
"Aku akan membantumu menenangkan adikmu, Adyan. Lalu, setelah ini kau akan menjadi milikku selamanya."
Isera mendekatkan wajahnya pada lelaki itu. Ia menjilati bibirnya sendiri yang mendadak terasa kering.
Jarak mereka semakin terkikis. Tatkala sedikit lagi Isera berhasil menyatukan bibir mereka, Adyan tiba-tiba saja menyerangnya.
Kini posisi mereka berbalik.
Adyan berada di atas tubuh Isera dengan napas tersengal.
Bukannya takut, sebaliknya Isera tersenyum senang. Inilah yang ia tunggu-tunggu sejak tadi.
Tangan Isera dengan nakal melepas kancing kemeja Adyan satu per satu. Ia menyentuh pelan perut sixpack milik Adyan, menulis sesuatu dengan gerakan menggoda.
Tangannya beralih meraba wajah Adyan, mengelusnya dengan penuh cinta yang terpampang jelas di mata.
Sungguh, Isera sangat mencintai wajah ini.
Perasaan bahagia meluap-luap membayangkan lelaki ini akan segera menjadi miliknya.
Isera mengalungkan tangannya.
"Tunjukkan keagresifanmu, Sayang," ucapnya dengan suara serak dan sedikit mendesah.
Namun, kejadian di detik berikutnya tak pernah Isera pikirkan.
Adyan tak melakukan 'itu', melainkan mencekik lehernya dengan kuat.
Isera berusaha memberontak. Napasnya terengah-engah, sementara tangannya sekeras mungkin mendorong tubuh Adyan. Air mata mengalir sebab rasa sakit yang teramat.
Semakin lama pandangan Isera jadi mengabur. Dia menggerakan tangannya menggapai apa pun yang ada didekatnya.
Saat dirasa tangannya berhasil meraih botol kaca, dengan cepat Isera melayangkannya, namun Adyan berhasil menangkapnya terlebih dahulu.
Hal itu memberi celah selagi Adyan masih fokus pada botol kaca itu.
Sedetik pun Isera tak menyia-nyiakan waktu, ia langsung berlari menuju pintu.
Malangnya, pintu itu tak dapat terbuka. Butuh kode akses untuk keluar dari ruangan ini.
"S*al! Bagaimana ini?! Karena terlalu panik aku jadi lupa nomor kodenya!"
Isera merutuki dirinya sendiri.
Tidak banyak waktu yang tersisa. Ia harus berpikir cepat.
Sebuah benda tajam melesat cepat dalam kurun waktu seperkian detik, lalu menancap tepat di depan pintu.
Tubuh Isera membeku di tempat. Jantungnya berdegup kencang tak karuan.
Tangan kananya menyentuh pipi. Ia semakin dibuat membeku saat merasakan cairan kental berwarna merah.
Jika saja pisau itu tidak meleset, mungkin nyawa Isera sudah melayang.
Takut-takut Isera membalikkan badan. Kedua matanya menangkap sosok Adyan yang berjalan sempoyongan.
Isera sangat yakin obat itu bekerja dengan baik. Namun, walau berada dalam pengaruh obat perangsang, Adyan tetap mampu bertahan hingga detik ini.
Lelaki itu mengangkat gelas berisi wine.
Sontak alarm pertanda bahaya berbunyi nyaring di kepala Isera.
"Kau tidak akan melemparnya, kan?!" tanya Isera takut.
Adyan tak menjawab. Hanya langkahnya yang mendekat menjadi jawabannya.
"Kumohon, jangan ...."
Adyan mengabaikan permohonannya.
"Jangan lakukan itu, kau bisa membunuhku nanti!"
Satu sudut bibir Adyan terangkat miring. "Bukankah ini yang kau mau?"
"Tidak! Aku tidak pernah menginginkannya!"
"Berapa kali kau mengusikku?"
Isera tak langsung menjawab.
Sebenarnya, ia tak ingat berapa kali, hanya saja ia sadar telah mengganggu Adyan selama tiga tahun terakhir.
"Aku sudah sering memperingatkanmu, bukan? Sepertinya kau memang ingin sekali kubunuh."
Isera menggeleng cepat. "Tidak, itu tidak benar! Kuakui aku salah, tetapi aku melakukan itu karena terlanjur mencintaimu."
"Persetan! Aku tidak peduli pada cintamu itu!"
Kalimat Adyan mencabik-cabik hatinya yang rentan. Begitu menyiksa hingga rasanya sangat menyesakkan.
