
"Mereka ... telah mengetahui keberadaan kita."
Bertepatan dengan kalimat Oldia, bunyi sirine terdengar kencang tanda peringatan.
"A—apa?!" Otak Isni tak cepat merespon.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Kita harus segera pergi dari ruangan ini sebelum mereka menemukan kita!"
Oldia sedikit membuka pintu, menciptakan celah agar dirinya dapat melihat ke luar. Setelah memastikan tidak ada siapa pun, ia memberikan sebuah isyarat.
Satu persatu dari mereka keluar dengan hati-hati. Meski sebenarnya takut, meski sebenarnya cemas, namun semuanya sudah terlanjur terjadi. Mereka tak bisa kembali ke ruangan itu lagi.
Riana memegang tangan Itta. Ia menampilkan senyum tulusnya.
"Jangan khawatir. Semuanya pasti akan baik-baik saja. Kita pasti bisa terbebas dari tempat ini," bisik Riana.
Itta tak menjawab. Tak juga merasa cemas atau takut seperti yang dikatakan Riana. Karena baginya ... ini hanya sebatas mimpi.
"Tunggu sebentar!" Oldia mengangkat tangannya, memberi isyarat agar orang di belakangnya berhenti berjalan. "Ada orang! Cepat sembunyi!"
"Apa?! Sembunyi?! Sembunyi di mana?!" tanya Lesya panik.
Di tengah kepanikan itu, Yilse menarik tangan Lesya, membawanya bersembunyi di dalam lemari kayu.
Di sisi lain, Riana dan Itta bersembunyi di bawah meja.
Elia, Oldia dan Isni bersembunyi di belakang tembok.
Zora, Killa, Hela, dan Izume bersembunyi di sisi lain tembok.
Mereka berpencar untuk sementara.
Suara derap langkah yang semakin mendekat, membuat mereka bersikap siaga. Untungnya mereka sempat membagi benda tajam yang dipungut Izume dan Isni.
Enam pria membawa senjata api muncul dari balik pintu. Mereka berlari cepat. Tiba-tiba saja salah satu dari mereka berhenti.
Dahinya sedikit bergelombang, mengamati lemari yang terasa ganjil. Ia mulai berjalan pelan, pistol di tangannya terangkat mengarah ke objek berbahan kayu tersebut.
Dia berdiri di depan lemari kayu. Memegang kenop pintu, lalu memutarnya hingga terbukalah benda persegi panjang itu.
Dugaannya benar!
Terdapat dua orang di dalamnya. Pria itu segera menarik pelatuknya.
DOR!!
Suara tembakan terdengar keras. Cairan merah muncrat ke mana-mana, mengotori lantai, baju serta wajah Yilse dan Lesya. Tubuhnya terjatuh ke lantai yang dingin dengan darah yang mengucur deras.
"Hampir saja," ucap Isni.
Lutut Lesya dan Yilse lemas seketika.
Keduanya tak dapat berkata-kata, sebab kaget dan takut terlalu mendominasi. Air mata menetes begitu saja.
Jika saja telat walau hanya satu detik, salah satu dari mereka mungkin meregang nyawa.
"Aku selamat. Aku benar-benar selamat," ucap Lesya lirih. Jantungnya terasa copot saat melihat pria tadi berdiri di depannya sembari menodongkan pistol.
Sama hal nya seperti Lesya, Yilse pun merasa sangat lega.
"Terima kasih, Isni," ujar Yilse tulus. Ia benar-benar bersyukur dapat selamat.
"Tak usah sungkan." Isni membusungkan dadanya bangga.
"Bodoh!" Oldia menempeleng kepala Isni keras.
"Kau ini kenapa, sih? Iri?" Gadis remaja itu tak terima dengan perlakuan Oldia padanya.
"Untuk apa aku iri pada manusia bodoh sepertimu?! Tak seharusnya kau menembaknya! Bagaimana jika ada yang mendengar suara tembakan tadi?!"
Isni menggaruk tengkuknya. "Sorry! Aku lupa soal itu."
"Dasar bodoh!" maki Oldia lagi.
"Berhenti memanggilku bodoh!" protes Isni.
"Kau, kan, memang bodoh!"
Di tengah perdebatan mereka berdua, Itta melirik darah yang mengucur di kepala pria tadi, lalu kembali menatap Isni.
