I HATE (Love) U

I HATE (Love) U
Obat



PRANG!!!


Suara benda jatuh terdengar nyaring memekakkan gendang telinga. Benda-benda itu pecah berserakan mengotori lantai.


Isera memejamkan matanya takut diselingi butiran air mata yang tumpah membasahi pipi.


"Maaf, maaf, maaf!"


Berulang kali kata maaf terucap, namun tetap tak meredakan amarah dari calon penerus keluarga Yovander itu.


Yosi mengusap wajahnya kasar. Napasnya memburu tak karuan.


"Kau tahu akibat dari tindakanmu itu?! Kau membuat nama keluarga Yovander menjadi jatuh, Bodoh!" bentak Yosi. Jari telunjuknya menunjuk-nunjuk wajah sang adik penuh emosi. "Tidak bisakah sekali saja kau tidak membuat masalah, hah?!"


"Aku tak punya pilihan lain, Kak." Isera membela dirinya sendiri, masih dengan isak tangisnya. "Kalau aku tak merendahkan diri, maka keluarga kita akan menjadi musuh keluarga Abercio. Kau juga tahu itu, kan?"


Itu memang benar. Menjadi musuh keluarga Abercio adalah masalah besar. Isera hanya berusaha mencegah agar hal itu tak terjadi.


Tangan Yosi terkepal erat.


Dia tahu, Isera pasti berpikir masalah akan selesai kalau dia rela merendahkan dirinya. Akan tetapi, Isera melupakan sesuatu.


"Yang kau lakukan memang benar. Tetapi, bersujud, bukan hanya merendahkan harga dirimu, tetapi juga merendahkan harga diri keluarga Yovander. Setelah ini, mungkin keluarga yang lain akan memandang kita sangat rendah."


Isera menunduk dalam. Dia menyesal sebab telah melupakan hal sepenting itu.


"Maaf." Lagi-lagi kata itu terucap.


"Seandainya saja kau tak menganggu wanitanya Adyan, maka semua ini tidak akan terjadi."


"Dia bukan wanitanya Adyan! Tidak boleh ada yang menjadi wanitanya Adyan selain aku!"


"Diamlah!"


Bentakan Yosi membuat Isera spontan menundukkan pandangan.


"Itu bukan salahku. Wanita jal*ng itu berani menggoda Adyan, jadi aku harus memberinya pelajaran," cicit Isera pelan.


Dia tak berani membuka suara yang lebih keras, namun juga tak tahan membalas ucapan Yosi.


Alhasil, Isera berbicara dengan suara yang amat kecil.


"Memang kau siapanya Adyan?! Kau tidak memiliki hak untuk mengganggu semua wanita yang dekat dengannya!"


Isera tak bisa membalasnya lagi.


Kalimat Yosi terlalu menamparnya pada kenyataan yang selama ini berusaha ia tolak.


"Berhentilah membuat masalah untukku! Setiap kali kau membuat masalah, aku juga yang terkena imbasnya. Semua masalahmu, harus selalu aku yang selesaikan. Kau tahu? Aku muak sekali dengan semua masalah yang kau buat."


Kata 'muak' membuat Isera tak dapat menahan kesesakan dalam dada.


Namun, rasanya wajar saja kalau Yosi muak dengannya. Selama ini yang bisa dilakukan Isera hanya menjadi beban untuk Kakaknya.


Sejak kecil, setiap kali Isera membuat masalah, Yosi adalah orang yang akan menanggungnya.


Apapun masalahnya, Yosi selalu melindungi Isera. Membuat wanita itu tumbuh menjadi wanita manja, egois dan semena-mena.


Isera melupakan perasaan lelah yang dirasakan sang Kakak sebab semua masalah yang ia buat.


"Mungkin, Kakek dan Papa akan marah besar pada kita berdua, terutama padaku. Mungkin juga mereka tak akan mengizinkanmu pergi ke pesta lagi. Kemungkinan paling buruknya adalah posisiku sebagai calon penerus keluarga Yovander akan digantikan dengan orang lain."


Isera langsung mengangkat pandangannya. Sorot terkejut nampak di kedua bola matanya.


Mulut Isera terbuka tak percaya. "Apa? Posisimu digantikan?"


"Iya, itu mungkin saja. Kita berdua hampir menciptakan konflik dengan keluarga Abercio. Meski telah terbebas, tapi reputasi keluarga kita jatuh gara-gara hal ini. Kakek pasti membencinya."


"Tidak mungkin! Itu hanyalah masalah kecil!"


"Masalah kecil?" Yosi benar-benar tidak mengerti pola pikir adiknya ini. "Reputasi keluarga kita jatuh! Ini bukan lagi masalah kecil!"


