
Itta berjalan menuju ruangan yang ditempati Oldia.
Rencana pertamanya telah berhasil, yakni membuat hidup 'orang itu' ada di tangannya. Sekarang ia memiliki hak untuk memperlakukan orang itu sesuka hati.
Tangan Itta meraih kenop pintu, lalu membukanya. Matanya langsung tertuju pada Oldia yang tengah meringkuk di sofa sembari menatap kosong langit malam.
"Apa kabar, Oldia?"
Bagai angin lalu, pertanyaannya tak dianggap.
"Kau baik-baik saja, kan?"
Sekali lagi tak ada balasan dari sang lawan.
"Fisikmu terlihat cukup baik."
Oldia tetap diam membisu. Tubuhnya jelas ada di depan Itta, namun Itta merasa jiwa Oldia tak ada di tempat.
"Kudengar, hidupmu semakin menderita karena 'orang itu'."
Tetap tak ada reaksi sedikit pun. Namun, Itta tahu kalimat yang akan diucapkan di detik berikutnya akan memberi dampak pada Oldia sekecil apa pun.
"Tiap hari kau selalu diperk*sa oleh pria itu. Kau harus mati-matian menahan jijik dan amarahmu."
Benar saja, ekspresi Oldia langsung berubah meski samar.
"Terakhir kali aku melihatmu, meski kau putus asa, setidaknya kau tidak kehilangan jiwamu."
Itta terus memprovokasi.
Wanita itu semakin mendekatkan wajah mereka.
Itta berbisik tepat di telinga Oldia, "Eric sangat keterlaluan."
Dan, boom!
Meledak!
Layaknya bom yang sudah kehabisan waktunya, Oldia tak ada bedanya dengan benda itu.
Nama 'Eric' menjadi pemicu meledaknya.
Dalam sekejap, mata yang semula dipenuhi kekosongan menjadi kacau.
Oldia tak dapat mengontrol tindakannya.
Dia berteriak, menangis, dan menjambak. Seluruh tubuhnya bergetar, kondisinya sangat mengenaskan.
"AARRGGHHH!!"
Wanita itu memukul-mukul dadanya, mungkin berusaha menghilangkan rasa sakit yang ada di sana.
Ruangan yang kedap suara membuat tak satu orang pun menyadarinya, kecuali Itta.
Namun, Itta hanya diam melihat tanpa melakukan atau mengucapkan apa-apa.
Rasa sakit yang diderita Oldia mengingatkannya pada diri sendiri. Dulu Itta pun bereaksi sama tatkala Isni menamparnya pada kenyataan.
"Aku mengerti kebencianmu."
Itta berjongkok di hadapan Oldia. Tangannya terulur memeluk wanita ringkih itu. Air mata ikut mengalir turun, entah hanya kepura-puraan atau berasal dari hati terdalam. Yang jelas benda cair itu menetes.
"Aku mengerti. Aku sangat mengerti."
Di dalam pelukan Itta, Oldia memberontak sekuat tenaga. Ia meraung-raung.
Itta mengusap kepala Oldia. "Tenanglah. Aku tahu perasaanmu sangat sakit, tapi tolong tenang dulu."
Dengan suara dan sikap penuh kelembutan itu, perlahan-lahan Oldia menjadi tenang.
"Kau pasti sangat membencinya, tetapi kalau hanya membenci, tidak akan membuatmu puas, bukan?"
Oldia tak mengangguk, tetapi juga tak menolak.
Hal itu semakin membuat Itta ingin memprovokasi lebih lanjut.
"Bagaimana jika aku membantumu membalas dendam?"
"Balas ... dendam?"
"Iya. Sekarang aku punya kekuasaan. Aku sudah meminta hidup dan matinya Eric. Jika kau mau, aku akan membantumu membalas dendam."
Beberapa saat telah terlewat, namun Oldia tetap diam tak menjawab.
Mata wanita itu mengarah ke depan, masih dengan sisa air mata yang menetes.
"Balas ... dendam?" Oldia bertanya ragu.
"Iya. Kau bisa membalas seluruh penderitaan yang kau rasakan dari Eric. Balas dan buat dia menyesal!"
"Aku? Balas ... dendam?" Oldia menggeleng keras. "Aku tak mau! Aku tak mau!"
Oldia menutup telinganya rapat-rapat. Seluruh memori saat dia disiksa dan diperk*sa oleh Eric terlintas. Ia tak mau lagi semakin menderita jika menentang lelaki itu.
Oldia takut.
"Tak apa. Aku tak memaksamu," tutur Itta.
Itta melepaskan pelukannya. Ia menatap Oldia menggunakan sorot hangatnya.
"Aku mengerti ketakutanmu. Namun, katakanlah padaku jika nanti kau berubah pikiran. Bagaimana pun, kau pasti tak ingin dia hidup bahagia setelah membuatmu merasakan neraka, kan?"
