I HATE (Love) U

I HATE (Love) U
Nafsu yang Memburu



Baiklah, Itta sekarang sudah mengerti alasan Adyan mengamuk dan alasan keberadaan Isera yang tidak memakai sehelai kain pun di tengah malam.


"Dasar bodoh!" maki Itta pelan.


Saat ini ia masih membalas pelukan Adyan. Mengelus punggung lebarnya sembari sesekali menepuk pelan. Hal itu membuat Adyan melupakan niat membunuhnya untuk sementara waktu.


"Kau bilang aku bodoh?" Isera terkekeh geli. Di sisi lain, bulir air mata mengalir secara bersamaan. "Kau tidak akan mengerti betapa menyedihkannya seorang wanita yang mengejar seorang pria selama bertahun-tahun, melakukan segala cara untuk mendapatkan cintanya, tetapi sekeras apa pun usaha yang dilakukan, semua selalu saja sia-sia. Apalagi saat menyadari dia telah memilih wanita lain."


"Apa yang kau maksud adalah aku? Kau juga tahu aku hanya lah pasangan sementara Adyan."


"Tidak, kau berbeda."


Itta tidak begitu mempedulikan ucapan Isera. Saat ini ada hal yang jauh lebih penting.


"Lebih baik kau pergi sekarang sebelum Adyan memiliki niat membunuh padamu lagi."


"Aku mengerti."


Itta cukup terkejut tatkala Isera benar-benar menuruti ucapannya.


Wanita itu memakai lingerie hitam dan gaun tidur yang tergeletak di atas lantai.


"Aku punya satu pertanyaan," ucap Isera.


"Apa itu?"


"Kenapa kau bisa masuk ke tempat ini?"


"Aku memiliki izin untuk keluar masuk ruangan Adyan."


Sudah Isera duga.


Isera melirik Adyan sejenak, kemudian membalikkan badan dan berjalan melangkah ke luar.


"Kau memang spesial," ucapnya sebelum menghilang dari balik pintu.


Itta menghela napasnya kasar.


Mungkin memang benar Itta spesial di mata Adyan. Namun, bukankah itu hanya sementara?


Perasaan yang dibawa Adyan bukanlah cinta, tetapi penasaran. Tatkala Itta sudah tidak lagi menarik, lelaki itu bisa kapan saja membuangnya. Maka dari itu, dibuatlah perjanjian di antara mereka berdua agar Adyan tak memiliki alasan membuangnya.


"Kau bisa ceroboh juga rupanya," komentar Itta.


Tak ada tanggapan dari Adyan.


Sejak awal memeluk tubuh Itta hingga perbincangan antara kedua wanita usai, tak ada reaksi darinya lagi.


Tangannya masih melilit tubuh Itta, namun selain hal itu, tak ada lagi yang dia lakukan.


Tiba-tiba saja perasaan waspada menyapa benak Itta.


Itta menatap manik mata lelaki itu. Ia meneguk ludah melihat ekspresinya yang aneh.


Rona merah muncul di pipi Adyan seiringan dengan keringat yang mengucur deras seolah tengah menahan sesuatu yang bergejolak.


Napasnya yang tak beraturan memasuki gendang telinga Itta, membuat wanita Itu kegelian. Hawa panas ikut mengalir ke dalam tubuh Itta.


Saat itulah Itta menyadari bahaya yang sedang mengancamnya.


"Adyan, aku ambilkan minum untukmu, ya?" tawar Itta.


Dia berusaha melepaskan pelukannya, namun Adyan semakin mengeratkannya.


"Adyan, biarkan aku mengambil minum untukmu. Hanya sebentar."


Adyan melepaskan pelukannya.


Itta sempat menghembuskan napas lega, tetapi hanya berlaku selama beberapa detik. Sebab, Adyan mengangkat tubuhnya dan membawanya ke atas ranjang.


"La ... quitta ... Grizel ... le."


Suara berat nan serak Adyan membuat bulu kuduk Itta merinding.


Memanggil nama lengkapnya di situasi seperti ini terasa aneh bagi Itta.


Bola mata Itta melebar tatkala Adyan membenamkan wajahnya di dada Itta.


Reflek tangan Itta terangkat menampar keras wajah lelaki itu.


"Brengs*k kau!"


Bukannya Berhenti atau marah, Adyan semakin menatapnya penuh minat.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak! Aku akan membunuhmu kalau kau berani menyentuhku sedikit saja!"


Senyum miring tercetak di bibir Adyan. "Oh, ya? Coba saja kalau kau memang bisa membunuhku."


Adyan meraup bibir wanita itu. Mengecapnya sembari menggigiti pelan-pelan. Dia tak memberikan celah agar Itta dapat mengatakan sesuatu.


Kedua tangan Itta ditahan olehnya, membuat Itta semakin sulit memberontak.


