I HATE (Love) U

I HATE (Love) U
Pantaskah?



Baru pertama kalinya Itta merasa begitu malu. Kemarin malam, ia kira tidak akan bisa tidur jika Adyan memeluknya seperti itu, nyatanya tak demikian.


Sebaliknya, wanita itu tertidur pulas hingga hari mulai menjelang siang. Anehnya lagi tak ada mimpi buruk yang menghantui.


Setelah dipikir kemarin-kemarin pun sama. Tatkala Itta tidur di dalam pelukan lelaki itu, ia tidur pulas tanpa mimpi buruk.


Wajah Itta semakin memerah malu mengingatnya.


"Bisa-bisanya aku tidur nyenyak di pelukan lelaki yang baru kutemui," monolognya.


Untung saja saat ia membuka mata, tidak ada sosok Adyan di kamar ini.


"Permisi."


Seseorang mengetuk pintu sebanyak 3 kali, orang itu membuka pintu dan menampilkan sosok Olivia.


"Nona diminta segera ke ruang makan. Di sana sudah ada Tuan Muda Abercio menunggu."


"Baiklah, tunggu sebentar, aku ingin mengeringkan rambutku terlebih dahulu."


"Biar saya bantu, Nona."


Itta mengangguk setuju.


Olivia mengambil hairdryer, lalu mulai mengeringkan rambut Itta.


Dilihat lewat cermin, Itta menyadari pesona yang dimiliki Olivia. Wanita itu sangat cantik, mungkin umurnya tak jauh beda dengan Itta.


"Aku hanyalah seorang tahanan yang beruntung karena berhasil membuat Adyan tertarik. Kenapa kau sangat menghormatiku?" tanya Itta.


"Tuanku adalah Tuan Muda Adyan Abercio. Jika menurut Tuan Muda, Nona adalah pasangannya, maka saya harus menghormati Nona terlepas dari status Nona sebelumnya."


Bijak sekali pemikirannya. Mungkin hanya Olivia saja yang berpikir seperti itu.


Semenjak pertama kali Itta datang ke tempat ini, semua pelayan memang menyambutnya dengan baik, tetapi Itta sadar banyak dari mereka yang diam-diam membenci.


Posisi yang sekian lama kosong kini terganti oleh wanita yang asal-usulnya tak begitu jelas. Tentu saja banyak yang iri hati.


"Sudah selesai Nona, sekarang saatnya pergi ke ruang makan."


Olivia berucap tatkala usai mengeringkan serta merapihkan rambut Itta. Tak lupa pula dengan riasan di wajah Itta, semakin membuat wanita itu terlihat cantik.


"Terima kasih."


Itta meneliti tampilannya sejenak. Riasan yang dibuat Olivia sederhana, namun tampak menawan dan cantik.


...----------------...


Undakan tangga di turunin satu per satu hingga akhirnya Itta berada di ruang makan. Wanita itu langsung duduk.


"Makanlah. Setelah itu, kau ikut aku ke suatu tempat," ujar Adyan sebelum mereka makan.


"Ke mana?"


"Kau akan tahu nanti."


Setelahnya tidak ada lagi percakapan. Mereka sibuk makan.


Beberapa menit berlalu, mereka pun menyudahi acara makannya.


Adyan bangkit kemudian pergi diikuti Itta di belakangnya. Mereka melangkah menuju ke lantai bawah tanah.


Mereka hanya berdua, berjalan melewati lorong-lorong panjang.


Sebuah pintu berukuran besar dibuka. Hal pertama yang Itta lihat adalah dua orang pria berjas hitam membungkuk hormat.


"Selamat pagi, Tuan Adyan Abercio dan Nona Laquitta Grizelle," ucap keduanya secara bersamaan.


Adyan mengabaikannya. Lelaki itu terus berjalan maju. Ada banyak sel-sel penjara di tempat ini, Itta memperhatikan semuanya.


Lelaki itu berhenti secara tiba-tiba, membuat Itta di belakangnya juga ikut berhenti.


"Kau lihat itu."


Tangan Adyan menunjuk salah satu penjara yang ditempati seorang lelaki penuh darah di tubuh dan bajunya.


Lelaki itu terduduk di lantai berceceran darah dengan tangan dan kaki diikat rantai. Sementara itu, ada lelaki lain yang tengah memegang pisau berukuran sedang di tangan.


Lelaki itu mencengkram erat dagu lelaki yang tengah terduduk. Senyum miring tercetak jelas sementara matanya menatap tajam.


"Kau tahu? Jarimu ini menganggu, jadi kupotong saja, ya?" ucapnya meminta izin dengan nada sopan, berbeda sekali dengan kalimatnya yang sadis.


Lalu, terdengar jeritan keras saat jari orang itu terlepas dari tempatnya. Darah mengucur mengotori ke-empat jarinya yang lain.


"Dia pengkhianat. Itu hanyalah hukuman yang ringan untuk seorang pengkhianat."


Adyan berbicara di samping Itta. Itta tak membalas, ia hanya diam memandang lelaki yang kini tengah menderita kesakitan.


