I HATE (Love) U

I HATE (Love) U
Pria Berjubah Hitam



Memiliki paras yang sangat cantik, tubuh yang diimpikan banyak wanita, kekayaan melimpah, keluarga harmonis, dan juga kecerdasan.


Dicintai, disayang, dan didambakan banyak orang.


Dia adalah pusat perhatian. Di mana pun dirinya berada, dia akan selalu menjadi sosok yang paling berkilau. Semua mata akan selalu tertuju padanya.


Kehidupan yang sangat sempurna.


Terdengar seperti sebuah kemustahilan, namun wanita yang bernama Itta mendapatkan kehidupan sesempurna itu.


Lengkapnya Laquitta Grizelle, seorang gadis yang memiliki rambut cokelat dan mata yang indah. Wanita yang dijuluki primadona dan didambakan para lelaki.


"Itta!!"


Teriakan itu menggema di sebuah ruangan besar berwarna putih. Sang pemilik nama menoleh. Rambutnya yang tergerai bergoyang selama beberapa saat tatkala ia menoleh.


"Ini di hotel. Jangan berteriak, Luisa," peringat Itta. Orang yang berjalan di sampingnya menggaruk tengkuk tak gatal.


"Maaf. Lain kali aku tidak akan seperti itu lagi."


"Ngomong-ngomong, ada apa kau memanggilku? Sepertinya ada hal penting."


"Tidak ada. Aku hanya memanggilmu karena iseng."


Itta merotasikan matanya malas.


"Kebiasaan," cibirnya. Luisa menampilkan cengiran khas-nya.


"Oh, ya, kita menginap di sini berapa malam?" tanya Luisa.


"Hanya satu malam."


Langkah Luisa mendadak terhenti. Hal itu disadari oleh Itta. Lantas, ia pun ikut berhenti dan menatap tanya.


"Bukankah itu terlalu sebentar?" tanya Luisa ragu-ragu.


"Memangnya kenapa?"


Luisa memainkan jari-jarinya, wajahnya menunduk menatap lantai putih yang bersih tanpa debu sedikit pun. Siapa pun yang melihatnya, orang itu pasti menyadari ada yang aneh dari Luisa.


"Kita berdua berhasil memenangkan lomba debatnya. Keluargamu pasti bangga!" Itta tersenyum yakin. Ia menepuk-nepuk pundak Luisa, memberi dukungan lewat sentuhan fisik.


"Bagaimana jika tidak? aku tidak memiliki keluarga yang selalu mendukungku seperti keluargamu, Itta." Luisa tersenyum kecut. "Aku iri padamu. Kau punya kehidupan sempurna, rasanya sangat tidak adil."


Itta terdiam beberapa saat. Setelah itu, ia menampilkan senyumnya. "Tak ada yang sempurna, semua orang tahu itu.


"Kau benar."


"Baiklah, mari kita pergi. Kudengar di hotel ini terdapat taman kecil yang indah, kau mau ke sana?"


Luisa mengangguk antusias. Mereka pun berjalan mencari taman kecil sembari mengelilingi hotel terkenal ini.


Berbicara soal lomba debat, sebenarnya Itta dan Luisa baru saja sampai di negara asal setelah memenangkan lomba debat di negeri seberang.


Berhubung jarak antara rumahnya dengan bandara lumayan jauh, Itta dan Luisa memilih beristirahat di hotel terdekat selama satu malam.


"Apakah Bu Lie sudah sampai rumah?" Luisa bertanya setelah mereka berdua berhasil menemukan taman kecil.


"Tentu saja. Bu Lie sudah pergi dari kemarin."


"Kalau saja Bu Lie tidak ada kepentingan mendadak, kita bisa merayakan kemenangan kita malam ini."


"Kenapa tidak? Tanpa Bu Lie, kita tetap bisa merayakannya."


"Bolehkah?"


"Tentu saja. Meskipun Bu Lie adalah pembimbing kita, kita bisa merayakan kemenangan tanpanya. Lagipula, kita bisa merayakannya lagi bersama Bu Lie nanti."


Luisa mengangguk setuju.


"Baiklah, nanti malam kita harus minum-minum!" serunya antusias.


...----------------...