Itta membuat senyum tulus. Tangannya mengusap air mata Oldia pelan.
"Malam semakin larut, aku harus pergi sebelum Adyan mencariku. Ingat, aku ada untukmu. Jangan ragu meminta bantuanku."
Usai mengucapkan itu, Itta berbalik meninggalkan ruangan Oldia.
"Ada apa, Riana?"
Riana berjengit kaget di balik pilar besar tempat persembunyiannya. Wanita itu menggaruk rambutnya yang tak gatal.
"Hai, Itta," sapanya canggung.
"Kau pasti memiliki banyak pertanyaan di otakmu."
"A-apa maksudmu?"
"Tidak usah berbohong."
Riana menggigit bibirnya. Ia menunduk. "Maaf, kau pasti marah karena aku berusaha mencuri dengar."
Itta menghela napas panjang.
Percuma saja Riana berusaha mencuri dengar. Semua kamar di tempat ini kedap suara, maka Riana tak dapat mendengar apa pun.
Namun, entah mengapa Itta mengerti. Riana adalah orang yang paling dekat dengan Itta. Dia pasti kecewa karena Itta tak menceritakan apa pun padanya.
"Tidak apa-apa. Aku akan memberitahu semua yang ingin kau tahu malam ini," ucap Itta.
Riana langsung mendongak menatap Itta dengan binar senang.
"Benarkah?"
"Iya. Mari kita pergi ke kamarmu, aku akan menceritakan semuanya padamu di sana."
...----------------...
Adyan melirik jam yang terletak di atas nakas.
Waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam, namun Itta tak kunjung datang ke kamar.
Dia berdecak kesal. Auranya begitu gelap sebab kemarahan yang datang tanpa diundang.
Lelaki itu memutuskan berdiri dan mencari keberadaan Itta. Pikirannya menebak-nebak ke mana perginya wanitanya.
Jika wanitanya berani kabur, maka Adyan tak akan segan membunuh rekan seruangan Itta. Akan tetapi, itu tidak mungkin. Itta sangat menyadari konsekuensi yang akan diterima jika berani lari.
Alhasil, satu kesimpulan yang didapat. Itta pasti pergi menemui temannya.
Langkah Adyan menuju tempat kamar Riana berada.
Benar saja, wanitanya ada di sana.
Adyan dapat melihatnya dari pintu kamar yang terbuka. Di sana Itta sedang berbincang dengan Riana. Sesekali wanita memamerkan senyum manisnya.
Hal itu membuat Adyan jadi keki.
Adyan berjalan mendekat, kemudian menarik tangan Itta, memaksa wanita itu mengikuti langkah lebarnya.
"Adyan, aku sedang berbicara dengan Riana!" protes Itta.
"Kau pikir aku peduli?"
"Biarkan aku berbicara dengannya sebentar lagi."
Kesal dengan Itta, Adyan menghempaskan tangannya kasar. Sorot lelaki itu menusuk dingin dan tajam.
Itta meneguk ludahnya melihat kekesalan yang tercetak jelas di mata lelaki itu.
"A-ada apa? Kenapa kau terlihat sangat marah?" Itta bertanya sembari memundurkan wajahnya takut-takut.
"Kenapa kau tersenyum padanya?"
"Hah?"
Bukannya menjawab pertanyaan Itta, sebaliknya Adyan bertanya hal yang tidak dimengerti.
Itta mengerjapkan matanya bingung.
"Kenapa kau tersenyum padanya tadi?" ulang Adyan.
"Tadi? Apa maksudmu saat aku bersama dengan Riana?"
Adyan tak menjawab. Itu artinya dugaan Itta memang benar.
Dalam hati Itta menggeleng tak percaya. Itta hanya tersenyum sedikit, tetapi lelaki itu tak menyukainya.
"Segitu bencinya kau melihatku bahagia? Aku hanya tersenyum sedikit, tetapi kau begitu marah padaku."
"Kau tidak boleh tersenyum!"
"Baiklah, sesuai permintaanmu. Aku tidak akan tersenyum lagi!" ucap Itta kesal.
Dia berbalik hendak pergi, namun tertahan saat Adyan kembali membalikkan tubuhnya agar menghadap lelaki itu.
"Apa lagi yang kau mau?!" tanya Itta muak.
"Kau boleh tersenyum."
"Apa?! Kau ini plin-plan, ya? Tadi kau bilang benci saat aku tersenyum."
"Hanya padaku."
Itta terdiam.
Otaknya menjadi lambat dalam memproses informasi dari kalimat Adyan.
Seolah mengerti kebingungan Itta, Adyan menjelaskannya.
Penjelasan yang membuat jantung Itta berdegup aneh.
"Kau boleh tersenyum, tetapi hanya padaku. Aku tak mengizinkanmu tersenyum untuk orang lain, meski orang itu adalah temanmu. Kau milikku, begitu juga dengan senyummu."