I HATE (Love) U

I HATE (Love) U
Tuan Muda Abercio



"Yilse dan Lesya di tembak hingga mati. Zora sudah mati, bahkan sebelum team dua menemukan mereka. Sementara Elia disiksa seperti yang kau lihat kemarin karena diduga sebagai pemimpin pemberontak."


Riana menjelaskan situasi yang terjadi pada Itta.


"Lalu, bagaimana dengan kita semua?" tanya Itta.


"Tentu saja ada hukumannya. Kita hanya tinggal menunggu giliran saja."


Riana menyenderkan punggung di sela-sela jeruji besi berkarat.


Di depan pintu jeruji, terdapat tiga orang sekaligus yang menjaga mereka.


Bola mata Itta bergerak ke sana ke mari, memperhatikan kondisi setiap rekannya.


Isni sudah tidak memaki lagi. Ia hanya menangis ditemani Killa yang menepuk punggungnya, menenangkan wanita itu.


Sementara Oldia, Hela dan Izume tampak putus asa. Tatapan mereka kosong, tak lagi ada harapan yang tersisa.


"Tiga orang telah mati dan Elia disiksa habis-habisan. Aku harus bagaimana?" tanya Isni pada Killa sembari terisak.


Sebagai orang yang mengusulkan ide ini, Isni merasa sangat bersalah.


"Harusnya aku yang disiksa, bukan Elia!"


"Berhenti menyalahkan dirimu sendiri, Isni!" Killa merengkuh tubuh bergetar milik Isni. Ia ikut menangis, merasa pedih atas segala hal yang menimpa mereka.


"Sudah tak ada harapan lagi! Aku sudah tak sanggup!"


Pelukan Killa mengerat kencang. "Pasti ada! Percayalah! Kita pasti bisa membebaskan Elia, lalu pergi dari tempat terkutuk ini."


"Heh! Jangan berisik!"


Seseorang menodongkan pistol pada dua wanita itu, membuat Killa langsung mengunci mulut.


Helaan napas keluar dari bibir Itta melihat pemandangan yang tersaji di depannya.


"Kapan mimpi ini berakhir?" gumamnya pelan.


Riana mendengarnya meski samar-samar. Dia menundukkan kepala bingung.


Bagaimana caranya menjelaskan kenyataan ini pada wanita di samping?


Riana tak tega. Melihat Itta yang bersikap seolah ini benar-benar mimpi menusuk hati mungilnya.


Kepala Riana terangkat saat merasakan wanita di sampingnya ini berdiri. Itta berjalan perlahan, kemudian duduk di samping Isni dan Killa.


Tangan kecilnya itu merengkuh Isni, menyalurkan kehangatan yang ia punya.


Kemudian, ia membisikkan kalimat, "nggak apa-apa. Ini ... hanya mimpi."


"A-apa ... maksudmu?"


Sesuai dugaan, Isni bertanya tak mengerti.


Lantas, Itta memamerkan senyumannya. "Iya, semuanya hanya mimpi. Saat kita bangun, semua ini pasti berakhir."


"Otakmu rusak, ya?"


Senyum Itta meluntur. Ia menggeleng. "Tidak. Ini memang mimpi. Percaya—"


Gelak tawa memenuhi ruangan ini hingga mengambil atensi para penjaga. Sontak, mereka menyuruh Isni diam, namun diabaikan.


"Mimpi?!" Tangan Isni memegang erat kedua bahu Itta. "Kau masih berpikir kalau ini mimpi? Heh! Bangun! Ini bukan mimpi. Jangan bersikap menjijikan dengan menganggap semua yang terjadi itu mimpi."


"Sudah kukatakan kalau ini hanya mimpi," ucap Itta.


"Oh, ya?" Isni terkekeh sesaat, kemudian menatap Itta dengan tajam. "Kau pikir tiga orang yang mati tadi hanya mimpi?! Kau pikir siksaan yang didapat Elia hanya mimpi?! Berhenti membodohi dirimu sendiri, Bangs*t!"


Tubuh Itta membeku di tempat. Kalimat Isni bagai panah yang melesat, kembali menyadarkannya pada realita.


"Kau ... memang wanita yang menyedihkan."


"ISNI!!"


Riana berteriak memperingati Isni. Wanita itu segera menghampiri, lalu berdiri di samping Itta.


"Apa? Memangnya yang kukatakan ini salah?" tanya Isni.


"Setidaknya pahami situasi."


"Dia yang tak paham. Aku hanya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Ini bukan mimpi. Dia tak bisa membohongi dirinya sendiri."


Isni juga sama. Ia menderita, namun ia tak naif dengan menganggap yang terjadi adalah mimpi. Sepahit apa pun kehidupan itulah kenyataannya.


"BERHENTI!"


Teriakan keras itu sontak membuat semua orang menatap Itta.


"INI MIMPI! INI PASTI MIMPI!"


