
Hampir setengah jam mata Itta mengarah ke jendela, menatap langit-langit yang memunculkan bulan nan bintang.
Gaunnya sudah berganti menjadi gaun tidur berwarna kuning pudar, sementara luka di perut telah diperban entah oleh siapa.
Itta baru mengetahuinya tatkala terbangun dari pingsannya.
Wanita itu masih di tempat yang sama seperti terakhir kali. Bedanya tidak ada Eric di ruangan ini.
Pintu ruangan tiba-tiba saja terbuka.
Itta tak berniat membalikkan badan atau sekedar melirik orang yang masuk.
Gorden birunya ditutup, namun Itta tetap menatap benda itu meski tak lagi menampilkan keindahan malam.
"Hey ...." Itta memanggil pelan.
Lelaki itu menghentikan aktivitasnya sejenak, kemudian menatap Itta dengan satu alis terangkat.
"Apakah ini mimpi?"
" .... "
Hening. Tak ada jawaban. Tak ada suara.
Pertanyaan Itta bagai angin lalu yang sifatnya tak penting.
Lagipula Itta tak begitu membutuhkannya. Karena pada dasarnya, Itta mengetahui jawaban atas pertanyaannya sendiri.
Tubuh Itta meringkuk di atas ranjang. Ia bergetar.
"Melakukan uji coba bunuh diri di depan Tuan Eric bukanlah ide yang bagus. Kau pikir dia akan membiarkanmu mati begitu saja?"
Pria itu menatap remeh.
"Kau terlalu naif," lanjutnya. Semakin menghina Itta. "Lebih baik menurut saja padanya, maka kau akan selamat. Lagipula 'mahkotamu' tidak terlalu berharga."
"Siapa?" tanya Itta lirih, hampir tak terdengar.
"Apanya?"
"Siapa namamu?"
Meski bingung, pria itu tetap menjawabnya, "Azri. Namaku Azri."
Sedetik setelah Azri mengutarakan namanya, Itta bergerak melesat mengarahkan pistol ke kepala Azri.
Sontak, pria itu mengangkat kedua tangannya. Dia melirik saku celananya, lalu kemudian menatap Itta.
Azri tertegun. Bukan karena pistolnya yang dicuri, melainkan karena sorot dingin Itta beserta air matanya.
"Dengar Azri!" Itta menatap tepat di manik matanya. "Kau tak ber-hak menilai harga seorang wanita."
Azri diam mendengarkan.
"Lebih baik kau tidur selamanya daripada mengucapkan kalimat menjijikan."
Nada Itta sangat tenang, begitupula tangannya yang hendak menarik pelatuk.
"MA ... TI!"
...----------------...
Ada yang berbeda saat Itta kembali menginjakkan kaki di ruangan tempat rekan-rekannya berada.
Namun, apa yang membuatnya terasa berbeda?
"Itta ...," panggil Riana dari jauh.
Mata indah namun terasa tajam milik Itta menoleh, menatap Riana.
Tidak ada lagi mata sayu seperti terakhir kali mereka melihat Itta.
Menyadarinya, lantas Riana menggelengkan kepala, menelan kalimat yang akan diucapkannya mentah-mentah.
Itta berjalan menghampiri Isni yang tengah duduk di pojok ruangan. Wanita itu menekuk salah satu kakinya. Tangannya terulur ke depan, membuat Isni menaikkan alisnya tak paham.
"Kau ingin membebaskan Elia, bukan?" tanya Itta. Sudut bibirnya sedikit terangkat melihat perubahan ekspresi Isni. "Biar kubantu."
"Kau ingin membantu?"
"Ya. Aku akan membantu dan memastikan kalian semua keluar dari tempat ini."
"Jangan bercanda!" ujar Isni sinis. "Kau tidak berkontribusi apa pun dalam rencana kemarin. Jadi jangan mengada-ada."
"Tidak. Kali ini aku punya rencana yang lebih baik."
Bersamaan dengan kalimat terakhir Itta, munculah suara ledakan yang cukup keras dari arah timur. Beberapa detik selanjutnya bunyi alarm terdengar kencang, lalu para pria berjas hitam mulai berlarian di depan ruangan.
"Sudah dimulai," ucap Itta tenang.
Suara ledakan yang kedua kembali terdengar. Kali ini dari arah selatan.
Orang-orang semakin panik. Begitupula wanita-wanita yang berada di dalam ruangan.
"Itu apa? Bom?" tanya Killa.
"Kurasa begitu." Oldia menjawabnya.
"Kenapa bisa ada bom yang meledak?" Isni berdiri, menarik tangan Itta kencang dan menatapnya tajam. "Apa rencanamu?!"
Smirk kecil muncul di bibir Itta, Isni menyadarinya.
Di tengah alarm yang berbunyi keras dan pria-pria berjas yang berlalu lalang, datanglah seorang pria.
Kunci kecil terlempar ke dalam penjara, melewati sela-sela jeruji.