"Hentikan! Bisakah kalian diam?!" ujar Elia sedikit keras. Sungguh, Elia muak dengan perdebatan keduanya. "Kalian ber—"
"ELIA AWAS!!!"
Ucapan Elia terpotong saat seseorang mendorong tubuhnya secara paksa, disusul dengan suara tembakan yang memekakkan telinga.
"Hela!"
Elia dengan cepat menghampiri Hela. Wanita itu tengah merintih kesakitan akibat luka tembakan yang diterima di lengan kirinya.
Elia mengangkat wajahnya. Ia terbelalak melihat seorang pria menyodorkan pistolnya ke arah Itta yang kini berada dalam dekapannya.
"Angkat tangan kalian semua atau aku bunuh wanita ini!" ancam pria itu.
Gigi Elia bergemelatuk. Sorot matanya menajam. "Lepaskan dia!"
"Akan kulepas jika kalian mengangkat tangan."
"Tidak akan!" Isni membalaskan lantang.
"Oh? Jadi, kalian lebih memilih kematian wanita ini?" Senyum miring tercetak jelas di bibir.
Isni hendak menyerang, namun Elia segera menghentikan tangannya.
"Jangan hentikan aku!"
Elia tak menjawab. Yang dilakukannya adalah mengangkat kedua tangan, mengaku kalah.
Mata Isni membulat sempurna.
"Kau gila, hah?!" tanya Isni tak percaya.
"Lakukan saja. Kita tak boleh membiarkan salah satu dari kita mati."
Isni menggertakkan giginya, menahan amarah yang meluap dalam diri.
"Kau jangan ...."
Ucapan Isni berhenti tatkala melihat Oldia juga mengangkat kedua tangannya. Matanya terbelalak.
"Kau, pun, melakukan hal itu?! Di mana derajatmu, hah?!"
"Kau juga tidak ingin wanita itu mati, kan? Kalau begitu, turuti saja keinginannya dulu."
Lalu, satu per satu orang mulai mengangkat tangannya. Pada akhirnya, Isni pun ikut mengangkat tangan meski sebenarnya enggan.
"Sekarang letakkan senjata kalian!" Pria itu kembali memerintah.
Mata mereka saling melirik satu sama lain. Seolah berkomunikasi melalui isyarat mata.
"Apa yang kalian lakukan?! Cepat letakkan!" serunya lagi.
Satu pistol dijatuhkan Izume. Lalu, para wanita yang lainnya mengikuti menjatuhkan senjata.
Orang itu memiliki sandera. Mereka tak bisa berbuat apa pun selama ada orang yang disandera.
"Kami sudah mengikuti seluruh keinginanmu. Sekarang lepaskan wanita itu segera," ucap Elia. Berusaha terlihat setenang mungkin.
"Bagaimana kalau aku tidak mau?"
Tangan Elia terkepal erat, hingga kuku-kuku panjangnya menancap kulit tangan. Terasa sakit, namun di situasi ini, Elia tidak mempedulikannya.
"Kau sudah berjanji!" tekan Wanita itu.
"Jangan membuatku marah!"
"Memangnya kalau kamu marah, apa yang akan terjadi? Toh, kau tak bisa melakukan apa pun."
Tatapan pria itu jelas meremehkan. Andai saja tidak ada sandera, mungkin mereka semua mampu mengalahkannya.
Isni mendesah keras. "Sudah kuduga akan begini."
Ia menurunkan tangannya. Mengambil pistol, lalu menodongkannya ke depan.
"Isni, apa yang kau lakukan?!" Mata Elia terbelalak melihat tindakan nekat remaja itu.
"Membunuhnya, memangnya apa lagi?" jawab Isni santai.
"Dasar gila! Wanita itu bisa mati kalau kau menodongkan senjata!" Oldia menggeram kesal.
"Benar! Maka dari itu, jatuhkan senjata itu cepat!" Pria itu berteriak. Wajahnya yang menyeramkan terlihat makin menyeramkan.
"Kau pikir aku peduli?"
Atas ucapan Isni, semua orang tercengang.
"Bunuh saja dia kalau mau. Kehilangan satu orang tidak akan berdampak buruk bagi kami, melainkan sebaliknya. Jika satu orang mati, maka beban kami bisa lebih ringan dari sebelumnya," lanjutnya.
