I HATE (Love) U

I HATE (Love) U
Ranjang Yang Sama



Pagi-pagi sekali para pelayan mendatangi tempatnya. Mereka membawa pakaian, handuk dan beberapa peralatan mandi. Tak lupa pula membersihkan kamar mandi, bahkan menawarkan diri untuk memandikan Itta.


Itta menolak dimandikan.


Meski di tempat tinggalnya yang dulu terdapat banyak pelayan, tetapi ia tak pernah dimandikan. Seluruh perhatian yang didapat di sini bak seorang putri atau ratu dari sebuah kerajaan.


Terlalu berlebihan.


Seusai mandi, para pelayan datang lagi. Kali ini mereka membawa beberapa nampan berisi makanan, minuman dan buah-buahan segar.


"Silahkan dimakan Nona." Olivia menyerahkan sarapan itu. Ia membungkuk sejenak.


"Di mana Tuan Muda Abercio?" tanya Itta.


"Maaf, hari ini Tuan tidak bisa sarapan dengan Nona. Beliau memiliki pekerjaan yang mengharuskannya untuk pergi."


"Benarkah? Kapan dia pulang?"


"Sekitar sore atau malam hari Tuan akan pulang."


Itta menahan senyumnya. Wajahnya ia netralkan sebisa mungkin.


"Baiklah, kau boleh pergi."


Olivia mengangguk sesaat, lalu pergi dari ruangan ini.


...----------------...


Itta tak dapat menahan senyumnya lagi. Matanya menatap birunya langit yang menjunjung tinggi.


Sudah lama ia tidak melihat langit dan sinar matahari. Ia merindukan fenomena alam itu.


Ia tidak lagi berada di tempat itu, dan kini Adyan juga sedang pergi.


Hal itu membuatnya merasakan kebebasan yang telah lama hilang, walau ia sadar sifatnya hanya sementara.


Itta menghirup udara dengan rakus.


Ia kembali berjalan-jalan menyusuri setiap inci bangunan diikuti para pelayan di belakangnya.


Banyak lukisan berharga di sini. Beberapa lukisan hanya ada satu unit di dunia, namun Adyan berhasil mendapatkannya.


"Apa aku boleh jalan-jalan ke luar Mansion?" tanya Itta.


"Maaf, Nona tidak diizinkan pergi dari Mansion ini." Olivia menjawabnya.


Sesuai dugaan Itta.


Mansion ini indah, namun di mata Itta tak ada bedanya dengan kurungan emas.


"Tidak masalah. Tunjukkan padaku lebih banyak hal di tempat ini."


Olivia mengangguk pelan. Wanita itu mulai mengarahkan setiap tempat menarik.


Salah satunya adalah taman bunga yang memiliki bunga terlengkap. Lalu, ada kolam renang berukuran besar, ruang musik, lukisan dan karya seni lainnya.


...----------------...


Melihat seluruh tempat di Mansion ini hanya dalam satu hari adalah hal yang mustahil.


Jangankan melihat seluruhnya, baru melihat separuhnya saja Itta sudah kelelahan.


Saat sore menyapa, Itta memutuskan berhenti melihat-lihat. Ia memilih duduk di taman penuh bunga bermekaran.


"Nona, ini teh nya." Olivia menyerahkan segelas teh.


"Terima kasih."


Itta meniup teh, kemudian menyeruputnya perlahan. Pikirannya melayang jauh tak di tempat.


Permohonan Itta kemarin malam mengenai pembebasan beberapa rekan seruangannya ditolak mentah-mentah.


Harus bagaimana lagi meyakinkan Adyan bahwa dirinya tak akan berkhianat meski teman-temannya telah dibebaskan?


"Nona jam sudah menunjukkan waktu malam. Tolong kembali ke kamar dan beristirahatlah dengan tenang," ucap Olivia.


"Ah, maaf aku tak menyadarinya."


"Tidak. Aku lah yang seharusnya meminta maaf karena mengganggu waktu Nona."


Itta tak membalas lagi. Wanita itu berdiri, melangkahkan kakinya menuju kamar yang diberi Adyan.


"Apa Adya—maksudku Tuan Muda Abercio sudah pulang?" Itta bertanya di tengah-tengah perjalanannya.


"Belum. Kemungkinan beliau akan pulang larut malam."


Itu bagus.


Itta tak perlu bertemu dengannya hari ini. Apa pun pekerjaan yang dilakukan, Itta tak peduli.


Itta memasuki kamarnya.


"Aku akan mengganti pakaianku."


Olivia mengangguk mengerti. Ia segera keluar dari ruangan itu.


Setelahnya, Itta melepas pakaian dan menggantinya dengan pakaian tidur.


Ranjang yang empuk seperti menggodanya untuk segera merebahkan tubuh.


