I HATE (Love) U

I HATE (Love) U
Terkilir



Itta menatap cermin besar yang memperlihatkan penampilannya malam ini.


Gaun navy melekat pas di tubuh. Rambut panjangnya digulung ke atas, memperlihatkan leher jenjangnya. Tak lupa pula wajah yang sudah dipolesi make up, semakin mempercantik tampilan Itta.


Olivia serta para pelayan yang berada di dekatnya sampai terpesona. Rasanya kecantikan Itta tak dapat didefinisikan lewat sebuah kata maupun kalimat.


Tidak heran jika Itta dijuluki goddess of beauty di universitasnya.


"Kau cantik sekali," puji Riana.


"Terima kasih."


Itta mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan seseorang yang beberapa hari ini tidak terlihat.


"Ngomong-ngomong di mana Isni?" tanya Itta.


Begitu nama itu disebut, Riana langsung memutar bola mata.


"Tidak tahu. Mungkin di kamarnya dan sedang membuat keributan lagi. Dasar tidak tahu diri!"


"Keributan?"


"Ya, dia sering membanting dan melempar banyak barang. Dia tidak menyadari statusnya, padahal kau sudah susah payah membantu."


"Tidak masalah. Tolong awasi dia terus."


Tatapan Itta beralih ke Oldia. Senyum lembut terpatri di bibirnya.


"Oldia, cobalah lebih terbuka pada kami."


Tangan Itta menepuk pelan pundak wanita itu. Masih tak ada reaksi banyak, tetapi setidaknya kalimat Itta bisa membuatnya merasa lebih baik.


"Nona, sudah waktunya untuk pergi," ucap Olivia, mengakhiri pembicaraan kecil mereka.


Itta mengangguk mengerti.


"Jaga diri kalian baik-baik. Hubungi aku jika ada masalah."


Usai mengatakan beberapa kalimat, Itta pergi meninggalkan mereka.


Wanita dengan kecantikan luar biasa itu menuruni undakan tangga ditemani Olivia dan para pelayan. Pelayan lain yang melihat kehadiran Itta tak dapat menyembunyikan kekaguman mereka.


Mereka menunduk hormat tatkala Itta berjalan melewati.


Rasanya sedikit aneh mengingat posisi Itta yang dulu hanya salah satu wanita di dalam ruangan, kini menjadi wanita yang memiliki posisi tertinggi.


Bola mata Itta berpendar ke sekitar, mencari keberadaan seseorang.


Ia menemukannya!


Seorang lelaki tengah duduk di sofa sembari mengangkat satu kakinya. Mata tajamnya bersitatap dengan Itta. Hanya sesaat, sebab Adyan langsung bangkit berdiri.


"Kita berangkat sekarang!" Nada tegas itu berasal dari suara Adyan.


Dia berlalu pergi diikuti beberapa bawahannya di belakang.


Itta berupaya menyeimbangi langkah Adyan. Akan tetapi, kakinya terlalu kecil jika dibandingkan dengan kaki besar Adyan.


"Bisa-bisanya dia meninggalkan wanita, lelaki macam apa itu?" cibir Itta pelan.


Susah payah Itta menyeimbangkan langkah mereka. Heels yang cukup tinggi membuatnya semakin kesulitan.


Di tengah perjalanan, kemalangan menimpa.


Kaki kanannya terkilir, sontak ia kehilangan keseimbangannya dan hampir saja terjatuh.


Untungnya, seseorang menahan berat badan Itta.


Dia bukan Adyan, melainkan Arvin. Lelaki itu nampak kikuk saat menahan tubuhnya.


"Terima kasih," ucap Itta.


Ia segera menjauhkan diri. Anehnya, aura dingin tiba-tiba menyerang kulit.


Bulu kuduk Itta dan Arvin berdiri, merinding pada aura yang berasal dari belakang tubuh Arvin.


Perlahan Arvin menolehkan kepala. Dia meneguk ludah saat matanya bersitatap dengan mata setajam pedang.


"Aw!"


Ringisan Itta yang terdengar cukup besar membuat Arvin secara otomatis kembali menatap wanita itu.


"Sepertinya kakimu terluka cukup parah. Izinkan aku mengendongmu agar kau tak begitu merasa sakit."


Seolah tak mengerti situasi walau Adyan sudah memberi peringatan lewat mata, Arvin mengulurkan tangan hendak mengendong Itta.


Tepat sebelum tangan Arvin menyentuh Itta, Adyan sudah lebih dulu menepisnya.


"Kalian ini lama sekali!"


"Kakinya terkilir, Adyan. Aku akan mengendongnya agar lebih cepat."


"Adyan?! Kau panggil aku Adyan?! Berani sekali! Di mana rasa hormatmu padaku?!"


