I HATE (Love) U

I HATE (Love) U
Hadiah dari Adyan



Mata Itta melebar tak percaya mengetahui hadiah yang dimaksud Adyan. Hadiah itu adalah tiga orang dengan wajah yang ia kenal. Saat ini ketiga orang itu berdiri di hadapannya.


Satu orang dengan wajah senang, satu orang lagi memiliki mata benci, dan satu orang lagi dengan wajah tanpa ekspresi.


Riana, Isni dan Oldia.


Mereka bertiga berada di Mansion Adyan.


Bola mata Itta bergerak menatap Adyan. Ditatap seperti itu membuat Adyan mengangkat salah satu alisnya.


"Bukankah itu yang kau inginkan?" tanya lelaki itu.


"Aku pikir, kau tidak akan mengabulkannya."


Adyan tak pernah mengiyakan permohonannya, namun tiba-tiba saja lelaki itu mengirim tiga orang ini ke hadapannya. Tentu saja Itta merasa sangat terkejut.


"Hanya untuk kali ini."


Sebuah senyum kecil terbit di bibir Itta.


"Terima kasih," ucap wanita itu.


Melihat senyumnya, wajah Adyan berpaling dalam sekejap. Di telinganya samar-samar muncul warna kemerah-merahan.


"Lima menit. Aku memberi kalian waktu lima menit untuk berbincang. Setelahnya temui aku di ruang kerjaku, Itta. Jangan lupakan janjimu."


"Baik, aku akan datang nanti."


Lelaki itu tak membalas lagi. Dia langsung melangkahkan kakinya pergi.


Usai kepergiannya, Itta segera mengulurkan tangan, memeluk tubuh Riana.


"Bagaimana kabarmu?" Riana bertanya, hampir menangis, sebab kekhawatiran dan rasa senang yang menumpuk.


"Aku yang harusnya bertanya padamu. Bagaimana kabarmu dan yang lain?"


"Kami baik-baik saja. Selain kami, wanita di ruangan itu dibebaskan. Aku tak tahu alasannya. Namun, aku tahu pasti ada hubungannya denganmu. Pasti kau lah yang menyelamatkan mereka."


"Menyelamatkan mereka?" Isni menyela. Remaja itu tersenyum sinis. "Lalu, bagaimana dengan Elia dan kita yang ada di sini? Dia menyelamatkan mereka semua kecuali Elia dan kita bertiga!"


"Isni! Menyelamatkan banyak orang bukan hal yang mudah. Butuh waktu dan usaha yang banyak. Tunggulah sebentar lagi. Aku yakin Itta pasti akan menepati janjinya," ujar Riana berusaha membela Itta.


"Lalu, kenapa dia diam saja saat Elia mati? Kenapa dia tak berusaha menolong?!"


"Elia mati karena bunuh diri." Itta mengangkat suaranya setelah sekian lama hanya mendengarkan perdebatan mereka.


"Aku tahu. Dia bunuh diri karena tidak kuat menahan siksaan yang Eric berikan."


"Kalau kau tahu, harusnya kau sadar kalau aku tak bersalah."


Isni tersenyum miring. "Tapi, kau sudah berjanji akan menyelamatkan kita semua."


Janji.


Itta akui, janji itulah yang membuatnya berusaha membebaskan rekan seruangannya.


"Kamu lupa satu hal, Isni." Kaki Itta maju satu langkah mendekat ke arah Isni. "Aku memang telah berjanji. Tetapi, janjiku adalah membebaskan kalian dari tempat itu, bukan menyelamatkan kalian. Itu artinya aku sudah menepati janjiku."


Sesuai dugaan, gigi-gigi Isni bergemelatuk marah, namun Itta tak peduli.


"Sepertinya sudah lima menit berlalu. Adyan pasti menungguku, aku akan pergi sekarang."


Itta membalikkan tubuh, kemudian berlalu pergi.


...----------------...


Ada harga yang harus Itta bayar karena membuat permohonan kebebasan teman-teman seruangannya.


Kini saatnya wanita itu membayar.


Itta mendekati Adyan yang tengah duduk di kursi kerjanya. Senyum Adyan mengembang penuh kemenangan.


Awalnya, ia kira Adyan akan abai sepenuhnya pada permohonan itu. namun kenyataan tak berkata demikian.


Benaknya tiba-tiba saja bertanya sesuatu, "haruskah merasa senang karena permintaannya dikabulkan atau merasa sedih karena harga yang harus dibayar?"


"Tunggu apa lagi?" tanya lelaki tampan di depannya.


Itta meneguk ludahnya sesaat.


Wanita itu kembali berjalan. Tatkala jarak mereka kian menipis, dengan berat hati Itta duduk di pangkuan Adyan.


