I HATE (Love) U

I HATE (Love) U
Hanya Mimpi, kan?



Gelap.


Pemikiran pertama yang melintas di benaknya. Ia mengulurkan tangan, meraih apa pun yang ada di depannya.


"Kosong," katanya saat tak merasakan apa pun.


Mata indahnya mengelilingi sekitar, mengamati dengan harapan menemukan setitik cahaya yang dapat menerangi. Namun, yang didapat hanyalah kekosongan dan kegelapan.


"Ini ... di mana?"


Hanya keheningan yang menjawabnya. Benar-benar tak ada suara selain dari bibirnya tadi. Bahkan, detak jantungnya pun tak terdengar.


Gelap, kosong dan hening. Anehnya, dia tak merasa takut.


Siluet bayangan putih melintas cepat. Dia mengerjapkan mata berulangkali.


"Siapa?"


Lagi-lagi heninglah yang menjawabnya.


Bayangan putih itu muncul kembali dengan jarak yang sangat jauh. Ia menyipitkan mata, lalu samar-samar bayangan itu membentuk sesuatu.


Membentuk tiga orang penting dalam hidupnya. Papa, Mama dan adiknya yang bernama Iva.


Mata Itta melebar seketika. Setetes air mengalir jatuh dari pelupuk matanya. Tangannya terulur seperti hendak menggapai sesuatu. Kakinya yang semula diam, kini berlari cepat.


Air mata terus-menerus jatuh. Perasaan sesak dan lega teraduk tak karuan.


Secepat mungkin Itta memeluk keluarganya. Tangisnya pecah. Ia terisak-isak.


"Ma ... Pa ... Iva ...."


Tangisan Itta semakin keras. Namun, ia bahagia mengetahui keluarganya baik-baik saja. Ia tak bisa membayangkan hidupnya akan sekacau apa jika semua keluarganya mati dengan tragis.


"Aku tahu kalian masih hidup. Aku tahu kalau kejadian itu hanya mimpi. Aku tahu kalian tidak akan pernah meninggalkanku sendirian. Benarkan?"


Wajah Itta mendongak, menatap wajah Papa, Mama dan Iva penuh harap. Namun, yang didapat tak sesuai harapannya. Mereka memang tersenyum, tetapi wajah mereka perlahan mengabur hingga pada akhirnya hilang sepenuhnya.


Tatapan mata Itta langsung berubah dalam satu detik. Ia mematung. Seluruh jiwanya terasa kosong dalam arti yang lain.


"Papa?" panggilnya lirih.


Tak ada jawaban.


Itta menggigit bibirnya keras, mencoba menghilangkan perasaan sesak yang kembali menjalar.


"Ma?"


Tetap tak ada yang menjawab.


Itta semakin menggigit bibirnya sampai tanpa disadari mengeluarkan cairan darah.


"Iva?"


Masih sama. Untuk pertama kalinya, Itta merasakan ketakutan yang luar biasa.


"Ma, Pa, Iva, kalian di mana?!" teriaknya bertanya pada ruang kosong tak bernyawa.


Suara kegaduhan menyapa indera pendengaran Itta. Lantas, ia menoleh ke belakang. Mata Itta menangkap sosok keluarganya di ujung sana sedang melambai dengan senyum terpatri. Sesegera mungkin ia berlari kesetanan.


Batas tak kasat mata menghalangi langkahnya. Itta bergerak panik. Sementara itu, mereka yang di ujung sana hanya memandang Itta, tak berniat membantu sedikit pun.


Sesuatu terbentuk di sekeliling orangtua dan adiknya.


Ruang keluarga!


Itu adalah ruang keluarga, tempat di mana banyak sekali kehangatan yang didapat Itta.


Bola mata Itta tertutup sesaat, ingin kembali merasakan kehangatan keluarga dengan cara mengingat momen dulu. Saat matanya terbuka, tubuh Itta dibuat membeku oleh pemandangan mengerikan yang ada di hadapannya.


Kedua orangtuanya tergeletak penuh darah, pun adiknya. Pemandangan ini sama seperti pemandangan yang pernah dilihatnya.


Lutut Itta melemas, ia terduduk di lantai. Napasnya tercekat dan rasa sesak menggerogoti hatinya tak tertahankan.


"TIDAKKKK!!!!!!!"


Itta berteriak kencang. Kepalanya ia pukul-pukul keras, berharap rasa sakit tercabik-cabik dari hatinya berpindah.


"INI MIMPI! INI PASTI MIMPI!!!"


"AKU YAKIN INI HANYA MIMPI!!"


"SIAPA PUN TOLONG KATAKAN PADAKU BAHWA INI SEMUA ADALAH MIMPI! MIMPI YANG SANGAT BURUK!!"


"MA! PA! KATAKAN KALAU INI MIMPI!"


Sebanyak apa pun dirinya berteriak, sebanyak apa pun dirinya bertanya, tetap tak ada yang menjawabnya.


Itta merasa hidupnya benar-benar berakhir.


...----------------...


Mata Itta terbuka secara tiba-tiba. Napas gadis itu tercekat. Butiran air meluncur melewati pipi.


"Mimpi?" tanyanya sendiri.


Itta menghapus bulir-bulir air mata dengan kasar.


"AAARRRGGGHHHH!!!!!"