Adyan melepaskan tautan mereka berdua. Dia tersenyum remeh.


"Aku telah menciummu, lalu apa yang akan kau lakukan untuk membalasku?"


"Akan kubunuh kau!" tekan Itta.


Wajah marahnya entah mengapa membuat Adyan semakin ingin menyentuh tubuh wanitanya.


Itta terlihat sangat cantik saat berada di bawah tubuhnya dengan wajah penuh emosi dan bibir membengkak.


Adyan mendekatkan wajahnya pada leher Itta, mencium dan mengisapnya hingga muncul bercak-bercak merah di tempat itu.


"Brengs*k! Si*lan! Binatang! Bajing*n!"


Makian terus terlontar, tetapi tak mampu mengubah keadaan. Tubuh Itta bergetar tatkala Adyan menyentuh di setiap incinya.


"Adyan Abercio, kau akan kubunuh!"


Adyan melirik wajahnya sesaat. Ada air mata yang mengalir di pipi wanitanya.


Salah satu tangan Adyan merobek sedikit gaun Itta, menciptakan akses untuk mata Adyan melihat belahan dadanya.


"Aku akan membunuhmu!"


Lagi-lagi kalimat itu terucap.


Adyan tak tergerak. Dia hanya mendengarkan sembari melanjutkan aktivitasnya mencium tubuh bagian atas Itta.


"Aku membencimu, aku akan membunuhmu!"


"Itu salahmu sendiri. Kau datang di saat aku sedang terkena pengaruh obat."


"Aku akan membunuhmu!"


"Apa kau menyesal telah membantu wanita jal*ng itu?" Adyan bertanya.


Itta tak langsung menjawab. Ia menutup matanya dan merasakan sakit luar biasa di dalam hati.


"Iya, aku menyesal. Seharusnya kubiarkan saja kau membunuhnya dan setelah itu kau akan mendapatkan masalah besar!"


"Kau yakin?"


Itta terdiam.


Ia melupakan suatu hal. Selama mengenal lelaki itu, dia tahu Adyan bukan lelaki bodoh.


Mungkin ada rencana cadangan yang dibuatnya setelah membunuh Isera.


Kenapa Itta melupakan hal sepenting itu?


"Rupanya kau belum mengenalku lebih dalam. Biar kuberitahu sesuatu." Adyan mendekatkan mulutnya ke telinga Itta, membisikkan sesuatu di sana.


Sorot mata Itta berubah saat mendengarnya.


"Kau ...." Itta sampai kehabisan kata-kata. Ia menggeleng tak percaya. "Apa kau tidak berpikir ini berlebihan?"


"Tidak," jawab Adyan santai.


"Itu terlalu kejam!"


"Kau salah. Aku sudah sangat sabar menghadapinya selama ini. Membiarkannya tetap berkeliaran dengan bebas walau dia selalu menggangguku."


"Lalu, kau ingin membalasnya dengan cara yang keji?"


"Sudah kubilang kau harus terbiasa, karena yang akan dialami Isera masih terbilang murah hati."


Pria ini ... memang iblis.


Orang yang menjadi musuhnya pasti orang yang sangat sial.


Padahal dilihat dari jauh pun cinta Isera benar-benar tulus walau caranya salah. Dan, Adyan ingin memanfaatkan cinta tulus itu untuk kepentingan pribadinya.


Di tengah pembicaraan mereka, napas Adyan semakin terengah-engah. Wajahnya pun terlihat menahan nafsu yang bergejolak.


Dalam gerakan sedetik Adyan memeluk tubuh Itta dari samping. Kepalanya ditenggelamkan ke dada wanita itu.


"ADYAN!!"


"Aku tak tahan."


Tangan Itta mendorong kepala lelaki itu, tetapi tenaganya tak cukup, apalagi saat kondisi Adyan sedang seperti ini.


"Adyan! Lepaskan Brengs*k!"


Adyan tetap bersikukuh memeluknya. Itta berteriak marah, ia memukul pria itu, menamparnya hingga tangannya terasa letih dan perih.


"Tidak perlu khawatir. Aku hanya ingin memelukmu, aku tidak akan melewati batas."


"Aku tidak percaya!"


Itta kembali memberontak dengan mendorong tubuh lelaki itu.


"Diamlah! Kalau kau banyak bergerak, aku tak yakin bisa menahannya lagi!"


Gerakan tubuh Itta langsung berhenti secara otomatis.


"Tadi kau bilang hanya ingin memelukku," ucap Itta semakin waspada.


"Iya, dengan syarat jangan melawanku."


"Apa kau bisa berjanji tidak akan menyentuhku lebih dari ini?"


"Mungkin."


Raut wajah Itta berubah datar. Makian dan cacian terucap dalam hatinya.


Mungkin katanya?


Adyan memang tidak bisa dipercaya.