Arvin meringis kecil.


Padahal biasanya juga Arvin memanggil tanpa embel-embel Tuan. Terkecuali di saat-saat tertentu, misalnya saat Adyan marah atau rapat penting.


"Sudahlah! Biar aku saja yang mengendongnya!"


Tangan kekar Adyan meraih tubuh Itta dengan mudah, bak meraih selembar kertas.


Lelaki itu mengendongnya ala bridal style.


Digendong seperti itu secara tiba-tiba membuat mata Itta melebar. Apalagi di depan banyak orang. Sontak pipi Itta bersemu malu.


Walau mereka menundukkan kepala, tetapi Itta tahu banyak dari mereka yang diam-diam meliriknya.


Itta membuka mulut, belum sempat mengucapkan sepatah kata, Adyan sudah terlebih dahulu menatap tajam.


"Diam!" ucap Adyan tanpa bisa dibantah.


Itta menutup mulutnya rapat-rapat. Ia menurut. Namun, beberapa detik selanjutnya mulut Itta kembali terbuka.


"Kubilang diam!"


Lagi-lagi belum sempat Itta berkata, Adyan sudah memotongnya.


Hanya saja kali ini Itta lebih memilih mengabaikan ucapan lelaki itu.


"Aku berat. Turunkan saja aku. Lagipula aku malu dilihat banyak orang."


Adyan berdecak. Aura dingin semakin memancar darinya membuat mulut Itta langsung terkunci.


"Tundukkan kepala kalian!" titah Adyan. Adyan menatap Itta sekilas, kemudian kembali fokus pada jalanan. "Kau bisa merasa malu juga, ya?"


Tentu saja Itta juga manusia. Walau sebenarnya, ini pertama kali Itta merasa begitu malu menjadi pusat perhatian.


Ia memilih bersembunyi di dada bidang Adyan tanpa menyadari cepatnya jantung Adyan berpacu.


Mereka sampai di pintu utama Mansion. Di balik pintu itu terdapat pesawat.


Beberapa pria berjas sudah berjejer di dekat sana.


Tatkala Adyan dan Itta berjalan, mereka semua menundukkan kepala.


Adyan naik ke dalam pesawat masih dengan mengendong Itta. Lelaki itu mendudukkan Itta di dalamnya dengan pelan, sementara Adyan sendiri duduk di samping wanita itu.


"Jalankan sekarang."


Sang pilot mengangguk patuh. Pesawat pun mulai berjalan kemudian terbang ke angkasa.


Tatapan Itta mengelilingi sekitar. Kekaguman tak dapat ia sembunyikan melihat betapa mewah dan lengkapnya pesawat ini.


Pesawat biasa saja harganya sangat mahal, apalagi pesawat yang begitu lengkap dan mewah seperti ini.


Itta baru menyadari betapa melimpahnya kekayaan Adyan.


"Apa kakimu masih sakit?"


Fokus Itta kembali saat mendengar pertanyaan dari lelaki yang duduk di samping.


"Tidak terlalu."


"Biar kuobati."


"Eh? Tidak usah!" Itta menahan tangan Adyan yang hendak mengangkat kakinya. "Tak separah itu, kok."


"Tetap saja sakit."


Adyan mengangkat paksa kaki Itta, kemudian meletakkannya di paha lelaki itu.


"Ambilkan obat!"


Arvin segera melaksanakan perintahnya.


Adyan membuka kotak obat, mengeluarkan beberapa benda yang dibutuhkan. Ada sedikit darah di mata kaki Itta, jadi Adyan membersihkannya dulu sebelum mengoleskan obat merah.


Perlakuan Adyan sangat hati-hati dan lembut.


Itta merasa aneh mengingat Adyan adalah seseorang yang tak seharusnya melakukan ini. Posisi lelaki itu terlalu tinggi, tetapi dia tak sedikit pun ragu mengobati luka kecilnya.


"Aku bisa melakukannya sendiri."


Perlahan Itta menurunkan kakinya, namun segera ditahan oleh Adyan.


"Apa kau ingat pertama kali kita bertemu?" tanya Adyan di sela-sela kegiatannya.


"Ingat."


"Kau juga pernah mengobatiku dulu."


"Iya."


"Kenapa kau menolongku saat itu?"


"Saat itu pun kau bertanya hal itu padaku, memang salah kalau aku menolong orang lain?"


Sama seperti hari itu, jawaban yang didapat Adyan persis sama.


Sudut bibir Adyan sedikit terangkat. Dia mendekatkan wajahnya pada luka Itta. Tanpa diduga Adyan mencium luka itu beberapa saat membuat si empunya melotot tak percaya.