles foundation yang senada dengan kulitnya di bagian yang masih memerah. Tak lupa pula memoles make up natural di wajah.
Dering telepon menyapa indera pendengarannya. Senyum Itta melebar tatkala melihat nama yang dikenalnya tertera.
"Hallo? Apakah telepon ini tersambung?"
Suara khas perempuan menyapa telinga.
"Iya, teleponnya tersambung."
"Benarkah?! Akhirnya tersambung juga setelah beberapa kali aku gagal menghubungimu!"
Ada nada antusias yang terdengar sangat jelas di seberang sana
"Apakah sulit menghubungiku, Riana?"
"Ya! Sangat-sangat sulit sekali! Beberapa kali aku mencoba menghubungimu, tetapi hasilnya selalu saja tidak terkoneksi."
Itu wajar.
Kapal pesiar Zahara ini bergerak menuju ke tengah lautan. Hal ini membuat sinyal di sini semakin sulit diakses.
"Tidak apa-apa, setidaknya sekarang kita bisa saling memberi kabar."
"Kau benar."
"Jadi bagaimana kabarmu, Oldia dan Isni di sana?"
"Kabarku baik, begitu juga Oldia dan Isni. Sebenarnya aku jarang bertemu Isni. Anak remaja itu susah sekali diatur dan terus berusaha kabur. Lalu ...."
"Lalu?"
"Lalu ... dia sering berkata membencimu."
"Tidak apa-apa. Pastikan saja dia tidak berhasil melarikan diri."
"Aku mengerti."
Akan sulit jika Isni berhasil melarikan diri.
Tidak banyak orang yang begitu berani mengambil keputusan dan bertindak di tempat berbahaya.
Namun, Isni mampu melakukannya, bahkan berhasil meyakinkan orang lain untuk keluar dari tempat sial*n itu.
Tanpa Isni, maka pemberontakan itu tidak akan pernah terjadi.
Itta membutuhkan orang seperti Isni dan yang pastinya berada di pihak Itta apa pun yang terjadi.
Hanya saja mungkin membutuhkan waktu yang cukup lama.
Seandainya Elia masih hidup, Isni tidak akan membencinya. Baiknya lagi, keberadaan Elia dapat membantunya.
Sayangnya, wanita itu memilih berhenti berjuang.
"Hallo? Kau tak dengar suaraku, ya? Sepertinya telepon ini terputus dengan sendirinya lagi."
Ucapan Riana menyadarkan Itta dari lamunannya.
"Tidak, telepon ini masih tersambung," ucap Itta. "Ngomong-ngomong, apa Oldia ada di dekatmu?"
"Memangnya kenapa?"
"Aku ingin berbicara dengannya sebentar."
"Kenapa tidak denganku saja?"
"Ini antara aku dan Oldia."
Decakan suara terdengar meski samar disertai gerutuan. Namun Itta tahu, Riana pasti menuruti perkataannya.
"Hallo, Oldia? Bagaimana kabarmu?"
Beberapa menit telah terlewat dan tetap tak ada jawaban.
"Apa kabar? Kau makan dengan teratur, kan?"
Kalimat pertanyaan Itta bagai angin lalu yang suaranya tak dijawab.
Akan tetapi, selang beberapa detik, suara Oldia terdengar meski samar.
"Baik," ucapnya. Entah memang benar atau hanya kebohongan saja.
"Baguslah."
Itta tak mendengar Oldia berbicara lagi.
Seseorang mengetuk pintu sebanyak tiga kali disusul suara seorang wanita dari balik pintu.
"Permisi Nona, bolehkah saya masuk?"
"Tunggu sebentar," titah Itta. Lalu, dia kembali berbicara pada Oldia, "aku akan menutup teleponnya sekarang. Kau jagalah dirimu baik-baik. Dan, sampaikan salamku untuk Riana. Kalau begitu aku tutup dulu."
"Tunggu!"
Oldia tak langsung menjawab. Terjadi keheningan selama beberapa saat.
"Terima kasih," ucap Oldia dengan suara kecil.
Sorot mata Itta berubah. Perlahan senyuman terbit di bibirnya. Akhirnya, Oldia mulai melihatnya sebagai sosok 'pahlawan'.
"Tentu saja," riang Itta.