"Cinta? Kau percaya pada hal itu? Cinta itu sama seperti sampah. Tugasnya hanya mengganggu kehidupan!"
Perasaan Isera tak dapat didefinisikan lagi sekarang.
Kata 'sampah' dari bibir lelaki itu membuatnya semakin tersadar betapa dinginnya seorang Adyan Abercio.
Sekeras apapun mengejar cintanya, tetap tak akan pernah berhasil.
Isera menghela napasnya.
Mungkin tindakannya memang benar. Kalau tidak seperti ini, Isera tidak akan pernah bisa mendapatkan lelaki itu.
Manik mata Isera menatap mata memabukkan milik lelaki itu.
Perlahan ia mulai menanggalkan lingerienya, membuat tubuhnya terekspos tanpa ada yang disembunyikan.
Siapa pun pasti akan tergoda di saat-saat seperti, kan?
Walau Adyan tak menyukainya, tetapi dia masih pria normal. Apalagi saat dia terkena obat perangsang. Bukankah sudah jelas langkah apa yang akan dilakukan pria itu?
Gelas yang semula berada di tangan Adyan dibuang oleh pria itu sendiri. Langkah kaki Adyan semakin mendekati.
Hawa panas menjalar dan membakar tubuh.
Sayangnya sekali lagi, itu hanya angan-angan semata.
Nyatanya yang dilakukan Adyan adalah menarik rambut Isera kencang. Tanpa perasaan sedikit pun, Adyan menyeret tubuh telanjang Isera, membuat kulitnya yang putih dan halus menjadi lecet.
"Lepas! Jangan menjambakku!" ronta Isera.
Adyan menutup telinga. Ia dengan sengaja membenturkan kepala Isera ke dinding disusul jeritan kesakitan Isera.
Seharusnya tak begini. Isera sudah melakukan banyak hal agar Adyan tergoda, tetapi kenapa hasilnya tetap sama?
Apa yang salah?
"T ... tolong, tolong hen ... tikan!"
Suara Isera putus asa. Ia tak akan bisa melawan Adyan meski telah berusaha sangat keras.
Kekuatan fisik Adyan tetap besar walau dia berada dalam pengaruh obat. Rasanya seluruh tubuh Isera dibuat remuk.
"ADYAN HENTIKAN!"
Teriakan seseorang tak menghentikan Adyan menyiksanya.
Isera melirik orang yang datang. Matanya melebar melihat sosok Itta yang terhalang punggung lebar Adyan.
Itta berlari ke arah mereka. Ia segera membantu melepas cekalan di rambut Isera.
"Berhenti, Adyan! Kau bisa membunuhnya kalau seperti ini!" teriak Itta.
Entah mengapa seusai Itta berteriak, barulah Adyan melepaskan jambakannya.
Itta merentangkan tangannya, menghalau Adyan yang memiliki niat membunuh terhadap Isera.
"Kau ...? Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Isera.
Mulutnya terbuka sedikit. Ia sudah memastikan tidak akan ada orang yang bisa masuk ke ruangan ini sementara waktu.
"Itu tidak penting sekarang. Yang terpenting adalah kau cepat pergi dari tempat ini!" peringat Itta.
Otak Isera tak cepat memproses. Bukannya cepat-cepat pergi, wanita itu hanya diam di tempat.
"Pergilah, bodoh! Apa kau ingin mati di sini?!"
Isera tersentak. "Tidak. Kalau aku pergi, Adyan mungkin akan melampiaskannya pada–"
Kalimat Isera terhenti tatkala melihat Adyan memeluk tubuh rampingnya Itta. Tak hanya memeluk, Adyan juga menghirup dalam-dalam aroma Itta.
"Kenapa bisa?" tanya Isera bingung.
Dia sudah melakukan banyak hal. Memakai lingerienya seksi berwarna hitam, bahkan mengekspos semua bagian tubuhnya, tetapi Adyan tak pernah tergoda.
Tetapi, kenapa dengan Itta berbeda?
Lelaki itu nampak lebih manja, hal yang tak pernah Isera lihat. Padahal dibandingkan dengan penampilan Isera, penampilan Itta tak begitu menarik.
Itta memakai gaun berlengan panjang, sedangkan gaun bagian bawahnya pun melebihi lutut. Bagian dadanya pun tertutup rapat-rapat.
Kenapa bisa Adyan tergoda dengan penampilan setertutup itu?
"Apa yang sudah kau lakukan hingga dia jadi seperti ini?!" Itta bertanya membuat fokus Isera kembali.
"Tidak ada. Aku hanya memberinya obat perangsang."