Itta menyelimuti tubuh Luisa hingga mencapai dada. Luisa terlalu banyak minum malam ini hingga membuat Itta kerepotan.


Itta berniat kembali ke kamarnya, namun entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang aneh.


Seperti ada sesuatu yang bersembunyi di dekatnya.


Lantas, secepat mungkin Itta meraih pisau yang terletak tak jauh dari tempatnya berada. Diliputi rasa penasaran dan waspada, Itta bergerak sesuai instingnya.


Wanita berumur 22 tahun itu mengendap-endap. Tanpa disadari dia berjalan ke taman kecil yang dikunjungi dirinya dan Luisa siang tadi.


Suara berisik dari arah depannya membuat Itta spontan menyembunyikan diri di kursi taman. Ia mempertajam pendengaran dan penglihatannya. Pisau di tangannya dipegang erat, waspada barangkali saja ada seseorang yang tiba-tiba menyerangnya.


Matanya terbelalak saat melihat seorang pria berjubah hitam berlari tertatih-tatih dengan darah mengucur dari tubuhnya.


Tak begitu lama, muncullah beberapa orang yang memakai jas hitam. Mereka semua berlari mencari pria berjubah hitam tadi.


Entah dorongan dari mana, Itta berlari mengikuti. Tepat tatkala pria berjubah hitam itu bersembunyi di pohon, Itta menyadari sesuatu.


"Tunggu, jejak darahnya terlihat, pasti akan ketahuan," gumamnya.


Dia langsung berlari menghampiri para pengejar bermaksud menghalangi. Tangan kanan yang memegang pisau dengan sengaja menggores tangan kirinya berharap dapat mengelabui mereka.


"Ah, maaf. Aku tidak sengaja menabrak." Ucapan penuh dusta itu, Itta lontarkan tanpa ragu.


Bahkan, dia dengan berani menatap kumpulan pria sangar yang memakai jas hitam.


"Tidak apa-apa, lain kali hati-hati," ucap salah satu dari mereka.


"Terima kasih."


"Kita cari lagi!" titah pria berjas hitam itu kepada rekan-rekannya. Sepertinya, dia adalah ketuanya.


"Cari apa?" tanya Itta segera sebelum mereka semua pergi.


"Ini bukan urusanmu."


"Tetapi, mungkin saja saya bisa membantu apabila Tuan memberitahu saya."


Pria itu nampak berpikir sejenak, lalu ia menganggukkan kepalanya.


"Maaf, Tuan, kalau itu saya tidak melihatnya." Itta berbohong lagi.


"Oh, begitu."


"Tuan! Disini ada darah!" Ucapan salah satu dari mereka mengambil seluruh perhatian.


"Benarkah?" tanya Sang Tuan.


"Iy—"


"Itu adalah darah saya!" ucap Itta, sengaja memotong pembicaraan antara sang Tuan dan anak buahnya.


Itta mengangkat tangan kirinya. Darah mengucur dari sana berhasil menyakinkan para pria berjas hitam itu.


"Sepertinya memang tidak ada di sini. Kita cari di tempat lain!"


Itta menghembuskan napas lega. Untungnya, sekarang waktu malam sehingga penglihatan mereka terbatas. Mereka tak menyadari ada darah lain yang juga mengucur di belakang Itta.


Setelah mereka pergi, Itta membalikkan badan dan menghampiri tempat persembunyian pria berjubah itu. Namun, Itta tak menemukannya lagi. Pria itu hilang entah kemana.


"Dia sudah pergi, ya," gumamnya.


Itta kembali membalikkan badan hendak pergi ke ruang kamarnya. Seseorang tiba-tiba saja menghadang Itta. Dia memojokkan Itta ke pohon, lalu kedua tangan besarnya mengukung wanita itu.


Napasnya terdengar tak beraturan. Luka di perut, pelipis, dan tangannya terlihat jelas dengan darah yang masih mengucur.


"Jangan coba-coba memberitahu mereka atau kau akan mati!" ancam pria berjubah hitam. Nadanya dingin dan tajam. Walau dalam kondisi mengenaskan seperti itu, dia mampu menekan lawannya lewat kata-kata.


