
Lilin-lilin bersinar memancarkan cahaya yang tak begitu terang. Jendela terbuka, menampilkan indahnya bintang dan bulan yang berpendar.
Iringan musik terdengar merdu memenuhi ruangan tempat ini.
Di ujung meja sana, duduk seorang pria tampan.
Dia menatap intens wanita di depannya. Tangan kekar pria itu menggenggam gelas berisikan wine. Sesekali ia meneguknya.
"Makan dan minum lah. Tenang saja aku tak menaruh racun di dalam sana," ujar Adyan memecahkan keheningan di antara keduanya.
"Aku tahu."
"Oh, kamu tahu?"
"Iya. Untuk apa kau menaruh racun? Kalau kamu ingin membunuhku, kau tak perlu repot-repot melakukan sebuah drama."
"Kau wanita yang pintar."
"Tak usah beromong kosong. Apa yang kau inginkan dariku?" Itta bertanya langsung.
Mengobatinya, memberi sebuah gaun cantik dan mengajak makan malam, Itta yakin ada harga yang harus dibayar karena mendapatkan itu.
"Bukankah terlalu cepat memulai percakapan berat ini, Nona?"
"Aku tak suka berbasa-basi."
"Baiklah, jika itu adalah keinginanmu, akan aku kabulkan." Adyan menghentikan ucapannya. Ekspresinya langsung berubah dalam sekejap. Pandangan pria itu menajam. "Katakan padaku orang yang membantumu dan teman seruanganmu untuk kabur dari tempat ini."
"Apa?"
"Kau pikir, aku tidak tahu ada orang yang membantumu? Aku tak bodoh, Nona."
Itta menggelengkan kepala.
"Bukan. Bukan itu yang sebenarnya ingin kau katakan." Ucapan Itta membuat salah satu alis Adyan terangkat.
"Apa maksudmu?"
"Kau ... tertarik padaku, kan?"
Tawa keras menggelegar.
Itta masih diam memandang Adyan yang tak henti-hentinya terbahak atas ucapan yang dilontarkannya.
"Tertarik? Kenapa kau bisa mengatakan itu dengan sangat percaya diri?" ujar Adyan dengan tatapan rendah.
"Menembak hanya menggunakan peluru tidur padahal bisa langsung membunuh pada saat itu juga, menempatkan di ruangan layak meski aku telah memberontak, mengobati luka-lukaku dan mengajakku makan malam bersama. Bukankah itu karena kau tertarik padaku?"
Sebelum mereka makan malam, Itta mengingat orang yang menembaknya kala itu.
Wanita itu sempat melihat meski hanya sedetik sebelum akhirnya kesadaran Itta direnggut.
Salah satu sudut bibir Itta sedikit tertarik.
"Oh! Satu lagi. Ucapanmu yang mengatakan teman-temanku sudah mati, itu bohong, kan? Kenyataannya kau masih belum menyentuh mereka."
Adyan tak dapat menahan senyumnya lagi.
Di matanya saat ini, Itta terlihat sangat menarik.
Wanita itu mampu menganalisis dengan cepat. Di matanya pun tak ada ketakutan meski berhadapan dengan putra tunggal Abercio.
"Kau memang hebat. Kuakui, aku tertarik padamu. Aku berniat menjadikanmu sebagai wanita yang berdiri di sisiku, kau setuju?"
"Aku menolak."
"Jangan terlalu cepat menolak. Kau harus ingat, nyawa teman seruanganmu ada di tanganku."
"Aku akan tetap menolak."
"Pikirkan saja dulu. Kalau kau tetap menolak, maka salah satu temanmu akan mati. Setiap kali kamu menolak, satu orang akan mati di depanmu."
Adyan tak main-main. Itta dapat mengetahuinya saat menatap mata seindah malam, namun juga setajam pedang.
Tangan Adyan bertepuk satu kali, membuat salah satu bawahannya datang.
"Bawa dia pergi dan kunci pintu ruangannya. Tak ada yang boleh masuk kecuali sudah mendapat izin dariku!" lanjut Adyan memerintah.
Bawahannya itu mengangguk patuh.
...----------------...
Seseorang datang membawa nampan makanan. Dia meletakkannya di atas nakas, kemudian pergi setelah mengunci lagi ruangan yang di tempati Itta.
Bola mata Itta mengamati isi makanan yang disediakan.
Makanan itu terlihat layak, bukan makanan basi yang biasa diterima.
