I HATE (Love) U

I HATE (Love) U
Balas! Balas!



"Hah! Aku tak percaya, baru saja pulang dari Inggris, tapi harus berpura-pura menjadi orang lain demi menguji kelayakan seorang wanita," ucap Arvin mengeluh. "Melelahkan juga, ya."


"Apakah Tuan Arvin ingin aku menyiapkan minuman untukmu?" tawar Olivia.


"Tentu. Siapkan yang banyak dan simpan di kamarku," perintah Arvin.


"Baik, Tuan." Olivia bergegas pergi dari tempat itu.


"Ngomong-ngomong, kenapa aku baru tahu kalau kau tertarik dengan seorang wanita?" Arvin menepuk pundak Adyan, namun ia langsung menurunkan tangannya tatkala melihat mata tajam milik Adyan.


Di sisi lain, Itta menatap mereka dengan mata tak percaya.


Seluruh sel dalam otaknya bekerja berusaha memahami kejadian yang saat ini terjadi.


"Aku mengerti sekarang," ucap wanita itu. Kepalanya, ia anggukan berulang kali. "Kau mempermainkanku, kan?"


"Aku tidak mempermainkanmu, aku hanya mengujimu."


"Kau pikir ini lucu?"


"Aku sudah bilang—"


"INI TIDAK LUCU!"


Itta berteriak marah. Tatapannya menajam walau tahu orang yang di depannya ini memiliki kekuasaan besar.


"Seenaknya saja kau mempermainkanku dengan alasan menguji?! Hah, jangan bercanda!"


Dengan amarah yang membara, Itta meninggalkan tempat itu.


Aura dingin menguar setelah kepergian Itta. Arvin di sampingnya meneguk ludah kasar.


Dengan perlahan Arvin mundur satu langkah. Ia harus segera pergi sebelum Adyan melampiaskan amarahnya pada lelaki itu.


Arvin berbalik, namun baru beberapa langkah Adyan sudah memanggil namanya.


"Kenapa dia marah?" tanya Adyan tanpa melihatnya.


"Aku tak tahu," cicit Arvin.


"Kenapa tak tahu?"


Jelas saja Arvin tidak tahu. Tugasnya hanya mengikuti perintah Adyan, selebihnya Arvin tak mau tahu.


"Aku tak tahu, aku buru-buru jadi aku pergi dulu."


Tanpa menunggu balasan, Arvin langsung pergi.


...----------------...


Helaan napas lega keluar dari bibir Arvin. Aura yang memancar dari Adyan tadi cukup menakutkan, makanya Arvin bergegas meninggalkan tempat itu.


Setelah berhasil lari, mata Arvin menjelajah sekitar, berharap dapat menemukan keberadaan seseorang.


"Tunggu dulu," ucap Arvin, menghentikan seorang pelayan yang kebetulan lewat di depannya.


"Ada apa Tuan?"


"Di mana tunanganku?"


"Nona Sasya ada di laboratorium."


"Oh, ok."


Arvin mengangguk sesaat, lalu pergi menuju laboratorium.


Arvin dan Sasya dijodohkan sejak kecil. Mereka saling mengenal dan saling menyayangi satu sama lain. Beberapa bulan lagi akan diadakan upacara tunangan untuk keduanya.


Mereka sangat dekat, apalagi dengan hobi dan cita-cita yang sama. Seringkali mereka berdiskusi untuk menciptakan obat sendiri.


Arvin tersenyum lebar tatkala melihat Sasya dari pintu laboratorium.


Wanita itu sangat cantik dengan kacamata yang dikenakan ditambah jubah dokter kebanggaannya.


"Kapan kau datang?" tanya Sasya, sementara matanya masih fokus pada cairan-cairan itu.


"Kupikir kau tidak menyadari kehadiranku."


"Akan aneh seandainya aku tidak sadar ada seseorang di pintu."


"Benar juga," ucap Arvin sembari mengangguk-angguk. "Aku baru saja datang."


"Lalu, kapan kau kembali dari Inggris?"


"Pagi tadi."


"Oh, begitu."


"Itu saja responmu?"


"Memangnya kau mau respon yang seperti apa?"


"Aku ini tunanganmu, setidaknya lihatlah tunanganmu yang baru kembali ini. Jangan terus-menerus melihat benda cair itu."


Sasya menghembuskan napas pelan. Ia meletakkan cairan itu di meja, kemudian melepas kacamatanya. Tubuhnya ia hadapkan pada Arvin.


"Biar kuperbaiki. Calon tunangan, bukan tunangan."


"Sama saja."


"Jelas beda Arvin. Kita masih belum bertunangan. Baik aku maupun kau bisa saja suatu saat nanti akan jatuh cinta pada orang lain dan membatalkan pertunangannya."


Bibir Arvin mengerucut. "Apa kau mencintai orang lain?"


"Tidak."


"Kalau begitu sudah dipastikan pertunangan ini tetap akan berjalan."


"Memangnya kau mencintaiku?"


"Tentu."


Sasya terdiam. Ada gejolak aneh di dadanya. Sesuatu yang panas dan hampir meledak.


Cinta.


Entah mengapa hatinya tak yakin. Jujur saja ia takut itu hanya sebatas kata tanpa makna berarti. Sebab, baginya definisi cinta tidak sesederhana itu.


...----------------...


"Kau—"


Belum sempat Adyan menyelesaikan kalimatnya, Itta sudah lebih dulu melewatinya.