"ISNI!!" Elia berteriak marah.
"Kenapa? Itu salahnya sendiri tidak berhati-hati."
Perkataannya sangatlah dingin. Tidak ada yang menyangka Isni akan mengeluarkan kata-kata yang cukup kejam.
"Hentikan. Kau bisa melukai hatinya," ucap Elia. Namun, Isni tidak peduli.
"Kau benar-benar tak peduli dengan wanita ini?" tanya pria itu.
"Tentu saja."
Sang pria tertawa lepas hingga matanya menyipit.
"Kau kejam sekali," ucapnya memuji. "Baiklah, aku akan mengabulkan permintaanmu."
Senyum menjijikan tersemat di bibir pria itu.
"Ah, setelah dilihat-lihat kau cantik sekali seperti seorang dewi," ujarnya saat melihat wajah Itta. 'Sayang sekali aku harus membunuh tanpa menyetubuhimu dahulu."
Pria itu nampak sangat kecewa. Namun, hal itu tidak menghentikannya membunuh Itta. Ia memposisikan pistol di kepala Itta, bersiap menarik pelatuk.
"SEKARANG!" teriak Isni.
Seseorang menghempaskan pistol, lalu tangan pria itu diputar kebelakang. Sebuah tendangan keras mengenai perutnya, membuatnya merintih kesakitan.
Setelah memberi sedikit serangan, Killa menggandeng tangan Itta dan menjauhi pria itu.
"Tak kusangka kau pandai bertarung juga!" puji Isni. Ia menepuk pundak Killa dengan bangga.
Wanita dengan wajah yang cantik seperti boneka dan rambut panjang bergelombang, siapa yang akan menyangka bahwa ternyata ia pandai bertarung?
"Aku sempat belajar taekwondo dulu. Meski bukan yang paling hebat, tetapi aku bisa melakukannya sedikit," kata Killa malu-malu.
"Wow! Hebat!"
Isni memberikan kedua jempolnya.
"Kau sengaja mengatakan kalimat tadi karena ini?" tanya Elia di samping.
"Iya."
"Menurutku Killa bisa menyerang pria itu tanpa kau mengatakan hal yang kasar seperti itu."
"Memang."
"Lalu, untuk apa kau mengatakan kata kejam itu?"
"Hanya gabut."
"Hah?" Elia tak begitu mengerti ucapan Isni.
"Sudahlah. Dia memang begitu," ucap Oldia. Wanita itu iba-tiba saja ikut dalam perbincangan
"Aku tidak berbicara denganmu. Pergi sana! Mukamu membuatku ingin muntah," ujar Isni memancing kekesalan Oldia lagi.
"Si*lan kau!"
"Hentikan. Kita pergi sekarang." Yilse melerainya.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju ruangan yang memiliki kemungkinan aman.
Namun, suara di belakang mereka membuat mereka semua membalikkan badan.
Mata mereka membulat, terkejut atas tindakan yang dilakukan Riana sekarang.
Wanita yang memiliki rambut pendek itu menusukkan pisau di tubuh pria tadi berulang kali. Tatkala matanya melihat tatapan yang dilayangkan orang-orang, pisau itu dijatuhkan begitu saja.
"Aku melakukannya karena takut dia tiba-tiba menyerang," ucap Riana.
Mereka saling melirik sesaat.
"Tidak apa-apa," ucap Elia. "Tetapi, lebih baik kita pergi sekarang sebelum ada orang yang melihat lagi."
Riana mengangguk. Wanita itu berjalan mengikuti yang lainnya.
Itta dapat melihat tangan yang terkepal dan juga bergetar dari Riana. Mata Riana pun menunjukkan sesuatu yang mungkin hanya Itta saja yang menyadari.
Mata itu seolah mengatakan bahwa alasan Riana yang sebenarnya bukan itu.
...----------------...
Daftar wanita yang berada di dalam ruangan
Laquitta Grizelle / Itta
Isni
Elia
Hela
Zora
Killa
Lesya
Oldia
Riana
Izume
Yilse
Tasha (DIJUAL)
Shia (DIJUAL)
Devia (DIJUAL)
Avira (DIJUAL)