
Pada akhirnya Itta mengiyakan ajakan Ezi. Lagipula dia sudah kehilangan jejak Azri, mungkin dia bisa melapor dulu tentang keberadaannya kepada Adyan.
Selain itu ....
Itta melirik Ezi yang berdiri di sampingnya. Lelaki itu sedang memandang lautan di depan sana.
Tidak sembarang orang bisa masuk ke pesta ini. Jika Ezi di sini sebagai perwakilan keluarganya, maka Itta yakin Ezi memiliki posisi yang cukup tinggi, baik di kalangan masyarakat maupun di keluarganya.
Mungkin Ezi bisa membantunya mencari tahu kematian keluarganya dan membalas dendam?
Tidak.
Terlalu beresiko meminta bantuan orang lain.
Itta tak tahu siapa dalangnya, akan lebih baik kalau tidak ada yang mengetahui niatnya. Namun, mungkin saja lelaki yang tengah ia perhatikan ini bisa membantunya tanpa perlu Itta beritahu niat aslinya.
Itu salah satu alasan keberadaan Itta di sini.
"Kenapa kau melihatku terus? Apa ada yang salah dengan penampilanku?"
Tiba-tiba saja Ezi bertanya, sontak Itta langsung tersadar.
"Tidak, tidak ada yang salah denganmu. Ini karena aku yang kurang fokus saja."
Ada kekehan kecil dari bibir Ezi.
"Apakah wajahku membuatmu begitu terpana hingga kau tidak bisa memfokuskan diri?" tanyanya dengan nada bercanda.
"Ya, mau bagaimana lagi? Wajahmu memang menarik."
Itta mengangkat bahunya ringan.
Ia tak tahu, perkataannya bisa membuat orang lain salah paham.
Ezi mengangkat segelas wine yang sempat diminta dari salah satu pelayan. Meneguknya sedikit demi sedikit.
"Aku tak menyangka pertemuan kedua kita ada di tempat ini. Terlebih lagi saat aku mengetahui kau adalah pasangannya Tuan Abercio."
"Aku juga tidak menyangka."
"Kira-kira sudah berapa lama sejak pertemuan pertama kita?"
"Aku tak mengingatnya."
Lebih tepatnya, Itta tak mau mengingat.
Di hari pertama pertemuan mereka, di hari itu juga merupakan hari mengerikan di mana Itta melihat keluarganya tergeletak digenangi darah.
"Hari itu, aku tidak akan melupakannya." Ezi tersenyum manis.
Berbeda dengan Ezi, Itta ingin sekali menghapus ingatan tentang hari itu.
Atau kalau bisa hapus saja semua kenangan bersama keluarganya. Dengan begitu, Itta tak perlu merasakan sakit dan kehilangan yang teramat.
"Oh ya, di mana pasanganmu? Apa kau tidak ingin memperkenalkannya padaku?" tanya Itta, sengaja mengalihkan pembicaraan.
̤
̤"Aku tidak memiliki pasangannya."
"Apa?"
̤
Wajah terkejut Itta membuat Ezi terkekeh ringan. "Tidak usah terkejut. Aku memang tidak pernah membawa pasangan di semua pesta yang pernah aku kunjungi."
̤
"Tidak mungkin. Aku yakin kau bisa mendapatkan wanita mana pun yang kau inginkan."
̤
̤"Kenapa yakin sekali?"
̤
̤"Dengan wajah sepertimu, memangnya ada yang mau menolak? Itu mustahil."
̤
"Dengan kata lain, kau mengakui ketampananku?"
"Memang."
Ezi terdiam mendengarnya sebelum akhirnya sudut bibir lelaki itu kembali terangkat ke atas.
"Aku tidak bisa sembarangan membawa wanita ke pesta. Tetapi, kalau wanita itu adalah kamu, kurasa tidak masalah membawamu ke pesta selanjutnya."
"Sebuah kehormatan bagiku, Tuan Killian. Tetapi, aku tidak merasa pantas bersanding denganmu."
"Kenapa tidak? Kau saja bisa menjadi pasangan seorang Abercio di pesta ini."
"Ada alasan di balik itu."
"Memangnya apa?"
"Itu urusanku dengannya."
"Baiklah, baiklah. Aku tidak akan memaksa." Ezi mengangkat kedua tangannya ke udara. "Oh ya, aku belum menanyakan kabarmu. Gimana keadaanmu? Aku masih ingat kau pergi dari stasiun dengan wajah cemas dan takut. Saat itu, tidak ada masalah yang terjadi, kan?"