"Lalu, apa aku seharusnya tidak bersujud?" tanya Isera yang tak mampu langsung dijawab sang Kakak.


Jika situasinya seperti ini memang cukup sulit.


Jika hal itu terjadi, maka kemungkinan besar keluarga Yovander akan hancur di tangan keluarga Abercio.


Melihat Yosi tak menjawab pertanyaannya hingga beberapa menit berlalu, air mata penyesalan semakin banyak.


"Aku minta maaf, Kak. Maaf, aku sungguh minta maaf." Bibir Isera bergetar saat mengucapkan kata maaf lagi dan lagi.


"Kau pikir dengan minta maaf padaku maka semua masalah selesai?" sinis Yosi.


"Apa yang harus kulakukan agar posisimu tak digantikan orang lain?"


"Tidak ada," jawab Yosi tanpa ragu. "Kecuali ada keluarga yang statusnya lebih tinggi dari Yovander mendukung kita."


"Contohnya keluarga Abercio?"


"Ya, tapi kita tidak mungkin bisa mendapatkan dukungannya. Aku hanya bisa diam jika Kakek memutuskan untuk mengganti calon penerus keluarga Yovander."


"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!"


Yosi tersenyum sinis. "Kau pikir bisa mencegahnya? Berhentilah membuat masalah untukku lagi!"


Usai mengatakan hal itu, Yosi pergi meninggalkan Isera sendirian.


Mata Isera sudah memerah sepenuhnya. Penampilannya sudah sangat acak-acakan. Namun, daripada memperdulikan penampilan, Isera lebih memperdulikan perkataan kakaknya tadi.


Wanita itu menggelengkan kepalanya. Kukunya yang panjang dan indah ia gigit-gigit, pertanda kalau perasaannya sedang kacau.


"Aku harus bagaimana? Apa yang harus kulakukan?"


Isera tak mau posisi Kakaknya digantikan, terutama jika penyebabnya adalah Isera sendiri.


Sejak kecil Isera tahu, menjadi kepala keluarga Yovander ialah impian Yosi satu-satunya. Dia begitu fokus meraih mimpi hingga rela mengorbankan masa kecil dan masa remajanya


Hanya Isera lah yang tahu perjuangan panjangnya hingga berada di titik ini. Dan masalah yang dibuat Isera dengan mudahnya mengancam posisi Yosi.


"Tunggu, aku bisa mencegahnya!"


Saat itu pula Isera terpikirkan cara yang sedikit gila.


Tidak, idenya memang gila, tetapi patut dicoba.


"Iya. Itu satu-satunya cara yang tersisa. Dengan melakukan rencana itu, aku bisa mendapatkan sesuatu yang sudah lama kuinginkan dan membuat posisi Kakak tetap bertahan."


...----------------...


Jantung Isera berdebar tak karuan. Ini akan menjadi hal paling berani yang dilakukan seorang Isera Yovander.


Ratusan kali ia memikirkan resiko tindakannya. Memang bisa dibilang sangat besar resikonya, tetapi kalau ini berhasil maka keuntungannya juga tak kalah besarnya.


"Bawa ini ke ruangan Tuan Abercio. Pastikan tidak ada orang yang melihat kau memberikan minuman ini. Dan juga, pastikan aman dari CCTV."


"Baik, Nona."


Pelayan itu membungkuk hormat, lalu pergi menjalankan perintah darinya.


Itu bukan minuman biasa, melainkan segelas wine yang dicampur obat perangsang. Katanya obat itu bekerja cukup cepat. Setelah lima menit seseorang meminumnya, maka efeknya akan mulai muncul.


Benar saja. Obat itu bekerja cepat, bahkan rasanya lebih cepat dari perkiraan.


Isera memasuki ruangan Adyan dengan kegugupan yang melanda.


Ia meneguk ludahnya takut. Keraguan tiba-tiba menghampirinya, tetapi Isera tidak mau berhenti.


Gaun tidur yang melekat di tubuhnya ia lepas, menyisakan lingerie tipis berwarna hitam.


Mata Isera memperhatikan Adyan yang sedang terlentang di atas ranjang. Terlihat sangat kepanasan, dibuktikan dengan banyaknya bulir keringat padahal jelas-jelas AC dalam ruangan berfungsi dengan baik.


"Kau pasti tersiksa," ucap Isera melirik sesuatu yang menegang di sana.


Dia tersenyum kecil. Kakinya mulai merangkak ke atas ranjang. Tubuh Adyan terlihat menggoda, menciptakan nafsu yang semakin merasuki.


"Aku akan membantumu menenangkan adikmu, Adyan. Lalu, setelah ini kau akan menjadi milikku selamanya."