Gigi Adyan bergemelatuk kesal.


Hari sudah sore, namun Itta masih saja mengabaikannya. Harga diri Adyan tercoreng.


Selama ini tak ada yang berani mengabaikannya, namun wanita itu berbeda. Jangankan mengabaikan, bahkan Itta juga pernah berteriak di depannya.


"Aku sedang berbicara denganmu!"


Lagi-lagi diabaikan.


Adyan menarik tangan wanita itu kasar hingga membuatnya terhuyung dan menyentuh dada bidang Adyan.


"Beraninya kau mengabaikanku!" Adyan mendesis marah.


"Lepas!" Itta memberontak, namun usahanya sia-sia di hadapan lelaki yang kekuatan fisiknya jauh lebih besar.


"Aku membebaskanmu dari tempat itu dan juga memberimu posisi di sampingku, apa begini caramu berterima kasih?"


"Aku tidak suka caramu mengujiku!"


"Apa kau punya hak berkata seperti itu?!" tanya Adyan dengan senyum sinisnya. "Ingatlah posisimu, Nona Grizelle."


Adyan memojokkan Itta di tembok. Kedua tangannya digunakan untuk mengurung wanita itu.


Itta memalingkan wajahnya tatkala wajah Adyan semakin mendekat. Sontak, Adyan menggeram marah. Dia menarik kasar dagu Itta, memaksanya menghadap Adyan.


Sebuah kecupan mendarat di bibir wanita itu. Kecupan itu semakin lama berubah ke tahap berikutnya.


Adyan mencium kasar bibirnya. Dapat dia rasakan pemberontakan dari wanita itu. Hal itu membuat Adyan semakin brutal dalam menciumnya.


Ciuman itu semakin turun ke leher jenjang Itta.


"Jangan! Kumohon jangan!"


"Kau tak punya hak untuk menolak."


"Aku minta maaf! Sungguh, aku menyesal!"


"Sudah terlambat, sayang."


Setetes cairan bening meluncur membasahi pipi, namun Adyan tetap tak berhenti.


Itta memukul-mukul dada bidang lelaki itu. Percuma saja, sebab Adyan tak merasa sakit sedikit pun.


Itta tak menyerah. Hal itu membuat Adyan kesal. Lelaki itu menangkap tangan Itta, menguncinya agar tak banyak bergerak.


Tenaga Itta terkuras. Tubuhnya melemas dan akhirnya ia hanya bisa pasrah saja.


...----------------...


Sebenarnya Itta tak begitu marah saat mengetahui dirinya dipermainkan. Hanya saja emosi wanita itu sedang tidak stabil.


Semua kekerasan yang diperlihatkan Arvin saat berpura-pura menjadi Adyan, mengingatkannya pada kematian tragis yang dialami keluarganya.


Sejak tadi Itta menahan perasaannya, namun tetap saja ia gagal mengontrol di akhir.


Puncaknya adalah saat itu. Itta melampiaskan amarahnya dengan cara berteriak pada Adyan.


Akibatnya Itta menerima 'hukuman'.


Setelah menghukum Itta dengan cara menciumnya, Adyan pergi berlalu begitu saja.


Kini hanya ada Itta dengan semua kesedihannya.


Wanita itu terduduk di lantai. Matanya kosong, ekspresinya tak ada, sementara perasaannya hampa.


Ia memeluk lututnya sendiri. Tangisnya pecah di antara sunyinya keadaan.


Kegelapan itu datang lagi. Menyiksa dan menelan kewarasannya sedikit demi sedikit.


Gambaran tentang kematian keluarganya terputar jelas di ingatan, menjadi bayang-bayang gelap yang menghantui. Ditambah dengan semua kejadian buruk yang menimpanya akhir-akhir ini.


Perasaan sakit yang kini dirasakan terasa lebih nyata dibandingkan saat ia memimpikan kenangan buruk itu.


Itta tersenyum miris.


Hidup sempurna yang pernah ia raih, kini diganti dengan kehidupan menyedihkan.


Dia yang dulu merasa begitu bebas, kini terkekang. Fisiknya terkekang oleh Adyan, sementara hati dan pikirannya tenggelam dalam kenangan gelap.


Itta menggeleng keras. Ia menghapus bulir air mata dengan kasar.


"Gak! Gak boleh! Aku gak boleh gini terus!"


Wanita itu menghirup napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan. Ia berupaya mengontrol perasaannya.


Matanya yang beberapa detik lalu dipenuhi rasa sakit dan putus asa, kini menjadi mata merah penuh keinginan balas dendam.


"Balas! Balas! Balas dendam! Biarkan mereka juga merasa sakit yang teramat!"


Mata Itta semakin memerah. Suatu saat nanti Itta pasti akan membalas dendam pada pelaku pembunuhan keluarganya.


"Mereka yang membuat keluargaku mati dan hidupku hancur akan kubunuh!"


...----------------...


**Hai haiii ....


Buat kalian yang kemarin-kemarin ngasih semangat, makasih banyak yaaaa.


Gak nyangka bakal ada yang baca apalagi yang like sama komentar. Makasihh! Lope yang banyak deh buat kalian ehehe.


Btw, aku nulis ini agak males jadi harap dimaklumi kalau feel-nya kurang dapet. Gak tahu kenapa akhir-akhir gak dapat ide buat nulis**.