̊
̊Sejak tadi Itta menahan diri. Berpura-pura tidak terganggu pada pembicaraan Ezi yang beberapa kali mengarah ke pertemuan pertama mereka di hari itu.
̊
̊Namun, lain hal nya jika Ezi menanyakan keadaannya setelah pergi dari stasiun kereta.
̊
̊Tubuh Itta menjadi berat. Hampir saja ia kehilangan keseimbangan.
Napasnya jadi tercekat.
̊
̊Itta membuka mulut, berusaha memasukkan oksigen sebanyak-banyaknya.
̊
̊"Apa yang terjadi?! Tunggu! Aku akan panggil pelayan sekarang!" ucap Ezi panik.
"Tidak perlu, aku baik-baik saja."
̊
̊"Jangan berbohong, Elle!"
̊
̊"Sungguh, aku tak berbohong."
̊"Kau tidak bisa membohongiku!"
"Tuan Ezi Killian!"
Sentakan dari Itta membuat mulut lelaki itu terbungkam dalam sedetik.
Itta menenangkan diri dengan cara mengatur napas. Ia menarik udara, lalu menghembuskannya. Terus melakukan hal yang sama sampai dia merasa lebih baik.
"Maaf Tuan Killian, aku harus pergi sekarang."
"Apa kau sungguh baik—"
Tanpa mendengar kalimat Ezi lebih lanjut, Itta langsung pergi meninggalkannya sendirian.
...----------------...
Itta memasuki kamar yang sudah disiapkan untuknya. Ia mengangkat gelas berisi air putih, lalu menegaknya hingga tandas.
Itta mendudukkan tubuhnya di atas ranjang.
Kamar ini belum sempat digunakan, sebab kejadian semalam.
Tiba-tiba saja Itta teringat Adyan. Lelaki itu pasti marah karena Itta tak menuruti perintahnya. Apalagi jika Adyan sampai mengetahui alasan Itta tak datang kepadanya karena sibuk berbincang dengan lelaki lain.
"Tidak masalah, aku akan meminta maaf padanya nanti," monolognya.
Itta merebahkan tubuhnya. Dia menatap langit-langit ruangan yang kemewahannya tak dapat didefinisikan dengan satu atau dua kalimat saja.
Namun, kemewahan yang didapat tak mengurangi perasaan sesak.
Genangan air mengalir dari pelupuk matanya tanpa diminta.
Dada Itta sakit sekali tatkala teringat kenangan terburuk dalam hidupnya. Itta hampir tak dapat menahan perasaan sakit yang meraung-raung.
Mungkin ... mungkin saja perasaan menyiksa ini akan menghilang jika dirinya sudah membalas dendam?
Kelopak mata Itta perlahan menutup. Dia melebarkan bibir, tersenyum penuh luka.
"Ma ... Pa ... Iva ... tunggulah sebentar lagi. Aku pastikan orang yang mengambil kalian dariku akan mati di tanganku dengan sangat mengenaskan!"
Sejujurnya, Itta masih berharap tragedi kematian keluarganya hanyalah mimpi. Tetapi, Itta tak mungkin membohongi dirinya terus-menerus.
Meski tak menerima, itulah kenyatannya. Sampai kapan pun kenyataan itu tidak akan berubah. Dan, Itta harus menerimanya suka ataupun tidak suka.
Suara pintu terbuka terdengar di indera pendengaran Itta. Tanpa harus membuka mata, Itta sudah tahu siapa yang masuk.
Jika Itta diizinkan memasuki ruangan Adyan sesuka hati, begitupula sebaliknya. Bahkan, jika Adyan mau, dia bisa saja mengusir Itta dari kamar yang disiapkan untuk wanita itu.
"Aku menunggumu sangat lama dan kau seenaknya merebahkan diri di sini."
Suara langkah kaki Adyan mendekatinya.
Perlahan Itta membuka matanya. Ia mendudukkan tubuhnya di atas ranjang. Bersamaan dengan itu, Adyan pun ikut duduk di sampingnya.
Tangan Adyan terangkat memainkan helai rambut Itta, kemudian mencium harum yang menguar dari sana.
"Menurutmu, apa yang akan kulakukan terhadapmu karena kau tak menuruti perintahku?" tanya Adyan disertai aura yang menekan.
Wajah Itta menunduk. Rambut panjangnya menutupi hampir semua wajahnya.
Adyan memegang dagu Itta lalu memaksanya menatap mata Adyan. Namun, Itta segera mengalihkan wajah ke samping.
"Kau ... habis menangis?"