Melihatnya, membawakannya kembali pada kenangan buruk yang menimpa keluarganya. Mentalnya kacau, namun Itta berusaha terlihat baik-baik saja.


"Ikut aku lagi." Adyan kembali bersuara.


Mereka kembali berjalan. Hampir semua sel penjara yang dilewati terdapat paling sedikit satu orang tahanan. Mereka disiksa dengan kejam.


Itta memandang ngeri pemandangan yang tersaji.


"Mereka yang dihukum di tempat ini adalah pengkhianat dan mata-mata. Biasakan dirimu. Suatu saat nanti akan ada banyak hal seperti ini di hidupmu," ujar Adyan lagi.


Membiasakan diri dengan hal seperti ini?


Itta tak yakin. Melihatnya saja membuatnya merasakan sakit, sebab semua itu mengingatkannya pada kematian keluarganya.


Mereka terus berjalan. Setiap jalan yang ditapaki, suasana ruangan terasa semakin sepi.


"Kita mau ke mana?" Itta bertanya di sela-sela perjalanan mereka.


"Kau ikut aku saja."


Mereka berhenti di dekat dua kursi kosong. Adyan menduduki salah satunya. Lelaki itu pun menyuruh Itta untuk duduk.


Adyan memangku tangannya, sementara matanya menatap mata sang wanita.


"Kau sudah melihat semuanya dan kau harus terbiasa. Namun, sebelum itu untuk ada di sisiku, kau perlu membuktikan bahwa kau memang pantas ada di posisi itu."


"Membuktikan?"


"Iya. Caranya mudah sekali."


"Apa itu?"


"Tangkap semua pengkhianat dan mata-mata, itu adalah misimu yang pertama, apa kau bisa?"


"Dengan kata lain, kau ingin aku menangkap Azri juga, Adyan?"


"Adyan? Apa begini caramu memanggilku?"


Itta terdiam sejenak.


Ah, sekarang ia yakin akan satu hal.


"Maaf, aku tidak akan mengulangi kesalahan lagi Tuan Adyan. Tidak, maksudku Tuan Azri Killian."


Keterkejutan nampak di wajah lelaki di depannya ini. Sudut bibir Itta melebar membentuk senyuman.


Lelaki di depannya ini. Dengan wajah milik Adyan Abercio, namun sebenarnya dia adalah Azri Killian.


"Sejak kapan?" tanya lelaki itu.


"Sejak awal."


"Tidak mungkin. Mereka semua tertipu oleh wajah ini, kau yang baru mengenal dia juga pasti tertipu."


"Oh, ya? Kau yakin mereka semua tertipu?"


Bersamaan dengan kalimat Itta, sebuah pistol mengarah tepat pada kepala lelaki itu dari arah belakang.


Itu adalah Olivia.


Tidak heran ia menjadi kepala pelayan wanita di usia semuda ini. Selain berbakat dalam hal rumah, wanita itu juga memiliki insting yang tajam.


"Kau pikir, kau bisa membohongi orang-orang yang dekat dengannya?" tanya Itta, masih dengan senyum meremehkannya.


"Lalu, kenapa kau bisa menyadarinya sementara kau tak begitu lama mengenalnya?"


"Kau terus saja berbicara tentang pengkhianat dan mata-mata seolah memberikan clue padaku. Kau pasti berpikir aku ada di pihakmu, makanya kau memberiku clue-clue itu. Sayangnya, kau salah besar."


Selain itu, Itta ingat sekali percakapannya dengan Adyan kemarin malam.


"Kenapa kau membiarkan Azri ada di tempat ini?"


"Menurutmu kenapa?"


Itta bertanya malam itu, namun Adyan bertanya balik. Kalimat Adyan seolah menyuruh Itta mencari tahu, tetapi apa yang dilakukan Adyan pagi ini justru berbanding terbalik.


Tidak hanya itu, Adyan pernah memintanya untuk memanggil nama Adyan langsung, akan tetapi orang ini malah menyalahkannya.


Jelas saja itu semua menambah keyakinan Itta.


"Seperti yang diharapkan darimu." Azri tersenyum penuh makna. "Namun, aku ingin bertanya satu hal, apa sejak awal kau berniat menjebakku bersama wanita ini?"


"Tidak."


Itta memang tak pernah membicarakan ini dengan Olivia, namun ia sadar Olivia juga curiga pada orang ini.


"Ah, begitu rupanya. Kau memang pantas berada di sisi Adyan."


Tangan lelaki itu terangkat melepas topeng yang semula menempel di wajah. Kemudian, wajah aslinya terungkap tanpa celah.


Anehnya, sesaat setelah lelaki itu mengungkap wajah aslinya, Olivia menurunkan pistol dan membungkuk hormat.


"Selamat pagi, Tuan Arvin."


Kemudian tepukan tangan dari arah belakang terdengar, membuat Itta menoleh. Di sana ada Adyan berjalan mendekat.


"Selamat, Nona, kau telah membuktikan dirimu pantas."