I HATE (Love) U

I HATE (Love) U
Persiapan ke Pesta



"Nona, ini adalah beberapa gaun yang dipesan oleh Tuan dari desainer paling terkenal di dunia. Silahkan pilih gaun yang Nona suka."


Olivia memberi isyarat lewat tangannya, meminta para pelayan memperlihatkan satu per satu gaun indah yang mereka bawa.


Tiap gaun memiliki keunikan dan auranya masing-masing. Desainnya yang tidak biasa memberikan kesan mahal.


"Siapa desainernya?" tanya Itta penasaran.


"Nona Ziera Israca"


Ziera Israca.


Itta pernah mendengar namanya di suatu tempat.


Seingatnya, Ziera Israca adalah desainer yang sangat luar biasa. Bahkan, Gucci dan Channel tak dapat menandingi dirinya.


Untuk mendapatkan gaun yang didesain dari tangan Ziera Israca langsung, butuh sesuatu yang layak ditukarkan.


Bukan uang, tetapi sesuatu yang menarik minatnya. Mungkin dalam beberapa kasus dia mau membuat baju atau gaun dengan imbalan uang yang sangat besar.


Keluarga Itta saja hanya mempunyai satu gaun yang dia desain dengan imbalan triliunan dolar.


Tetapi, Adyan malah membawakannya gaun dari desainer sehebat itu?


Bukan hanya satu, tetapi sepuluh gaun sekaligus.


"Kau yakin ini dari Ziera Israca?"


"Tentu, Nona."


"Jangan bohong! Ziera Israca bukan orang yang mudah ditemui."


"Kau mengenalnya?" Olivia cukup terkejut.


Ziera Israca memang desainer hebat, tetapi hanya segelintir orang yang tahu.


Itu wajar, sebab gaun yang dibuatnya terlalu mahal sehingga sangat jarang dibeli dan dipromosikan. Tetapi, untuk kualitasnya tidak perlu diragukan lagi.


"Aku tak begitu mengenalnya, tetapi aku tahu gaun buatannya sulit didapatkan. Rasanya aneh saat kau mengatakan gaun-gaun ini didesain olehnya."


"Itu tidak aneh. Hampir semua gaun di sini dibuat olehnya. Pakaian para pelayan pun, dia yang mendesainnya."


Mata Itta hampir melotot.


Yang benar saja. Itu terdengar mustahil.


"Nona, kau harus terbiasa. Ada banyak orang hebat lainnya di sisi Tuan Adyan. Ziera Israca hanya salah satu dari mereka."


Masih dalam keadaan tak menyangka, Itta menganggukkan kepala.


"Baiklah, tolong sekarang Nona pilih gaun yang Nona suka," lanjut Ziera.


"Aku akan memakai gaun yang ini."


Itta menunjuk gaun berwarna navy. Gaun itu tak memiliki banyak renda, tetapi kesan elegan dan mewahnya sangat luar biasa. Desainnya sangat unik dan warna gaunnya akan cocok mengingat pesta itu diadakan di kapal pesiar Zahara pada malam hari.


"Baik, akan saya persiapkan." Olivia mengangguk mengerti.


"Bawa juga gaun yang ini dan itu. Simpan di koperku."


"Baik, Nona."


Adyan bilang, pesta itu diadakan tiga hari berturut-turut.


Hari pertama merupakan pesta pembukaan. Hari itu akan menjadi hari yang sangat penting dalam menampilkan kesan pertama seseorang. Untuk itu, sepertinya gaun navy dengan tampilan elegan dan mempesona sangat cocok sebagai pengenalan.


Akan tetapi, Itta juga membutuhkan dua gaun lainnya agar tetap dapat berpartisipasi dalam pesta di hari kedua dan hari ketiga.


"Selanjutnya perhiasan. Tolong segera bawa ke sini," pinta Olivia yang langsung diangguki para bawahannya.


Itta melihat banyak perhiasan indah terpampang di depan mata. Semua set perhiasan itu berkilauan.


"Silahkan pilih set perhiasan yang Nona sukai."


Itta mengamati seluruh set perhiasan itu. Semuanya memiliki keunikan masing-masing, hanya saja tak ada yang begitu cocok dengan gaun yang dipilih.


Mata Itta berbinar ceria saat menemukan set perhiasan yang cocok.


"Aku pilih ini untuk dipakai di pesta pertama. Sisanya bawa saja, akan kugunakan nanti di sana."


Olivia mengangguk paham. "Baiklah, selanjutnya make up yang akan digunakan—"


"Permisi. Maaf menganggu," ucap seseorang setelah mengetuk pintu sebanyak dua kali dan masuk ke dalam kamar Itta.


"Siapa yang menyuruhmu masuk?! Keluar!" teriak Olivia marah.


"Maaf Nona Olivia, ada orang yang memaksa untuk bertemu dengan Nona Itta."


Pria itu menunduk dengan badan besarnya. Ia memang memiliki kekuatan dan badan kekar, tetapi posisi Olivia lebih tinggi darinya.


Olivia adalah salah satu orang terpercaya Adyan, mau tak mau pria berjas hitam itu harus menunduk hormat.


"Apa kau tak melihat kami sedang sibuk?!" Olivia semakin marah.