Geram, Isni menarik tangan Itta kasar. "DIAM BODOH! INI BUKAN MIMPI DAN KAU HARUS TERIMA ITU!"


"Tidak ... tidak mungkin."


Tubuh Itta meluruh. Rasa sakit yang dikubur dalam-dalam, kini memberontak meminta bangkit.


Kepedihan, ketakutan, kesakitan, dan segala rasa menyedihkan kembali tersalur dalam diri.


...----------------...


Sudah satu malam berlalu, namun Itta tak henti-hentinya menangis tanpa suara. Tubuh wanita itu terus-menerus bergetar. Meringkuk dan memeluk dirinya sendiri.


"Heh! Cepat keluar!"


Dengan terpaksa wanita-wanita yang tersisa mengikuti perintah mereka.


Kedua tangan wanita-wanita itu dirantai dan dipaksa cepat berjalan walau sebenarnya tubuh mereka dipenuhi luka akibat pertarungan sengit beberapa hari yang lalu.


Hela yang terluka paling parah mengaduh sakit, namun todongan pistol padanya langsung membungkam mulut.


Mereka dibawa ke dalam ruangan yang terdapat sebuah kolam besar.


Di atas kolam tersebut terdapat kepulan asap yang menyebar luas.


Eric sudah sedari tadi menunggu di depan kolam, menampilkan seringai yang membuat siapa pun bergidik ngeri.


Tangan kokohnya menarik salah satu dari tujuh wanita tersisa.


Izume, wanita malang yang kini digenggam Eric.


"Kalian tenang saja karena kalian tidak akan dibunuh," Kata Eric. "Aku hanya memberi kalian sedikit hukuman saja. Contohnya seperti ini."


Eric mendorong kencang Izume, membuat wanita itu terjatuh ke dalam kolam ber-uap panas.


Lantas, Izume berteriak kesakitan saat merasa panas menyentuh kulitnya. Dapat dipastikan panas itu membuat kulitnya terbakar dan melepuh.


Selanjutnya, Eric menarik tangan Itta. Ia bersiap mendorong, menjadikan Itta korban selanjutnya.


"Tuan Eric!"


Panggilan dari seseorang menghentikan pergerakan Eric. Pria itu menatap tajam pada si pemanggil.


"Maaf mengganggu Tuan." Bawahannya itu menunduk ketakutan.


"Kalau tahu menganggu ... CEPAT PERGI!" sentak Eric.


"T-tapi saya memiliki info penting untuk Tuan. Beberapa detik yang lalu saya mendapat informasi dari pusat, katanya Tuan Muda Abercio lima belas menit lagi akan datang."


"Apa?!" Sontak, Eric melepas cekalannya pada Itta. Pria itu berjalan tergesa, lalu mencengkram kerah baju bawahannya. "Kenapa kau baru memberitahu? Hah?!"


"M-maaf, Tuan, saya juga baru mengetahuinya."


Eric melepas cengkramannya kasar.


"Baik, kita sambut Tuan Muda sekarang," ucapnya. Lalu, mata Eric menyapu tujuh wanita. "Kalian selamat kali ini, tapi tunggu sampai urusanku selesai. Maka hukuman ini akan dilanjutkan."


...----------------...


Eric melirik arloji hitam yang terletak di pergelangan tangan kiri.


10 menit lagi Tuan Muda Abercio akan datang. Seluruh persiapan telah selesai, kini Eric dan beberapa bawahan pentingnya berjalan menuju ruang utama untuk menyambut tamu penting.


Bisa dibilang Tuan Muda Abercio datang ke tempat ini merupakan hal yang langka.


Sesampainya Eric di ruangan utama, ia melirik kembali arlojinya. Tersisa 5 menit lagi sebelum Tuan Muda Abercio datang.


Tangan Eric memberi isyarat, membuat salah satu bawahannya langsung menghampiri.


"Wanita yang tidak sempat aku ceburkan ke kolam, kau ingat?" tanya Eric. Bawahannya mengangguk. "Bawa wanita itu ke ruanganku nanti malam. Mengerti?"


Kepala bawahan itu mengangguk untuk yang kedua kalinya.


Suara mesin mobil dari luar ruangan utama terdengar. Eric dan para bawahannya bersiap segera.


Tatkala orang itu memasuki ruangan dengan beberapa orang yang memakai jas hitam di belakangnya, Eric langsung membungkuk hormat diikuti yang lain.


"Selamat datang Tuan Muda Abercio!" seru Eric.


...----------------...


Daftar wanita yang berada di dalam ruangan



Laquitta Grizelle / Itta


Isni


Elia


Hela


Zora (MATI)


Killa


Lesya (MATI)


Oldia


Riana


Izume


Yilse (MATI)


Tasha (DIJUAL)


Shia (DIJUAL)


Devia (DIJUAL)


Avira (DIJUAL)