
Rencana sudah dirancang sedemikian rupa, pun sudah disepakati bersama. Kini, tinggal menunggu waktu di mana rencana itu dijalankan.
Semua orang di dalam ruangan ikut andil dalam rencana yang bisa dibilang besar. Namun, orang yang keluar 'ruangan' hari ini mengambil peran paling besar. Dia lah yang akan menjadi kunci berhasil atau tidaknya rencana ini.
Izume, wanita yang mengambil peran yang sangat penting itu. Tanggung jawab yang besar membuat dia ragu mempercayai dirinya sendiri. Akan tetapi, ia tak mempunyai pilihan lain. Wanita yang keluar dari ruangan selalu mengacak dan tak mudah ditebak. Terkadang orang yang sudah pernah keluar pun bisa keluar lagi.
"Dengar! Siapa pun yang keluar hari ini harus siap membunuh seseorang. Rencananya mudah, bunuh orang yang mengantar kita saat menuju ke kamar tempat para tamu berada, lalu ambil kuncinya segera!"
Suara Elia saat membuat rencana menggema di kepalanya. Elia termasuk orang penting dalam membuat rencana ini. Meski awalnya menentang keras, akhirnya ia setuju juga.
"Jangan lupa membersihkan jejak darah setelah membunuhnya. Jangan sampai ada yang melihat pembunuhan itu." Isni menambahkannya.
"Benar, setelah itu kita akan masuk ke rencana kedua," ucap Elia lagi.
Sebagian besar rencana ini didapat dari Isni dan Elia. Mungkin ada beberapa orang yang ikut berpendapat, namun tak banyak yang bisa membantu.
Izume melirik sesaat ke arah pria berjas hitam di samping. Lalu, matanya menjelajah sekitar.
Langkah Izume memelan. Ia meneguk ludah. Tangannya yang terikat mengeluarkan cutter diam-diam.
"Cutter ini tidak begitu berguna. Tapi, bisa digunakan untuk memotong tali. Kudengar mereka mengikat wanita yang keluar dengan tali."
Sesuai yang dikatakan Isni, Izume memotong tali ini diam-diam. Lalu sesuai dugaan, pria berjas itu membalikkan badan tatkala menyadari langkah Izume yang memelan.
Saat itu tiba, dengan cepat cutter di tangan Izume mengincar matanya. Jeritan sesaat menggema, sebelum akhirnya diam saat Izume menusuk jantungnya menggunakan pisau dari saku pria berjas hitam itu.
Ia membekap mulutnya sendiri, tak percaya dengan tindakan tak manusiawi yang baru saja dilakukan. Air mata di pelupuk tak bisa ditahan hingga akhirnya menetes begitu saja.
Izume menampar pipinya pelan berulangkali, berharap kesadaran segera didapatkan. Ia tak boleh membuang waktu di saat teman-temannya yang lain membutuhkannya.
Susah payah Izume menggeret tubuh pria itu menuju ruangan terdekat. Untungnya, di ruangan itu tidak ada orang.
Jas hitam yang dipakai pria itu dilepas, lalu digunakan untuk membersihkan jejak darah di lantai.
Suara langkah kaki terdengar di telinganya. Secepat mungkin Izume menyembunyikan diri di ruangan yang digunakan untuk menyembunyikan mayat pria tadi.
Ia membekap mulut, berharap tak ada sedikit pun suara yang keluar darinya. Sementara itu, jantungnya memompa kencang tak karuan.
"Tunggu sebentar!"
Seseorang bersuara di balik tembok yang di tempati Izume. Sontak, wanita itu menegang.
"Ada apa?" sahut yang lainnya.
"Kau mencium bau amis darah tidak?"
Wanita itu semakin menegang. Ia menggenggam erat cutter yang dibawanya.
"Tidak. Sepertinya penciumanmu bermasalah," balas temannya.
"Kau yang bermasalah!"
"Sudahlah, kita harus cepat membawa wanita dari ruangan 154 sebelum Tuan Eric marah."
Kemudian, mereka kembali melangkah hingga akhirnya suara langkah itu tak terdengar lagi.
Izume menghembuskan napas lega. Rasanya sangat mendebarkan hingga hampir mati. Namun, perkataan pria tadi sedikit mengusiknya.