Tanpa waktu lama, mata Itta segera terpejam.


Anehnya, di tengah-tengah matanya yang tertidur pulas, ia merasakan sesuatu mengikat pinggangnya.


Ikatan itu bergerak-gerak layaknya benda hidup. Hembusan napas yang semula tidak ada, kini menerpa leher jenjang Itta.


Mata Itta terbuka dalam sekejap. Mata itu segera melirik ke arah perutnya, mendapati tangan kekar yang melilit pinggangnya.


Ia berusaha melepas. Namun, semakin berusaha melepas, pelukan itu semakin mengencang.


"Diamlah, jangan banyak bergerak."


Suara berat nan serak menyapa indra pendengaran, menciptakan sensasi panas yang tak bisa dijelaskan.


"Apa yang kau lakukan?!" kesal Itta.


"Tidur."


"Ini kamarku."


"Ini Mansionku."


Itta tak dapat membalas lagi. Alhasil ia hanya mampu menggerutu dalam hati.


Tiba-tiba saja tubuh Itta dibalik. Itta yang semula menghadap tembok, kini yang ada di hadapannya adalah dada bidang yang membentuk beberapa kotak.


Jantung Itta berdegup kencang. Ia meneguk ludahnya kasar.


Sementara tangan Adyan tak melepaskan pelukannya sedikit pun.


"Tidur lah. Besok akan ada kejutan untukmu."


"Untukku?" Itta bertanya bingung.


"Iya. Kalau kau penasaran lebih baik tidur sekarang."


Tidur?


Itta tak mungkin bisa tidur jika situasinya seperti ini. Ia tak habis pikir dengan otak Adyan.


"Kubilang tidur," ucap Adyan pelan, menyadari Itta yang terus bergerak di pelukannya.


"Aku tidak bisa tidur."


"Kenapa, hm? Perlukah aku menidurkanmu agar kau bisa tidur?"


"Dasar brengs*k!"


Tawa ringan muncul tatkala mendengar makian terang-terangan itu.


Itta mencebikkan bibirnya kesal. Andai saja ia bisa melawan lelaki ini. Sayang sekali Itta memiliki perjanjian yang membuatnya harus mematuhi setiap perkataan Adyan.


Seiring waktu yang terus bertambah, jarum detik yang tak kunjung berhenti dan langit yang semakin menggelap, pada akhirnya Itta tertidur di dalam pelukan hangat lelaki itu.


...----------------...


Bangun-bangun Adyan sudah berdiri di depan cermin dengan handuk yang melilit bagian bawah tubuhnya.


"Bisakah kau mandi di kamarmu saja?" tanya Itta, merasa risi dengan pemandangan di depannya ini.


"Ini juga kamarku."


Baiklah, Itta akui ini Mansionnya. Semua yang ada di sini adalah miliknya. Tetapi, Itta ingin sekali memakinya setidaknya biarkan dia memaki di dalam hati.


Itta bangun dari kasurnya. Ia berjalan menuju jendela, lalu membukanya.


Untungnya pakaian tidur hari ini lebih baik dari kemarin. Itta sengaja memilih yang sedikit lebih tebal dan tertutup. Jaga-jaga seandainya Adyan mendatangi kamarnya. Dugaannya benar, lelaki itu datang.


Tubuh Itta membatu saat merasakan sesuatu memeluk pinggangnya dari belakang.


Tak hanya itu, hembusan napas hangat menerpa lehernya. Itta dapat merasakan kecupan kecil di bagian belakang lehernya.


"Tuan Muda Abercio tolong hentikan itu!" peringat wanita itu.


"Panggil saja Adyan."


"Baiklah, terserah kau saja. Adyan tolong hentikan sekarang juga!"


"Kenapa?"


Adyan masih sibuk menghirup dan mencium leher Itta.


Rasanya sungguh geli.


"Hentikan!"


Berhenti.


Tiba-tiba saja Adyan menghentikan aktivitasnya. Itta sendiri tak menyangka.


"Kita akan lakukan nanti. Sekarang kau siap-siap dulu, aku punya hadiah untukmu."


Usai mengatakan itu, Adyan memakai bajunya lalu pergi.


Ada satu kalimat yang tak dapat didefinisikan dengan mudah di otak Itta.


'Kita akan lakukan nanti'


"Maksudnya?!"


Itta menggelengkan kepalanya, berusaha menghalau pikiran kotor yang tiba-tiba saja merasuki.


Itta yakin tidak akan terjadi apa pun di antara mereka. Sama seperti malam tadi, tak ada yang mereka lakukan selain tidur di ranjang yang sama.


Tetap saja ia harus waspada terhadap lelaki itu.


"Aku harus jauh-jauh darinya," lanjutnya, meski sebenarnya mengetahui kenyataan bahwa ia takkan bisa lari.