Itta menutup sambungan telepon. Ia berdiri, lalu membukakan pintu menggunakan kode akses.
Begitu pintu terbuka, seorang wanita cantik masuk dengan kepala yang tertunduk hormat.
"Maaf mengganggu Nona Grizelle. Saya ke sini atas perintah Tuan Abercio. Beliau meminta Anda untuk segera menemuinya."
"Di mana dia?"
"Di sana."
Ah, Itta mengerti.
Dia baru menyadari wanita di hadapannya ini dan ke mana tempat tujuannya.
"Baiklah, mari kita ke sana, Olivia."
Meski penampilan dan suaranya berbeda, Itta tetap mengetahuinya.
Wajah yang saat ini menghadap Itta hanyalah sebuah topeng, dan juga suaranya bukan suara asli. Ada alat pengubah nada suara yang disembunyikan.
...----------------...
Itta dan Olivia berjalan menuju tempat Adyan berada. Di tengah perjalanan, Itta tanpa sengaja melihat seseorang yang dikenalnya.
Itta yakin orang itu adalah orang yang sama dengan orang yang pernah berjanji akan membantunya terlepas dari Adyan.
Lantas, Itta meminta Olivia untuk pergi dahulu.
"Tetapi Nona, Tuan Adyan sudah menunggu Anda sejak lama."
"Aku tahu. Katakan padanya aku punya hal penting yang harus dilakukan. Ini tidak akan lama."
Tanpa mendengar balasan dari Olivia, Itta langsung bergegas pergi.
Dia mengendap-endap sembari mengikuti lelaki itu diam-diam.
"Dugaan Adyan benar, Azri ada di tempat ini," gumam Itta.
Saat ini Azri mengobrol dengan seseorang. Itta tak bisa melihatnya dengan jelas, sebab orang yang mengobrol dengannya tertutup tembok. Suaranya pun terdengar samar-samar.
Wajahnya memang tak seperti yang terakhir kali Itta lihat, namun tahi lalat kecil di lehernya merupakan ciri khas lelaki itu.
Usai berbincang, lelaki itu kembali melanjutkan langkahnya. Itta juga ikut mengikutinya lagi.
Langkah Itta semakin berpacu tatkala menyadari Azri hendak menghilang dari pandangannya. Namun, di tengah jalan ia tanpa sengaja menabrak dada bidang seseorang.
"Maaf, maaf," ucap Itta.
Dia mengangkat pandangannya ke atas.
Lekuk wajah yang pernah dilihat dan wangi parfum yang cukup unik menyapa indera penciumannya.
"Nona Elle?" tanya lelaki itu.
'Elle'
Hanya satu orang saja yang pernah memanggilnya seperti itu.
Orang yang baru bertemu dengannya satu kali. Orang yang memperkenalkan dirinya dengan nama Ezi Killian.
"Sudah kuduga itu memang kau. Kau selalu berhasil menarik perhatian sekitar."
Senyum lembut terpatri di bibir Ezi, kemudian tangannya terulur ke depan.
"Hallo, apa kabar Nona Elle?" sapanya lembut.
Itta membalas jabatan tangan Ezi sesaat sembari tersenyum kecil.
"Hallo, Tuan Ezi Killian. Kabarku baik, bagaimana denganmu?"
"Kabarku juga baik. Ngomong-ngomong jangan memanggilku dengan embel-embel Tuan. Aku pernah mengatakannya, bukan?"
"Maaf Tuan Killian, kau di sini sebagai perwakilan keluarga Killian, aku pun di sini sebagai pasangan Tuan Abercio. Kurasa tidak baik jika aku hanya memanggil namamu begitu saja."
"Tapi, aku mengizinkanmu."
"Tidak baik jika ada yang mendengarnya."
"Kalau begitu jangan bersikap formal saat kita hanya berdua. Lagipula, tidak akan ada yang melarangnya."
"Maaf Tuan, aku tidak bisa."
Ezi menghembuskan napasnya kasar.
"Kalau tidak ada yang mau dibicarakan, saya pamit undur diri," ucap Itta.
Ia tak bisa berlama-lama. Itu akan membuatnya kehilangan jejak Azri.
"Tunggu! Kita sudah lama tidak bertemu, kenapa tidak mengobrol lebih lama laKa