Ada juga apel yang sudah dipotong dan anggur di samping makanannya. Tak lupa segelas juice berwarna hijau di dekatnya.
Itta tak makan atau minum sedikitpun saat makan malam tadi, mungkin itu alasan Adyan mengirimkannya makanan.
Jujur saja ia lapar, namun tak memiliki selera makan yang bagus saat ini.
Pintu tiba-tiba terbuka lagi, menampilkan seorang pria berwujud tampan.
"Azri?"
Itta mengenalnya.
Pria itu hampir saja dibunuh, tetapi Itta terpaksa mengurungkan niatnya saat mendengar tawaran yang dibawakan Azri.
Azri merupakan orang yang diam-diam membantu rencana Itta.
Menutup pintu perlahan, setelahnya Azri berjalan mendekat.
"Bagaimana caramu masuk ke sini? Apakah para penjaga di depan pintu sana mengizinkannya?" tanya Itta heran.
Pasalnya, ruangan Itta dijaga ketat. Seseorang baru saja datang ke ruangan ini, rasanya tidak mungkin jika para penjaga mengizinkan orang lain masuk lagi.
"Aku punya caraku sendiri," ucap Azri, tak ingin memberi penjelasan lebih lanjut. "Aku ke sini karena ingin melihat keadaanmu."
"Aku baik-baik saja."
"Baguslah. Tetapi, kenapa bisa tertangkap? Aku sudah berusaha mengalihkan dan mengacak-acak keadaan."
"Entahlah." Itta mengangkat bahunya. "Tak semua rencana dapat berjalan mulus. Akan terasa aneh jika rencana berjalan terlalu lancar."
"Aku sudah memprediksi jika terjadi masalah, tetapi ini tak seharusnya terjadi. Setidaknya kau seorang bisa pergi dari tempat ini."
Kalimatnya terasa aneh.
Ucapan Azri seolah lebih memprioritaskan Itta.
Hal ini memancingnya untuk bertanya sesuatu.
"Kenapa kau mau membantuku?" tanya Itta.
"Apa aku harus menjawabnya?"
"Tentu."
"Ada seseorang yang memintaku melakukan ini."
"Siapa?"
"Kau tak perlu tahu."
"Kau seorang polisi? Atau mata-mata?"
"Tidak keduanya."
"Lalu, siapa kau?"
"Sudah kubilang kau tak perlu tahu."
"Aku ingin tau!"
Azri membuang napas kasar. "Aku tak punya banyak waktu. Aku akan pergi sekarang juga."
"Tunggu!" Jemari lentik Itta meraih tangan besar Azri. Menahannya untuk tidak pergi. "Beritahu aku identitasmu."
"Aku pasti akan menyelamatkanmu, tetapi aku tak punya kewajiban memberitahu identitasku."
Usai mengatakannya, Azri melangkah pergi meninggalkan Itta di ruangan ini dengan benak yang bertanya-tanya.
...----------------...
Layar besar yang menampilkan interaksi dua orang berbeda jenis kelamin itu terus menjadi fokus Adyan.
Tak banyak yang mengetahui CCTV tersembunyi di tempat ini.
Bahkan, Eric pun tak tahu.
Hanya Adyan dan beberapa orang terpercaya yang mengetahuinya. Itulah sebabnya ia dengan mudah menemukan Itta.
Meski hanya baru dua kali dia datang ke tempat ini, Adyan mengetahui banyak rahasia di sini.
Jemari tangan Adyan mengepal tanpa sadar, hingga memutih. Matanya tajam seperti menahan sesuatu yang hampir meledak.
"Pria itu ... aku jadi ingin membunuhnya."
Begitulah kalimat Adyan saat melihat Itta dan Azri mengobrol di layar CCTV.
Meski tak mengetahui pembicaraan mereka, Adyan tetap merasa tak suka.
Namun, dia tahu pasti kenyataan bahwa pria itu yang telah membantu Itta membuat rencana melarikan diri.
Rencana mereka cukup matang, namun tetap memiliki celah.
"Bawa pria itu ke dalam ruangan merah secepatnya. Aku akan menemuinya sebentar lagi," perintah Adyan pada salah satu bawahannya.
"Baik, Tuan." Bawahannya mengangguk sesaat, lalu pamit pergi.
"Laquitta Grizelle. Akan kupastikan kau hanya menjadi milikku," gumam Adyan sembari terus menatap sang wanita dari layar.