Namun, Itta tidak mempedulikan ancaman itu. Pikirannya terfokus pada tangan pria berjubah hitam yang dipenuhi darah.


"Ini harus segera diobati." Tangan Itta terangkat menyentuh lukanya. Pria itu menepis kasar.


"Dengar! Aku tak main-main dengan ucapanku!"


"Aku tidak akan memberitahu mereka. Kau tenang saja."


"Oh, ya?"


"Percayalah. Aku mengetahui satu jalan keluar dari sini. Siang tadi aku tanpa sengaja menemukannya. Kau bisa pergi lewat jalan rahasia itu."


"Jalan rahasia?"


Itta mengangguk. Bersama Luisa, Itta tanpa sengaja menemukan ini. Keisengannya dan Luisa ternyata dapat membantu orang lain.


"Sebelum kau pergi, kita harus mengobati lukamu dulu."


Lagi-lagi Itta ditepis kasar olehnya. Mata pria itu memandang tajam, mata yang terlihat memancarkan keindahan malam diterangi sinar bulan.


Masker hitam dan jubah yang panjang membuat Itta tak dapat mengetahui wajahnya. Hanya matanya saja yang mungkin menjadi ciri khas pria itu.


"Cepat katakan di mana jalan rahasia itu?!" sentaknya.


"Kau harus diobati terlebih dahulu."


Pria itu berdecak kesal. "Aku bisa ketahuan kalau kau bertele-tele begini!"


"Kau tenang saja, ini tidak akan lama."


Itta merobek bagian bawah gaun tidur berwarna putih salju yang saat ini digunakan.


"Buka jubahmu," perintah Itta.


"Mau apa kau?"


"Aku mau mengobati luka di perutmu."


"Tidak usah."


"Itu bisa infeksi!"


"Kubilang tidak usah!"


Itta menghela napas. Rasanya hari ini Itta terlalu sering menghela napas karena Luisa dan pria ini.


"Baiklah. Tetapi, luka di tanganmu itu harus diobati. Kalau tangan ini diobati, maka kau bisa memegang senjata jika bertemu dengan mereka nanti."


"Aku bil—"


"Diamlah!"


Kini pria itu terdiam. Mungkin terkejut karena Itta yang berani membentaknya. Itta tak peduli, ia hanya ingin membantu orang lain selagi dirinya bisa.


"Tanganmu berdarah," ucap pria itu, tatkala Itta sedang mengobati luka di tangannya. Itta menatap matanya sesaat, lalu kembali pada aktivitasnya. Mengobati dengan penuh kelembutan.


"Tidak apa-apa. Ini terluka karena aku menggoresnya sendiri."


"Kenapa?"


"Untuk menolongmu. Kalau tidak seperti ini, aku tidak akan bisa mengelabui pria-pria berjas itu."


Tertegun. Pria yang tak dikenal namanya itu menatap tak percaya. "Kau terluka untuk menolongku? Atas dasar apa?"


"Apa maksudmu? Apa aku salah menolong seseorang begitu saja?"


Keterkejutan semakin nampak di raut wajahnya.


Seringai tipis muncul di bibirnya yang tertutup oleh masker hitam.


Tangan Itta yang sedang mengobati, tiba-tiba saja digenggam. Pria itu membuka masker. Tanpa diduga dia menjilati darah di tangan Itta, menciptakan sensasi merinding.


Wajahnya ia majukan ke arah Itta, menipiskan jarak diantara mereka hingga hidung mereka saling beradu.


Tanpa disadari Itta menahan napasnya. Mata yang memancarkan keindahan malam itu berhasil mencuri fokusnya.


"Tunjukkan jalannya," ucap pria itu. Tenang, namun mampu membuat lawannya menuruti keinginannya tanpa sadar.


"Di dekat pohon itu ada lubang yang ditutupi semak-semak. Lubangnya cukup besar. Sepertinya diciptakan sebagai jalan darurat kalau-kalau terjadi sesuatu."


Pria itu mengangguk. Wajah Itta ia usapkan perlahan hingga mencapai bibir berwarna merah alami. Seringainya muncul lagi.


"Saat kita bertemu lagi, kupastikan kau akan menjadi milikku," ucapnya, lalu pergi meninggalkan Itta bersama keterkejutannya.