I HATE (Love) U

I HATE (Love) U
Dia, Adyan Abercio



Beberapa menit berlalu digunakan untuk memutar otak, berupaya mengingat pria di hadapannya.


Namun, nihil.


Sedikit pun tak ada ingatan mengenainya.


Normalnya, wajah semenarik pria itu tak mungkin Itta lupakan, namun perkataan sang pria tadi membingungkannya.


"Kau tak mengingatku?" tanya pria itu, menyadari kebingungan Itta. Ia berdiri dan berjalan dengan raut layunya. "Aku merasa sangat sedih jika kau melupakanku."


"Siapa pun kau, aku tak peduli," balas Itta.


"Kejam sekali perkataanmu padahal aku sudah menunggu hari ini tiba."


Sungguh, Itta tak mengerti.


Siapa?


Apa yang ditunggu?


Apakah pertemuannya dengan Itta adalah hal ditunggu? Akan tetapi, apa alasannya?


Ada banyak sekali pertanyaan tak terucap dalam benak, namun Itta menahannya.


Berpura-pura tak peduli adalah hal yang cukup baik pada kondisi seperti ini.


"Laquitta Grizelle. Seorang putri sulung dari keluarga terpandang Grizelle. Mahasiswi yang usianya dua puluh dua tahun dari universitas paling terkenal di kalangan atas. Pelajar yang baru saja memenangkan olimpiade debat internasional. Memiliki kecerdasan, kecantikan dan ketenaran yang luar biasa, bahkan sering ditawari menjadi model papan atas. Dijuluki sebagai goddess of beauty. Apa ada yang salah?"


Semuanya benar.


Informasi itu tak ada yang mengasal.


Sang pria mengetahui identitasnya dan itu menjadi masalah untuk Itta.


Akan tetapi, Itta tak boleh mengiakan dan juga tak bisa menolak. Maka dari itu, ia memilih jalan tengah.


"Kau yakin informasi itu milikku?"


"Tentu saja."


"Bagaimana jika informasi itu salah?"


Pria tampan itu menunjukkan seringainya. Tangannya perlahan menyentuh pipi Itta.


"Tak mungkin salah," ucapnya pelan.


Dia mendekatkan wajahnya pada Itta. Hembusan napas menerpa hangat di pipi, menciptakan sensasi aneh.


Tanpa di duga, bibir merah Itta dikecup singkat.


Itta melebarkan mata.


Ciuman pertamanya telah dicuri.


Perasaan benci menghinggapi hati. Mata Itta menatap nyalang.


Kotor. Bibirnya jadi kotor karena ciuman itu. Ingin sekali ia mengusap bibirnya kasar, namun terhalang rantai yang mengikat.


Pria ini tampan, namun menjijikan.


"Jijik! Jijik sekali!" ujar Itta marah.


"Oh, ya? Mau dicoba lagi?"


Itta menambah sorot kebenciannya, membuat sang pria terkekeh pelan.


"Ah, tidak perlu memasang wajah mengerikan di paras rupawanmu. Aku hanya bercanda." Orang itu berucap enteng.


Itta mengamati penampilan pria ini sekali lagi.


Dia bukanlah Eric.


Tetapi, Itta yakin pria ini memiliki otoritas tinggi yang mampu membuat salah satu dari wanita di ruangan 110 berada di tangannya.


Mengingat perkataan Eric yang seolah cukup tertarik pada Itta, rasanya tidak mungkin Eric memberikan Itta pada orang lain.


Kecuali orang itu memiliki otoritas lebih tinggi dari Eric.


Maka, dapat Itta simpulkan mengenai identitas pria ini.


"Kau ... Tuan Muda Abercio, bukan?"


Pria itu mengangkat sudut bibirnya sedikit. "Ya, itu aku."


"Di mana rekan seruanganku?"


"Kau ingin tahu?"


"Katakan saja!"


"Bagaimana jika kuberitahu bahwa mereka semua telah mati?"


Itta menegang. Kemarahan semakin nampak di mata. Darah yang mengucur ia abaikan begitu saja, begitupula rasa perihnya.


Itta sudah berjanji akan membuat mereka lari dari tempat ini. Jika ia gagal melakukannya, Itta merasa hidupnya benar-benar tak berguna.


Kematian keluarganya sudah menjadi mimpi buruk.


Jika seluruh wanita di ruangan 110 mati sementara Itta sudah berjanji akan membebaskan mereka, maka Itta tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.


"Bajingan!" maki Itta dengan suara lantang.