"Ruangan 154?" Wanita itu mengerutkan keningnya. "Apa maksudnya? Apakah itu ruanganku atau ada ruangan lain?"
Izume menggelengkan kepalanya. Kalau terus berpikir, ia akan melupakan tujuan awalnya.
Ia meraba-raba baju pria itu, mencari kunci dan beberapa benda yang mungkin diperlukan, seperti pisau, pistol, dan handphone.
Selesai mengambil, wanita itu bergegas menjalankan rencana selanjutnya.
Rencana kedua adalah kembali ke ruangan tempatnya dan wanita-wanita lain dikurung, dan membebaskan mereka.
Izume berjalan cepat. Beberapa kali ia menjumpai pria berjas hitam lainnya, dengan cepat ia menyembunyikan diri.
Waktunya tak banyak. Cepat atau lambat akan ada seseorang yang menyadari hal ganjil.
"Bagaimana caraku mengalihkan perhatian kedua penjaga itu, ya?"
Izume telah sampai di dekat ruangan. Otaknya berputar, mencari sebuah cara yang tepat. Tak butuh lama, terlintas lah sebuah pemikiran.
Gadis itu mengarahkan pistol pada sebuah jendela yang terlihat di matanya. Ia mengatur napas.
Ini akan menjadi tembakan pertamanya di dunia ini. Meski hanya menembak benda mati, namun tetap saja rasanya gemetar mengingat ia tak pernah menembak apa pun selama ini.
Hal itu membuat kedua penjaga tersentak.
"Aku yang akan memeriksanya. Kau tunggu di sini," ucap salah seorang dari mereka.
"Baik," balas yang lainnya.
Salah seorang dari mereka pergi, menciptakan peluang bagi Izume. Lantas, dengan cepat gadis itu menusuk pria yang menjadi penjaga ruangannya.
Darah mengalir deras dari dadanya. Ia meneguk air liurnya sendiri melihat banyaknya darah yang keluar. Jika di situasi normal, maka Izume akan merasa jijik dan takut, tetapi kini ia tak punya waktu untuk itu.
Izume membuka pintu ruangannya.
"Bagus! Kau berhasil!" ujar Elia.
Wanita itu keluar dari ruangan bersama dengan yang lainnya. Sementara itu, Isni mengambil kesempatan mencuri pisau, pistol, dan handphone pada pria penjaga yang telah mati.
"Kita harus segera memindahkan mayat ini ke ruangan," ujar Oldia. Mereka semua mengangguk setuju.
Bersama-sama, mereka memindahkan mayatnya, lalu kembali mengunci ruangan itu. Sementara Killa dan Hela membantu membersihkan jejak darah.
"Kau tahu jalan keluarnya?" tanya Yilse pada Izume.
"Tidak. Aku tidak sempat mencari tahu," jawab Izume
"Sudah kuduga." Yilse menghela napas beras. "Lalu, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"
"Aku mendapatkan handphone dari pria tadi. Mungkin saja ada informasi dari benda ini." Isni mengangkat benda persegi itu.
"Bagus. Sebelum itu, kita harus mencari tempat persembunyian terlebih dahulu," ujar Elia.
"Kau benar. Tak lama lagi akan ada seseorang yang curiga, jadi kita tak punya waktu banyak," balas Isni.
Riana, seorang wanita yang memiliki rambut paling pendek di antara mereka semua mengangkat tangannya.
"Sepertinya aku tahu tempat yang cocok di mana. Saat mereka membawaku keluar dulu, aku tanpa sengaja menemukan tempat kosong yang tak dihuni siapa pun," ucap Riana, membuat mereka menghela napas lega.
Nampaknya, rencana ini berjalan cukup lancar.
Sementara itu, Itta tak banyak bicara, ia hanya mengikuti semua instruksi yang diberikan tanpa berniat memberi pendapat ataupun ikut membantu.
****
Daftar wanita yang berada di dalam ruangan
Laquitta Grizelle / Itta
Isni
Elia
Hela
Zora
Killa
Lesya
Oldia
Riana
Izume
Yilse
Tasha (Dijual)
Shia (Dijual)
Devia (Dijual)
Avira (Dijual)