Mungkin, para penjaga ruangan dan mereka yang berlalu lalang tak menyadarinya, namun para wanita di ruangan itu sangat sadar.
Pria itu ... sengaja melemparnya.
Mendengar kata 'perintah Tuan Eric', membuat kedua penjaga lantas bergegas pergi tanpa curiga sedikitpun.
Pria itu sempat mengangguk ke arah Itta.
Setelahnya, Itta menuntun rekan-rekannya keluar.
Meski tak sepenuhnya mengerti, wanita-wanita itu tetap menuruti perkataan Itta.
Mereka mengendap-endap dipimpin oleh Itta. Jujur saja, mereka tak bisa percaya sepenuhnya pada wanita itu.
Wanita yang selama ini diam, kini tiba-tiba saja menjadi sangat aktif?
Terasa mencurigakan.
"Kalian pergi duluan menuju tempat Elia dikurung. Aku akan menyusul nanti," ucap Itta.
Sebelumnya Itta sempat memberi penjelasan mengenai tempat Elia dan jalan keluar dari tempat ini.
"Tunggu!" Oldia tiba-tiba saja berucap. "Dari mana kau tahu semua itu?"
Rasanya aneh.
Oldia yang merupakan seorang hacker kelas atas saja tidak mampu menemukan jalan keluar tempat ini, apalagi Itta?
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan."
"Aku tak bisa percaya sepenuhnya padamu."
"Kau tak punya pilihan lain." Tiba-tiba saja suara langkah kaki terdengar dari kejauhan. Itta segera menyuruh mereka pergi. "Cepat pergilah! Kalau tidak, kalian akan ketahuan!"
"Lalu, bagaimana dengan dirimu?" Riana membuka mulutnya ragu-ragu.
"Aku memiliki beberapa urusan. Kalian pergi saja dulu, aku akan menyusul nanti."
"Tapi—"
"Tidak ada waktu!"
Akhirnya, mau tak mau mereka pergi meninggalkan Itta dengan berat hati.
Setelah kepergian mereka, Itta segera bersiap. Ia mengeluarkan beberapa peralatan yang sudah disiapkan.
Pistol dan pisau kecil yang tajam.
Tujuannya adalah melawan para pria berjas itu sendirian. Menghadang mereka agar tak menemukan rekan-rekannya dengan menggunakan dirinya sebagai umpan.
Terlihat seperti seorang wanita baik hati yang rela mengorbankan dirinya demi orang lain.
Namun, kenyataannya tak demikian.
Itta melakukan ini untuk dirinya sendiri.
Tatkala para pria berjas itu menemukan Itta. Wanita cantik itu tanpa basa-basi langsung menyerang dengan brutal, menggunakan kedua senjata sekaligus.
Otak Itta memutarkan memori kematian dan tubuh mengenaskan keluarganya.
Setiap goresan yang berhasil mengenai kulit sang lawan, setiap tembakan yang mengenai jantung, bebannya seolah terangkat sedikit demi sedikit.
Ia tak peduli sekalipun ini adalah pertama kalinya ia membunuh manusia.
Rasa sakit yang teramat jelas membuatnya memutuskan tali belas kasihan.
Napasnya kian terasa berat, tetapi Itta tak akan berhenti.
Kalaupun kematian yang akan dihadapi nanti, Itta sudah siap.
Ia akan pmenerima semua resiko tindakannya saat ini. Yang terpenting adalah melampiaskan emosi dan perasaan sakitnya dengan membunuh orang-orang ini.
Toh, bukankah orang-orang ini bersalah karena melakukan tindakan ilegal, seperti menculik, menjual dan menjadikan seorang wanita sebagai pemuas nafsu?
Maka, Itta takkan meragu.
Tubuh Itta semakin melemah. Banyak keringat dan darah mengucur akibat kelelahan dan cara bertarungnya yang salah.
Hebatnya, Itta masih bertahan melawan mereka selama beberapa menit.
Sayangnya sebuah peluru melesat tanpa suara, kemudian menembus lengannya.
Sakit. Tetapi, tak menimbulkan darah.
Sepertinya Itta mengetahui jenis peluru ini.
"Peluru tidur!"
...----------------...
Pandangan wanita itu tak begitu jelas. Masih memburam layaknya terdapat efek blur di dalam dalam bola mata.
Ia mengerjapkan mata berulangkali, memfokuskan diri pada sekitar.
Tubuhnya masih sakit. Bahkan, ia dapat merasakan darahnya masih mengucur.
Pandangannya mulai berangsur membaik.
Ia menggerakkan tangannya, namun sulit karena rantai yang mengunci pergerakannya. Begitupula kakinya.
Sekarang wanita itu mengetahui dengan pasti situasinya saat ini.
Itta berada di ruangan asing dengan tangan dan kaki diikat rantai dan digantung di tiang-tiang besar.
Dan juga ... seorang pria yang tengah duduk di depannya.
Menatap dalam sembari mengeluarkan senyum yang sulit diartikan.
"Halo, Nona. Kita bertemu kembali."