Lengkingan suara khas seorang perempuan menarik atensinya.


"AARRGGGHHH SAKIT, BRENGSEK!!"


Dapat Itta lihat ada seorang wanita memakai dress berwarna biru dicambuk berulang kali oleh seorang pria tampan, namun berpenampilan mengerikan. Di samping pria itu, terdapat beberapa orang yang memakai jas. Tawa mereka menggelegar seolah mengejek sang wanita. Sementara itu, beberapa wanita lainnya meringkuk ketakutan sembari menangis tersedu-sedu.


Orang yang melakukan aksi cambuk itu tertawa paling keras di antara semuanya, begitu menikmati derita sang wanita.


Dia melempar cambuknya asal. Tangannya yang kokoh mencengkram erat dagu wanita itu. Ia menyeringai.


"Dengar! Kau harusnya bersyukur karena ini belum seberapa," ucapnya. Pria itu berdiri, lalu menghadap anak buahnya. "Kalian boleh 'menikmati' wanita ini sesuka kalian. Anggap saja bonus."


Sontak, wanita itu langsung menegang. Ia menggigit bibirnya keras.


"Dasar bajingan!!!" teriaknya.


"Memang," jawab pria itu santai. "Tunggu apa lagi? Kalian tidak mau wanita ini? Cepat seret wanita ini keluar!"


"Siap Tuan Eric!"


Wanita malang itu meronta-ronta tatkala para pria berjas membawanya pergi. Siapa pun pasti mengerti arti kata 'menikmati' yang diucapkan pria bernama Eric.


"BINATANG! BAJINGAN! KAU BENAR-BENAR BUKAN MANUSIA!!!"


Caci makian itu semakin membuat Eric tersenyum senang, seolah reaksi itulah yang dia inginkan.


"Itu hanyalah hukuman ringan, kalau ada salah satu dari kalian yang berusaha kabur lagi, hukumannya akan lebih mengerikan dibanding ini."


Eric melangkah pergi, namun sebelum itu entah mengapa Itta merasa pria itu sempat meliriknya meski hanya sesaat.


Kalimat Eric menambah ketakutan pada setiap orang, termasuk Itta. Meskipun tak sepenuhnya mengerti, Itta tetap dapat menyimpulkan bahwa situasi yang dialaminya sekarang bukanlah hal yang baik.


"Mama ... aku takut."


Itta mematung. Nada lirih yang entah milik siapa itu, mengingatkannya akan kenyataan pahit, bahwa keluarga tercintanya telah tewas secara tragis.


Kepala Itta menggeleng-geleng. Menepis kenyataan itu.


"Ini pasti mimpi. Alasan aku ada di tempat tak dikenal ini karena aku masih bermimpi. Mama, Papa dan Iva juga pasti masih hidup."


...----------------...


Mata Itta terbuka. Ia bangun dari tidurnya, lalu menatap sekeliling. Wanita itu menghela napas berat.


"Masih sama," monolognya.


Sudah beberapa hari Itta tinggal di sini. Setiap kali membuka mata, ia sangat berharap berada di dalam rumahnya. Namun, mimpi ini tak kunjung selesai.


Mata Itta tanpa sengaja menangkap sosok perempuan cantik yang tengah meringkuk sambil terisak kecil.


Ia adalah wanita bergaun biru yang dicambuk beberapa hari yang lalu. Semenjak wanita itu kembali dari 'hukumannya', ia seperti kehilangan arah. Tak pula membersihkan diri ataupun makan. Terus-menerus diam, meringkuk dan menangis. Hanya itu saja yang dilakukannya.


Seseorang masuk ke dalam ruangan ini membagikan makanan, sama seperti hari-hari sebelumnya. Setelah itu, ia pun pergi tanpa mengatakan sepatah kata.


Makanan ini sebenarnya tak layak dikonsumsi. Dari warna dan baunya saja sudah terlihat jelas kalau ini adalah makanan basi. Tak jarang juga terdapat belatung di sana. Namun, mereka tak punya pilihan lain selain memakannya.


Makanan ini hanya dibagikan sekali dalam sehari. Itu pun kalau para pria bajingan itu mengingatnya.


"Hari ini belatungnya banyak sekali. Aku tak berselera makan," ujar salah seorang wanita.


"Kalau tak makan, kau akan mati. Kita tidak tahu besok masih diberi makan atau tidak."


Orang yang di sampingnya memberi nasehat. Dengan terpaksa wanita tadi memakannya meski berat.


"HUEKKK!!!!"


Seseorang memuntahkan makanannya. Ia terbatuk-batuk.


"Aku tak mau hidup seperti ini terus! Sampai kapan ini akan berlangsung?!" ucapnya. Air matanya berderai disertai isakan kecil.


Semua orang di dalam ruangan itu terdiam. Tak ada satu orang pun yang ingin hidup seperti ini. Memakan makanan basi, tubuhnya disewa sesuka hati mereka, dan diperlakukan lebih rendah dari binatang.


Namun, apa yang bisa mereka lakukan?


Jawabannya adalah tidak ada.


Tidak ada yang bisa mereka lakukan. Melawan artinya bunuh diri. Dan parahnya lagi, jika melawan, maka harga diri mereka juga pasti akan dihancurkan sehancur-hancurnya.