"Maaf Nona. Kedua orang itu memaksa ingin bertemu Nona Itta. Mereka bahkan berani mengancam kami."


"Dan, kau takut pada ancamannya?! Untuk apa Tuan Adyan memberi kalian uang jika kalian saja tidak berani menghadapi masalah kecil?!" tanya Olivia.


Itta menatap Olivia dan pria berjas hitam itu bergantian. Ia menghela napas pelan.


"Sudahlah Olivia, tidak apa-apa," tutur Itta. Kemudian, dia menatap lelaki berjas itu. "Katakan, siapa yang ingin bertemu denganku?"


"Terima kasih, Nona."


"Mereka mengaku bernama Riana dan Oldia."


Sudut bibir Itta sedikit melengkung ke atas. Inilah yang dia tunggu sejak kemarin.


"Panggil mereka sekarang."


"Siap, Nona."


"Maaf Nona, tetapi waktunya tak banyak lagi. Hanya tersisa beberapa jam sebelum Nona pergi ke pesta." Olivia berkata dengan harapan Itta dapat mengerti situasinya sekarang.


Olivia tidak tahu kalau sebenarnya Itta menunggu kedatangan kedua orang itu sejak kemarin.


"Kau tenang saja, itu tidak akan lama."


"Tetapi, Nona—"


"Kau bilang, kau menghormatiku karena aku adalah wanita yang dipilih Adyan. Kuharap, kau juga menghormati ucapanku."


Olivia tak dapat membantah lagi, alhasil dia hanya bisa menuruti keinginan Sang Nona.


"Nona, ini Oldia dan Riana."


Ucapan pria tadi membuat Itta mengangguk sesaat.


"Kalian pergilah. Aku ingin berbincang dengan teman-temanku dulu."


Mereka patuh. Status yang berbeda membuat mereka menuruti setiap perkataannya, padahal dulu Itta hanyalah seorang tahanan di salah satu tempat milik Adyan.


"Bagaimana kabar kalian?" tanya Itta.


Sejujurnya pertanyaan itu lebih merujuk untuk Oldia. Tidak perlu bertanya kabar Riana, wanita itu pasti baik-baik saja.


"Aku baik, Oldia juga sepertinya baik."


Hanya Riana saja yang menjawab. Sementara Oldia tetap menutup mulut.


Itta tersenyum maklum. Itu wajar untuk seseorang yang memiliki depresi berat. Itta memahaminya.


Kasus mereka memang berbeda, tetapi Itta juga pernah mengalami depresi yang dalam. Tepatnya saat menyadari kenyataan tentang kematian tragis keluarganya.


Sekalipun penyebab depresi sudah tiada, namun bekas lukanya tak mudah pulih.


Itta sangat mengetahuinya.


"Oldia memang terlihat lebih baik dibandingkan kemarin," ucap Itta.


Terjadi sedikit perubahan dibandingkan Oldia yang kemarin ditemui.


Sorot mata yang ditunjukkannya bukan lagi sorot kosong, melainkan nampak kehidupan walau samar-samar.


"Kalian duduk saja dulu, akan kuambilkan minum."


"Tidak usah. Bagaimana bisa kau yang memiliki kekuasaan tinggi melayani kami?" ucap Riana tak enak hati.


"Tidak apa-apa. Kalian ini temanku."


Itta menuangkan minuman ke dalam gelas yang sejak awal tersedia di sana, lalu memberikannya pada mereka berdua.


Riana mengucapkan terima kasih. Ia menyikut Oldia, memberi isyarat agar wanita itu juga mengucapkan kata terima kasih.


Namun, Oldia tetap diam. Mulutnya seperti terkunci oleh sesuatu.


"Kau ini! Berterima kasihlah. Dia sudah membantumu hingga saat ini!"


"Riana!"


Itu bukan panggilan. Melainkan kalimat penegasan agar Riana tidak menekan Oldia.


Riana memutar bola mata malas.


"Iya, maaf," ucapnya, kentara sekali tidak ikhlas.


"Tolong akur dengannya. Saat aku tidak ada di sini, kau juga yang harus menemaninya."


"Kenapa? Apa karena kau ingin pergi ke pesta bersama dengan lelaki itu?"


"Iya. Kuharap kau bisa membuatnya merasa lebih nyaman saat aku tak ada."


Riana diam-diam menggigit bibir. Kedua tangannya saling bertaut.


"Bukankah kau pergi ke pesta itu hanya satu hari saja?"


Itta menggelengkan kepala. "Aku pergi selama tiga hari."


"Tiga hari?!" Keterkejutan nampak di wajah Riana. "Kau akan bersamanya selama tiga hari?!"


"Itu waktu yang sebentar, tapi juga bisa dibilang lama. Maka dari itu, tolong akurlah dengan Oldia."


Sejenak, Riana hanya diam. Lalu, ia mengangguk mengerti.


"Baiklah, aku mengerti."


...----------------...


**Maaf baru up😭


Bab ini sebenarnya udah ada sejak lama, tinggal direvisi beberapa bagian aja. Tapi, beberapa hari ini aku lembur kerja, jadi gak sempet terus.


Btw, kalo sempat revisi, hari ini bakal up lagi**.