Keberadaan Adyan saja sudah membuat tekanan yang besar, namun Itta dengan beraninya memaki Adyan.


"Terserah kau mau menganggapku apa. Aku pergi dulu."


Adyan membalikkan badan. Ia hendak membuka pintu ruangan, namun terhenti.


Kepalanya menoleh sesaat dan salah satu tangannya terangkat ke atas. Memperlihatkan kain putih yang melilit telapak tangannya.


"Terima kasih telah mengobati tanganku di malam itu, Nona."


Usai mengatakannya, Adyan pergi meninggalkan Itta yang kini membelalakkan mata.


Kain putih itu Itta tahu pemiliknya. Lebih tepatnya, dia sendiri lah pemiliknya.


Kain yang dulu pernah dirobek dari gaun tidur kesukaannya demi menutupi luka seseorang di tangan.


"Kau ... pria itu?"


...----------------...


Itta pernah merasa sedikit menyesal setelah menolong pria berjubah dan bermasker hitam di malam itu.


Perasaannya mengatakan bahwa tindakannya tidak patut dilakukan.


Ia sudah biasa menolong, tetapi kali ini terasa salah. Seolah terdapat sebagian dalam dirinya memperingkatkan.


Sekarang terjawab sudah.


Pria yang pernah ditolong memang bukan orang baik. Itta terlalu naif.


Namun, ini bukan saatnya merasa menyesal maupun putus asa.


Ada hal penting yang perlu ia lakukan.


Seseorang tiba-tiba memasuki ruangan. Dia cantik dan seksi. Gaun biru langit melekat indah di tubuh idealnya.


Tak terlalu terbuka, namun tetap menampilkan kesan seksi.


Dia ditemani seorang pria di belakangnya. Terlihat seperti bawahan.


"Simpan di meja."


Wanita cantik itu menunjuk meja di dekat ranjang. Sesegera mungkin bawahannya menuruti perintah.


"Pergilah," usir wanita itu lembut.


Setelah bawahannya pergi, wanita itu melepas rantai yang mengikat Itta.


"Kau harus diobati."


Sasya membuka kotak P3K kecil, mengambil beberapa barang yang diperlukan, lalu bersiap mengobati.


Itta menahan tangannya. "Kenapa tiba-tiba?"


"Adyan yang memintaku untuk mengobatimu."


"Adyan?"


"Maksudku Adyan Abercio. Tuan Muda yang tadi kau temui."


Menyebut nama pria itu tanpa embel-embel 'Tuan Muda' atau sebagainya, Itta yakin kedudukan wanita ini hampir sama atau bahkan sama tingginya dengan Adyan.


"Setelah mengobatiku, apa kalian akan menyiksaku? Mengobati, lalu menyiksa, dan setelahnya kembali mengobati. Kalian sengaja melakukan hal itu berkali-kali agar aku menderita, kan?"


Tawa kecil menguar dari Sasya.


"Adyan tak mungkin melakukan itu padamu," katanya setelah tawanya mereda.


"Kenapa tak mungkin?"


Sudut bibir Sasya menyungging miring. "Menurutmu kenapa?"


Sasya membereskan kotak P3K setelah menyelesaikan tujuannya.


Wanita itu menepuk tangannya sekali, lalu munculah bawahannya tadi. Bawahannya mengambil kotak obat yang diberikan Sasya.


"Bersiaplah sebelum jam 7 malam. Akan ada orang yang ke sini membawa gaun dan meriasmu. Kau harus terlihat cantik saat makan malam dengan Adyan," jelas Sasya.


Kedua alis Itta mengerut. "Kenapa aku?"


"Tanyakan saja padanya langsung."


"Bagaimana jika aku tak mau pergi?" tantang Itta.


"Kamu tak mempunyai hak untuk menolak."


Itta tersenyum sinis. "Kenapa tidak? Apa kalian akan menyiksaku jika aku menolak keinginannya?"


"Tentu saja tidak. Sudah kubilang kalau Adyan tak seperti itu," ucap Sasya. "Namun, jika kamu bersikeras menolak, mungkin akan ada salah satu dari rekanmu yang kehilangan nyawa. Nyawa mereka tergantung sikapmu padanya."


Perkataan Sasya di detik selanjutnya membuat raut Itta berubah sesaat. Dengan cepat Itta menetralkannya, berusaha menutupi keterkejutan yang nampak.


Ucapan Sasya dan Adyan berbanding terbalik.


Adyan bilang teman-temannya sudah tiada, namun Sasya mengancamnya menggunakan teman-teman Itta.


Lalu, siapa di antara yang benar?