Sungguh, ini adalah hal paling memalukan yang pernah ia lakukan. Ego dan harga dirinya jatuh di hadapan pria ini.


Tanpa butuh waktu lama Itta menempelkan bibirnya pada bibir milik Adyan.


Wanita itu menutup matanya.


Bukan.


Dia menutup mata bukan karena menikmati permainan, melainkan karena enggan menatap mata sang lawan yang mampu menghipnotisnya setiap saat.


Setetes air mata mengalir di tengah permainan mereka.


Itta ... jijik pada dirinya sendiri.


"Tak usah menangis, nikmati saja," bisik Adyan, seusai ciuman mereka.


Tangan kekar Adyan mengusap lembut pipinya, menghapus butiran air mata yang turun.


"Ini bukan pertama kalinya kita berciuman. Kenapa kau menangis?" Adyan bertanya.


Meski memang mereka pernah melakukannya beberapa kali, tetapi ini adalah pertama kalinya Itta menjatuhkan harga diri dengan mencium lelaki itu terlebih dahulu.


"Udah selesai, kan? Aku mau pergi."


Itta bangkit berdiri, namun belum sempat berbalik, tangannya sudah ditarik terlebih dahulu, memaksanya untuk tetap duduk di pangkuan.


"Di sini saja temani aku," ucap Adyan seenak jidatnya.


"Aku sudah membayar harganya, jadi tolong lepaskan aku."


"Kau punya hak apa berbicara seperti itu? Apa kau lupa bahwa aku memiliki hak penuh atas dirimu? Sebenarnya tanpa membebaskan orang-orang itu pun, aku tetap bisa membuatmu menciumku."


Si*lan!


Kontrak itu benar-benar menjengkelkan.


Andai saja Itta menyadari pernyataan yang tertulis di dalam kontrak dengan kalimat, 'Laquitta Grizelle menjadi milik Adyan Abercio' lebih awal.


Ia tak sadar bahwa kalimat itu sama saja dengan kontrak jual diri.


Perhatian Itta tertuju pada layar komputer yang menampilkan data-data perusahaan.


"Kau tak takut aku membocorkan rahasia perusahaan?" tanya Itta.


"Memangnya kau bisa?"


"Meski tak berpengalaman, aku tetap mengerti arti data-data yang sedang kau kerjakan."


"Kalau begitu lakukanlah."


"Kau membiarkannya?"


Smirk kecil tercetak di bibir Adyan. Ia semakin memeluk pinggang ramping wanita itu. Wajahnya ia dekatkan membuat Itta spontan ingin menjauh.


"Kau boleh membocorkan data itu, tetapi kau harus membayar harga seperti yang kau lakukan beberapa menit yang lalu."


"Tidak. Aku tidak mau."


Itta langsung menolaknya.


Sudah cukup sekali saja ia mengorbankan harga dirinya. Itta tak mau melakukannya lagi.


Adyan terkekeh pelan, lalu detik selanjutnya kembali fokus pada pekerjaannya.


Diam-diam Itta mengamati wajah pria itu.


Adyan tampan. Kulitnya memang tak seputih Itta, namun pahatan wajahnya mendekati kata sempurna.


Sayang sekali, wajah dan akhlak berbanding terbalik. Wajahnya sempurna, tetapi akhlaknya minus semua.


"Berhenti melihat, aku tidak fokus pada pekerjaanku," ujar Adyan, masih dengan mata menatap ke layar laptop.


"Kalau begitu biarkan aku pergi."


"Tidak."


"Terus apa maumu?" kesal Itta.


"Kau tetap di sini dan jangan melihat."


Rasanya Itta ingin memukul kepala lelaki ini dengan keras.


Dering handphone milik Adyan berbunyi.


Adyan meminta Itta turun dari pangkuannya. Setelahnya, lelaki itu berdiri menjauh dari Itta sembari mengangkat teleponnya.


Diam-diam Itta mengotak-atik laptop Adyan saat pria itu berdiri membelakanginya. ini adalah tindakan gegabah, tetapi Itta tak bisa melepas kesempatan meski resiko ketahuannya sangat tinggi.


Jari jemari wanita itu bergerak lincah, namun postur tubuhnya tetap berdiri, sedangkan matanya berpura-pura tak menatap layar laptop.


Sengaja ia lakukan itu karena menyadari CCTV di dalam ruangan ini.


Namun, usahanya sia-sia. Tak ada data-data penting yang bisa dimanfaatkan.


Itta berdecak pelan.


"Pantas saja pria itu terang-terangan menunjukkan data perusahaan di depanku." Itta merutuk pelan.